
Product Placement
YOU ARE THE REASON
RMH

❣ Chile in a Photography ❣

Fai_Ryy
Claire Keane

titsay

★
d e v o n

if i look back, i am lost
Game of Thrones Daily
Cosimo Galluzzi

Discoholic 🪩
NASA
Lint Roller? I Barely Know Her
Jules of Nature

izzy's playlists!
Sade Olutola
sheepfilms
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Canada

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Canada

seen from Türkiye
seen from Thailand
seen from Vietnam

seen from Türkiye
@muksalmina

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Mie Aceh. (Sat, 11/11/2023)
Huruf Lampau Aceh Senasib dengan Turki
Oleh Tuanku Muksalmina
Hari Aksara Internasional (HAI) yang diperingati setiap tanggal 8 September memiliki pesan penting akan pengentasan terhadap angka buta huruf yang dialami oleh sebagian penduduk di seluruh dunia. Namun di sisi lain juga bertujuan untuk menyoroti seberapa banyak keaksaraan yang masih tersisa. Hal ini tidak terlepas dari punahnya aksara tertentu pada masa kini, maupun yang telah menyusut penggunaannya dalam masyarakat. Walau masyarakat tersebut masih eksis sampai saat ini. Semisal Aceh dan Turki.
Sebagaimana diketahui bahwa Turki sebelum menjadi republik (1923) atau tepatnya masa Ottoman, menggunakan huruf Arab gundul dalam penulisannya. Penggunaan huruf Latin baru, berlangsung semenjak nasionalisasi oleh kaum Turki Muda yang dipimpin Mustafa Kemal, yang digelari Ataturk (bapak Bangsa Turki).
Segala hal yang berkaitan dengan Imperium Ottoman yang pernah sangat digdaya pada masanya, dihapuskan dan diganti dengan yang digunakan orang barat atau Eropa, yang dianggap sebagai simbol kemajuan peradaban. Unsur-unsur Arab-Persia dilikuidasi. Dianggap kemunduran dan ketertinggalan. Tak terkecuali kumandang azan pun sejak 1932 ikut “di-modern-kan” dengan bahasa Turki. Hanya bacaan salat yang gagal. Azan, salah satu hal yang paling sakral dan sudah incraht dalam Islam ini baru berangsur “pulih” kembali setelah tahun 1950an (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, 2005, hal. 273)
Setelah masa Ottoman berakhir, hanya huruf Latin yang dikenal dan digunakan dalam penulisan resmi di Turki hingga hari ini. Sekulerisme Turki saat ini memang tak setajam dulu. Kendati demikian, huruf Arab sudah menjadi sejarah. Atau cukup menjadi konsumsi para sejarawan dan para peminat sejarah.
Seperti Turki, Aceh pun demikian. Jika di Turki huruf Arab diganti karena ada proses “pemaksaan” atas nama “nasionalisasi”. Di Aceh pergantian berlangsung secara “natural”. Proses penggiringan alamiah dan perlahan-lahan ini juga ada kontribusi dari antropolog kenamaan Belanda , yang berseragam militer dan sering menyamar dalam jubah Islam, Christiaan Snouck Hurgronje. Ia menulis bahasa Aceh yang dipelajari kata-per-kata dalam huruf Latin. Yang menjadi acuan para penulis bahasa Aceh di kemudian hari. Snouck sebenarnya tahu bahasa Aceh masa itu ditulis dalam aksara Arab Jawi. Tapi dia memilih untuk me-latin-kannya.
Harus diakui memang ada sisi positif apa yang dilakukan oleh Snouck. Karena banyak kosakata yang ditulisnya masa itu telah jarang ditemukan dalam pengucapan masyarakat Aceh sekarang. Sehingga hanya dapat ditemukan dalam literatur yang ia tulis. Tetapi propaganda Snouck memang jitu. Tingkat keberhasilannya tinggi. Bahasa Aceh dalam aksara Arab Jawi hampir tak pernah ditemukan penggunaannya kini. Kecuali dalam arsip sejarah dan kitab-kitab panduan belajar agama Islam yang tersebar di pelbagai dayah (pesantren) di Aceh. Itu pun bahasa Melayu. Yang berbahasa Aceh telah tersimpan “rapi” dalam lemari-lemari sejarah.
