Layaknya rejeki mungkin seperti itu juga cara kerja datangnya jodoh. Sudah diusahakan seperti apapun, jika bukan untuknya, maka tidak akan pernah menjadi miliknya.
"Kenapa si kamu terlalu pemilih? Kenapa si kamu tidak membuka hati? Memangnya usahanya masih kurang untuk meluluhkan hatimu?", perkataan ini Sinta dengar dari mulut Kakaknya sendiri, Rino.
Sambil menyentil dahi kakaknya, Sinta menjawab pertanyaan tersebut, "Tahu apa Bang Rino tentang usaha dan hatiku hah! Orang Bang Rino sendiri saja masih jomblo kan. Hahaha."
Kesal dengan perkataan Sinta, lantas Rino memasang mode seriusnya, "Sinta. Aku tahu patah hatimu di masa lalu membuat kamu tak percaya lagi akan cinta. Aku tahu traumamu akan masa lalu masih terus terbayang. Tapi tidak bisakah kamu sedikit membuka hatimu? Kamu harus keluar dari ruang gelap itu Sin. Abang janji, abang akan selalu disampingmu. Abang akan ikut menyeleksi deh lelaki yang bakal masuk ke kehidupanmu. Gimana? Deal?"
Semenjak kejadian beberapa tahun lalu, Rino selalu berusaha untuk menghibur Sinta namun selalu gagal. Kekesalan Rino selama bertahun tahun kepada lelaki yang sudah menyakiti Sinta pun tak pernah berkurang. Lelaki itu yang sudah dipersilahkan masuk, dan diperjuangkan mati matian oleh Sinta di depan keluarganya, malah melakukan perselingkuhan yang ternyata dengan sahabatnya sendiri.
Bang Rino menjadi satu satunya keluarga ternyaman yang bisa ia ceritai segala hal. Sinta bersyukur memiliki kakak yang begitu peduli dengan adiknya. Mungkin memang seperti itu cara kerja seorang kakak ketika melindungi adiknya. Namun bagi Sinta, saat ini Abangnya saja sudah cukup. Tidak lebih tidak kurang, dalam takaran yang pas dalam hidup.
Sumber : Pinterest (Bunga Anemone)





















