Dulu saya membuat draft Timur dan Barat dengan rasa galau. Saya adalah orang yang selalu menggunakan rasio dalam menilai sesuatu. Nggak mudah bagi saya buat nerima premis:
âKamu galau karena kurang ibadahâ
âMuhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel karena ibadahnya kuatâ
Bagi saya, ada missing link yang harus dijelaskan untuk benar-benar bisa menerima premis di atas.Â
dalam otak saya, justeru yang terekam adalah:
Saya galau karena problem saya.Â
Muhammad Al Fatih menang karena dia memang cerdik dan serius.
segala missing link itu Alhamdulillah mulai terjawab ketika saya mengenal buku-buku syaikh Ash Shallabi. Ada tiga buku beliau yang pernah saya baca. Pertama, Fiqih Tamkin. Kedua, Iman kepada Qadar. Ketiga, Biografi Khalifah Umar bin Abdul âAziz.
Menariknya, dalam ketiga buku ini, meskipun topik bahasannya beda-beda, saya menangkap pemikiran syaikh Ash Shallabi bahwa Allah menetapkan sebuah sunnatullah yaitu manusia harus mau berikhtiar untuk mencapai apa yang dia inginkan.
Dalam fiqih Tamkin, beliau menjelaskan bahwa ada dua sebab kemenangan ummat. Yaitu sebab-sebab maknawi (penguatan ruhiyah) dan sebab-sebab material (penguatan kompetensi dalam pengelolaan sumber daya). Dari sini, saya belajar melengkapi missing link di otak saya.
Saya dulunya yang (mungkin salah) mencerna sehingga beranggapan bahwa amal yaumi adalah semacam senjata pamungkas (dalam artian apapun problem kamu, asalkan amal yauminya kuat, akan terselesaikan). Tapi setelah membaca segala penjelasan syaikh Ash Shallabi, amal yaumi adalah pondasi. Setelahnya, masih banyak hal yang harus kita ikhtiarkan untuk menjadi ummat yang shalih dan produktif.
Mungkin banyak yang bilang:
âLealah, yo lawas mbakâ
Tapi really, untuk orang yang otaknya secara default tercetak if then else kayak saya, hal demikian sangat sulit dipahami. Saya awalnya mikir, bagaimana ibadah bisa ngebuat Al Fatih menang? Kalo Al Fatih nggak faham strategi perang, pasukan ottoman bakal hancur di hadapan tembok Konstantinopel.
ada juga sih yang ngingetin saya:
âKemampuan manusia terbatas, nggak semua bisa dinalarâ
Saya percaya bahwa Allah Maha Berkehendak. Yang andaikata Allah berkehendak memindahkan saya dari Surabaya ke New York dalam satu detik, nggak ada yang sulit. âKunâ, âFayakunâ.
Tapi dengan melihat ada banyak temen yang bilang:
âGue udah ibadah total banget tapi apa yang gue pengen kok tetep nggak kesampaian. Apa Allah nggak ngejawab doaku?â
rasanya jawabannya nggak cukup dengan prasangka
âmungkin ibadahmu kurang ikhlasâ
atau dengan sekedar menjawab
âkamu harus lebih sabarâ
dan setelah dicari jawabannyaâŚ..
Allah menetapkan sunnatullah bahwa untuk mencapai kesuksesan, kita harus berikhtiar. Syaikh Ash Shallabi menjelaskan dengan gamblang tentang hikmah adanya ikhtiar dalam buku Iman kepada Qadar.
Lantas apa hubungan amal yaumi (penguatan ruhiyah) dengan keberhasilan seseorang? Amal yaumi akan membuat kita senantiasa mengingat Allah serta mengingat akhirat. Secara tidak langsung, amal yaumi adalah karunia yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk menjaga langkah kita agar selalu lurus sehingga kita selamat ketika di akhirat kelak.
Maka jika kita sudah berusaha keras untuk mencapai sesuatu padahal sudah berdoa, jangan sampai kita lantas marah kepada Allah. Teruskan doa, teruskan ikhtiar. Kalaupun setelah ikhtiar sekian lama ternyata takdir sudah diketok dengan kata âTidakâ, insya Allah dalam ikhtiar-ikhtiar kita ada pelajaran-pelajaran yang membentuk kepribadian kita menjadi lebih baik dan lebih kuat bila kita mau berbaik sangka, merenung dan belajar.
