ayaâs archive
books and writing
curious cat answers iâd like to keep
main account (kpop, animanga, and random)
writes: writing account / curiouscat / ao3
medium
trakteer
ask box
writing commission

PR's Tumblrdome
Cosimo Galluzzi

Janaina Medeiros

oozey mess
will byers stan first human second

romaâ
he wasn't even looking at me and he found me
d e v o n

tannertan36
I'd rather be in outer space đ¸

titsay
AnasAbdin
Cosmic Funnies
Mike Driver
Sweet Seals For You, Always

â

izzy's playlists!
Lint Roller? I Barely Know Her
i don't do bad sauce passes
NASA
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from Italy

seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Canada

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from TĂźrkiye

seen from United Arab Emirates

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
@mayweblue
ayaâs archive
books and writing
curious cat answers iâd like to keep
main account (kpop, animanga, and random)
writes: writing account / curiouscat / ao3
medium
trakteer
ask box
writing commission

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
before sunrise (1995)
i wish you a kinder sky
haaaloww kak ayaaaa, kak aya ada rekomendasi literatur/buku buku hukum pidana/perdata/htn/dll, fiksi2 jg bolehh yg menurut kak aya sangat recommended untuk dibaca law student gituuuuu thank youu kak ayaaa, anw baswei aku kangen banget sm kak aya dan tulisan tulisan kak ayaa hiksss skssksjkssk lopyuu
wah apaa yaaa kayaknya kalau km tertarik sama agraria aku rekomendasi orang2 proyek ahmad tohari utk fiksi, untuk non-fiksi mungkin di bawah tanah lian sinclair. kalau buku2 hukum pidana jujur aku saranin baca aja novelnya agatha christie HAHAHAHA. trs menurutku utk ngasah paradigma kamu baca deh ilmu hukumnya satjipto rahardjo/hukum progresif #undiproud #undipjaya
kakaakkk kangen bangett, selain baca tulisan kakak, aku biasanya ke cc buat baca-baca jawaban kakak, tapi jujur galaw brat cc sekarang nggak bisa diakses lgie... sedih... semoga kakak selalu dikasih bahagiaa
HELOUUU!!! iya padahal seru banget yaa di cc aku dulu banyak hal seruuuu :( skrg aku mulai lagi di tumblr... km baik2 jg yaaaaaa bahagia selalu <3