Bahasa Melayu pada masa itu memang merupakan alat komunikasi dalam membangun relasi di beberapa wilayah Asia Tenggara. Khususnya antar-sesama umat Islam. Ulama Aceh yang berdakwah ke beberapa wilayah yang kini dinamakan ASEAN, juga menggunakan bahasa tersebut. Termasuk dalam hal menulis kitab-kitab yang masih digunakan sampai sekarang.
Akan tetapi walau bahasanya Melayu, aksara yang digunakan berakar dari abjad Arab Jawi yang telah lama digunakan di Aceh. Peran ulama-ulama ini pula yang memperkenalkan penggunaan aksara Arab Jawi di pelbagai wilayah di Asia Tenggara yang dihuni umat Islam. Wakil gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dalam pembukaan rapat kerja Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) 2017, juga ikut menyampaikan hal serupa. Bahwa Aceh lah melalui ulama-ulama yang berdakwah, memperkenalkan penggunaan aksara Arab Jawi (goaceh.co, 23/8/2017).
Selain itu, ada sekira 1.600an naskah kuno yang tertulis dalam aksara Arab Jawi, yang tersimpan dalam Museum Aceh. Ada yang berisi tentang ilmu tauhid, adat-adat Aceh, serta hukum. Menjadikan fakta bahwa pada masa itu, hanya aksara Arab Jawi yang digunakan dalam dunia literasi Aceh. (merdeka.com, 20/4/2015).
Senasib dengan Turki, penggunaan aksara Arab di Aceh dalam penulisan hanya tinggal kenangan. Masyarakat di kedua wilayah ini masih eksis dalam merawat bahasanya dalam penuturan lisan. Namun telah lama melupakan dalam hal penulisan. Keduanya telah menggunakan aksara Latin. Hanya dokumen-dokumen sejarah yang bisa mengingatkan bahwa aksara masa lalu Aceh dan Turki berbeda dengan sekarang.
Semoga peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) di tanggal 8 September menyegarkan kembali memori kita, bahwa Aceh dan Turki pernah berjaya dengan aksaranya tersendiri.
=======
Artikel ini pertama kali tayang di media online lokal acehtrend.com pada 11 September 2017.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Refleksi Konflik Aceh: Jusuf Kalla Menggertak, Malik Mahmud Berpikir Bijak
Oleh Tuanku Muksalmina
“Saat saya ketemu Malik Mahmud, saya katakan mungkin Indonesia tidak akan kalahkan GAM, tapi Indonesia siap berperang 100 tahun. Tapi juga mungkin GAM tak bisa kalahkan Indonesia, karena kekuatan GAM hanya 5.000, sementara Indonesia satu juta. Kalau Indonesia siap berperang 100 tahun, maka yang menjadi korban orang Aceh karena tempat perang di Aceh.” (Jusuf Kalla)
MENILIK kembali latar peristiwa yang mengiringi proses tercapainya perdamaian Aceh, memang tak bisa dilepaskan dari sosok lelaki asal Bugis yang selalu terlihat ramah dan tak pelit senyum kepada tiap orang yang ia jumpai. Jusuf Kalla. Wakil Presiden Indonesia yang mendampingi Jokowi saat ini.
Tak ada yang menyangka konflik Aceh yang telah berlangsung selama puluhan tahun mampu dirundingkan untuk diakhiri. Jusuf Kalla memang bukan sembarang orang di arena perpolitikan Indonesia.
Latar belakangnya yang seorang mantan aktivis kampus, pebisnis ulung dan politisi kawakan partai Golkar, telah memberikannya banyak pengalaman bagaimana berhadapan dengan orang-orang dari beragam suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Ia tahu kapan harus mengeras dan kapan mesti melunak. Ritme “maju atau mundur” dapat diperankan dengan apik oleh seorang Jusuf Kalla.
Maka tak aneh, konflik Aceh yang sudah sedemikian pelik, mampu ia redam hingga berakhir dengan proses perdamaian di atas meja perundingan. Pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sebelumnya diperkirakan banyak orang tetap mempertahankan opsi merdeka sebagaimana perundingan yang pernah digagas sebelumnya (tapi gagal), pada akhirnya setuju untuk menggugurkan pilihan berpisah dari Indonesia. Bahkan membubarkan pasukan dan menyerahkan persenjataan. Bukti pihak GAM kali ini percaya bahwa perdamaian akan tercapai.
