[19/9 17:58] Like Mutiaristi: Buat kedua malaikat Like di rumah, yang gak pernah berhenti kirim do'a terbaik untuk anaknya. Malaikat yang selalu kerahin tenaga, pikiran dan semua yang dimiliki untuk kehidupan Like yang lebih dari sekedar layak. Like pasti kebayang ibu yang selalu anter Like dari kecil, ngajarin Like sejak muda sampai saat ini Like seolah lebih tau dari ibu Like mesti kebayang, tubuh kurus bapak yang kokoh poles mobil sampai bener mulus lagi, ngecat mobil walaupun bau menyengat dan bisa ngerusak kulit, bahkan pernah bawa mobil untuk sekedar mengantar sesuatu. Like sayang banget sama Bapak dan Ibu. Like gatau harus bilang gimana. Like bener-bener sayang. Tapi Like yakin Ibu dan Bapak pasti mengetahui itu. Ibu, Bapak, Like mau ngomong sesuau tapi tertahan semisal ketemu Like gak bisa ngungkapinnya, Like pasti tertunduk dan nahan nangis Kali ini Like cuma mau ceritain visi dan misi hidup Like secara detail --------------------------------{ }-------------------------------- [19/9 17:58] Like Mutiaristi: Sebelum Like cerita ke visi Like, Like mau cerita Like itu berbeda dengan Mas Iyang ataupun Mas Aris Kami bertiga berbeda, dan tidak suka disamakan atau dibandingkan. Like belajar dari Mas Iyang, untuk fokus, punya rencana kedepan, dan bertindak sesuai yang diinginkan. Karakter ini wajar ada di mas iyang, karena mas iyang anak pertama, tentu secara psikologis jauh lebih dewasa. Tapi Mas Aris gak kalah dewasa, Mas Aris sebenernya punya rencana untuk kehidupannya, hanya saja Mas Aris berada di lingkungan yang mungkin kurang mendukung Mas Aris. Secara psikologis Mas Aris seharusnya tertekan, karena ketika lulus kuliah harus bekerja di tempat yang dia sebenernya ndak mau, punya kakak yang sudah sukses, dan punya adik yang harus dibantu walau sedikit. Hal itu semua ngebuat Mas Aris dewasa menjalani hidup. Anak ketiga ibu dan bapak, satu-satunya anak yang merantau jauh. Merasakan jauh dari masakan ibu, tersedia makanan, atau bahkan buah yang selalu bapak beli sepulang kerja. Like merasa beruntung bisa merantau. Karena merantau jauh dari bapak dan ibu, Like jadi jauh merasa lebih dekat dengan bapak dan ibu, lebih terpaut hati nya, lebih bisa merasakan perjuangan, dan lebih bisa dewasa... seandainya ibu perhatikan saat ini kamar Like sudah jauh lebih rapih dibanding dulu, Like sudah rutin nyuci baju sendiri, bahkan masak. Lebih dari itu, Like merasa sudah siap menanggung yang lebih bu. Jujur, Like ndak mau pulang ke rumah. Kenapa? Like ndak mau kalau ditanya orang pasti, sudah lulus? Sudah dapat kerja? Itu adalah pertanyaan normal yang selalu dijatuhkan oleh semuaaa orang, ini ga cuma terjadi di Like. Tapi di semua sarjana. Secara kasat mata tidak berpengaruh, tapi di mental berpengaruh. Itu baru dari luar, bagaimana kalau Like diperlakukan sama oleh keluarga? Bagaimana kalau ternyata bapak, ibu, mas iyang, mas aris, kak tanti dan kak firda masih terbesit dihatinya untuk bertanya, "Like mau gimana? Mau kerja dimana???" Itu pertanyaan yang benar-benar menggoda iman. Like bisa saja jawab, "Like punya usaha sendiri" Kesan yang tercipta di masyarakat adalah "blagu sekali" "memangnya bisa?" "Mau dapat penghasilan berapa per bulan?" Like ndak butuh itu semua Like butuh nya support Like butuhnya dukungan Like punya cita-cita Like punya alasan kenapa ndak mau kerja, dan mau berbisnis saja Ibu dan bapak adalah yang terpenting bagi Like Like bilang ini, karena dukungan ibu dan bapak yang terpenting buat Like Like