Kemarin di Posyandu, seorang ibu datang menghampiriku dengan raut cemas di wajahnya.
"Mbak, anak saya kok konsentrasinya kurang ya? Susah banget diminta fokus."
Beliau bercerita tentang dua anak laki-lakinya yang berusia 6,5 dan 7,5 tahun. Mendengarkan saja, sudah bisa ku bayangkan bagaimana sirkus harian di rumah dengan dua anak lelaki yang sedanv ada di fase puncak mengeksplorasi dunia.
Ketika aku mencoba berinteraksi langsung dan mengajak anak-anaknya mengobrol, dugaanku benar. Anaknya sehat, pintarj, dan gerak aktifnya masih dalam tahap yang sangat wajar. Mereka tidak melewatkan proses belajar, dan hanya membutuhkan ruang untuk menyalurkan energinya. Dan diusia segitu, dunia mereka memang bermain.
Maka, alih-alih terus mengulik tentang anak, kuputar arah pembicaraan. Aku menatap lekat mata ibunya, lalu bertanya pelan:
"Tapi Ibu sendiri... bagaimana menghadapi dua anak laki-laki yang seaktif ini? Ibu baik-baik saja?"
Beliau menjawab cepat, "Baik, Mbak..."
Namun, tubuh tidak bisa berbohong. Detik itu juga, matanya berkaca-kaca.
"Ibu boleh cerita apa saja di sini. Kalau keadaannya memang sedang tidak baik-baik saja, itu juga tidak apa-apa..." -- sambil memegang tangannya dengan lembut.
Ibu itu menangis terisak, dengan napas yang terasa berat ditenggorokan. Sebuah tangisan dari puncak kelelahan yang selama ini dipendam sendirian sebagai seorang ibu bekerja yang harus selalu tampak bisa menghandle segalanya.
Momen ini kembali mengetuk kesadaranku: Sering kali, anak-anak mungkin tidak sedang mengalami gangguan konsentrasi. Mereka hanya sedang menjadi anak-anak.
Yang sebenarnya sedang krisis adalah tangki emosi orang tuanya. Kelelahan secara mental membuat kita menjadi sangat peka terhadap suara, gerakan, dan tuntutan. Akibatnya, sumbu sabar kita otomatis memendek.
Jangankan menghadapi anak yang aktif, mendengar suara mainan jatuh saja bisa memicu amarah yang besar. Akhirnya, kita sering keliru melabeli dengan masalah konsentrasi atau tidak bisa diam, padahal mungkin kitalah yang sedang butuh jeda, butuh didengar, dan butuh dukungan.
Untuk para ibu yang sedang berada di fase melelahkan ini, baik kamu yang bekerja di luar rumah maupun yang mendedikasikan waktu penuh di rumah:
Menjadi lelah itu manusiawi, ini tidak berarti kamu ibu yang gagal atau tak bersyukur.
It's okay not to be okay. Menangislah jika itu bisa melonggarkan dada yang sesak.
Anak-anak tidak butuh ibu yang sempurna, mereka butuh ibu yang jiwanya sehat dan waras.
Sebelum kita sibuk mencari cara untuk memperbaiki perilaku anak, mari tengok ke dalam diri kita terlebih dahulu: Moms bagaimana kabarmu hari ini? ❤️
D28 Belajar Menulis