Namun di balik itu, tak elok kiranya hanya melihat akhir proses perdamaian Aceh tanpa mengetahui sedikit banyak kronologis yang mengiringinya semenjak awal. Tak ada yang terjadi secara tiba-tiba dalam semalam. Rezim penguasa, iklim politik, ketatanegaraan, geopolitik, dinamika perubahan sosial hingga faktor alam saling mempengaruhi terhadap tercapainya perdamaian Aceh.
Sudah umum diketahui bahwa konflik Aceh tak mudah untuk dituntaskan. Apalagi bila menggunakan cara represif ala militer dibandingkan dengan dialog. Konflik yang telah dimulai sejak tahun 1976 (masa orde baru Suharto) ini memang sudah melewati beberapa kali perundingan yang beragam –sejak era reformasi– dengan mediator yang berbeda-beda untuk dicarikan solusi supaya dapat diakhiri. Tetapi hampir semuanya menuai kegagalan.
Keterpilihan pasangan SBY-JK sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia yang pertama kali dipilih rakyat secara langsung dalam pemilu demokratis pasca-reformasi tahun 2004, memberikan harapan bahwa konflik Aceh kemungkinan besar akan segera berakhir. Pasangan SBY-JK bahkan berjanji bahwa mengakhiri konflik Aceh adalah salah satu prioritas utama dalam program mereka kepada rakyat Indonesia.
Tahap demi tahap, pertemuan tertutup antar-kedua pihak terus dilaksanakan. Perwakilan pihak Republik Indonesia (RI) bahkan menjumpai langsung petinggi GAM di Eropa. Proses perundingan kerap kali dikabarkan berlangsung alot. Masing-masing pihak bersikeras dengan opsi yang disodorkan. Hingga akhirnya, seperti yang diberitakan oleh media online nasional (antaranews.com) bertajuk, “Penyelesaian Damai Ala Jusuf Kalla” (2007). Berita ini masih dapat dilacak di internet.
Jusuf Kalla yang saat itu berbicara dengan Malik Mahmud (tokoh sentral GAM), secara blak-blakan menggertak bahwa RI akan siap berperang selama 100 tahun. “Kode” keras ini dilontarkan langsung di hadapan Malik Mahmud. Jusuf Kalla memperingatkan bahwa pertempuran bakal berlangsung lama. Korban yang berjatuhan pun sudah pasti banyak orang Aceh. Karena arena perangnya adalah wilayah Aceh. Orang Aceh yang tinggal di Aceh tentu saja akan menuai penderitaan panjang dibandingkan yang berada di luar.
Terlepas dari efek ucapan Jusuf Kalla, Malik Mahmud tentu saja punya banyak pertimbangan di kemudian hari sebelum bersama timnya selaku perwakilan GAM setuju untuk mengakhiri konflik di Serambi Mekkah. Pikiran bijak Malik Mahmud bersama timnya sebagaimana diketahui akhirnya berhasil memetakan jalan menuju perdamaian.
Alam pun ternyata berpihak pada keberhasilan proses perdamaian Aceh. Musibah Tsunami justru mempercepat tercapainya kesepakatan kedua belah pihak. Secara struktural pun ikut berkontribusi. Proses perdamaian Aceh berhasil juga berkat dipengaruhi oleh faktor SBY selaku presiden RI, yang juga mantan petinggi TNI (Tentara Nasional Indonesia).
Isu yang kala itu berkembang bahwa pihak TNI tak setuju berdamai dengan GAM. Tapi karena hubungan senioritas dan lobi tertentu akhirnya pihak militer melunak dan menerimanya. Bahkan SBY memperpanjang masa jabatan Panglima TNI yang saat itu dijabat oleh Endriartono Sutarto.
Tak ada yang berjalan mulus tanpa batu sandungan yang menghadang. Toh, pada akhirnya perdamaian Aceh berhasil dicapai melalui penandatanganan nota kesepahaman (momerandum of understanding) pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.
Gertakan Jusuf Kalla dan pikiran bijak Malik Mahmud, tak lain merupakan dinamika yang terjadi dalam proses menuju perdamaian Aceh. Di samping peristiwa-peristiwa lain yang mengiringinya. Tak ada yang terjadi secara kebetulan belaka. Proses panjang dan pelik menuju perdamaian Aceh inilah yang mesti dihargai.