mau, ketika Like pulang, pertanyaan yang muncul adalah, "Gimana nduk bisnisnya? Lancar?" Itu akan jauh lebih membahagiakan... menyadari bahwa itu adalah kehidupan Like. Kehidupan yang Like tata sedemikian sehingga Like memiliki segudang harapan di hati dan pikiran Like ini. --------------------------------{ }------------------------------- [19/9 17:59] Like Mutiaristi: Kalau ibu dan bapak tanya alasan Like kenapa mau berbisnis. Like jamin Like punya sekian banyak jawaban, tapi semua itu akan runtuh hanya dengan 1 kalimat bapak atau ibu yang menyatakan ketidak yakinan atas apa yang Like yakini --------------------------------{ }------------------------------- [19/9 17:59] Like Mutiaristi: Beberapa alasan Like mau berbisnis itu bu: 1. Like mau jadi pemimpin 2. Like mau bermanfaat untuk orang banyak, Like mau berbagi untuk orang banyak 3. Like tau skill Like itu layak untuk jadi pemimpin, Like punya kecerdasan, kemampuan untuk jadi pemimpin, Like tau dan bahkan disini Like diakui mampu. 4. Like mau punya banyak waktu luang untuk keluarga. Uang ngalir, bisa jalan-jalan tiap hari sama keluarga. Atau setidaknya jadwal bisa Like sendiri yang atur, tanpa khawatir ada shift kerja. 5. Like sadar betul bahwa Like perempuan, sudah kewajiban dari Allah kalau ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Like mau punya waktu untuk mengasuh dan mendidik anak, dan tetap mandiri, menghasilkan uang halal dari bisnis sendiri. --------------------------------{ }------------------------------- [19/9 17:59] Like Mutiaristi: Ada banyak sekali rencana di hidup Like bu --------------------------------{ }------------------------------- [19/9 17:59] Like Mutiaristi: Like harus pergi dari bayang-bayang ketidak bisa an --------------------------------{ }------------------------------- [19/9 18:00] Like Mutiaristi: Like inget dulu pas Like belajar renang, terus nangis dan bilang "gak bisa, like takut mati" bapak langsung marah, itu bentakan paling keras yang like pernah denger dari bapak ke like "Bapak gapunya anak yang gak bisa" Nasehat bapak mesti terngiang sampe sekarang, jadi kalau Like ndak bisa itu Like sedih sekali... Tapi kekuatan kedua setelah kuasa Allah, Like rasa adalah dukungan dari bapak dan ibu. Like ndak bisa, bener bener ndak bisa kalo ndak di kasi ridho dan dukungan. Like full yakin bisa, yakin karena Allah ridho, dan yakin karen kedua orang tua ridho Bismillah bu, pak Like mohon dengan sangat kasih like kekuatan itu Like sudah sarjana, Like sudah memasuki tahap kehidupan yang level nya sudah lebih berat, like bener-bener butuh dukungan --------------------------------{ }------------------------------- [19/9 18:00] Like Mutiaristi: Jadi, nanti semisal Like pulang. Kalau ibu mau tanya, tanyakan gimana kabar bisnis Like saja yaa bu, atau kabar calon suami ndak papa (laugh) Yang lebih perspektif gitu lho bu, yang membangun energi positif buat anak ibu. Like ini kepikiran sekali. Kayak bapak bu Like itu kalo ada hal yang dipikirkan jelek sekali, kalo bapak mungkin ngeroko sambil merenung, kalo Like ndak. Nangis Like, cengeng sekali. --------------------------------{ }------------------------------- [19/9 18:00] Like Mutiaristi: Udah bu, sekarang itu saja dulu. Nanti kapan hari lagi ๐ --------------------------------{ }------------------------------- [19/9 18:00] Like Mutiaristi: Udah banyak soalnya hehe --------------------------------{ }------------------------------- [19/9 18:00] Like Mutiaristi: Selamat membaca ibuk ๐