Selamat Hari Raya Idul Fitri
Entah kenapa hari ini aku mau cerita di sini
Awal mulanya cerita ini sebab bulan April begitu banyak memberikan kejutan. Karena ingat bulan April, aku jadi ingat bapak yang ulang tahunnya di hari Kartini, 21 April.
Dulu setelah lulus SMA, aku ikut banyak ujian masuk PTN, tapi sayangnya ngk ada yang lulus. Bapakku seolah heran, mungkin dalam hatinya bilang "kenapa ni anak ngk keterima ya, dari sekian banyaknya tes?".
Pengumuman PTN yang terakhir aku ikuti akhirnya tiba, itu menjadi harapan terakhir, dan aku tetap belum keterima. Sangat sedih rasanya, tapi mungkin memang belum rezekinya.
Waktu itu suasana rumah masih ramai dengan kakak-kakakku yang banyak jumlahnya. Mereka selalu jadi saksi kegagalan yang tertera pada layar laptop setiap pengumuman tiba. Malam itu kita semua berkumpul sambil nonton TV, di sana ada bapak. Bapak penasaran sama hasilnya, pas tau aku ngk lolos, bapak sambil bercanda bilang "kamu bebel banget, tes sana-sini ngk masuk-masuk", dan kata-kata ini pun memicu tawa menggelikan dari seisi rumah, tak terkecuali aku yang sedih juga jadi ketawa. Waktu itu aku merasa, menertawakan diri tidaklah seburuk itu.
Anehnya, kata bebel ini selalu diingat oleh aku dan juga kakak-kakakku, padahal tahun selanjutnya aku diterima di PTN.
Bahkan setelah bapak meninggal, aku dan kakakku selalu mengingat kata bebel itu. Bila aku tidak diterima dimana-mana atau tidak bisa melakukan suatu hal, pasti ada celoteh ini "iya lu kan bebel kata bapak" dari kakak-kakakku, dan aku selalu saja tertawa dan mengingat ekspresi bapak bilang kata bebel.
Bulan April ini ingatanku berkali-kali dihantui oleh kata bebel dari bapak. Tepat 4 hari setelah tanggal ulang tahunnya, buku pertama aku diterbitkan dalam bahasa Inggris. Di hari itu aku ingin teriak dan berguyon pada bapak dan semua kakakku, "Pak, anakmu yang dibilang bebel ini udah nerbitin buku". Pasti semua akan tertawa karena ingat ke-bebel-an ku yang gagal terus masuk PTN di tahun pertama.
Huaaaah, rasanya aku rindu sama celotehnya.
Collective Memory and Local Knowledge About Disaster in Central Sulawesi [Sururoh, Lien, Trinirmalaningrum] on Amazon.com. *FREE* shipping o
Ketika aku melihat kembali bukuku, aku kembali teringat bapak. Sepertinya DNA gemar menulis ini diwariskan oleh bapak. Selama ia hidup, ia gemar sekali membaca koran, majalah dan lainnya. Ia juga sering sekali ku lihat sedang menulis. Tulisannya besar-besar agak bulat dan khas sekali, apalagi tanda tangannya, sangat unik dan sulit ditiru.
Selepas bapak meninggal, aku masih sering menemui tulisan-tulisannya di deretan buku atau selipan-selipan dokumen. Sampai aku menemukan tulisan tertuanya pada gambar di bawah.
Tertulis di sana, tanggal 1 Ramadan 1391 Hijriah, atau 52 tahun yang lalu. Kira-kira saat itu bapak masih sekolah. Dalam buku itu aku tidak tahu banyak mengenai isinya, karena kebanyakan ditulis dengan menggunakan bahasa Arab.
Ketika menemukan tulisan bapak, aku diberitahu oleh mamah dan kakak tertuaku bahwa ia sering juga menulis puisi. Aku jadi membayangkan, waah bapak begitu produktif sekali menulis. Tapi sayang aku hanya menemukan satu puisinya.
Zaman mulai berkembang, tulisan mulai memudar digantikan dengan ketikan dalam komputer. Aku menyesal, kala aku duduk di bangku SMA, bapak sempat memintaku mengajarkannya mengetik di komputer. Tapi sayang, aku tidak mengajarinya dengan benar, bahkan mengajarinya dengan ogah-ogahan. Mungkin bila ku ajari dengan benar, ia bisa menulis kata-kata mutiaranya di dunia digital.
Maafkan anakmu ini ya pak...
Foto terakhir ketika aku jalan-jalan dengan bapak
Teruntuk bapak, aku sangat berterima kasih. Secara tidak sadar kita memiliki hobi yang sama. Terima kasih telah memberikanku guyonan kata "bebel" yang sampai sekarang melekat indah sebagai candaan memotivasi.