The Stonewall Inn
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
hello vonnie
Jules of Nature
tumblr dot com
icyghini twinkie
Claire Keane

gracie abrams
he wasn't even looking at me and he found me
noise dept.

@theartofmadeline

Andulka
trying on a metaphor
art blog(derogatory)
$LAYYYTER
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Cosimo Galluzzi

bliss lane
The Bowery Presents
seen from United States
seen from Mexico
seen from United States
seen from Brazil

seen from United States

seen from Hungary
seen from Australia

seen from Malaysia
seen from Sweden
seen from United States
seen from Bangladesh

seen from Brazil

seen from United States

seen from Colombia
seen from Vietnam

seen from Canada

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from China
@lullypheh

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Semacam Postpartum Depression
Sekarang saya sedikit paham kenapa ada yang namanya Baby Blues maupun Postpartum depression.. Saya hampir-hampir mengalaminya.. Karena memang gejolak itu ada, dan cukup membuat saya terguncang. Saat saya hamil, saya sudah mengalami sedikit kekagetan dalam diri, karena tiba-tiba harus menghentikan beberapa aktivitas reguler yang sebelumnya saya lakukan. Saya jadi gimana gitu mau pergi ke kampus, saya jadi gimana gitu kumpul dengan teman-teman, dan pikiran macam-macam lainnya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Menyelesaikan masa-masa kehamilan hingga melahirkan dan membesarkan anak dalam beberapa bulan. I used to think that I'm entering a whole new world here. Sering nangis karena perasaan bersalah atas segala yang terjadi semasa hidup hingga lebih dari 25 tahun ini. Dan lalu, pelan-pelan menyesuaikan, sudah enjoy dengan kehidupan di rumah bersama perut yang makin membesar.. Hingga waktunya tiba : melahirkan!. (Nanti saya cerita juga bagaimana drama proses melahirkan yang saya alami). Beberapa waktu awal melahirkan, saya bahagiaa, lega! Akhirnya bisa melahirkan normal, dan bayi saya sehat! Alhamdulillah.. Namun menginjak seminggu lebih dua hari, saya mengalmi guncangan yang cukup mengganggu. Saya meras sangat takut. Padahal perkara pemicunya sepele : diminta ibu bantu2 di dapur, tapi saya tidak mampu krn sedang mengurus si kecil yg tiba-tiba rewel..sembari mengurusi si kecil, ibu yang memang sedang dlm kondisi lelah sehabis bekerja, harus mengurusi dapur yang seharusnya bisa saya cicil sebelum ibu pulang.. But, hey, ternyata saya ga punya banyak waktu utk mengurus dapur krn ada tamu dsb. Seketika itu, saya merasa sangaaaaat bersalah tidak dapat membantu ibu dengan baik. Apalagi ditambah saya nongol² di dapur, semuanya sudah selesai. And I cry so hard. Sampe mata sembab bangeet.. Saya gabisa kontrol itu tangisan, sangat susah! Meseseg'en kalo kata orang sini.. Padahal saya masih harus jumpa pers, temu kangen, karena saya masih open house 😝.. Jadilah saya bilang ke orang-orang kalo mata saya habis dikasih jeruk nipis utk perawatan pasca lahir bersama mbah dukun modern yang juga mengurus anak saya.. Dari siang sampai malam sy masih menangis, berhasil berhenti ketika mencurahkan kekerdilan diri pada ibu.. Dan seperti biasa, ibu menjawab singkat tapi cukup berisi dan menenangkan.. Sudah, itu saja gejolak yg saya alami.. Sedikit, tapi sangat mengganggu.. Meskipun tidak sampai membenci si kecil dan tidak mau mengurusnya.. Saya berusaha untuk lebih tenang dengan memikirkan kebaikan² orang sekitar, lalu masa depan yang indah-indah, dan lain sebagainya. Dan memaksa diri untuk selalu yakin, bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.. Ah, sedikit lega sudah curhat :D
Cinta Laki-laki Biasa
Saat melihat iklan film "Cinta Laki-laki Biasa", saya jadi ingat bagaimana dulu 'mau' menerima laki-laki yang kini jadi suami saya. Dulu, saat saya masih saangaat idealis, saya bukan tidak punya standar 'laki-laki pendamping hidup'. Setidaknya, waktu itu, adalah yang pendidikannya sama, background keluarga sama, sudah ngaji, minimal bisa jadi imam dan ketika di kampus adalah juga sama-sama aktif di organisasi.. Tapi lalu, dengan berbagai nasehat baik yang langsung untuk saya maupun sekedar lewat untuk saya renungkan, dan kenyataan yang menunjukkan hal lain, saya banyak berpikir. Bahwa meski selama ini saya telah menempuh pendidikan tinggi, telah mengenal orang-orang yang cukup hebat, dan hal lain yang kadang (bahkan sering) membuat saya terlena, saya juga adalah manusia biasa dengan cita-cita yang sederhana.. Memang tidak seekstrim cerita di film " Cinta Laki-laki Biasa", tapi ketika saya lantas tidak bersedia menerima laki-laki yang sederhana, yang biasa saja, rasa-rasanya, kok saya sombong amat.. Emang gue siapaa, supermodel juga bukan, ilmuwan juga bukan, artis apalagi.. Karena tidak mesti yang nampak hebat itu punya cinta yang luar biasa.. Bisa jadi yang nampak biasa, cintanya sangat amat luar biasa.. Maka saya lalu merasa beruntung karena dipertemukan dengan laki-laki yang kini jadi suami saya. Yang sampai saat ini, masih dipandang biasa saja oleh sebagian orang. Karena mungkin, orang-orang mengira bahwa saya, yang sudah