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
ka aya kangen deh wwkkwkw baca tulisan km brings me comfort, mungkin waktu km lg sering2nya post hidup ak masi santai skrg udh kayak asuuuu capek bgt gwwwwwww,, sehat2 terus ya kaayaaaa ak percaya km ga di penjara
hehe helouuuuu. iyaa wkt aku masih sering2 ngepost jg hidupku ga sejungkir balik sekarang tp gapapaaaa it's for the better kan!!! makin kita gede makin heboh gedubrakannya. tengs loh udah percaya ga dipenjara đ kesamaanku sama yuuta cuma menghilang dan mengembara tp sisanya TIDAK ya kawan-kawanđŤľ
Hi Kak Aya
I am one of your new readers. Keputusan buat baca medioker untuk pertama kalinya akan selalu jadi salah satu hal terbaik that ever happened to me, Kak. Firstly, i really want to thank you for creating such beauty. Medioker is a real masterpiece.
I really want to befriend you, Kak. If I may, that would be great and I will be so happy hehe. There's a lot I want to say and talk with you. And anyways, hope you're having a great day, Kak Aya! <3
thanks a lot! medioker jg salah satu tulisanku yang aku suka jadi senang kalau itu bisa buat kamu senang. currently aku sedang tidak terlalu available di twitter publik, tapi kalau mau kunjungi aku ada di @/posicuntisme (my personal acc & random if you dont mind). tapi seringnya aku online di tumblr jadi kalau mau ngobrol boleh di sini! moga harimu baik juga yaa <3
will ye go, lassie, go?
âpanik kali, gue umur segini belum nikah. makanya doi freak out karena nyokap gue takut gue gay dan impoten.â
âmaam, i really can confirm that your son is very much straight and hundred percent can erect.â
kamu tertawa saat berbisik perempuan sinting sambil membilas piring di wastafel. sementara aku menatap figur sampingmu lembut, tak bicara lagi. seperti biasa di hari-hari sepi kita di kamar studio apartemen tamansari semanggi. kegetiran di sabtu pagi yang biasanya jarang kita bahas sepanjang ini.
kamu tiba-tiba bilang kalau ibumu memintamu menikah dan aku gemetar sekujur tubuh entah untuk alasan apa. gara-gara ide tololmu semalam untuk bilang kalau kamu minta izin ke ibumu bahwa kamu ingin lajang sampai mati. ibumu menggila dan menyuruhmu pulang, lalu kamu menurut tanpa banyak perlawanan. mungkin itu alasan mengapa aku tidak merasa tenang.
beberapa waktu sebelumnya, kamu berkata kalau barangkali cintamu pada ibumu tidak sama sekali tanpa pamrih. my pa is no longer here, kamu bicara dengan senyum yang sering kulihat di setiap pagi kala aku menetap di tempatmu buat barang sehari dua hari, she is the only one i have. dan kamu, laki-laki paling rasional yang paling aku kenal, memilih untuk takluk pada ketakutan akan duka yang satu itu. lalu memilih menurut dan berhenti hidup tanpa kekhawatiran harus mencintai orang lain buat waktu yang lama. seperti yang berulang kali kamu katakan padaku. bagimu, cinta selalu adalah kengerian itu.
aku adalah perempuan paling pesimis di hidupmu, kamu berkali-kali bilang itu. ketakutanku pada konsep tak pernah berhenti membuatmu takjub tidak peduli seberapa sering kita bersenggama. kamu menolak ajakan makan malamku tapi membiarkan penisku masuk, tapi kukira itu hanya akan sejauh candaan penetrasi. dan aku betulan ingin itu berhenti di sana sebab kamu selalu lebih baik daripada apa yang bisa aku tawarkan dalam hidup, dari segala yang aku punya maupun tidak berani aku harap untuk punya. hingga harapan pun berubah jadi secungkil kedekilan yang mujur. aku berada di sini entah kenapa dan tak berani pergi juga, entah kenapa.
kamu adalah seorang pecinta tuhan. entah buat alasan agama atau bukan, kamu sudah berdoa tiap kali aku baru akan berangkat mandi. sambil menatap pigura mendiang ayahmu, kamu mendoakannya hidup tenang di, entah, di mana, kamu menjawab waktu aku bertanya. tapi kamu berdoa seperti keyakinan itu ada di balik kulitmu dan kamu menyayatnya tanpa rasa sakit. semudah bernapas. dan pemahamanmu pada kehidupan barangkali sedikit banyak dipengaruhi hal itu. tekun, banyak pertanyaan, tapi tabah. sebab kamu entah mengapa begitu yakin tuhan mencintaimu dan oleh karenanya kamu selalu merasa aman meski kamu menghabiskan banyak hari untuk meniduri perempuan dengan isi kepala yang begitu sepi. kamu tidak takut pada kengerian di tubuhku, pada isi vaginaku, pada ributnya bibirku memprotes agar kamu tak boleh sepercaya itu.
