Hai! Katanya sebagai tanda comeback, harus membuat 1 post. Hmmm...setelah kupikir-kupikir, tulisan tentang wrap up apa yang dilakukan selama hiatus dari Tumblr adalah yang paling cocok.
Mari kita mulai dengan mengkonsistenkan kata ganti orang. Sebelumnya aku lebih senang menulis dengan kata ganti "saya" sebagai kata ganti pertama. Di keseharian, karena dulu zaman-zamannya masih kuliah, lebih sering memakai kata ganti "gue". Namun, perubahan lingkungan ternyata ikut mempengaruhi hal ini. Saat ini aku lebih senang menggunakan kata "aku" baik di keseharian maupun di tulisan. Jadi, mari pakai kata "aku".
Apa saja yang sudah terjadi selama tahun 2017-2020 kemarin?
Setelah pulang internship di sebuah perusahaan riset dan klinik kanker di Tangerang Selatan, serta tidak lolos seleksi Indonesia Mengajar angkatan 14, aku menerima tawaran dari dosen pembimbingku untuk melakukan penelitian di kampus. Masih mengenai biomedik, tentu saja. Statusku sebagai asisten membuat aku banyak belajar dengan dunia administrasi dan riset kampus, membuat konferensi internasional, dan alhamdulillah di tahun 2017 aku menulis 2 buah paper (walau yang 1 sebagai penulis ketiga) yang dipresentasikan di konferensi tersebut, di Yogyakarta, sambil liburan 🙂.
Di penghujung 2017 aku mulai merasakan krisis hidup, kebingungan apa yang sebenarnya ingin dilakukan, layaknya orang-orang di sekitar usia seperempat abad lainnya, katanya. Kalau sudah begitu, siapa lagi yang bisa dimintai pertolongan selain Allah, kan? Minta ditunjukkan jalan. Minta diatur hidupnya.
Dan, aku yang sudah tidak terpikir untuk daftar IM lagi, ternyata merasa diarahkan jalannya untuk menuju ke sana. Aku mencoba kembali seleksi Pengajar Muda Indonesia Mengajar angkatan 16. Ya, benar saja. Aku merasa semua prosesnya begitu mudah. Kali ini aku lolos.
Tahun 2018 kuawali dengan jalan-jalan ke Dieng bersama 3 sahabatku. Sebuah rutinitas awal tahun. Cukup untuk menambah memori bersama dengan mereka, hehe.
Masih di awal tahun, aku melakukan operasi FAM, sebuah tumor jinak yang sebenarnya tidak begitu berbahaya. Tapi ya kenapa tidak jika masih bisa diatasi sebelum aku berangkat ke penempatan nanti.
Awal April aku sudah memulai pelatihan intensif Pengajar Muda di Jatiluhur, Purwakarta. Beberapa kali ke daerah Burangrang untuk survival di hutan. Pengalaman yang...capek tentu saja, tapi sangat berkesan. Aku selalu bilang, 2 bulan pelatihan adalah 2 bulan terlelah dalam hidupku dan 2 bulan ter-tidak menyangka aku akan bisa melewatinya, dengan tetap sehat 😂. Jadwal pelatihan yang padat, menguras fisik dan pikiran, menerima banyak hal baru dan bertemu dengan pemateri-pemateri hebat, pelatihan semi militer, bertahan hidup di hutan, dan ah banyak sekali. IM memang seserius itu menyiapkan Pengajar Muda yang akan dikirim ke daerah penempatan.
Aku mendapatkan penempatan di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, bersama 5 orang temanku lainnya. Desa penempatanku bernama Desa Lalowata, sebuah desa di pegunungan Konawe. Banyak sekali yang terjadi tentu saja. Tidak akan kuceritakan disini. Yang pasti, satu tahun menjadi Pengajar Muda merupakan pengalaman hidupku yang paling berbeda dengan pengalaman-pengalaman hidupku lainnya. Bolehkah kubilang itu merupakan keputusan terbaikku?
Oh ya, akhir 2018 aku pun kehilangan sosok Kakek. Saat mendengar kabar duka, aku langsung terbang dari penempatan menuju Tasikmalaya. Alhamdulillah masih diizinkan oleh IM untuk "pulang" sejenak. Tapi tidak lama, aku pun segera kembali ke penempatan dan melanjutkan peranku disana.