menempuh pendidikan tinggi, pantasnya ya kerja kantoran, selalu rapi, dan punya suami juga yang sedap dipandang secara materi, mobilnya kinclong, sama-sama selalu rapi dan suka nongkrong di tempat-tempat bergengsi.. Tapi kenyataan tidak begitu, saya dan suami memang sama-sama berlatarbelakang pendidikan tinggi, tapi kami sama-sama tidak nyaman dengan penampilan yang serba necis.. Ah, apalah, hanya penampilan. Toh kami bahagia menjalani hidup kami yang nampak biasa saja ini (dan memang biasa saja). Teman-teman saya sudah sering membagi ceritanya yang sedang main ke tempat ini, mencicip kuliner di tempat itu, punya barang berharga dengan merk ini, menikmati kedudukan di kantor itu dan lain sebagainya. Saya kadang juga iri, senang ya mereka bisa begitu. Tapi, saat kembali lagi bertanya pada hati nurani, saya sudah cukup bahagia dengan kehidupan saya yang sekarang. Saya sering diajak berdialog dengan suami, untuk terus menerus bersyukur atas kehidupan saat ini. Ah kenapa saya malah jadi curhat begini, ehehehe.. Maaf ya sekali lagi nyampah.. Tapi menurut saya, kita memang tidak disarankan untuk memakai standar orang lain supaya bahagia. Karena bahkan, yang terlihat bahagia, belum tentu sejatinya begitu. Saya merasa bahagia dengan seperti ini, meskipun mungkin menurut orang lain tidak, meskipun menurut orang lain jauh. Salah satu pesan yang ingin saya sampaikan adalah, khususnya bagi para perempuan (termasuk diri saya), jika suatu hari nanti kamu sudah sukses dan merasa bahwa hanya laki-laki dengan standar tertentu saja yang boleh mendampingimu, sadarilah siapa dirimu, dan murnikan tujuanmu 'berpendamping'. Pendamping bukan untuk dipamerkan, bukan pula untuk dibanggakan, seperti harta dan dirimu juga.. Semua, niatkan karenaNya. Dan tetap, berbahagialah karena bahagiamu, bukan karena standar orang lain.
Desa sebagai tempat tinggal
Jaman sekarang, hidup di desa juga sudah enak. Ada yang bilang, asal ada koneksi internet yang mumpuni, semuanya nyamaan. Jamak diketahui bahwa hidup di desa tidak butuh biaya mahal. Everything is cheap! Tapi yaa tergantung orangnya juga sih. Kalo emang gaya hidupnya wah, mau hidup di desa apa kota, ya sama aja biayanya pasti mahal.. Ya gimana, misal nih ya, di desa emang jauh dari jajanan-jajanan 'kota' yang serba enak, trus kalau kita nurutin gaya hidup pengen makan 'ala-ala kota', harus sering bolak balik ke kota buat cari itu makanan, kan mahal biayanya jadinya.. Beda soal misal kita hidup apa adanya, makan apa aja yg tersedia di desa, ya ga akan mahal biaya hidupnya.. Air melimpah, tanah subur, udara masih bersih, and so on.. (Iya ini tentang des tempat saya dilahirkan dan besar, ada desa lain yang deskripsinya lain, tapi ya lain dong ceritanya). Halah. Udah ah, hehee..
Keluarga : Pakaian
“Mereka (para istri) adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka,” (QS. Al-Baqorah: 187)
Tepat dua pekan melewati hari pernikahan. Rasanya ingin menulis banyak hal, hanya saja proses awal-awal pasca nikah ternyata tidak sederhana. Pindahan, menata rumah, menyambung silaturahmi, menyesuaikan ritme, dll. Saya jadi paham mengapa dulu teman-teman saya sewaktu awal-awal menikah tiba-tiba seperti menghilang. Memang ada proses adaptasi dan hijrah, sesuatu yang memerlukan waktu. Saya jadi paham posisi tersebut dan menyesal mengapa dulu pernah berprasangka.
Terkait dengan ayat Al Quran yang saya tera pada awal tulisan. Saya baru benar-benar mengerti ayat tersebut ketika sudah menjalaninya. Puluhan tulisan penjelasan di berbagai artikel dan tafsir tidak pernah bisa menjelaskan secara utuh ayat tersebut kecuali benar-benar menjalaninya. Menurutku begitu.
Memaknai makna kata pakaian pada Al Baqarah 187 benar-benar membuat saya bersyukur. Sebab memilih dan menentukan pasangan hidup benar tidak sederhana, tidak sekadar cantik, sekadar pintar, sekadar kaya, sekadar terkenal. Pasangan yang bisa menjadi pakaian bagi diri kita, carilah orang yang benar-benar bisa menjadi pakaian itu. Yang nyaman kita kenakan, yang membuat kita leluasa, yang membuat kita aman, lagi terjaga.
Saya bersyukur sebab saya merasa pasangan saya benar-benar menjadi pakaian bagi diri saya, saya hanya mengkhawatirkan apakah saya bisa menjadi pakaian baginya juga?
Ada hal-hal yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, hanya bisa dijelaskan dengan menjalani dan melakukan. Hanya bisa diresapi dengan cara tersebut. Saya doakan semoga teman-teman bisa menemukan pasangan yang benar-benar bisa menjadi pakaian yang nyaman dan aman untuk teman-teman. Pasangan yang pandai menjaga dan terjaga, yang pandai melindungi dan terlindungi. Hal-hal yang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh kecantikan, ketampanan, kekayaan, dan segala atribut yang tampak oleh mata.
Yogyakarta, 8 Oktober 2016 | ©kurniawangunadi
Dalam beberapa hal, mas gun selalu pintar merangkai kata2 yang memang mewakili apa yang kita rasakan.. Dari dulu pas waktu masih sama2 lajang hingga kini kami masing2 sudah berpasangan, beberapa pemikiran kami sama (ya gitu juga kayaknya sama beberapa orang yg lain, cuma ini lagi pas aja) :D #apasih