jadi segala takut yang akhirnya muncul itu sebetulnya beralasan. kamu tidak romantis, kamu terus-terusan memakai kepalamu. tapi pengecualian itu kamu berikan khusus buat ibumu yang setahun sekali kamu kunjungi. perempuan yang bahagia selama pernikahannya, yang terus meyakinkanmu bahwa kamu juga akan bahagia. perempuan yang, pendapatmu, berbeda seratus delapan puluh derajat denganku. ibumu seriuh pagi sementara aku adalah perwujudan manusia malam yang sepi. meski belum pernah bertemu, aku mengerti.
âjadi, kapan lo berangkat?â
âmei.â
âberapa lama?â
âduaââ
âminggu?â
âbulan.â
âanjing.â
kali ini, tawamu lebih kencang daripada sebelumnya. jadi alih-alih balas bicara, kamu mengajakku untuk berbaring ke ranjang, membawa tubuhku lebih dekat dan memelukku. kamu melingkarkan lenganmu ke leherku dan tangan satunya mulai menuju dadaku, lalu selangkanganku. menuju segala ke tempat di mana kehidupan tak akan pernah lahir dari sana seperti ibumu melahirkan kehidupan untukmu. ruang hampa yang tak mengeluarkan suara apa-apa selain permohonan maaf yang selalu ingin agar kamu terima. menuju segalanya yang tiada.
âsometimes,â kamu berbisik. âthis is better than the actual sex, right?â
aku ragu, âyeah.â
kemudian, lagu will you go, lassie, go mengalun perlahan dari ponselmu. matamu terpejam sementara aku sepenuhnya terjaga meski tak beranjak pergi dari sana, meninggalkanmu seperti biasanya. kali ini, aku menetap lebih lama untuk bersedih lebih lama. sebab kamu akan pergi dan aku tidak tahu dalam waktu dua bulan itu apa yang bisa terjadi. aku ingin menikmati seluruh getirnya selama mungkin, selama kamu di sini.
selama aku di sini.
if my true love will not come i will surely find another to pull wild mountain thyme all around the blooming heather will ye go, lassie, go?
(âmau sarapan apa pagi ini?â
ânggak mau apa-apa. mau lanjut tidur aja.â
âsuka banget sih ngelakuin kegiatan yang outputnya cuma mimpi.â)
aku pernah menangis hebat sehabis berhubungan seks.
bukan, bukan karena sakit atau berdarah, melainkan karena kamu begitu nikmat dan menggiurkan hingga tak ada lagi ruang dalam hatiku untuk merasa senang. aku menutup sesi senggama kita dengan kesedihan yang tak bisa kubagikan padamu. dan kamu memelukku tanpa banyak pertanyaan.
"sakit?"
"nggak," aku masih sesenggukan. "i had a good sex, tapi sedih sekali. air mata gue nggak bisa berhenti."
kamu membiarkanku menangis dan memutuskan bangkit dari ranjang. membersihkan diri, mencuci alat kelaminmu, lalu berganti baju. aku masih meringkuk di pojok tempat tidurmu, menangis seperti orang paling malang satu jakarta.
"i'm sorry that i'm so pathetic," aku berbisik saat kamu menghampiriku untuk memelukku lagi. "sorry kalau gue kayak sampah."
"you are supposed to kayak sampah," kamu mengusap rambutku. "kalau masih nggak mau cerita, gue temenin lu begini aja."
"kenapa ya, gue kabur," aku bercerita. "gue udah had enough this time. udah nggak sanggup ngadepinnya. ngadepin adek gue sendiri juga nggak bisa. gue kabur."
"hei," kamu mengusap air mataku. "mungkin kabur itu adalah cara lu menyelesaikan masalah."
seusai jawaban itu, tak lagi aku punya kata-kata untuk diucapkan. aku hanya membiarkan diriku terlelap dalam pelukanmu, tak banyak bergerak sampai matahari membangunkan paksa kita. aku ingin berlama-lama tapi aku harus pergi. aku ada penerbangan pagi.
saat aku hendak bangun dari ranjang, kamu menarik tanganku dan mengecup dahiku. sementara aku hanya bisa tersenyum, memikirkan rencana kabur paling mujarab karena perasaan yang kupunya buatmu makin tak terdefinisikan.
aku tak mau di asylum ini sendirian.
"you make me weak."
"huh? kenapa?"
"nggak tahu," kamu memainkan jemariku. "selalu terasa seperti itu setiap kali lagi sama lu."
kamu tahu, tuan, ada banyak hal yang membuatku merinding tiap kali kita bersamaâyaitu kenyataan kalau waktu-waktu tersebut tidak akan berlangsung selamanya. kegetiran di antara kita adalah semua yang dunia tertawakan mau seusaha apapun kita mengupayakannya. kamu yang paling mengerti itu, setelah aku.
tamansari semanggi mungkin menyimpan begitu banyak ketakutan yang hanya kita bagi pada satu sama lain. tapi kengerian yang tersembunyi di sana lama kelamaan akan membunuh kita secepat kita bernapas. kelak, kita akan hilang dan kita tak bisa mencegahnya tak terjadi seperti kita mencegah rencana kita untuk bersenggama lalu memilih untuk saling berpelukan saja. berdua. di malam-malam saat matahari benci pada gelapnya kamarmu dan memilih untuk terbit cepat-cepat lalu kita bisa segera pergi dari ranjang untuk kembali menghadapi dunia.
