Attachment, Negosiasi, Integrasi
Dari sekian banyak konflik yang gue alami ketika berurusan dengan orang lain, gue jadi paham bahwa bekerja bersama orang lain itu memang akan mengekspose segala sisi buruk dalam diri kita wkwk. Sisi egoisnya, sisi tidak mau mendengarkan, kemelekatan, rasa takut yang nggak rasional dan banyak lagi. Makanya muamalah memang jadi salah satu jalur mengenal orang lain.
Ada hal menarik yang juga gue dapat dari konflik. Banyak konflik yang awalnya gue kira konflik antar manusia:
"Gue kok nggak nyaman ya sama dia? Sepertinya dia memang jahat"
"Gue kok nggak suka ya sama kritiknya dia? Sepertinya dia memang sengaja nyerang gue"
....lalu gue belajar memeriksa akar segala perasaan yang tidak nyaman. Turns out banyak konflik-konflik yang gue alami tuh dipicu ego dan kemelekatan (attachment) yang tidak sehat terhadap sesuatu.
Attachment jarang terlihat besar dan dramatis. Ia sering hadir dalam bentuk yang ketenangan dan ketekunan yang rasional. Kalau nggak tertrigger nggak kelihatan. Tapi begitu tertrigger, kita sadar bahwa ada banyak hal yang kita genggam terlalu berat. Entah itu ide, arah, peran, dan banyak hal yang lain. Ketika hal tersebut diusik oleh orang lain, kita ikut terasa terguncang.
Attachment yang sehat memberi kita energi. Ia membuat kita bisa konsisten dan disiplin menjalankan sesuatu. Tanpa attachment, kita mungkin tidak punya daya juang. Tetapi attachment juga membawa beban. Ketika kita melekat terlalu dalam terhadap satu hal, maka perbedaan perspektif tentang hal tersebut jadi terasa ancaman. Bahkan koreksi dari orang lain seperti serangan. Dan kegagalan kecil bisa berkembang menjadi kekalahan pribadi yang traumatis.
Gue ngedesain program sampai lembur malam-malam. Lalu ketika orang lain mengkritik, maka respon reflek pertama pasti membuktikan kualitas program kita. Meyakinkan biar program kita diterima. Bukan mendengarkan kritik dengan tenang.
Gue ga nyuruh meragukan diri sendiri atau sampai second guessing ya. Tapi ada bedanya orang yang mendengar untuk mendengar atau mendengar untuk menjawab ~XD Nah yang mendengar untuk menjawab ini seringkali akarnya attachment yang ga sadar. Yang bikin kita "orang ini nyerang ide baruku" sehingga kita menjadi bias dan tidak bisa memahami bahwa hal baru ya memang biasanya diragukan dulu. Apalagi kalo resourcenya dikit.
Pernah juga gue mengalami perasaan:
"Kok kalo gue achieve sesuatu, gue nggak dipuji ya? si xyz sering dipuji padahal ga setinggi gue. Si xyz vokal banget dan suaranya keras. Apa gue ngikutin dia aja biar didengerin"
kemudian perasaan tersebut berkembang:
Gue istighfar wkwkwk. Ini perasaan macam apaaa. Udah umur 35 baru mengalami perasaan semacam ini.
Negosiasi: Percakapan yang Tidak Terdengar
Suara hati kita seringkali memang suara yang paling jujur. Tapi kejujuran itu tidak sama dengan fakta wkwk. Memori manusia itu hasil rekonstruksi otak. Hampir bisa dipastikan bercampur dengan emosi. Itulah kenapa saat kita sebel sama orang, otak seringkali mengambil perspektif yang jelek-jelek tentang orang tersebut.
Again ini obrolan bukan buat meragukan diri sendiri yaaaa. Lebih mengajak untuk punya jeda saat nemu problem. Lanjutan suara hati gue yang tadi:
"Apakah Dea iri dengan xyz?"
"Apakah gue insecure sama xyz?"
..... atau gue sebenernya cuma jenuh dan merasa dunia gue terlalu kecil? gue sendiripun di posisi ga bisa mengendalikan respon orang lain terhadap sesuatu. Masak iya gue bilang ke semua orang:
"Eh kamu harus menghargai pencapaianku"
Gue pun meninggalkan percakapan ini sambil banyak istighfar. Sampai suatu hari gue sibuk kerjaan lain yang bikin gue happy dan gue lupa sama rasa nggak nyaman perkara achievement yang ga dipuji tadi.