Sungguh tak terpuji bila masih ada pihak-pihak tertentu yang berupaya “mengompori” agar tanah Aceh kembali bersimbah darah. Yang di antaranya menuding pihak yang mewakili delegasi GAM sebagai pengkhianat. Justru tim delegasi GAM lebih memikirkan nasib jangka panjang Aceh beserta masyarakatnya, dibandingkan para provokator yang kemungkinan telah kehilangan “sumber pemasukan” setelah Aceh dalam kondisi damai.
Oleh karena itu, marilah sama-sama kita merawat perdamaian Aceh yang telah susah payah dicapai dengan mengisinya dengan pelbagai kontribusi positif melalui program pembangunan dan prestasi. Kalau pun tidak bisa. Sekurang-kurangnya tidak mengganggu kontribusi positif orang lain dan malah mengisinya dengan hal-hal negatif yang justru merugikan Aceh beserta masyarakat yang menghuni Tanah Rencong.
=======
Artikel ini pertama kali tayang di media online lokal acehtrend.com pada 2 Desember 2017.
Meugang, Tradisi Aceh Menyambut Momen Suci
PERAYAAN Idulfitri 1439 Hijriah baru saja usai berlalu. Umat Muslim Indonesia kini banyak yang mulai berbondong-bondong balik ke tempat aktivitasnya masing-masing usai mudik melepas rindu di kampung halaman. Tak terkecuali di Aceh.
Pada akhir bulan Ramadan yang lalu, tepatnya dua hari jelang hari raya Idulfitri, ada tradisi yang saban tahun tak pernah dilewatkan oleh orang Aceh. Baik yang berada di Aceh maupun di pelbagai pelosok tanah air dan juga di luar negeri. Tradisi itu dinamakan meugang. Prosesi menyantap daging bagi setiap orang Aceh bersama keluarga. Jika pun ada yang tak sempat menikmatinya bersama keluarga, maka biasanya akan dilangsungkan bersama komunitas atau paguyuban di masing-masing tempat perantauan.
Lazimnya, daging meugang yang dihidangkan adalah daging sapi atau pun kerbau. Namun demikian, ada juga yang menggantinya dengan daging ayam atau pun itik. Biasanya ini dilakukan oleh mereka yang ekonominya terbatas.
Tradisi meugang secara rutin dilaksanakan masyarakat Aceh dua hari jelang memasuki hari suci umat Islam. Mulai dari pra-bulan suci Ramadan, Idulfitri, maupun Iduladha.
Harga yang per kilogramnya akhir-akhir ini tembus Rp. 150.000 tak jadi persoalan. (Di tempat penulis sendiri harganya bahkan mencapai Rp. 180. 000 per Kg.) Biarpun secara ekonomi ini agak memberatkan bagi sebagian orang Aceh. Tapi nyaris tak ada protes yang menyedot perhatian. Karena ada nilai budaya tertentu yang terselip di baliknya. Sebab ini menjadi ajang uji kemampuan bagi seorang lelaki yang telah dewasa untuk menafkahi keluarganya.
Meugang menjadi momen unjuk diri bagi lelaki dalam mencari rezeki. Tingkat ekonomi pun diukur. Ada yang mampu membeli daging sapi atau kerbau (sering kedua mamalia ini yang berada di urutan teratas daging meugang di Aceh). Atau cuma sebatas pada daging unggas: ayam atau bebek. Di sinilah letak indikatornya.
Tak heran, bagi laki-laki Aceh yang paham akan makna yang terkandung dalam memenuhi kebutuhan meugang, akan sangat malu jika tak mampu membeli minimal 1 Kg daging sapi atau kerbau bagi keluarganya.
Bahkan jika memungkinkan, orangtua dan mertua juga ikut menerima paling kurang 1 Kg. Jadi 3 Kilogram daging sapi atau kerbau angka yang sudah sangat minimalis bagi seorang lelaki untuk wajib disediakan. Demikianlah pentingnya meugang bagi orang Aceh. Khususnya kaum adam.
Sebagai tradisi yang telah turun-temurun, asal mula meugang memang belum ada dokumen tertulis yang kongkret menelisik tentang hal ini.
Ada riwayat yang menyebutkan sejak masa Sultan Iskandar Muda (w. 27 Desember 1636 M). Ada pula narasi versi lain. Namun yang pasti, tradisi meugang sudah berlangsung sejak masa Sultan-sultan pendahulu Kesultanan Aceh Darussalam (1496–1903 M). Yang hingga kini masih terpelihara tradisinya dalam masyarakat Aceh.