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ngelmu
Seringnya malu sama suami. (Curhat mba?). Kagak. Cuma, ya gitu. Saya yang 'ngakunya' udah ngaji dari sejak SMA, sering ditegur masalah sepele sama suami. Kan malu. Waktu awal-awal ngaji, saya merasa banyak benarnya, dan memandang bahwa yang 'satu pengajian' adalah kumpulan orang-orang yang benar. Tapi semakin lama ngaji, semakin terbuka wawasan, diarahkan sama para guru ngaji, bahwa masing2 orang punya pilihan sendiri, yang berpegang teguh sama sunnah Nabi dan perintah Allah lah yang paling baik, yang taqwa lah yang paling baik, bukan yang 'paling lama ngaji'. Ya mungkin kadang bisa dilihat antara saya dan suami. Bukan bermaksud membuka aib deh ya. Sebagai contoh saja, kadang ketika saya pakai baju yang saya suka, ternyata suami bilang "Kamu emang cantik pake baju itu, tapi di depanku aja pakenya ya, kalau keluar-keluar, kasih jaket ato ganti yang lain ya? Aku kan ga rela..". Sesederhana dan sesantun itu beliau bilang. Dan bagi saya, ngena! Karena beliau hanya laki-laki biasa yang belum ngaji lama kayak saya.. Tapi dalam beberapa banyak hal, beliau berusaha untuk menerapkan ajaran-ajaran Rasulullah.. Dan memang, sebagai muslimah, kita dituntut untuk berpenampilan menarik hanya di depan suami dan saudara dekat. Tidak 'keluar-keluar'. Rasa-rasanya gimana gitu ya, selama ini ilmu ngajinya kemana gitu, kok menerapkan hal 'sederhana' aja masih susah.. Itu baru sebagian kecil, masih banyaaak lainnya. Yah semoga kami bisa jadi pasangan yang kompak ya! Dan buat kamu yang sedang dalam proses pencarian, jangan gampang tertipu sama penampilan dan track record seseorang. Dalami sedalam-dalamnya lewat berbagai media. Jangan kayak pengikut si anu di padepokan ini dan itu, lihat penampilan sama karomahnya yang kelihatannya agamanya bagus, eh malah menyimpang jauh.. Karena bukan cuma mereka yg punya padepokan aja yang punya segala cara, para pencari pendamping hidup juga punya bermacam caranya buat menaklukan perempuan. Bukan cuma yg kelihatan sholeh, kaya, ganteng, pinter and bla bla bla.. Tapi kalo bisa yang emang beneran sholeh, kaya, ganteng, pinter and bla bla bla ya yang diterima. Huehee.. Tapi kalo yang dateng biasa-biasa aja tapi setelah kamu istikharah lama tetep bikin mantep melangkah, ya sudah, berarti Allah sudah pilihkan, semoga bisa menjadi baik bersama :D Salam, di tengah kabut lereng Sindoro, 8 Oktober 2016.
Halo Indonesia!
Kalau diperhatikan, sepertinya saya setuju dengan opini yang mengatakan bahwa bila ingin membuat gaduh, ramai, sensasi di Indonesia, kaitkan saja dengan agama, pasti laku keras. Laku dengan pro dan kontra dari orang yang sangat merasa terganggu karena tidak “sesuai” dengan agama, walau kadang kentara sekali bahwa bahkan sang pembawa berita tidak netral/objektif.
Sensitif sekali ya kita dengan “agama”? Fungsinya agama apa? Bagaimanakah peran agama agar membuat hidup kita lebih baik? Apa kita benar-benar dengan matang sudah memilih agama sebagai suatu keyakinan dan pedoman kita?
Misal, agama Islam di zaman penjajahan. Dulu, salah satu alasan pengakuan seorang warga Indonesia itu beragama islam adalah untuk memisahkan diri dari yang lain-lain, seperti keberpihakan pada penjajah misalnya, sebagai pengakuan bahwa ia ingin tetap Indonesia. Islam di Indonesia itu disebarkan oleh para pedagang, sehingga yang diajarkan berkisar pada “hitungan-hitungan” pahala, dosa, surga dan neraka.. terlalu sempit, sehingga yang dicari hanyalah kuantitas ataupun reward/hadiah. Benar?
Agama Islam juga seharusnya tidak identik dengan Arab, apalagi dicampur-campur dengan budayanya. Islam itu yang otentik, Islam ya Islam, pedoman utamanya Al-Qur’an. Arab ya Arab, negara dengan budaya dan adatnya yang tidak bisa disangkut-pautkan dengan Islam, tidak ada hubungannya. Apalagi di Royal Family, keluarga kerajaan Saudi Arabia sekarang, Sang Puteri tak “menutup aurat” ataupun menggunakan abaya pada saat keluar dari negerinya. Katanya ia ingin mengubah pandangan masyarakat dunia tentang wanita di Saudi.(https://www.quora.com/Why-is-Saudi-Arabian-Princess-Ameera-allowed-to-wear-modern-outfits-but-other-Saudi-Arabian-women-arent).
Beruntung, di dunia internasional, wajah Islam tak melulu hanya merujuk kepada Arab/Timur Tengah tetapi juga kepada Indonesia dengan jumlah penganut terbesar, sehingga bisa dilihat lebih mudah sisi praktek beragama Islam yang berdasarkan pilihan pribadi masing-masing orang dan bukan peraturan pemerintah. Yang perlu disadari adalah menghindari menghakimi terlalu cepat, ini baik itu buruk. Yang paling jelas adalah menghindari menghakimi suatu agama berdasarkan pada perilaku pemeluknya. Bila ingin belajar agama, belajarlah dari kitab sucinya, bukan penganut agamanya.
