Teringat meme tentang âtuhanâ yang komplain karena sudah tidak ada yang berucap thanks god its friday lagi karena corona self distancing. Tapi menurut saya hari jumat ini berjalan menyenangkan terutama karena hari ini Hari Buruh Internasional, jadi libur. Memutuskan untuk tidak tidur setelah bersahur kemudian berniat berjalan disekitar rumah sekalian mencicipi kamera baru saya, Fujifilm X-E3. Sedikit bercerita mengenai pemilihan kamera ini. Sebelumnya, tahun 2015 saya menggunakan kamera mirrorless pertama kali yaitu Sony Alpha a6000, pada saat itu jujur saya hanya menginginkan kamera yang cemerlang untuk menunjang pekerjaan. Merek yang saat itu ada di pikiran saya hanya tiga: Canon, Sony, atau Nikon (kenal Leica sih tapi seperti utopia kalo berpikir kearah sana), setelah melihat beberapa review akhirnya memutuskan membeli Sony a6000 tersebut. Saya ingat sekali pada saat itu tidak ada perasaan membekas yang bilang wah saya harus selalu pake kamera ini! kamera ini indah! ya memang bagus sih tapi ya bagus aja.... sampai pada akhirnya di tahun 2016 saya memutuskan untuk lepas mirrorless dan tambah jatuh cinta dengan kultur iphoneography. Saat itu faktor utamanya cuma tidak pusing dengan dial dial tombol yang aneh aneh cukup bidik dan shoot-Â point and shoot. Lama-kelamaan kesukaan saya ini jadi sesuatu yang rutin, saya sering mengunggah foto-foto yang menarik perhatian saya, biasanya berkutat tentang juktaposisi tumbuhan dan bangunan, skill edit sederhana juga makin terasah sehingga bisa menemukan proporsi foto-foto yang saya suka dan unggah. Selain itu saya juga suka mengabadikan momen-momen seperti bepergian dan landmark. Sempat dulu berpikir bahwa; apa iya sih asik moto pojok ruangan? atau sudut cafe? apakah itu hanya terasa seperti kaum urban pada umumnya. Pertama, memang saya kaum urban (lol); kedua, bahwa sesuatu yang menarik bagi saya adalah detil dan ketidaksempurnaan atau bahkan mungkin keindahan yang terlupakan di kehidupan sehari-hari. Jadi, saya rasa, ini masalah waktu saya saja untuk mengatur taste/rasa...
Rasa itu yang menurut saya sangat membedakan individu, makanya ada ciri khas. Beberapa bulan belakangan saya merasa saya sudah mantap untuk menaikkan game berfoto di jalanan saya kesesuatu yang lebih serius, ya leisure tapi serius. Setiap malam sebelum tidur atau disela-sela inputan kantor saya menyempatkan untuk melihat review-review kamera yang terkini. Sebelumnya teman baik saya, Ronny Jonathan juga membeli kamera yang harganya menurut saya tidak masuk akal yaitu Fujifilm X-T3 sempat menjajal tapi saat itu saya membatin: belum layak karena skill saya cuma segini. Tapi dari minjam Ronny beberapa jepretan itu saya terkesan dengan warna kamera bawaan Fuji yang rasa-rasanya bercerita, beda dengan apa yang pernah saya tahu. Pencarian berlangsung selama beberapa minggu dengan bertanya ke semua teman-teman yang ahli dalam dunia perkameraan, bahkan saya banyak bertanya dengan orang yang tidak saya kenal di instagram karena hasil fotonya yang sungguh presisi menurut saya. Dua jenis kamera akhirnya masuk kedalam komparasi otak saya: Ricoh GR III atau Fujifilm X-100F dua duanya tipe kamera point and shoot premium karena ya saya masih mikir aja tidak mau pusing tombol dan setting hahaha...
Sudah lengkap perbandingannya, sudah tanya kanan kiri juga tapi di hati masih ada yang mengganjal, ternyata belum mantap. Perkara pilih kamera mirip mirip pilih jodoh, harus pake feeling hahah... suatu malam ada sebuah pertanyaan di diri saya âloh apasih bedanya sistem kamera Fuji 3,30,300-angka angka itu apa artinya..â yang membawa saya ke laman resmi milik mereka...tak disangka diantara barisan-barisan spek kamera yang wah, saya menemukan sebuah tipe yang jarang ada di review-review Fujifil X-E3 buatan tahun 2017 yang setelah di selidiki ternyata 90% review mengatakan kamera ini underdog kemampuan mumpuni dengan teknologi yang dimiliki kakak kakak serinya tapi berbody ringan dan compact. Nah! ini dia! Singkatnya saya seperti melihat diri saya di kamera ini đ underdog tapi banyak hal-hal yang luar biasa (ahem!) hahah bukan keluaran teranyar tapi masih luar biasa bersaing cocok sekali untuk apprentice kamera macam saya.Â
Jadi ingat, dulu jaman-jamanya peralihan dari SMA ke Kuliah, kamera DSLR itu lagi ngtren-ngetrennya banyak anak âgaulâ yang nenteng-nenteng DSLR kemana-mana apalagi anak band hahah..Waktu itu saya pengen punya karena saya nulis blog-jamannya blogspot dan wordpress harum namanya, saya menulis blog di blogpost dan tumblr dan kepingin punya kamera yang canggih. Benarkan, dulu top of mindnya: canggih belum bertemu Lintang versi pemikiran sudah matang dan mikir kalo foto juga lebih dari sekedar tools saja. Lagian dulu juga mana mampu beli kamera hahahah
Satu yang terpenting menurut saya sekarang dalam berfoto (diluar bicara manual setting camera dll ya), bahwa apa yang saya abadikan memiliki perasaan-perasaan tertentu, mudahnya sama dengan jika kita sedang mendengarkan sebuah lagu. Ya persis demikian, dan sedikit banyak itu mencerminkan si fotografer sendiri dan bisa jadi sangat berbeda dengan versi orang lain. Contohnya saya suka sekali melihat sudut bangunan yang terdapat sapu, engkrak, dan pot tanaman, menurut saya imaji itu penuh dengan kehidupan bahwa orang yang menggunakannya dengan berbagai macam perasaan, tapi bisa jadi orang lain tidak menganggap hal tersebut menarik. Macam ini yang harus saya selalu asah untuk dapat foto-foto yang Lintang banget.Â
Foto-foto diatas adalah hasil bidikan pertama saya, sungguh jatuh cinta! Sempat bertanya kepada kakak kelas saya yang juga dosen fotografi Mas Arief Ardi (terima kasih atas buku street photography yang langsung dihadiahkan untuk saya setelah saya tahu saya mau serius moto) apakah harus jadi orang yang memiliki segudang skill dan dan kamera luar biasa sehingga bisa dikatakan street photographer jawabannya tidak, tidak ada rumus, bahkan bisa self proclaim. Wow. Jadi selama ini saya sudah termasuk street photograper (tapi pake iphone haha) nah, sekarang saatnya beneran saatnya level UP! Â
Saat ini saya sedang berusaha mencari formula jitu ala saya untuk pengaturan segitiga exposure yang kadang membuat ribet dan pusing haha, semoga di September nanti saya sudah cukup pede ikutan hadir di Jipfest 2020 Jakarta. Doakan!Â