Keputusan
"Kamu pikir-pikir lagi ya Sa, kamu yang paling tau mau bertahan atau pisah." ucap Tika mencoba menguatkanku.Siang itu kami duduk di sebuah bangku panjang yang berada di pelataran pengadilan agama. Di tasku sudah terkumpul berkas-berkas gugatan."Aku bingung Tik, ini semua sepenuhnya salahku." ucapku pada sahabatku ituTika diam tak menanggai ucapanku, sepertinya ia ingin membiarkanku larut dengan isi kepalaku yang carut marut.--------Pikiranku menerawang teringat permintaan bapak dan ibu delapan tahun yang lalu." Aji anak yang baik kok nduk, dia pekerja keras. Bapak dan ibu sudah lama kenal orangtuanya." tutur bapak kala ituMas Aji, laki-laki yang entah keberapa kali dijodohkan denganku. Waktu itu di usiaku yang terlewat seperempat abad katanya sangat terlambat karena belum segera menikah. Desakan sana sini membuatku semakin kalut dalam memilih."Ibu sudah tua nduk, entah apalagi yang kamu cari. Takut sekali ibu tidak bisa momong cucu nantinya." ucap ibu dengan suara bergetar."Ayolah Risa, apalagi yang mau kamu cari. Usiamu sudah ndak mudah lagi loh. Jangan kebanyakan milih-milih. Gak kasihan apa sama bapak ibu." celoteh Mbak Winda, kakak sepupuku yang sangat dipercayai bapak ibu.Entah kenapa saat itu aku terdiam, tidak berargumentasi seperti yang kulakukan sebelum-sebelumnya. Sepertinya karena memang aku sudah kelelahan dengan berbagai desakan tentang pernikahan. Ditambah lagi perasaan gagal karena menjadi beban orangtua dan tentunya rasa bersalah setiap kali melihat ibu menangis karena anak perempuannya ini tak kunjung menikah.------Mas Aji memang pekerja keras, tapi ternyata materi saja tak cukup dalam berumah tangga. Ada banyak perbedaan yang seringnya membuat kami tak sepemikiran. Perdebatan tak jarang terjadi namun seringnya ia memilih pergi, menghindar, dan menumpuknya tanpa penyelesaian."Suatu saat nanti Mas Aji pasti berubah.""Mungkin saja frekuensinya nanti bisa nyambung seiring lamanya pernikahan." Kalimat-kalimat itu selalu ku ucapkan agar tetap kuat bertahan.Meski nyatanya di usia delapan tahun pernikahan Mas Aji tidak berubah. Ia masih saja menghindar setiap ada masalah di keluarga kami, kebiasaannya mengendap-endapkan masalah justru menjadikan masalahnya semakin besar dan sulit teratasi.------Tika menyodorkan tisu karena tanpa sadar air mataku deras megalir terbayang gurat kekecewaan orangtuaku jika aku dan Mas Aji berpisah. Dan bagaiman nasib Shafa, anak perempuanku yang berusia 6 tahun. Safa masih sangat membutuhkan kedua orangtuanya secara utuh. Tetapi kali ini pertahananku sudah runtuh, harapan Mas Aji akan berubah rasanya sudah padam."Shafa layak hidup tenang tanpa melihat pertengkaran kedua orangtuanya. Terlihat sekali dia tumbuh menjadi anak yang mudah gelisah karena dulu kami sering bertengkar dihadapannya." tuturku memecah keheningan"Kamu juga layak bahagia Ris, menemui jiwamu yang dulu dan menghidupkannya kembali." ucap Tika sambil menatap lekat padaku."Risa yang dulu sudah hancur Tik, saat dimana aku membuka sekat-sekat batasanku, menoleransi hal-hal yang tidak sesuai prinsipku sesungguhnya adalah cara menghancurkan diriku dengan sempurna." jelasku pada Tika"Tapi kali ini aku harus melangkah, bukan lagi tentang harapan Mas Aji akan berubah tetapi tentang aku dan arah yang akan ku tuju." ucapku bukan pada Tika tetapi pada diriku sendiri.

