Mengeluhkan tentang efektifitas agama bagi kemajuan Indonesia. Apakah yang salah? Bila kita percaya bahwa agama Islam adalah yang terbaik, mengapa masyarakat kita bukanlah masyarakat terbaik? Mungkin karena pelajaran agama dan semua ceramah yang beredar berfokus pada perihal hubungan manusia dengan Tuhan, dan tak banyak tentang hubungan manusia dengan manusia.. atau sekadar mengajarkan tentang pahala dan dosa, perintah dan larangan atau simply karena agama hanya sebatas teori, tapi nihil penerapan, pengamalan. Mungkin ada yang benar-benar “muslim sungguhan”, tapi sayangnya mereka tak banyak, kalah telak.
Jadi, halo Indonesia! Apa kabar? Maksud saya sebenarnya adalah bagaimana jika kita tidak menyempitkan makna berpraktek agama, sehingga tidak ada lagi yang berkata, “ini urusan bla..bla.. jadi tak perlu bawa-bawa agama”. Padahal, Islam itu punya pedoman dalam segala urusan, yaitu Al-Qur’an. Penganutnya memang tidak selalu benar.. mereka manusia biasa tempatnya salah, tapi sepanjang mereka berpegang pada firman yang “Maha Benar”, maka jadilah mereka yang benar. Jadi, mereka yang menyelisihi.. seharusnya mereka bertanya pada diri mereka sendiri, sebenarnya mereka muslim yang berpegang pada apa? Apa ada muslim spesies baru? Bukan begitu?
Ini bukan cuma tema soal kisruh pilkada dan pemerintahan, tapi seluruh aspek dan persoalan hidup. Hanya saja kebetulan kepincut sama tema tentang Ahok yang sudah kelewatan mainstream. Mengherankan, ketika sosok dengan perangai seperti beliau ditambah beragama non-muslim bahkan menghina muslim dan kitabnya, tapi dia masih menjadi kandidat unggul di sebuah negara, di suatu provinsi yang mayoritas muslim. Ada apa dengan Indonesia? Jujur saja, firasat saya ga enak dengan negara ini, terlebih dengan pemerintahan yang ada saat ini. Semacam akan ada kehancuran dari dalam. Jadi, waspada saja. Sebab, susah untuk bicara tanpa bukti kongkrit.
Palembang, sudah larut malam.
Keluarga : Berbagi
Sudah hampir dua pekan setelah menikah. Hal paling terasa adalah intensitas saya terhadap gadget berkurang drastis. Dan rasanya ada banyak hal yang ingin saya tulis, terkait kehidupan keluarga. Terutama keluarga baru, segala hal menjadi baru. Dan ini tidak tentang bagaimana cerita di keluarga kami, melainkan pelajaran apa yang kami dapat bersama-sama, pelajari bersama, dan dihikmahi bersama.
Benar sekali kata teman-teman saya dulu ketika jauh hari sebelum menikah, yaitu tentang menghabiskan ego. Dan tentu saja menghabiskan ego tidak semudah itu, mungkin paling tepat adalah keahlian meredakan ego.
Saya terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Saya terbiasa belanja pakaian tidak lebih dari 30 menit, seringnya hanya 15 menit karena saya tahu beli apa, berapa, ukuran apa, dan dimana. Kini saya tahu rasanya belanja tiga jam dan hanya dapat sepotong pakaian.
Tas punggung saya kini bertambah isinya, kadang bertambah dengan lipstik, bedak, kaos kaki, dan jilbab. Saya juga semakin terbiasa tertusuk peniti (dan sejenisnya seperti jarum pentul), sesuatu yang tidak pernah ada dalam dunia saya sebelumnya. Saya bingung, bagaimana mungkin perempuan bisa berlenggang nyaman dengan peniti dimana-mana pada kerudungnya.
Kembali tentang pakaian, warna favorit saya untuk pakaian hanya 3; merah maron, hitam, dan abu-abu. Kini saya tidak bisa secara egois memilih warna tersebut karena harus menyerasikan dengan warna lain yang dipakai oleh istri saya, begitu pula sebaliknya.
Saya jadi paham mengapa perempuan mandinya lebih lama dari laki-laki. Step-by-stepnya ternyata memang lebih banyak. Saya juga semakin terbiasa dengan komentar penampilan, kini saya maklum bila istri saya mengomentari penampilan saya yang selalu hitam, abu-abu, dan merah maron.
Dan setelah menikah memang hidup bertambah warnanya, warna dalam artian sebenarnya dan kiasan. Ada hal-hal baru yang memang mewarnai hidup ini, juga memang benar-benar ada warna tak terduga yang masuk ke dalam daftar pertimbangan saya, yaitu merah muda (pink). Saya tidak pernah memiliki barang berwarna pink kecuali sticky notes. Kini saya mulai ikhlas untuk memasukan unsur pink ke dalam rumah saya yang serba putih dan abu. Menyelaraskan dan menyerasikannya agar tetap indah.
Jadi, menikah memang tentang berbagi ruang. Ruang dalam hidup, dalam pikiran, dalam hati, dan dalam ego. Semakin luas ruang yang kita sediakan untuk berbagi, maka semakin mudah kita menerima apapun yang ada dalam diri pasangan. Selamat berbagi, selamat menyiapkan ruang.
