Apakah semua respon perasaan orang lain harus dipertimbangkan?
Allah menyukai hamba-Nya yang menampakkan nikmat-Nya. Allah juga suka hamba-Nya yang mendahulukan saudaranya seiman atas dirinya untuk urusan duniawi. Allah suka hamba-Nya yang tawadhu’ (rendah hati). Dan Allah suka hamba-Nya yang suka berprasangka baik kepada sesama.
Allah tidak suka orang yang ujub dengan nikmat-Nya. Allah tidak suka orang yang hasad kepada sesama.
Jika kita memilih untuk menampakkan nikmat, maka minimal pastikan beberapa hal:
- Tidak ujub dengan nikmat yang ditampakkan.
- Tidak ada pelanggaran syariat seperti menampakkan syiar-syiar keburukan.
- Siap menerima resiko jika nikmatnya Allah cabut karena ‘ain atau karena kejahatan lain.
- Menyesuaikan dengan situasi dan kondisi baik di dunia nyata dan maya. Karena ada waktunya duka bisa menimpa suatu negara atau wilayah tertentu.
Lalu bagi yang melihat nikmat yang ditampakkan oleh orang lain:
- Doakan keberkahan baginya terlepas dari apapun motifnya.
- Berprasangka baik atas niat mereka, namun tidak untuk dijadikan teladan jika menemukan hal-hal yang kurang baik dari yang ditampakkan.
- Jika nikmat yang ditampakkan tersebut membuat kita teringat hal yang sedih, maka alihkan ke hal-hal yang baik bagi jiwa. Bukan karena iri, tapi memang ada waktunya kebahagiaan orang lain adalah sesuatu yang sangat kita inginkan tapi belum Allah beri. Atau sesuatu yang dulunya pernah kita miliki, tapi kita kehilangan nikmat tersebut.
Bentuk empati itu banyak, levelnya pun bertingkat-tingkat. Dan yang paling tinggi adalah akhlak Itsar, yaitu mendahulukan saudara semuslim atas dirinya sendiri untuk urusan duniawi.
- Jika ada yang menikmati momen kebahagiaan secara privat dengan keluarganya tanpa unggah sosial media dengan alasan menjaga perasaan saudaranya yang tidak memiliki momen serupa, bisa jadi dia sedang berusaha menerapkan akhlak ini.
- Begitu juga dengan yang menahan diri dari berbagi secara publik foto makanan, mungkin prinsipnya dia jika tidak bisa berbagi makanan yang dimiliki, maka sembunyikan. Karena dia memikirkan perasaan orang lain yang tergiur tapi tidak punya cukup uang. Atau harus menahan diri karena ada kebutuhan yang lebih prioritas. Ini juga bagian dari penerapan akhlak Itsar.
Kita memang tidak bertanggung jawab atas perasaan sedih orang lain saat merasa dia tak seberuntung kita, tapi kita punya pilihan. Ingin menjadi orang dengan akhlak biasa saja, atau akhlak yang terbaik sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya.
Sangat wajar jika ada sebagian orang yang salut dengan orang yang memilih jalan untuk punya manner selevel Itsar. Allah dan Rasul-Nya saja apresiasi, kok. Dan akhlak ini tuh sangat tidak mudah.
Semua kembali ke diri kita masing-masing. Orang lain sebatas saling menasehati, perihal diterima itu urusan masing-masing. Orang lain sebatas menghakimi, perihal benar atau tidaknya, diri sendiri jauh lebih tahu.
Semoga Allah hiasi kita dengan akhlak yang terbaik.