Mungkin, inilah pertama kalinya aku menulis lagi, setelah sekian lama. Masih ada getar asing yang pelan berdesir di antara kerinduan, rindu pada deret-deret kata yang entah berapa waktu tertidur dalam bisu.
Kini, kecamuk rasa nyatanya mampu mendobrak pintu yang semula telah kututup rapat, memecah kehendak yang berusaha dengan kokoh kudirikan. Inilah aku, bersama aksara yang terbangun kembali.
Kali ini, aku tak akan lagi menghakimi, tentang baik atau buruk. Aku hanya ingin menulis apa adanya, meruahkan arus kata yang deras mengaliri ruas-ruas pikiran dan hati.
30 September 2015, di awal hari.
Ternyata waktu telah melangkah jauh sejak pertemuan pertama kita pada tanggal 17 Januari 2015. Tak terasa, 8 hari lagi menjelang hari itu, hari di mana ucapmu akan menggetarkan langit, menggenapkan separuh agama kita.
Selama masa berselang, banyak hal telah terjadi. Tak perlu kita sembunyikan tentang tetes tangis yang sempat ada, tentang resah, tentang duka, tentang kecewa, yang juga menjelma episode perjalanan kita. Sebagaimana bahagia yang selalu ingin kita kenang dan kisahkan pada dunia. Karena, Dear, toh pada segala hal itu kita meraup banyak pelajaran berharga.
Mungkin, menikah secepat ini, tak pernah ada dalam peta rencanaku sebelumnya, sebelum kau mengutarakan niatmu di malam hujan itu. Tapi, takdir mengantarmu padaku, menambatkan niatmu di sujud istikharahku. Maka, pada malam-malam panjang kesekian yang kuhuni bersama sunyi yang paling gaduh, gemuruh oleh tanya, oleh resah, oleh segala gundah, aku merapal bismillah. Kaulah keterasingan yang akan aku persilahkan untuk memasuki satu per satu ruang hatiku, ruang hidupku.
Tentu saja, ini tak sesederhana berlembar surat yang kuhadirkan di hadapanmu kini. Sesungguhnya, keputusan itu adalah keputusan besar yang kutahu kelak akan mengubah hampir seluruh hidupku. Aku tergugu di antara bayangan ayah dan ibuku, aku tergugu di antara kenangan masa kecilku, aku tergugu di antara mimpi-mimpi yang belum mampu kuwujudkan. Aku tergugu di antara kakiku yang gemetar. Inikah waktuku untuk melangkah? Benarkah aku telah sampai pada gerbang yang mulanya kukira jauh untuk kujangkau?
Lalu sepijar cahaya terpantik di antara usang kisah di masa lalu, mencipta temaram dalam gelap yang pekat. Ah, ada jejak doa ternyata di sana, yang pernah kurapalkan diam-diam, tentangmu. Kala itu, tak pernah terbersit seperti apa rupamu, siapa namamu, dari mana kau berasal, bagaimana kita akan bertemu. Tapi, aku mengenalimu dalam bentuk-bentuk kecil harapan, yang kubisikkan pada Tuhan. Lantas, ketika Ia menghadirkanmu, haruskah aku malah berpaling dari doa-doaku sendiri?
Bismillah, Dear. Aku mengucapnya dengan genangan air mata. Berharap, takut, cemas, dan pusaran rasa lain yang menyesapku, menyesap segalaku.
Aku masih mengingatnya dengan utuh : suara air, kita yang duduk berdua, dadaku yang berdegup kencang, kata yang terpatah-patah, diskusi kecil tentang ceramah yang kita dengar di masjid, “tanya”mu, dan “iya”ku.
Hari itu, adalah pertama kalinya kita berbincang cukup banyak. Membahas tentang segala hal. Tentang mimpiku, tentang mimpimu, tentang masing-masing kita. Aku pulang dengan jejak yang terasa tak menapak, menggenggam erat sebuah berita yang ingin segara kukabarkan pada orang tuaku.
Pun aku masih menyimpannya dengan genap : suasana rumahku, aku yang berusaha perlahan menjelaskan, keterkejutan ibuku, dan kepalan tanganku yang perlahan mengendur, hingga kabar yang sejak tadi kugenggam, telah berubah menjadi kupu-kupu yang entah bagaimana, memadati seluruh hatiku.
Esoknya kau datang, duduk dengan rikuh di salah satu kursi di rumahku. Runut menceritakan tentang maksud kedatangmu menemui ibuku, yang pertama kali kau jumpai. Aku duduk diam menyimak segala hal yang kau katakan, tapi tak bisa menangkapnya dengan utuh. Karena aku sibuk meredam resah di dadaku. Aku menatapmu sesekali, mencari keseriusan yang tersirat di antara sorot kedua matamu. Aku tetap mendengarmu, yang berusaha memaparkan sebaik yang kau mampu, mencari keyakinan dalam setiap getar suaramu.
Dan ternyata kaulah lelaki itu, Dear, yang tak perlu mengumbar kata sayang untuk meminang.
Satu per satu episode kita lalui, berusaha sebaik mungkin memerankannya.
Malam itu, langkah-langkah kecil kita memecah sunyi. Hampir tengah malam ketika aku tiba di depan rumahmu, yang letaknya jauh beratus kilometer dari kediamanku. Ada ibumu, Dear, membukakan pintu. Aku menyalaminya dengan berjuta rasa yang sulit untuk kuuraikan. Katamu, akulah perempuan pertama yang kau ajak memasukinya, memasuki rumah tempat kau tumbuh dan menghabiskan masa kecilmu. Akulah perempuan pertama yang kau kenalkan pada orang tuamu. Demi mengetahuinya, ada rasa hangat yang seketika menjalari hati. Ada rasa aneh yang tak lagi kupedulikan apa namanya. Aku hanya menikmatinya, merengkuh segalanya sebagai bagian takdir yang telah dengan teramat indah Tuhan rancangkan untuk kita.