Rumah, 6 Oktober 2016 | ©kurniawangunadi
Dan tentang mimpi-mimpi kita pun, harus diselaraskan dengan pasangan.. Ada ego yang harus ditahan, banyak yang butuh penyesuaian..
(Masih Ingin) Selesai
Pikirkan baik-baik, jika dulu sebelum menikah, menyelesaikan studi adalah salah satu syarat mendapat ridho orang tua, yang juga berarti ridho Allah ata apapun yang kita lakukan. Dan kini, setelah menikah, menyelesaikan studi adalah salah satu syarat mendapat ridho suami, salah satu jalan untuk mengabdi padanya dengan sepenuh hati, baik kini maupun nanti selepas selesai semuanya. Maka apapun yang terjadi, hadapi saja, kan? Semesta mencemooh pun, biarkan saja, toh nanti cemoohan itu bosan menguntitmu lagi. Kau mungkin memang tak sebaik mereka yang baik. Kau mungkin memang tak secemerlang para calon ilmuwan, dosen, dan para pemangku kebijakan. Tapi kau calon ibu, kau istri seorang yang baik, kau tetap masih punya masa depan. Sepayah apapun. Hadapi saja, bisa ya?
Luruskan Niat Menikahmu
Bagi yang paham, apabila sedang berada dalam proses menuju pernikahan, saat ditanya perihal niatan menikah, maka mayoritas jawabannya adalah sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Subhanallah.. betapa mulianya niat tersebut. Nah.. pertanyaannya, betulkah niatnya lurus untuk Allah dan hanya karena Allah? Hehehe.. biasanya, saat ditanya demikian, kita akan mengangguk yakin bahwa niatannya betul-betul lurus untuk ibadah kepada Allah. Tapi sekali lagi, betulkah demikian?
Melalui postingan kali ini, yuk kita sama-sama analisis kelurusan niatan menikah kita. As usual based on my own experiences
Subhanallah.. Allah sungguh luar biasa. Pada saat saya sedang berproses ta’aruf kemarin, kami dipertemukan dengan seorang ustadz yang luar biasa pula, dan memang berkapasitas untuk menasihati orang-orang mengenai ilmu-ilmu pernikahan dalam Islam, terutama yang sedang dalam proses ta’aruf seperti kami.
Masih tampak jelas dalam ingatan saya, sore itu kami duduk di ruang buku ustadz tersebut, bersiap untuk mendengarkan berbagai wejangan demi kemudahan proses kami menuju pernikahan. Saya pribadi pada saat itu membayangkan akan menerima nasihat-nasihat indah yang menggiring harapan baik menuju pernikahan idaman. Hati saya dipenuhi pengharapan akan mendapatkan penjelasan mengenai langkah demi langkah yang jelas, untuk mencapai pernikahan yang barakah.
Pertemuan pertama saya dengan ustadz memperlihatkan saya pada sosok bapak yang tampak sangat bijaksana. Beliau ini merupakan mantan preman, yang setelah hijrah, malah semakin melesat dan kini sudah mendirikan banyak sekali rumah tahfidz untuk para santri penghafal Al Qur’an, subhanallah. Tak hanya itu, dunia kini justru berduyun-duyun mengejarnya.
Ustadz membuka percakapan melalui perkenalan dengan kami terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan bertanya mengenai kesibukan kami sehari-hari. Obrolan kami berlangsung sangat santai seperti sedang silaturahim biasa, bukan berguru atau memohon nasihat. Kami pun akhirnya menyampaikan niat kedatangan kami. Ustadz tersebut tersenyum memandangi kami yang saat itu sedang dalam proses ta’aruf. Bukannya memberikan nasihat, beliau malah meluncurkan pertanyaan, yang hingga sekarang menjadi pedoman kuat saya dalam pelurusan niat menikah. Simak baik-baik ya..
“Nak.. kalau kalian yang sudah berproses hingga sejauh ini ternyata pada akhirnya kalian tidak berjodoh, tidak bisa sampai ke pernikahan..” beliau menghela nafas sebentar, kemudian menatap kami, “Bagaimana perasaan kalian?”
Seketika kami terdiam. Bagi saya pribadi, itu merupakan hal yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali sebelumnya. Saking saya menikmati proses ta’arufyang indah sesuai syariat Allah, tidak sekalipun terlintas dalam benak saya apabila kelak ternyata kami sebetulnya tidak berjodoh. Saya terdiam cukup lama, merenungkan seandainya hal tersebut benar-benar terjadi. Tidak terbayang sama sekali.
Ustadz memecah keheningan kami dengan mengulang kembali pertanyaan yang sama, “Bagaimana seandainya ternyata setelah berproses sejauh ini, ternyata kalian tidak bisa sampai ke pernikahan sebab kalian memang tidak ditakdirkan Allah untuk berjodoh?” Kami terdiam kembali dan benar-benar membayangkan apabila kelak hal tersebut benar terjadi. Dan akhirnya ustadz bertanya kembali, “Bagaimana perasaannya? Ternyata berat ya membayangkan bila setelah berproses sejauh ini ternyata tidak bisa sampai ke pernikahan?” Saya mengangguk dalam hati. Sungguh berat sekali membayangkan apabila benar suatu hari ternyata proses kami harus terhenti atas alasan apapun, sebab proses kami indah sekali, khususnya bagi saya.