Di titik ini gue jadi paham bahwa gue sebenernya nggak iri wkwk. Gue cuma terlalu menempelkan kampus ke identitas. Sejak itu, gue belajar bahwa kerjaan ya memang kerjaan aja. Bukan sesuatu yang perlu kita bawa sampai rumah, sampai hari libur, sampai memakan hidup kita. Biar dunia kita lebih luas.
Ini cuma contoh kasus sederhana aja. Di luar itu masih banyak lagi. Contohnya pas rapat di satu forum yang hirarkis. Mau serasional apapun argumen kita, arah respon forum akan selalu sama. Nggak akan mendengarkan kita. Gue yang dulu mikir:
"Apa gue perlu jadi orang yang kuat dulu ya?"
Sampai sekarang paham bahwa setiap tempat punya tipe pembicaraan sendiri dan punya porsi alokasi energi sendiri. Ga perlu terlalu attach dengan perdebatan. Alokasikan energi secukupnya saja.
Saat gue melewati banyak sekali gesekan, sebelum arguing keluar, ternyata ada banyak negosiasi di dalam yang perlu kita lewati. Negosiasi ini sunyi. Ia muncul dalam bentuk pertanyaan kecil: Apakah ini perlu dibela? Apakah ini tentang nilai atau tentang harga diri? Jika hasilnya tidak sesuai, apakah aku tetap utuh?
Negosiasi bukan tentang mengalah. Ia tentang memeriksa kemelekatan. Kadang kita sadar bahwa yang kita pertahankan bukan hal mendasar. Kadang kita justru semakin yakin bahwa ini memang prinsip.
Negosiasi membuat kita tidak langsung reaktif. Ia memberi jarak antara emosi dan tindakan. Tanpa negosiasi, attachment berubah menjadi impuls yang membuat kita selalu reaktif.
Integrasi: Melepas Tanpa Menghapus
Setelah proses negosiasi, biasanya ada proses integrasi. Kadang integrasi itu nampak seperti netral dan plin-plan. Atau mungkin tidak tegas wkwk. Saat muda, kita mungkin suka ketegasan. Tapi semakin berumur, ternyata yang kita butuhkan adalah keluasan sudut pandang dan kemampuan memegang kontradiksi dengan tenang.
Lantas integrasi itu apa?
Integrasi adalah kemampuan untuk tetap memegang nilai tanpa menggenggamnya terlalu keras.
Kita bisa berkata:
βAku tetap percaya ini penting.β
Tapi di saat yang sama, kita bisa cukup sadar untuk mengambil sikap:
βAku tidak perlu memaksakan hasilnya.β
Integrasi membuat kita bisa menerima bahwa kita bisa benar, tanpa harus menang. Kita bisa kalah, tanpa kehilangan harga diri. Kita bisa terluka, tanpa menjadi pahit. Jangan sampai disalahpahami bahwa integrasi itu menghapus emosi. Tidak. Emosi tetap ada. Attachment tetap terasa. Tetapi ia tidak lagi mengendalikan keputusan. Karena proses negosiasi sebelumnya membantu kita memberi jarak antara emosi dan masalah sehingga ada proses regulasi di dalamnya
Ketika attachment dikenali dan negosiasi dilakukan dengan jujur, awalnya memang terasa sakit wkwk. Tapi setelah semua gejolak emosinya reda dan proses integrasi selesai, ruang batin menjadi lebih luas. Kita tidak lagi perlu membela semua hal. Kita tidak lagi merasa setiap perbedaan adalah ujian eksistensi. Dan dari ruang itu, kita bisa bergerak lebih ringan.
Mungkin kedewasaan bukan tentang tidak lagi melekat. Tetapi tentang mampu melihat keterikatan kita, bernegosiasi dengannya, lalu memilih hidup dengan tenang.
Dan di dalam ketenangan itu, kita tetap manusia biasa. Punya emosi, punya kehendak, dan punya keterikatan. Tapi tidak lagi dikendalikan.