Akhir Mei 2019 aku kembali pulang ke Bandung, dengan berbagai perspektif hidup yang berkembang, yang aku peroleh selama penempatan. Mengambil jeda sejenak, untuk kembali menata hidup, menata tujuan dan rencana ke depan, beradaptasi kembali dengan kehidupan perkotaan.
Akhirnya kuputuskan melanjutkan sekolah. S2 di ITB dengan jurusan yang masih sama. Ya, walau nama jurusan S2-ku adalah Instrumentasi dan Kontrol, bukan lagi Teknik Fisika. Tapi ya intinya sama saja, aku melanjutkan bidang S1-ku. Pendaftaran dan seleksi aku lakukan di batas-batas akhir, bahkan beberapa persyaratan harus menyusul karena belum selesai sebelum batas-batas pendaftaran. Tapi lagi-lagi, kuminta Allah mengarahkan jalanku, dan kurasa Allah mengarahkan ke jalan tersebut, rasa-rasanya selalu saja dimudahkan.
Menjelang perkuliahan, ternyata kondisi psikologisku tidak mendukung. Aku lelah dan belum siap. Maka aku putuskan untuk benar-benar mengambil jeda, yang lebih panjang. Ah, benar saja, kenapa harus tergesa-gesa?
Aku pun akhirnya menunda masuk kuliah selama 1 semester.
6 bulan mengambil jeda, aku berhasil menyelesaikan kelas Bahasa Isyarat Indonesia dan menjadi pengisi seminar-seminar kerelawanan. Tidak terbayangkan sebelumnya. Namun ternyata cukup untukku bersiap kembali menjalani kehidupan. Selain mendapatkan ilmu dan teman-teman baru tentu saja.
Awal 2020 akhirnya aku benar-benar berstatus kembali sebagai mahasiswa (dan asisten riset, dan asisten dosen, dan asisten dekan 😂). Menjalani kembali perkuliahan setelah 4 tahun lulus tentu bukan hal yang mudah. Beradaptasi kembali dengan simbol-simbol, istilah-istilah matematis dan fisika, textbook dan jurnal, tugas-tugas, penelitian, tesis, nemeriksa tugas dan ujian mahasiswa S1, administrasi fakultas, dan ya....segala hal yang berkaitan dengan kampus.
Baru 3 bulan kuliah, ternyata pandemi melanda. Segala perkuliahan dan pekerjaan berganti dari offline menjadi online. Beradaptasi kembali. Ya, sebenar-benarnya cara survival manusia itu dengan beradaptasi kan? Dan aku yakin, Allah sudah menciptakan manusia dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa.
Menjalani kuliah dan "kerja" dari rumah tentu membuatku banyak bergemul dengan diri sendiri. Kelelahan di awal-awal WFH karena aku yang ekstrovert membutuhkan energi dari orang-orang sekitar, ternyata hal tersebut tidak bisa terpenuhi. Tapi ya, ya sudah, lagi-lagi hanya bisa meminta Allah untuk dikuatkan.
Ternyata lama-lama aku menikmati perkuliahan dari rumah (walaupun jika memikirkan struggle mengerjakan Tesis karena pandemi ini...ya...tidak usah dipikirkan saja boleh tidak? 😂). Prestasi akademisku sejauh ini baik. Penelitian sedikit tersendat, tapi akan kuusahakan lebih keras. Pekerjaan masih aman,sudah mulai terbiasa dengan polanya. Alhamdulillah. Aku akan terus belajar, dan menerima.
2021, banyak kehilangan orang-orang terdekat, juga guru-guru. Di tahun ini, ada tanggung jawab-tanggung jawab yang harus kuselesaikan. Tidak banyak berharap, yang paling utama, seperti harapan kebanyakan orang lainnya, ingin terus diberi kesehatan dan kelapangan hati. Berharap bisa menjalani kehidupan dengan kuat dan tetap bermakna.
Oh ya, awal 2021 aku telah berhasil menerbitkan buku Fisika untuk anak-anak, bersama tim dosenku, sebagai program pengabdian masyarakat dari ITB. Pencapaian yang baik di awal tahun. Cukup menambah semangat untuk aku menjalani hari-hari ke depan 🙂
Ternyata banyak juga yang sudah kualami 3-4 tahun ke belakang. Mari apresiasi diri yang sudah melangkah sejauh ini. Terima kasih, ya. Yuk, lanjutkan lagi.