Berapa waktu kemudian, kita sampai di hari pertunangan. Hari di mana ibumu menyematkan cincin di jemariku. Aku tak tahu harus berkata apa, sebagian dari diriku merasa percaya tak percaya. Sungguhkah, Dear, sungguhkan fase itu yang sedang kuhadapi kini?
12 April 2015, bulan yang sama di mana 23 tahun lalu aku terlahir. Keluarga kita duduk di ruangan yang sama. Saling menukar restu, kurasa.
Jika saja waktu adalah malam, aku ingin mencuri rembulan. Membuatnya membeku dalam gelap. Aku ingin diam sejenak, di sudut paling misteri yang dapat kutinggali. Menggenapkan keyakinanku, menggenapkan kesadaranku, menggenapkan niatku, menggenapkan asaku, menggenapkan rasaku, menggenapkan segala hal dalam diriku. Tapi, seperti kita semua tahu, masa, toh tak pernah berhenti, selirih apapun kita meminta.
Aku memandangmu yang menundukkan kepala. Apakah kau merasakan apa yang kurasakan, Calon Imamku?
Aku memandang satu per satu orang tuamu dan orang tuaku, untuk kemudian memantapkan hatiku. Padamu, Dear, kelak aku akan menitipkan hidupku, untuk kau bimbing, untuk kau tuntun menuju jalan terjal yang kita harap, akan berakhir di syurgaNya. Padamu kelak aku menitipkan kekuranganku, untuk kau genapi. Aku menitipkan lupaku, untuk kau ingatkan. Aku menitipkan masa laluku, untuk kau untaikan jalan menuju masa depan. Aku menitipkan mimpi-mimpiku, untuk bersama kita wujudkan. Aku menitipkan ketakutanku, untuk perlahan kau pupuskan dengan rasa aman. Aku menitipkan diriku, untuk kau cintai dengan sepenuh hati.
Dan aku, ingin menjadi perempuan yang kelak akan terbangun di pagi hari, lebih dulu darimu. Agar bisa membangunkanmu untuk mengimami shalat shubuhku. Agar bisa menyiapkan segala keperluanmu. Agar menjadi orang yang pertama kali melihatmu tersenyum setiap hari.
Hari itu aku akhiri dengan segenap keyakinan. Dengan berjuta angan yang hadir tanpa dapat kubendung. Semoga Tuhan berkenan untuk mengabulkan segalanya.
Namun, Dear, nyatanya ini bukan negeri dongeng, di mana ada sesosok peri yang bisa mengabulkan apapun yang kita inginkan. Ini bukan negeri dongeng, yang selalu dipenuhi kebahagiaan. Inilah nyata yang harus kita hadapi, Dear.
Sepanjang perjalanan yang telah kita lalui bersama, sering rajukku menjelma hal menyebalkan yang menyeret kita dalam perselisihan-perselisihan, untuk kemudian aku merasa bersalah karena kau merasa bersalah. Sering rajukmu merupa teguran-teguran, permintaan-permintaan, yang membuat kita rikuh untuk kemudian kau merasa sedih karena aku bersedih. Kita saling menukar amarah. Kita saling memeluk ego. Untuk kemudian merasa saling membutuhkan satu sama lain. Kita saling menyerang, mempertahankan zona aman dalam diri masing-masing, untuk kemudian merasakan duka-duka justru menyerang dari dalam.
Ah inilah kita, Dear, yang terkadang saling menghancurkan, namun dalam kehancurannya kita terus membangun diri kita untuk menjadi lebih baik.
Banyak badai, banyak terjangan yang kita hadapi untuk sampai di titik ini. Tak sedikit air mata yang kuseka. Tak sedikit bongkah-bongkah amarah yang kau hancurkan. Tak apa, Dear, semuanya meninggalkan pelajaran-pelajaran, yang kelak akan semakin mendewasakan kita. Ya, bersamamu aku ingin tumbuh mendewasa. Toh, pelangi hadir setelah hujan reda kan, Dear?
Pun tak kupungkiri tentang bahagia yang selama ini menjelma siang, menjelma malam, menjelma semesta, di mana kita tak bisa bersembunyi darinya. Aku bahagia, Dear, bersamamu, dengan segala canda tawa, dengan segala suka cita, dengan segala duka kecewa, dengan segala hal yang telah kita, sedang, dan akan kita hadapi, denganmu.
Bersamamu aku ingin menjadi perempuan yang bersyukur, Dear. Tentang hal-hal apapun yang kita hadapi, tentang hal-hal apapun yang kita miliki. Tentang hal-hal apapun yang telah kita lalui. Semoga, bersusah-susahnya kita, sesungguhnya kita tengah menaiki anak tangga yang lebih tinggi, untuk suatu saat menikmati “puncak”, di mana kita akan menyeka peluh atas letihnya menyeret kaki agar tak pernah berhenti, atas sulitnya bertahan untuk tak menyerah dan menumbalkan setiap perjuangan.
Dear, 8 hari lagi episode baru tentang kita akan segera dimulai. Riuh doa telah terbang ke langit. Semoga segalanya diberi kemudahan, dan kelancaran. Semoga pernikahan kita akan menjadi pernikahan yang barokah, bagi kita, dan bagi semua. Semoga kita bisa membina keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Semoga kita bisa terus teguh di tengah cecar badai yang kelak akan mengusik langkah kita. Semoga kita bisa menjalankan setiap peran kita dengan baik. Dan semoga pernikahan kita senantiasa akan diridhoiNya. Aamiin.