â"Mengurai rasa, memaknai ulang. Bermetamorfosis menjadi jiwa yang tenang, menjadi dia yang disebut Litaskunuu Ilaiha."
1âAku Tidak Tahu Kapan Aku Mulai Kuat
Aku adalah anak yang tumbuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Semasa kecil, aku sering mencoba hal-hal baru dengan penuh keberanian, tanpa ragu atau takut. Misalnya, memanjat, nekat mengendarai sepeda orang dewasa padahal aku baru enam tahun, atau pulang sekolah sendiri tanpa dijemput mama atau mbak. Jarak TK-ku ke rumah cukup jauh, harus menyeberangi jalan raya yang padat, tapi aku merasa bangga bisa sampai sendiri.
Aku bahagia ketika mama kaget melihatku sudah tiba, lalu memujiku, "Hebat, berani, dan mandiri, begitu anak mama." Pujian itu membuatku terus terpacu menjadi lebih berani dan mandiri lagi dan lagi. Aku banyak melakukan hal-hal yang tak banyak dilakukan anak perempuan seusiaku; jarang menangis, kuat berpuasa seharian penuh di usia enam tahun, belajar membaca sendiri, dan menyiapkan keperluan sekolahku tanpa bantuan.
Seiring waktu, aku terbiasa melakukan banyak hal sendiri tanpa menunggu bantuan siapa pun. Bahkan mbah kakung dulu memberiku panggilan istimewa, "reman," yang artinya preman. Bukan karena nakal, tapi karena sisi maskulinku lebih dominanâselalu bertindak tanpa ragu, kuat, berani, dan mandiri.
Baru sekarang, ketika aku melihat ke belakang, aku bertanya pada diri sendiri: apakah aku memang terlahir sekuat itu, atau aku hanya terbiasa menjadi kuat karena itulah satu-satunya cara bertahan? Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai kuat, tapi aku sadar, kekuatan itu lahir dari kebiasaan bertahan, bukan dari rasa aman yang kumiliki.
2âRumah yang Tidak Pernah Tenang
Bapakku adalah seorang polisi. Sejak kecil aku sudah akrab dengan gaya didikan ala semimiliter. Sebelum azan subuh berkumandang, bapak membangunkan kami tanpa jeda. Tidak ada waktu mengucek mata atau mengumpulkan semangatâyang bapak mau, kami harus siap segera.
Pagi hari selalu hiruk pikuk mengikuti jadwal dinas bapak. Membuat teh, menyiapkan seragam, menyikat sepatu hingga mengkilap, memanaskan mobil, atau mengantar bapak ke halte bus dekat rumah selepas salat subuh. Rumah selalu bergerak cepat, seolah tidak pernah benar-benar diam.
Mamaku tumbuh dengan pola yang serupa. Ia selalu mengatakan bahwa anak perempuan harus serba bisa dan tidak mudah gentar. Dari mama, aku belajar bahwa kata lelah, capek, atau tidak bisa hampir tidak punya tempat. Jika belum bisa, maka harus belajar lagi. Jika belum kuat, maka harus menguatkan diri.
Mama sering sibuk ke sana kemari dengan kegiatannya. Aku lebih banyak dititipkan di rumah mbah, atau menjaga warung kelontong bersama mbak dari pagi sampai malam. Melayani pembeli, meracik dagangan, membuat pop ice, menyiapkan bahan gorengan (bakwan dan sambal kacang), dan menghadapi banyak orang menjadi bagian dari hari-hariku.
Aku tumbuh belajar disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian sejak dini. Tapi baru sekarang aku menyadari satu hal: di rumah yang selalu bergerak, aku jarang belajar untuk berhenti. Rumahku tidak berisik oleh teriakan, tapi oleh tuntutan untuk selalu siap. Dan mungkin dari situlah tubuhku belajarâtenang bukan sesuatu yang familiar.
3âMenangis Selalu Terasa Salah
Tak banyak kenangan yang tersimpan tentang bagaimana aku belajar memahami rasa. Aku tumbuh tanpa benar-benar tahu mengapa perasaan itu hadir. Rasa datang begitu saja, lalu pergi tanpa pernah sempat dijelaskan atau diterima.