kepergianku tak akan jadi duka panjangmu dan hilangmu tak akan membuat arahku kabur. tapi, itu bagian paling mengerikan dari malam-malam yang masih kita panggil teman. seks dan cara-caranya menjebak kita jadi dua orang paling sedih sedunia tanpa kita tahu cara menyelesaikannya. kamu dan aku berseteru bersama bisu yang enggan kita padamkan karena kita tahu memadamkannya juga akan membumi hanguskan kita.
"hei," bisikan di tengah pelukanmu membuatku ngeri. "ketika keluar dari apartemen ini, nggak usah sapa penjaga kayak biasanya, ya."
"kenapa?"
"mereka mulai hapal sama lu," kamu mencium pipiku. bersiap melepaskanku. " i hate that. i'm sorry."
"okay."
"okay."
you make me weak, katamu. tapi, tuan, yang lemah dari kita sebetulnya harapan yang pelan-pelan terkikis ketika kita mulai bangun untuk menghadapi kenyataan.
dan kamu bahkan, yang bilang aku adalah kelemahanmu, tak pernah punya cukup kekuatan untuk mengusahakan yang satu itu.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
"i don't want kids."
"huh?"
di balkon itu, kita baru saja selesai bercinta. beberapa menit setelah menyerah karena orgasme yang nggak kunjung tiba, kita akhirnya memutuskan untuk bicara saja. kamu suka yang demikianâbicara, di apartemen tamansari semanggi, di tengah kota, di tempat aku sering menggigil karena takut jatuh cinta.
"iya, makanya gue mengapresiasi kondom," aku tersenyum. menatapmu. begitu bersedih. "gue nggak ingin punya anak."
kamu menatapku. heran barangkali, ada perempuan sesedih aku, dengan begitu banyak rasa bersalah untuk ukuran manusia normal.
"lama-lama, dunia lagi global warming juga lo nyalahin diri sendiri."
"gimana kalau emang salah gue?"
tuan, aku juga ingin bilang padamu, banyak hal yang adalah salahkuâyang mungkin kamu akan menolak membicarakannya. mungkin suatu saat kamu akan menyakitiku dan itu adalah salahku. kamu juga kelak akan menyerah soal aku dan tentu itu karena salahku. semua salahku, bahkan sekalipun kamu tak mau mengakuinya, kamu pasti ingin menyalahkanku karena begitu takut bahkan ketika kamu hanya menawarkan satu; membahagikanku.
"tidur aja yuk?"
aku menatapmu dan menerima genggaman tanganmu. pedih. malam semakin tua, tapi aku tetap tak bisa berhenti sedih.
"boleh gue datang lagi besok malam?"
di ranjang, kamu mengusap jemariku.
tapi pertanyaan itu kamu biarkan menggantung di udara; menungguku bunuh diri kalau mau tahu jawabannya. bunuh diri dengan cara sederhana yang selalu kutolak untuk melakukannya karena aku pasti tak akan kuat menahan sakitnya.
bunuh diri paling picisan yang bernama jatuh cinta.
"if we didn't make it, you know for sure it was for my parents mistake."
"hey, that's terrible way to tell me you don't love me."
aku cuma bisa ketawa, entah sedih entah getir, atau karena betulan menyadari kalau kami nggak akan ke mana-mana. seperti biasa, menuju penerbangan paling pagi hari itu, kita berdua terjaga semalaman. tanpa seks, lagi-lagi. aku cuma diam di ujung ranjangâmembaca buku, sepanjang kamu menyelesaikan lima report yang harus kamu presentasikan senin pagi nanti. sambil kamu mengajakku bicara tentang alam semesta dan ray, temanmu dari india yang memberimu pelajaran soal hidup setelah dia drop out dari sekolah.
"gue respect ray," suaramu sehangat matahari yang pecah di selasa pagi. "he didn't have to to anything, an only child, from upper class parents, loving family. malah sempet-sempetnya belajar bahasa inggris dan pergi dari rumah, bikin start up sendiri. i don't know what was he thinking."
"the meaning of existence is absurd, somehow," aku menjawab sambil mengambil kopi dari tepi meja. "that's why sartre was confused."
"and so are you."
buku yang baru kamu beli, yang berada di tanganku saat ini, bab satunya bercerita tentang cinta. tentang bagaimana perasaan bekerja di otak manusia, bagaimana endorfin membuatnya jadi rumit.
kalau bicara soal seks, kita bisa dengan sederhana menyalahkan hormon. tapi cinta selalu ada di level lain, di tempat yang tak bisa dengan mudah kita jangkau, untuk kemudian kita salahkan kalau ia tak lagi bekerja di antara dua manusia.
aku membingungkan dan kamu juga, makanya kita berdua tidak ke mana-mana. selalu hanya di ruangan tipe studio, di tamansari semanggi, tempat semua ketakutan itu berubah jadi apapun yang tak bisa kita bagi. kamu dengan duniamu, aku dengan kesepian-kesepianku. di tempat yang selalu dingin ini, pelukanmu tidak pernah bekerja sebagaimana yang selalu aku butuhkan.
aku benci bagaimana saat bersamapun, kita berdua tetap seperti sendirian.
