Hendaknya Kita Mengukur Diri
Abu Darda, sahabat besar itu pernah berkata, "tiga alamat orang bodoh; suka takjub dengan diri sendiri dan banyak hal, suka berpikir apa-apa yang sebenarnya tidak untuk dipikirkan, dan memerintah manusia tapi ia sendiri melanggarnya."
Ada lagi satu kata mutiara berujar, "siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya." Itu memang bukan hadits, tapi dikatakan oleh banyak ahli hikmah, di antaranya Yahya bin Muadz Ar Razi. Singkat, tapi begitulah Ulama di zaman dulu, selalu bisa meringkas makna dalam sebaris kalimat.
Dari keduanya, kita belajar untuk pandai mengukur siapa diri kita, tapi bukan dengan kalimat ini : "tau diri lah lu!" Karena itu bukan kalimat untuk mengukur diri, tapi merendahkan diri. Kalimat yang tepat adalah,
"apa yang telah aku lakukan untuk hidup, dan apa yang akan aku lakukan."
Tahun baru Hijriah 1441 ini cocok untuk membuat resolusi. Namun kali ini, hendaknya kita mengukur diri, bukan dengan memaki-maki keadaanmu yang sekarang, karena itu namanya menyalahkan takdir. Mengukur diri adalah: tahu, dimana lebihnya aku dan kurangnya aku. Yang lebih dilesatkan, yang kurang dibenahi.
Entah darimana kaidah ini, tapi saya setuju bahwa kita perlu menyediakan 3 porsi untuk mengukur diri kita. Kaidah itu, 70, 20, 10. 70 persen fokus kita hendaknya digunakan untuk melesatkan potensi kelebihan kita, 20 persen untuk membenahi kekurangan kita, dan 10 persen untuk mengeksplorasi potensi baru.
Hendaknya kita mengukur diri, sebagaimana Umar menasihati, "ukurlah dirimu sebelum kamu mengukur orang lain, dan dan hendaklah kamu menimbang dirimu sebelum kamu ditimbang", sebab "orang beriman lebih sering memuhasabah dirinya dibandingkan rekan kerja tamak yang selalu mengukur kinerjanya demi gajinya" kata Maimun bin Mahran.
Dengan kita tahu dimana posisi kita, kita akan lebih mudah menempatkan diri dalam manusia, dalam kerja-kerja besar untuk semesta.
Setidaknya kita tahu apa yang bisa kita perbuat untuk kebaikan umat ini, sebagai bentuk naik kelasnya kita dari memikirkan diri sendiri.
Hendaknya kita mengukur diri, sebagaimana memang Allah perintahkan kita. Dengan kamu tahu dirimu, kamu bisa memprediksi bagaimana masa depan berpihak padamu, atau berpaling, "Wahai orang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang sudah dia kerjakan di masa lalu untuk masa depan." (Al Hasyr 18)
Madinah, 1 September 2019