Satu ingatan yang masih membekas kuat ketika aku lupa telah melakukan kesalahan apa hingga mama marah. Aku dimasukkan ke dalam kamar lalu pintunya dikunci dari luar. Aku masih kecil. Aku menangis sejadi-jadinya. Karena rasa takut yang tak tertahankan, aku berteriak memanggil mama, memohon agar pintu dibukakan.
Tapi pintu itu tetap tertutup. Hingga akhirnya aku kelelahan dan menyerah. Tak lama, mama membukakan pintu. Namun setelah itu, ingatanku tak menyimpan apa pun tentang pelukan, penjelasan, atau validasi atas rasa takut yang kualami.
Masa kecilku tidak banyak dibersamai oleh orang tua. Bapak setiap hari berangkat dinas. Sementara mama, ada banyak kegiatan dan tanggung jawab sosial yang harus dihadiri. Mama sibuk, bukan karena mencari nafkah, tapi karena tuntutan peran sebagai istri seorang abdi negara.
Ketika keduanya pergi, aku sering dititipkan. Mama selalu berpesan untuk tidak merepotkan dan tidak boleh menangis. Aku belajar menyesuaikan diriku. Belajar untuk diam dan menahan rasaku.
Namun di lain waktu, ketika aku tak lagi dititipkan, tangisku tetap tak punya ruang. Setiap kali aku menangis, mama akan berkata, âJangan dikit-dikit nangis.Yang kuat. Contoh mamanya. Jangan lemah.â Kalimat itu tertanam begitu dalam. Aku menangkap pesan bahwa air mata adalah kelemahan, dan tidak ada tempat untuk itu.
Lalu aku mulai menyembunyikan air mataku. Aku tidak tahu bagaimana memaknai rasa. Aku tidak pernah benar-benar belajar bahwa takut boleh dirasakan, sedih boleh diakui, kecewa boleh diungkapkan. Anehnya, semakin aku dilarang menangis, justru menangis menjadi satu-satunya bahasa yang kupunya untuk merasakan segala emosiâtakut, sedih, marah, khawatir, bahkan bahagia. Tapi bahasa itu tak boleh terdengar.
Aku menangis, dan menyembunyikannya. Aku merasakan, tapi tak bisa mengekspresikannya. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa menangis selalu terasa salah.
4âAku Terbiasa Mengerti, Tapi Jarang Dimengerti
Menjadi anak tengah itu, rasanya sangat tidak mudah. Sejak kecil aku menanggung dua peran sekaligusâmenjadi kakak sekaligus adik. Jarak usiaku dengan adik perempuan hanya dua tahun, sedangkan dengan kakak ketigaku lima tahun. Sejujurnya, aku sering kesulitan menjalani kedua peran itu.
Mama selalu memarahiku dan meminta aku mengalah. Jika aku dan adikku bergesekan, kata mama, âJadi kakak itu harus mengalah sama yang kecil.â Bapak pun menuntut pola pikir dewasa lebih dari usiaku. âKalau sekarang kamu enam tahun, pola pikirmu harus sudah di usia tujuh tahun,â katanya.
Bapak dan mama berulang kali meminta aku memahami kesulitan mereka. Salah satunya saat aku harus berhenti les karena uangnya dipakai untuk kuliah kakak keduakuâlaki-laki, jarak usia denganku delapan tahun, aku tidak bisa berkata tidak. Bapak hanya bilang, âKalau dia sukses, dia pasti akan ingat dan menolong adeknya.â Aku belajar mengerti, memudahkan segala sesuatunya, tapi perasaanku sendiri sering diabaikan.
Dulu aku pernah meminta scooter ke mama. Mama menolak. Lalu aku minta adikku merajuk mama untuk membelikannya. Ajaibnya, permintaan adikku langsung dikabulkan tanpa penolakan seperti yang aku terima. Hatiku sedih, layaknya kaca yang hancur berkeping-keping. Aku merasa tidak adil, diabaikan, dan tak istimewa. Meski begitu, aku tetap mencoba mengabaikan rasa ituâsetidaknya aku bisa main scooter, meski harus lewat cara lain.
Menjadi anak tengah yang selalu dituntut dewasa dan mengalah membuatku merasa kesepian. Aku belajar memenuhi kebutuhan sendiri, mendorong diri lebih keras, dan menjadi mandiri. Tak ada ruang sekecil apapun untuk keluh kesahku. Mereka hanya melihat aku anak yang bisa diandalkan, anak yang penurut, yang mandiri, yang mudah bernegosiasi.
