Menjadi Ibu
Seiring berjalannya kehidupan serta bertambahnya usia, satu persatu tabir mulai tersingkap. Begitu pula denganku dan mungkin perempuan lain diluar sana saat menjadi ibu. Kedengarannya mudah, seperti ‘hanya diam dirumah saja’ dan banyak ‘hanya’ lainnya. Nyatanya, menjadi ibu laksana menaiki kapal didera derasnya ombak.
Kulihat diri kecilku disana. Menangis di sudut pintu, berharap seseorang mengelus rambutnya yang berantakan. Dia yang tak pernah muncul, tiba-tiba datang memanggilku kembali yang seakan melupakannya. Gadis kecil yang dulu lugu dan ceria, aku ingat dia selalu tersenyum kepada banyak orang tanpa ragu, hatinya yang bersih tak pernah menganggap siapapun akan melukainya. Namun kini yang kulihat adalah dia yang tersudut, perundungan di masa itu membuatnya merasa kecil, ekspektasi orang lain membuatnya rendah diri, kini gadis itu hanyalah gadis yang penuh kecewa dan sulit percaya bahwa ada cinta yang layak dia gapai.
Gadis yang selalu muncul ketika amarah dewasaku tak terkendali. Konflik yang ada saat ini membawaku kepada luka si gadis kecil. Celotehan sialku ini selalu menyakiti orang yang begitu kuhargai dan kusayangi.
Dalam rangka menemukan kembali gadis kecil yang ceria itu, aku mulai mengingat kembali semua luka di masa lalu. Aku mencoba merangkulnya, membayangkan dia ada dihadapanku, ku elus dan ku bisikan, “Tidak apa-apa, kamu tidak sendiri. Lihatlah aku sekarang, aku bahagia, aku yakin kamu pun bisa. Bisakah kau membantuku untuk merelakan semuanya? tak apa bersedih, namun jangan terlalu lama, kita sekarang punya orang-orang yang berharga yang harus kita jaga”
Menjadi ibu, menyembuhkanku. Masih dalam perjalanan, namun aku tahu pasti, aku akan bisa melalui ini dengan gadis kecil itu.
(c) andreazulfiah