"report kelar!" kamu tersenyum, menutup laptop, lalu menuju ranjang. "tapi kita kehabisan kondom."
aku tersenyum sebelum mengusap puncak kepalamu, lalu berkata, "tidur aja."
kamu menciumku saat aku mengatakannya.
dan aku membalas lumatan itu meski satu-satunya yang kurasakan adalah kegetiran.
("jangan jatuh cinta.
"iya, jangan.")
yang mengerikan dari masih terjaga adalah di malam-malam begini kita sama-sama lari dari perasaan sunyi. di balkon studio room tamansari semanggi, di tempat kesepian kita tak bisa dibagiâsedekat apapun kita hingga menyerupai nadi.
aku datang nyaris dini hari sebelum penerbangan pertama menuju pekanbaru pukul enam pagi. kamu juga baru pulang, tersenyum saat menjemputku di lobi. ada banyak yang ingin aku tanyakan tapi yang keluar cuma, "baik," saat kamu menanyakan kabar. nyatanya memang nyali itu cuma aku punya saat pergi. saat kembali begini, aku kembali jadi pecundang kelas kakap yang tak berani menetap hingga satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah terus menerus memohon ampunan bahkan untuk kesalahan yang tak pernah berani kupikirkan.
kamu ada dia setiap rasa sesal yang kuselipkan di jam pulang kerja.
"lo tahu, di jam-jam ini, semua orang lagi pada ngentot," kamu menunjuk semua unit di seberang balkon tempat tinggalmu. "nggak pernah tidur, ya, jakarta?"
"lo mau?"
"no," kamu menjawab cepat. "lo ada flight jam enam pagi. tugas gue cuma memastikan lo tidur malam ini."
laki-laki gila yang kutemukan di salah satu kafe di kemang beberapa bulan lalu, aku tidak pernah menyesal temanmu mengenalkanku padaku. yang kusedihkan hanya satu; kamu selalu begitu baik hingga aku menggigil saking ngerinya. kamu menyiapkan sepotong roti dan dua gelas kopi dingin, juga keripik yang kamu sodorkan ke mulutku karena bagimu, "asal lo makan sesuatu." dan aku jadi bingung harus bagaimana.
makin kutatap matamu, makin kusadari bahwa hubungan ini seredup langit di hari senin saat orang-orang sibuk bekerja di jakarta. makin juga tinggi keinginanku untuk melarikan diri. meski tetap saja aku berada di sini, minum air dingin dari botolku yang sudah kamu isi penuh tanpa aku minta kamu melakukannya, berharap bisa memberimu semua hal yang selalu layak kamu terima.
apapun ituâyang bukan cinta.
"hei, ngomong-ngomong," katamu. "lo bisa mandi di sini, jangan di bandara."
"hm?"
"iya, soalnya gue udah beliin lo handuk," kamu terkekeh kecil. "waktu itu, 'kan, lo komplain, tuh, karena nggak ada handuk yang bisa lo pinjem. jadi gue beli baru satu, silakan lo pakai dulu."
saat itu, kembali aku menatapmu lamat-lamat seolah baru menemukan mahluk paling langka sedunia. kemudian, kusadari satu sejak empat jam aku berada di tempat ini;
aku tak lagi ingin pergi.
dekat-dekat bersamamu yang begitu baik,
aku jadi ingin gantung diri.
di tamansari semanggi, aku tiba-tiba ingin bicara soal kehidupan yang gagal kita bayangkan.
kamu mungkin satu dari sekian persen, yang berkata, "jangan minta maaf." saat aku menangis karena vaginaku sakit sekali dan aku betul-betul merasa bersalah. kamu bilang dengan tenang, "it's okay. aku tahu kamu capek. kita tidur aja."
hari itu hari paling rusuh dalam hidupku. mendarat di jakarta pukul lima pagi, lalu pergi tiga meeting berturut-turut disambung mengerjakan report yang harus kuselesaikan malam itu juga. aku cuma butuh sedikit bir dan bercinta. tapi, justru kamu yang tahu kalau aku lebih lelah daripada kelihatannya.
tapi kadang manusia cuma bisa berencana. karena setelah beberapa kali percobaan; entah karena kurang siap penetrasi atau kondisiku sedang luar biasa frustasi, kita gagal bersenggama. aku menatapmu dan minta maaf berkali-kali, tapi kamu justru memelukku, memintaku tidur.
itu lelapku paling nyenyak sepanjang malam.
hari senin, di tamansari semanggi, kamu adalah pria baik hati yang mungkin setelah semua kebaikan ituâtak akan berani kuhubungi lagi. di dalam pelukmu yang bisu dan semua kecupan di seluruh tubuhku seolah sedang memaafkan semua kesalahan yang tak pernah kuminta ampunannya. kamu terlalu baik. kamu terlalu baik. dan aku merasa begitu kecil untuk menerima semua itu.
aku pura-pura terlelap untuk merasakan tanganmu yang tidak berhenti mengusap rambutku. kecupanmu di seluruh tubuhku, dan genggaman tangan yang tidak kamu lepaskan sepanjang malam. kamu begitu menyenangkan sampai aku ngeri mencintaimu.
jadi, paginya aku bangun lebih dulu. menatapmu dan memohon maafmu kembali; sebab sudah pasti setelah ini kamu tak akan pernah melihatku lagi.
Danez Smith, from "summer, somewhere"