Tapi yang tidak mereka tahu: aku selalu merasa diabaikan. Aku selalu menekan kebutuhanku. Aku menangis dalam ruang rahasiaku. Aku belajar bahwa meski terlihat kuat, di dalam aku tetap rapuh.
5âMenjadi Anak Tengah yang Tidak Pernah Diminta
Aku tidak ingat kapan pertama kali belajar mengalah. Yang kuingat hanyalah memahami orang lain terasa lebih aman daripada memperjuangkan diriku sendiri.
Aku selalu merasa bersalah jika mendahulukan diriku dibanding orang lain. Perasaan bersalah itu sering berubah menjadi gelisah dan khawatir. Sehingga mengalah selalu menjadi pilihan yang kuambil tanpa banyak berpikir.
Sejak kecil aku merasa harus ikut bertanggung jawab atas keadaan di sekitarkuâtentang orang tuaku yang memiliki banyak anak, tentang memprioritaskan kakakku, dan tentang kebutuhan adikku. Akhirnya aku terbiasa mengalah dan memacu diriku untuk semandiri mungkin.
Kala itu aku lulus di sekolah tinggi ternama di Bandung, dengan jurusan yang sangat aku inginkan setelah melalui seleksi yang tidak mudah. Bukannya bahagia, justru aku melihat wajah sendu bapak. Kekhawatirannya terbaca jelas seperti biaya, masa pensiun yang tinggal dua tahun lagi, dan dua adikku yang masih duduk di bangku SMA dan TK.
Tak sengaja aku mendengar percakapan bapak dengan temannya tentang rencana menjual satu-satunya harta simpanan kamiâsebidang tanah. Ada perasaan yang runtuh diam-diam, membayangkan tanah itu harus dilepas dengan harga lebih murah karena kebutuhan yang mendesak. Tak tega. Aku tak sanggup menanggung kesedihan dan kekhawatiran bapak seumur hidupku jika aku memaksakan mimpiku.
Akhirnya aku memutuskan bicara. âPak, nggak apa-apa ki nggak kuliah di Bandung. Uangnya buat adik-adik sekolah aja. Nanti ki cari jalan lain buat kuliah. Ki kerja dulu. Nanti ki coba daftar tes STAN ya, Pak.â
Rasanya berat melepaskan mimpi itu. Tapi ada rasa lega melihat kekhawatiran bapak sedikit berkurang. Aku selalu ingin memastikan aku bukan beban bagi siapa pun. Aku merasa bersalah jika mengambil jalan yang terlalu egois.
Tapi seiring waktu aku baru menyadari, jalan yang kupilih menjadikanku sangat rapuh dan kesepian. Kemandirian dan rasa iba yang kupelihara justru membuatku sering diabaikan. Aku tak punya ruang untuk diterima apa adanya. Tangki cintaku tak pernah benar-benar terisi, dan perlahan aku mulai kehilangan diriku.
6âAku Tumbuh dg Banyak Tanggung Jawab Tak Tertulis
Ketimbang dianggap adik, aku sering dipanggil âkakak,â bahkan oleh kakak laki-laki tertua di keluarga kami. Sematan itu membuatku selalu merasa punya tanggung jawab lebihâharus mengalah, mengerti keadaan, dan menjadi perisai meski beban itu bukan tugasku.
Saat berselisih dengan saudara, mama selalu bilang, âYang waras ngalah. Mengalah bukan artinya kalah.â Aku tak punya ruang untuk memperjuangkan hakku, belajar percaya diri, atau membela diri sendiri. Semua terasa seperti aturan yang menempel diam-diam di tubuhku, tanpa pernah diucapkan.
Sebagai kakak, aku tak diperbolehkan salah, tapi selalu diminta mengalah. Aku tidak belajar menerima cinta sepenuhnya, tapi selalu dihadapkan pada tugas memeluk dan menjaga orang lain. Setiap kebahagiaan pribadi sering tertahan oleh rasa bersalah karena âharus mendahulukan kebutuhan yang lain.â
Seiring waktu, aku menyadari: tanggung jawab ini bukan hadiah atau pujian, tapi beban yang melekat. Aku belajar menjadi mandiri, tegar, dan bisa diandalkan. Tapi dibalik itu, ada ruang dalam diriku yang kosongâruang untuk diakui, diperhatikan, dan dicintai.