“Nak.. rasa berat hati saat membayangkan seandainya diri tidak berjodoh dengan pasangan yang sedang berproses sekarang merupakan tanda bahwa niat menikahmu belum lurus untuk Allah SWT.”
Subhanallah.. JLEB!!
“Ucapanmu mengenai niatan menikah karena Allah, demi ibadah yang lebih lengkap, pengutuhan keimanan, dll.. mudah sekali diuji kebenarannya dengan cara demikian tadi. Bayangkan bila seandainya tidak berjodoh. Ucapanmu diuji melalui rasa hatimu yang jelas tidak bisa berdusta.”
Seketika itu diri ini diliputi muhasabbah yang sangat dalam. Pernyataan ustadz tersebut berputar-putar di kepala. Saya menunduk. Benar, sangat benar. Rasa hati yang berat itu merupakan bukti nyata bahwa niatan menikah saya belumlah lurus karena Allah. Ustadz tersenyum. Tampak dari wajahnya, beliau sangat memahami jawaban dalam hati kami.
Beliau kemudian melanjutkan,
“Sebetulnya, bila niatan menikahnya benar-benar lurus, rasa berat hati apabila ternyata tidak bisa bersatu dalam pernikahan itu tidak akan ada. Hati yang lapang menerima dengan ikhlas atas apapun ketentuan-Nya bisa dengan mudah dimiliki apabila diri sudah sangat yakin bahwa apapun yang terjadi di muka bumi ini, sebenarnya merupakan ketentuan baik dari Allah. Lagipula, bila benar ternyata tidak berjodoh, berarti Allah sedang siapkan yang benar-benar terbaik menurut-Nya. Apa yang harus disedihkan?”
Saya menenggelamkan diri dalam muhasabbah yang lebih dalam lagi. Saya mengangguk lebih kencang dalam hati. Iya benar, itu benar, sangat benar. Ustadz melanjutkan kembali, “Jadi untuk menggapai pernikahan yang barakah, pertama-tama.. luruskan dulu niat menikahmu, sebab itu yang sebetulnya cukup sulit. Bila niatan sudah lurus, selebihnya insyaAllah akan dimudahkan.”
Ustadz menyampaikan kalimat demi kalimat dengan penuh ketenangan dan diwarnai senyuman yang sangat bijaksana. Sungguh, hari itu merupakan pembelajaran luar biasa. Yang awalnya mengharapkan nasihat langkah demi langkah menuju pernikahan barakah, justru dihadiahi nasihat yang sangat mendasar dan menjadi pondasi kokoh diri sebelum melangsungkan proses pernikahan.
Perjumpaan kami hari itu ditutup dengan sebuah pemaparan indah dari ustadz.
“Nak.. tidak ada masalah sama sekali dengan hasil akhir yang tidak sesuai dengan harapan sekalipun, apabila dalam prosesnya kalian sama-sama menjalaninya penuh ketaatan kepada Allah disertai dengan niat yang lurus. Dan sekali lagi, niat yang lurus bisa diukur dengan bertanya pada diri sendiri perihal ikhlas atau beratkah bila ternyata tidak saling berjodoh. Yakinlah Allah pasti berikan keputusan yang terbaik bagi hamba-Nya. Jadi sebetulnya tak ada alasan bagi kita berberat hati terhadap apapun yang tak sesuai dengan harapan. Saya doakan, semoga niat lurus selalu bersemayam dalam hati kalian. Dan bila belum lurus, maka berlatihlah terus.”
Subhanallah.. sebuah perjumpaan yang sangat bermakna. Sejak saat itu, setiap hari saya melatih diri meluruskan niat saya menikah. Setiap ada sedikit perasaan yang beranjak semakin dalam pada calon pasangan, seketika saya menarik diri dan meluruskan niat saya kembali, hanya untuk Allah, dan karena Allah. Hari demi hari saya berulang kali memaksakan diri meluruskan niat menikah yang sejujurnya tidak mudah, hingga akhirnya saya menemukan diri saya terbiasa dengan niatan menikah yang lurus, insyaAllah.
Alhamdulillah, sebuah pertemuan singkat dengan ustadz tersebut mampu mengkokohkan pondasi utama proses menikah, yaitu dalam hal pelurusan niat menikah. Hingga akhirnya saya menyadari, tidak ada kekhawatiran sedikitpun aapabila ternyata jodoh saya bukanlah dia yang sedang berproses dengan saya. Cukuplah saya menjalankan prosesnya sesuai dengan yang Allah suka, dan hasilnya biar Allah yang tentukan, suka-suka Allah saja. Tapi bukan berarti saya tidak serius menjalankannya. Saya hanya berpegang teguh bahwa apapun yang jadi ketentuan Allah, pastilah yang terbaik. Menikah kapanpun pada waktu terbaik-Nya, dengan siapapun pilihan terbaik-Nya. Alhamdulillah, ringan sekali rasanya menjalani kehidupan dimana segala sesuatu hal digantungkan harapannya hanya kepada Allah dan hanya untuk Allah. Sebuah anugerah yang tidak semua orang bisa miliki bila ia tidak yakin kepada-Nya. Terimakasih ya Rabb, I love You more WA dari temen thanks bro, sudah mau mengingatkan
Luruskan kembali niatnya. Thanks @baguskah sudah share :)
Selama kita menjalaninya dalam keadaan menta'ati perintah Allah dan dengan niat yang lurus.“
الله يجزاك خير 😊 🙏