Tidak ada yang sia-sia dalam ikhtiar menuju kebaikan, sekalipun ikhtiar tersebut tidak berhasil.
Contoh orang shalih dengan ruhiyah yang kuat dan kompetensi sangat mumpuni adalah Umar bin Abdul âAziz. Muhammad Al fatih juga masuk kriteria ini. Tapi saya masih kurang literatur tentang kebijakan-kebijakan politik Sultan Muhammad Al Fatih sementara kisah yang dijabarkan oleh Syaikh Ash Shallabi dalam biografi Umar bin Abdul âAziz memberikan gambaran yang lebih lengkap bahwa âUmar yang mampu membawa daulah islam menuju kejayaan hanya dalam jangka waktu dua tahun bukanlah pribadi yang instan dibentuk dengan amal yaumi saja.
Beliau lahir dari keluarga politik, pernah menjadi gubernur dan mengambil peran sebagai oposisi khalifah, pernah salah menghukum seseorang hingga membuat beliau menyesal dan mengundurkan diri dari posisi gubernur, dan pernah menjadi penasihat Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Dilihat dari track record nya saja kita bisa menyimpulkan bahwa beliau sangat kompeten menjadi khalifah. Ditambah dengan reputasi beliau sebagai ulama.
Kita mungkin lebih mengenal âUmar sebagai Khalifah. Namun syaikh Ash Shallabi juga menyebutkan bahwa Umar sangat kompeten untuk berijtihad. Dari sini, kita tentunya bisa membayangkan bagaimana pemahaman âUmar terhadap Al Qurâan dan Hadits. Tentunya hal ini juga bukan sesuatu yang instan.
Dulu, saya pernah berpikir untuk mengurangi kadar amal yaumi dengan asumsi saya akan mempelajari kompetensi profesi saya dengan baik dan diniatkan untuk ibadah. Tapi dari waktu ke waktu, saya membuktikan bahwa pikiran saya salah. Amal yaumi itu seperti sumber tenaga yang ketika kita nggak melakukannya sama sekali, jalan kita akan terpincang-pincang. Bisa jadi kita akan lupa tujuan jika silaunya dunia mulai menggoda.
Bagaimanapun, kita perlu memperkuat interaksi kita dengan Allah lewat amal-amal yaumi kita. Umar bin âAbdul Aziz berinteraksi dengan Al Qurâan dengan cara yang amat baik. Beliau senantiasa membaca dan menghayati makna ayat-ayat yang beliau baca. Malam-malam beliau dihabiskan dengan tahajud. Akhlak beliau Qurâani.
Maka benarlah seperti yang disampaikan syaikh Ash Shallabi bahwa sebab maknawi dan sebab materi dalam ikhtiar menggapai kemenangan harus berjalan beriringan.
daritadi ngomongin amal yaumi, sebenarnya apa sih amal yaumi itu? Amal yaumi adalah kegiatan sehari-hari untuk mendekatkan diri kita kepada Allah. Di antaranya:
3) Menghadiri majelis ilmu
Kadarnya bisa kita atur masing-masing sesuai kemampuan. Tapi usahakan istiqomah dan meningkat dari waktu ke waktu.
dari bukunya Syaikh Qardhawi âBagaimana berinteraksi dengan Al Qurâanâ, gue dapet insight bahwa kita semestinya meningkatkan interaksi dengan Al Qurâan yang nggak sekedar tilawah tapi juga berusaha memahami maknanya. Syaikh As Sudais membaca ayat:
âYauma naquulu li jahannama halimtalaâti wa taquulu hal min maziidâ
dalam surat Qaaf, di ulang tiga kali sambil sesenggukan. Meanwhile gue, baca ayat apapun tetap dengan flat karena nggak ngerti artinya. Bikin prihatin :(
Satu lagi amal yaumi yang tak boleh kita lupa yaitu menghadiri majelis ilmu atau minimal baca buku untuk menambah wawasan kita tentang Islam. Sebab jika kita tidak istiqomah mengupgrade pamahaman, akan sulit bagi kita untuk memelihara diri kita untuk tetap di jalan yang lurus ketika cobaan datang bertubi-tubi.
Jika hati galau, bacalah Al Qurâan dan segera selesaikan sumber kegalauanmu :)
Jangan jadikan Al Qurâan sebagai tempat lari dari masalah tapi jadikan Al Qurâan sebagai bekal untuk menyelesaikan masalah yang kita punya.