Aku tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab, tapi lupa bagaimana rasanya dirawat. Mungkin untuk pertama kalinya, aku ingin memberi izin pada diriku sendiri untuk dirawat, bukan hanya merawat orang lain.
7âAku Sulit Meminta Tolong
Jika ditanya tentang satu kebiasaan yang ingin kuubah dari diriku, jawabanku adalah: belajar meminta tolong tanpa rasa bersalah.
Mengucapkan kata tolong terasa sangat berat bagiku. Padahal ia hanya satu kata sederhana. Namun di lidah dan dadaku, kata itu seolah tertahan oleh sesuatu yang besar dan berat. Bahkan untuk hal kecil sekalipun, aku sering memilih diam, menunda, atau mengerjakannya sendiri.
Suatu hari, aku ingin sekali meminta sesuatu kepada suamiku. Bahkan sebelum kata-kata itu kutulis lewat pesan WhatsApp, jantungku sudah berdegup cepat. Tanganku dingin, dadaku sesak, dan pikiranku dipenuhi kecemasan. Perasaan nggak enakan, takut merepotkan, takut membebani. Tiga hal itu selalu datang bersamaan. Meminta tolong terasa seperti melakukan kesalahan.
Aku merasa jauh lebih aman jika mengerjakan semuanya sendiri. Lebih tenang jika tak perlu bergantung pada siapa pun. Aku terus memacu diriku, menyelesaikan segalanya sendirian, bahkan hingga melewati batas kemampuanku sendiri.
Kebiasaan ini tentu tidak tumbuh tanpa sebab. Sejak kecil, dengan sematan sebagai kakak dan sebagai anak perempuan, aku didorong untuk serba bisa dan mandiri. Mama mengajarkanku untuk kuat dan tidak mengeluh. Bapak mendidikku untuk disiplin dan sigap. Aku belajar bahwa lemah bukan pilihan.
Aku tak pernah benar-benar punya ruang untuk mengaku tak sanggup. Tak punya ruang untuk menjadi anak yang bisa salah, bisa meminta, bisa ditolong. Maka hingga dewasa, tubuh dan hatiku terbiasa bertahan sendiri. Aku tumbuh menjadi orang yang mampu, tapi sering lupa bagaimana rasanya disokong.
8âAku Terbiasa Menyimpan Cerita Sendiri
Suatu hari, qadarullah aku mengalami kecelakaan saat mengendarai motor menuju rumah muridku untuk les privat. Saat motor melaju cukup kencang, tanpa sadar bajuku tergulung dan masuk ke jari-jari roda. Dalam hitungan detik aku jatuh tersungkur. Kondisiku cukup parah. Gamisku robek panjang, kakiku terkilir, dan luka-luka tersebar di tubuhku.
Alhamdulillah, lokasi kejadian dekat dengan rumah sahabatku. Aku menghubunginya dan meminta pertolongan. Dengan izin Allah, aku dibantu masuk ke mobil dan diberi pertolongan pertama.
Namun setelah itu, aku pulang ke rumah dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku menyembunyikan lukaku. Berjalan seperti biasa. Tidur dengan hati-hati agar lebam dan perih itu tak terlihat mama, bapak, ataupun saudara-saudaraku.
Aku memilih diam. Sampai suatu malam kakiku tersingkap saat tidur, dan mama melihat lebam biru yang mencolok. Aku ketahuan.
Seperti biasa, aku sulit bercerita. Bukan karena tak mau jujur, tapi karena aku takut. Pengalamanku sering kali membuatku belajar bahwa saat aku lemah, yang datang bukan pelukan, melainkan amarah dan omelan. Aku masih mengingat jelas malam-malam ketika tubuhku demam tinggi, dibangunkan bukan untuk dirawat, tetapi dimarahi. Dari situlah aku belajar: rasa sakit tidak aman untuk dibagikan.
Aku anak tengah dari enam bersaudara. Mama sering kelelahan. Bapak menyimpan banyak kekhawatiran. Aku takut menjadi beban. Aku takut merepotkan. Aku merasa sebagai kakak, aku tidak berhak menambah masalah.