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
slesai
“The more you express gratitude for what you have, the more likely you will have even more to express gratitude for”
Ada hal sederhana yang baru saya sadari selepas bebersih tadi pagi: selama ini saya baca doa sebelum masuk kamar mandi tapi lupa baca begitu keluar. Selidik punya selidik, kebiasaan itu juga melekat di aktivitas lainnya. Berdoa sebelum makan, enggak berdoa sesudahnya. Berdoa sebelum pergi, enggak berdoa sesampainya.
Berdoa sebelum tidur pun sering lupa doa sebangunnya. Padahal nyawa mungkin enggak balik lagi ke jasad begitu kita terlelap atau malah mirip kejadian sepasang saudara kandung yang dikarenakan mengidap penyakit langka, mereka terancam enggak akan pernah bisa tidur lagi seumur hidupnya. Kenapa doa yang “sebelum-sebelum” cenderung lebih akrab ketimbang yang “sesudah-sesudah” ya?
Apa mungkin karena kita selalu menganggap bahwa awalan lebih penting dari akhiran? Padahal, sesuatu dianggap gagal kalau berakhir dengan enggak semestinya. Bagian akhir jadi tahap krusial untuk menyempurnakan proses yang telah berjalan. Ibarat mengolah si kulit bundar, penguasaan bola sebanyak apapun enggak akan terlalu berarti kalau di akhir pertandingan malah kekalahan yang diperoleh. Untuk setiap penghujung baik, kita memang layak banyak berharap.
Barangkali selama ini saya cuma berdoa untuk menyurutkan kekhawatiran di awal aja. Takut ada apa-apa di jalan, takut mules gara-gara makanan, takut tidurnya keganggu mimpi buruk. Namun juga, barangkali selama ini, syukur yang dilangitkan belum mewujud sebagai ungkapan terimakasih yang tulus atas limpahan keberkahan-Nya. Selamat sampai di tujuan, pencernaan sehat, tidur dengan nyenyak. Sebetulnya, selalu ada alasan untuk bersyukur. Namun sayangnya, kesesuaian yang terjadi berulang juga berulangkali melalaikan kita.
Kita perlu menyejajarkan peran akhiran seperti halnya awalan. Khidmatkan ungkapan syukur setuntas menikmati perolehan apapun dengan lapang dada seperti halnya kita mengkhidmati bacaan doa sebelum memulai apapun dengan penuh pinta. Jaga kebaikan untuk terus menetap seperti halnya saat kita terus menjaga diri waktu belum tau ujungnya gimana.
Kalau kunci kebahagiaan adalah ketenteraman, maka kunci ketenteraman adalah rasa syukur. Jangan lupa bersyukur untuk jadi bahagia karena dengannya, kita enggak akan pernah kehabisan alasan untuk merasa bahagia. Ingatlah hari-hari di masa lalu ketika kita pernah amat berharap untuk masa kini yang tengah dinikmati. Lihatlah juga orang-orang di tempat lain yang terus berharap untuk masa kini yang tengah kita nikmati. Sudahkah kita menutup hari ini dengan syukur?
Unforgettable things.
Jangan marah, apabila engkau gagal mendapatkan surga. Bisa jadi, perjalananmu untuk mendapatkannya, telah banyak melukai hati manusia.
(Wasi’)
Kalimat tersebut saya temukan timeline seorang teman, tadi pagi. Kalimat tersebut benar-benar menampar saya.
Bagaimana tidak, urusan melukai hati adalah perkara yang sangat bias standardnya. Maksud hati biasa saja, tapi ditangkap teman kita menyakitkan hati, dan sebaliknya.
Tapi jujur, saya sering tidak habis pikir, melihat orang dengan mudahnya menyakiti hati orang lain, misal: sesederhana dengan kalimat seperti ini,”Lo happy ngga sih kemaren dapet nilai segitu? Bukannya pas di awal lo pasang target dapet A terus ya. Lo kok bisa jalan-jalan sih? Pura-pura bahagia ya? Keliatan kaya menutupi sesuatu. Lo kan biasanya suka menutupi sesuatu.”
Halo? Mau dilihat dari sudut pandang manapun, sungguh itu bukan kalimat yang baik diutarakan. Anyway, itu kalimat fiktif sih. Walaupun pada kenyataannya, itu hanya perumpamaan (yang mirip dan saya modifikasi) dengan menggunakan studi kasus saya; membayangkan apabila saya ingin bangeet dapat nilai A di masa lalu. Lalu saya gagal mendapat nilai A, lalu teman saya tega mengungkapkan kalimat tersebut pada saya, saat saya sedang travelling. Yang kamu lakukan ke saya itu… jahat. #ter-AADC2. :p
Untung saya ngga pernah digituin dalam kasus gagal-dapet-nilai-A. Kalo ada, udah saya semprot habis-habisan,”Maksud lo apa ngatain gue pura-pura bahagia?” *ya iya, bener sih. tapi harusnya lo bantu gue move on dong. Gue kan lagi mensyukuri hidup gue yang sekarang. Jangan bikin gue lupa bersyukur. :p
Iya, pada intinya, saya heran (pake banget) menemui ada orang seperti itu di dunia ini.
Iya, dalam kasus di atas, secara umum, saya rasa setiap orang seharusnya membantu saudaranya untuk mudah bersyukur; ketimbang mengingatkan pada hal-hal yang (mungkin) belum bisa ia miliki, dan membuatnya semakin jauh dari rasa syukur.
Heran. Haha :D
Saya jadi ingat kata-kata teman saya.
“Memang. “Pintar” dan “bodoh” itu cuma ilusi. Sebab pun bu warteg tak mengerti mekanika kuantum, Professor di Oxford belum tentu bisa bikin sambel terasi.”
Sebenarnya ngga nyambung, tapi kalimat itu membuat saya menyimpulkan satu hal. “NIlai baik atau buruk” manusia itu, terlalu sederhana jika disimpulkan dan dikuantifikasi dengan sistem buatan manusia.
Saya jadi semakin percaya, gelar, titel, level, dan penghargaan dari manusia tidak pernah menentukan kualitas akhlak seorang manusia, dan tidak akan pernah menentukan derajat kedudukannya di mata Allah.
Siapa bilang, orang-orang yang mendapatkan kesempatan belajar tinggi dan berkarir yang cemerlang, memiliki kedudukan lebih mulia dari bapak-ibu pemulung yang tinggal di rumah gerobak.
Siapa bilang, orang-orang yang sudah menunaikan belajar Islam level maqam Ibrahim (:p) di sebuah institusi, lebih mulia dari seorang mualaf yang baru belajar mengeja huruf hijaiyah.
Tidak ada yang bisa menjamin, Nin.
Maka pelajaran buatmu hari ini adalah, belajarlah hati-hati berbicara; karena kata yang terucap tak pernah bisa ditarik kembali. Karena melukai hati orang lain, bisa menjadi pengganjal untuk masuk surga. Karena melukai hati seseorang itu seperti meremas kertas putih kosong; ia mungkin tidak sobek, tetap utuh, namun ia tidak akan semulus seperti sebelum diremas; bekasnya masih ada, dan tidak akan pernah hilang. Mungkin karena itu ada pepatah,”Be careful with your words. Once they are said, they can be only forgiven, not forgotten.”
London, 2 September 2016
Enough
Cukup tidak ya uangnya untuk sekian hari? Cukup tidak ya gizi untuk buah hati jika hanya makan begini? Bagaimana hari ke depan selanjutnya? "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" (Al Baqarah : 155) Kita hanya perlu bersabar, dan merasa cukup. Semoga Allah mencukupkan semuanya.. Kalau kita mau berpikir, bahkan mereka yang sedang berjuang di negeri2 terjajah sekarang seperti Palestina, Syria dan lainnya, mereka masih bisa bertahan dalam kondisi yang begitu mencekik, padahal sebagian dari mereka mengandung, padahal sebagian yang lain sakit, tua renta, dan lain sebagainya. Namun atas berkat rahmat Allah, mereka mampu melewatinya.. Kecuali mereka yang memang Allah panggil lebih dulu.. Tapi, tidak jarang kita mendengar ada bayi dilahirkan di tengah kekurangan pangan dan air, bayinya sehat, ibunya selamat. Padahal sepanjang 9 bulan, sudah dipastikan bahwa gizi untuk ibunya pasti tidak sebanyak gizi untuk ibu hamil di negeri-negeri merdeka, seperti Indonesia kita misalnya. Entahlah, karena di sana, negeri yang diberkahi Allah. Orang-orangnya juga orang terpilih. Laki-lakinya berjihad jiwa raga, perempuannya pun sama. Dan dalam dirinya, Allah is enough. Kita perlu belajar bersabar dan bersyukur pada mereka.. Tidak usah terlalu khawatir karena kita masih punya Allah.. Dan Allah akan cukupkan, Allah akan cukupkan..
KarenaMu, bersamanya aku tak pernah merasa redup..
Aku mendoakanmu dari jauh. Agar kau tetap teguh. Agar kau selalu bertumbuh. Agar sejauh apapun kau mengayuh, Kau tak pernah mengeluh. Demi masa depan kita yang utuh. Demi anak-anak kita yang tangguh. Maafkan jika aku selalu banyak keluh. Maafkan jika aku selalu membuatmu rusuh.. Aku mencintaimu, penuh..