Oleh karena itu, beruntunglah bagi setiap orang Aceh yang berkesempatan menikmati hidangan meugang bersama keluarganya. Karena ini merupakan momentum mempererat hubungan keluarga dalam kebersamaan saat menyantap daging meugang. Jarang-jarang dilaksanakan.
Selain itu, tradisi ini merupakan wujud suka-cita orang Aceh dalam menyambut hari suci. Maka pantaslah orang Aceh bergembira dan bersyukur saat hari meugang tiba. Sebab tak lama kemudian, hari suci pun sudah siap untuk disambut.
Aktif Menulis Semuda Anne Frank
KEGIATAN menulis bagi sebagian orang merupakan suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Memulainya saja sudah butuh energi ekstra. Apalagi menulisnya. Akan tetapi, bagi orang-orang yang sudah mahir, tak perlu waktu yang lama untuk menulis apa pun hingga dapat dibaca oleh khalayak ramai.
Sebut saja Annelies Marie Frank. Yang lebih dikenal sebagai Anne Frank. Gadis remaja Jerman yang menjadi korban kekejaman rezim Nazi-nya Hitler. Buku harian yang ditulis olehnya membuka tabir kebengisan pasukan SS (Schutzstaffel) Jerman dalam memurnikan ras Arya dengan membasmi orang-orang Yahudi yang dianggap telah mengambil terlalu banyak sumber kekayaan negeri sang Fuhrer (Adolf Hitler). Karena dominasi orang Yahudi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), serta ekonomi.
Melalui buku harian yang rutin dicatat Anne Frank, dunia menjadi tahu bagaimana masa-masa suram yang dialami orang-orang yang satu etnis dengan Anne Frank berlangsung. Diskriminasi, persekusi, pencidukan hingga pembunuhan menjadi bagian yang saling terkait dan tak terpisahkan. Anne Frank pun akhirnya ikut menjadi korban tragedi ini. Yang kemudian dinamakan Holokaus.
Dalam hal ini, yang patut dicermati adalah produktifnya Anne Frank sebagai penulis, yang masih berusia belasan tahun. Di usianya yang belia, ia bahkan mampu menggambarkan situasi yang saat itu sedang terjadi dalam buku catatan hariannya. Keaktifan Anne Frank dalam menulis, menunjukkan bagaimana tingkat intelektualitasnya telah berkembang melampaui gadis-gadis lain seumurannya.
Kendati demikian, kemampuan menulis Anne Frank mustahil didapat, jika hanya berstandar pada standar baku dalam dunia sastra. Membaca teorinya saja sudah menjemukan. Apalagi membikin sebuah tulisan. Kondisi seperti inilah yang terkadang mempersulit.
Padahal, seperti Anne Frank, semuanya ditulis secara ringan-ringan saja. Namun, substansi informasi yang hendak disampaikan berbobot. Boleh dikatakan "gaya bebas".
Karya tulis Anne Frank menunjukkan bahwa aktif tidaknya seseorang dalam menulis bukanlah disebabkan faktor usia. Melainkan keinginan personal dari orang tersebut. Remaja atau dewasa, semuanya bisa dan mampu menulis asalkan ada keinginan untuk memulainya.
Seperti kata sastrawan terkemuka, Pramoedya Ananta Toer: "menulis adalah sebuah keberanian."
Keberanianlah yang menggerakkan seseorang untuk aktif menulis. Anne Frank adalah salah satu contohnya. Walaupun masih remaja, tapi ia mampu memilih kata, merangkainya, hingga kemudian tersusun menjadi sebuah tulisan. Yang hari ini ternyata sangat berharga informasinya.
Tentu sebelum menulis, seseorang harus sering memperbanyak bahan bacaan. Supaya dapat memperkaya kosakata yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam memulai sebuah karya tulis. Karena tanpa membaca, karya tulis akan sulit terwujud.
Oleh karena itu, tak ada batasan usia untuk memulai sebuah karya tulis. Toh, Anne Frank sudah membuktikannya. Biarpun ia masih sangat muda usianya.
Mie Aceh Goreng