Maka aku memilih diam. Menyimpan cerita sendiri. Karena dadaku sesak saat merasa kehadiranku membebani. Dan sejak lama, aku belajar bahwa bertahan sendirian terasa lebih aman daripada berharap dimengerti.
9âTubuhku Mengingat Lebih Banyak dari yg Kusadari
Pagi itu aku berniat mengunjungi rumah kakakku yang jaraknya tak jauh. Namun langkahku terhenti. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Air mata mengalir tanpa aba-aba. Aku panik, ketakutan. Aku memilih kembali masuk ke rumah, duduk di sudut ruangan, menutup telinga, dan menangis. Ini pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini sejak menikah dan menjadi ibu.
Belakangan aku menyadari pemicunya. Mendengar kakak dan kakak iparku bertengkar kerasâteriakan, adu mulut, dan suara benda dibantingâmembangunkan kenangan tentang rumah masa kecilku. Rumah yang tidak pernah benar-benar tenang. Bapak dan mama hampir setiap hari bertengkar. Aku sering menangis di pojok rumah sambil menutup telinga. Aku tidak pernah terbiasa. Justru karena terlalu sering menyaksikannya, aku tumbuh tanpa mengenal rasa aman.
Memasuki fase menjadi ibu ternyata membangunkan luka-luka lama yang selama ini tertidur. Saat membersamai anak-anak, hal-hal kecil bisa memicu kecemasan besar. Aku panik jika anakku belum makan, karena dulu di rumah makanan bukan sesuatu yang selalu tersedia. Mama akan memasak jika ada anak laki-laki saja.
Aku juga menjadi sangat sensitif ketika suamiku tidak menceritakan semuanya, atau ketika anakku tidak jujur. Tubuhku langsung masuk mode siaga. Aku marah, terluka, cemas. Bukan karena situasinya, tapi karena tubuhku mengingat pengalaman lama: dibohongi, dimanipulasi, dan tidak merasa aman.
Aku pun jadi khawatir berlebihan soal jam pulang suami. Aku perlu kepastian. Dulu aku sering menunggu dijemput, menaruh harap, lalu kecewa karena tak kunjung datang.
Kini aku mulai mengerti. Tubuhku tidak berlebihan. Ia hanya mengingat. Dan selama ini, aku terlalu sering menyalahkan diriku sendiri atas sesuatu yang sebenarnya adalah jejak luka.
10âAku Mulai Bertanya: Apakah Ini Luka
Butuh waktu lama bagiku untuk berani bertanya: apakah yang selama ini kuanggap sebagai sifat, sebenarnya adalah luka?
Dulu aku mengira diriku memang kuat, mandiri, dan tak mudah meminta tolong. Aku menyebutnya karakter pantang menyerah. Aku mendorong diriku terus melampaui batas, dan menganggap itu kekuatanku.
Dulu aku berpikir kebiasaanku mengalah dan menghindari konflik adalah bentuk empati. Aku menyebut diriku cinta damai, berwelas asih, pandai memahami perasaan orang lainâmeski seringkali aku mengabaikan perasaanku sendiri.
Aku juga mengira caraku menangis diam-diam, lalu sewaktu-waktu meledak, adalah bagian dari diriku yang tak bisa diubah. Aku merasa aku memang terlahir seperti itu. Begitu pula dengan kecemasanku, kebiasaan menarik diri dari keramaianâsemuanya kuanggap watak bawaan.
Namun sejak menjalani peran sebagai ibu, kepingan-kepingan hidupku mulai saling terhubung. Perlahan aku melihat benang merahnya. Apa yang selama ini aku sebut sifat, ternyata menyimpan jejak luka yang tak pernah kusadari.
Setiap kali proses pengasuhan membenturkan, rasanya aku ditarik kembali ke masa kecil. Tubuh, pikiran, dan hatiku bereaksi seolah aku kembali menjadi anak kecil itu. Tanpa jubah kebesaran. Tanpa label kuat dan mandiri.
Dan di sana, aku melihatnya dengan jelas: diriku yang dulu tidak membutuhkan penghakiman, melainkan rangkulan. Ia tidak perlu didorong lebih kuatâia hanya ingin diterima.