Ada banyak peristiwa yang telah terlewati, masa-masa susah dan senang hingga hal-hal rutin yang membuat hidupmu terasa stagnan. Begitu begitu saja hingga buatmu jenuh.
Lalu, kau membawa ingatanmu pada satu waktu di masa lampau. Saat dimana kau merasa itu adalah salah satu periode terbaik dalam hidupmu. Kau kembali berada pada suatu tempat bersama orang-orang yang telah cukup lama tak kau temui. Orang-orang yang dulu pernah sangat lekat di hatimu. Mereka yang dulu menghiasi hari-harimu dengan begitu indah. Satu diantaranya bahkan membuatmu merasa teramat istimewa. Seseorang yang berhasil menyematkan rasa di hatimu, cinta.
Dia, seorang yang kau anggap tak biasa. Sebab bersamanya, dadamu merasakan debaran-debaran asing yang menyenangkan seperti kembang api yang riuh di malam tahun baru.
Lelaki itu mengajarimu rasa rindu, sayang hingga rasa benci sekaligus. Namun hebatnya, apapun yang terjadi, tak ada satu hal pun yang mampu membuatmu berhenti untuk terus bersamanya. Kau merasa begitu terikat padanya, sebab dia adalah separuhmu.
Lantas datanglah hari itu. Hari yang merenggut ikatanmu dengan dirinya, dia yang sangat kau kasihi. Dia yang kau damba akan menemani hingga ujung waktu. Perlahan, waktu tak lagi memberimu kebahagiaan. Semestamu berubah suram. Semua menjadi kelabu, samar-samar dia pun lenyap dan hilang terbawa ruang dan waktu.
Hatimu sakit, terluka, berdarah.
Kau hilang arah. Dunia terasa begitu asing. Seperti terdampar di pulau tak bertuan. Raga dan batinmu tak lagi utuh. Kau pun putus asa.
Perlahan kau membuka mata. Kau merasa jantungmu masih berdebar, meskipun tak kau rasakan lagi debar indah itu. Hidup harus terus berjalan, batinmu. Suara hatimu berbisik. "Ini bukan akhir segalanya.. Kau tak kan hidup selamanya di dunia. Tempat ini hanya persinggahan. Percayalah.."
Lalu kau menguatkan hati. Ya, aku harus melanjutkan hidup. Walau semua tak lagi sama. Tak ada lagi dia, tak ada lagi cinta. Namun kau merasa hatimu masih cukup kuat dan luas untuk mengarungi hidup di masa depan. Kau percaya bahwa kau mampu berdiri di atas kakimu sendiri, dengan ataupun tanpa siapapun yang akan membersamai.
Hari-harimu berlanjut. Seiring waktu kau berproses menyembuhkan kepingan hati yang pernah berserak. Terkadang kau kembali merasakan kejenuhan itu. Jenuh dengan rutinitas. Dengan kesendirian-yang anehnya malah kau rindukan saat kau mulai membuka diri terhadap orang lain. Sebab pada dasarnya kau adalah seorang introvert yang menikmati kesepianmu.
Beberapa peristiwa di sekitar menyadarkanmu. Betapa selama ini begitu banyak nikmat tuhan yang kau abaikan dan urung disyukuri. Seperti orang-orang yang didera sakit, sehingga tak memiliki daya untuk menjalani hidupnya secara normal lagi. Pernahkah kau membayangkan apakah kau akan sanggup menanggung cobaan sakit parah hingga jatah hidupmu di dunia seperti sudah ditentukan tak berlangsung lama lagi?
Entahlah, kita tak pernah tahu bagaimana kelak cara tuhan akan menamatkan tugas kita untuk hidup di dunia.
Hanya saja ada berbagai pertanyaan yang hinggap di kepala, apakah kelak di kehidupan selanjutnya kita akan kembali menemukan orang-orang terkasih yang telah lebih dulu pergi? Bagaimana rupa kita, akankah kita akan saling mengenali? Apakah rasa yang kita punya akan tetap sama seperti saat kita merasakannya di dunia? Akankah cinta terasa hingga ke surga?