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
psikiaterku bilang aku harus melakukan sesuatu dengan rasa bersalahku.
katanya, sudah. sudah. let go. ikhlaskan. dalam pertemuan kami di ruangannya dan beberapa bekas luka yang aku ceritakan padanya, karena semua yang ada di kepalaku adalah rasa bersalah yang tidak seharusnya ada di sana. aku disuruh melepaskannya. aku disuruh melupakannya.
aku diresepi obat dan aku tertawa lama sekali di luar poli jiwa. untuk melepaskan rasa bersalah itu aku butuh bantuan kimiawi. tapi kukira, sampai mati pun aku tidak akan sanggup melepaskannya. sebagai pengingat. aku ingin rasa bersalah ini selalu tertelan pada bagaimanapun kondisiku supaya aku tetap ingat.
aku mual melihat rokok sekarang, lupa betapa aku pernah menjadikannya satu-satunya hal yang membuatku tetap waras. tiap melihat rokok, aku selalu mengingat bagaimana ayahku di ICU hari itu, dan orang-orang bilang mungkin segalanya tidak akan terjadi kalau aku berhenti merokok lebih cepat. semuanya salahku. jadi, aku membiarkan suara-suara di kepalaku ini jadi hukuman.Â
ayahku sembuh, tapi aku harus ingat. selamanya aku harus ingat.Â
banyak orang yang datang mencintaiku tapi aku mengusir semuanya pergi karena aku depresi. seseorang yang kini ada di seberang pulau dan entah berapa banyak waktu yang dia sia-siakan karena ingin bersamaku. banyak mimpi yang dia relakan karena mau menemaniku. semua kegagalannya adalah salahku.Â
mimpinya tercapai sekarang, tapi aku harus ingat. selamanya aku harus ingat kalau aku tidak boleh dicintai lagi jika tidak mau hidup seseorang rusak karena aku.
ibuku pernah melihatku menyakiti diri sendiri, satu kali. dan aku masih ingat bagaimana dia memohon supaya aku tidak melakukannya lagi. ibuku marah dan ibu takut aku mati.
tapi aku masih hidup. jadi aku aku harus ingat.Â
âIâve always liked quiet people: You never know if theyâre dancing in a daydream or if theyâre carrying the weight of the world.â
â John Green, Looking for Alaska