"Jika memang sudah waktunya, yang tinggal pun akan (tetap) hilang~"
“Percaya deh, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini” Katanya tepat di lampu merah Jalan Braga,
Aku hanya tersenyum dari jok belakang, “Benar, termasuk Kamu yang bisa meninggalkanku kapan saja kan?”
Aku tahu dia cukup kaget dengan jawabanku.
Matanya sibuk menunggu lampu jadi kuning, tak sabaran. Sesekali ekor matanya melirik ku dari spion. Aku tahu itu.
Sepanjang perjalanan, Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Berandai kesana-kemari. Memikirkan banyak hal yang tak masuk akal;
“Bagaimana mungkin Aku bisa berjalan sejauh ini dengan lelaki yang....bahkan, Ia tak bisa jujur dengan perasaanya sendiri?”
Sibuk menerka, bagaimana perasaan lelaki ini sebenarnya,
Lalu, kembali memikirkan; apa yang akan Aku lakukan ketika Ia benar-benar akan meninggalkan ku?
Aku mungkin tidak akan pernah siap untuk menjadi pihak yang ditinggalka. Sendirian, bersisa kenangan-kenangan baik yang dengan sadar dan sengaja Kami cipta bersama.
Sangat manis. Membuat aku selalu ingin mengulanginya lagi.
Bertukar cerita hingga larut malam, mendengarkan Ia dengan semangat menceritakan segala mimpi-mimpi yang ingin Ia wujudkan. Semuanya. Aku suka semua nya tentang Ia, tentang Kami.
Kenyataan bahwa Ia bisa pergi kapan pun Ia mau;
Bahwa, Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini;
Tidak mungkin kami tidak bersama;
Juga tidak mungkin kami bisa bersama.
Aku tersadar. Scoopy merah kami sudah berhenti didepan gang No.10. Seperti biasa, Ia hanya akan mengantar sampai depan gang.
Aku tersenyum. Kemudian mulai berjalan menjauh.
Dari jauh ku dengar sayup Ia memanggil namaku.
“Dianaaaa! Besok Aku jemput yaa!”
Selalu. Aku selalu kalah!
Detik itu, ingin rasanya mengutuk telingaku sendiri. Yang selalu mudah merasa jatuh pada lelaki ini.
Aku benci dengan bibirku sendiri. Yang tak bisa untuk tidak tersenyum setiap kudengar namaku disebut.