Tulisan: Untuk yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Apakah kita benar-benar siap dengan masa depan? Jika saja apa yang hari ini selalu diusahakan dan didoakan ternyata tidak akan menjadi kenyataan bagaimana? Apakah kita akan kecewa dan mencela takdir?
Bukan soal pesimis atau berprasangka buruk, hanya saja kita butuh untuk merefleksi sudah sepasrah apa jiwa dan hati kita menerima sesuatu yang di luar prediksi kita nanti. Nyatanya, kita hari lupa untuk melangitkan doa soal kelapangan hati menerima semua kemungkinan di masa depan.
Pada karir yang belum tentu kita dapatkan, soal usia kita yang belum tentu panjang, bahkan soal pasangan yang belum tentu kita dapatkan dan pertahankan. Dunia ini unik dengan segala kemungkinan dan arah takdir yang tidak pernah tertebak kemana akan berhembus membawa kita.
Bahkan kita lupa soal menata mimpi di masa depan, langkah apa saja yang harus kita lakukan, bagaimana memulainya, dan soal kekhawatiran lainnya yang menjadikan kita ragu untuk melangkah dan takut untuk keluar rumah.
Benar, seseorang yang belum selesai dengan dirinya sendiri akan sangat sulit untuk berkarya, yang ada hanya hantu pikiran yang terus menakuti dan memenjarakan diri.
Tidak ada yang lebih penting untuk kita selesaikan kecuali dengan diri sendiri, sebab seseorang yang belum selesai dengan dirinya sendiri hanya akan merepotkan langkah kakinya, bahkan mungkin akan merepotkan orang lain.
Selesaikan saja dulu antara diri kita dengan semua ketakutan, soal meyakinkan keraguan, menenangkan pikiran, dan menjalani apa yang hari ini ada dengan senang dan syukur. Soal masa depan biarkan tetap menjadi rahasia Tuhan saja, kita hanya bisa berusaha dan berdoa bukan? Selebihnya biarkan Tuhan yang mengatur.
Mari melangkah, mari selesaikan sesuatu yang belum selesai dengan diri sendiri. Sebab perjalanan kita baru saja dimulai :’)