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
These are some of the most inspiring athletes coming to Rio.
Hari ini menemani suami latihan bola. Saya perempuan sendiri di tribun. Dan memang benar-benar sendiri, krn penonton yg lain hanya satu pedagang susu kedelai.
Saya merasa senang karena bisa meluangkan waktu menemani beliau sementara beberapa hari yang lalu di Semarang. Biasanya memang begitu, weekend kami habiskan bersama baik di rumah orang tua saya maupun orang tua suami. Dan setiap hari, kami bercakap melalui telepon, menceritakan apa saja yang kami lalui seharian.
Kalau diminta memilih, kami tentu memilih hidup bersama melewati hari. Namun karena masih ada yang harus kami selesaikan, jadilah kami hidup berjauhan, dengan sepekan sekali (kadang dua pekan sekali) bertemu.
Kami berterimakasih pada provider seluler yang menyediakan bonus telepon dan sms unlimited karena kapanpun kami butuh berkomunikasi, kami bisa. Dan menjalani LDR seperti ini, menjadikan kami seperti pengantin baru tiap kali bertemu, padahal sudah tiga bulan kami menikah.. Di awal menikah, kami memang telah bersepakat untuk menyelesaikan urusan kami sembari merintis tempat tinggal kami bersama suatu hari nanti.. Kalau kami fokus pada kesedihan, kegalauan, dan segala hal negatif selama kami menjalani LDR, pasti kami tidak akan menemukan keindahan2. Namun alhamdulillah, Allah mengijinkan kami untuk selalu bersyukur dengan apapun keadan kami. Karena memang tidak selayaknya kami membanding-bandingkan kondisi kami dengan pasangan lain. Seperti pada semua sisi kehidupan, bersyukur akan lebih baik dan mendatangkan bahagia.