Yang Bertuhan Yang Bertahan
Waktu awal awal semester satu, kira-kira kutemukan kalimat ini ketika mengobrol dengan teman dalam suatu aplikasi berwarna hijau yang aku rasa, semua orang punya.
Awalnya dia curhat dan bercerita tentang masalahnya, yang entah kenapa asing ditelingaku. Aku tidak pernah mendengar masalah se-complicated itu, se - kelibet begitu, se-se se gitu deh pokoknya. Pun aku alhamdulillah dan yah jangan sampai punya masalah seperti itu. Aku yang sedikit takut takut memberi solusi mencoba tenang, walau jujur saja, aku tegang. Takut salah memberikan pendapat yang aku tahu, pada saat itu, hanya aku yang ia percayai.
Karena ketika aku sedang curhat dengan manusia (Papa, Mama, Mas, dan Aghanis) aku dengar betul, aku masukkan betul, aku simak betul apa-apa yang keluar dari mereka. Dari lubuk hati, aku pikir, ini jawaban dari Allah lewat perantara mereka. Dan benar saja, Alhamdulillah masalah itu kulalui.
Nah, aku takut temanku ini seperti aku. Aku sempet berdoa dulu kepada Allah dalam hati, agar tidak salah dalam menyampaikan perantara. Dan entah kenapa, kata bertahan itu kuat dalam benakku.
Aku tahu, temanku sangat putus asa. Seperti bingung tak punya arah. Terlihat sekali dari tulisannya yang benar benar berbeda. Dia bahkan berkata ingin menyerah. Aku tidak mau men-judge hanya karena dia berkata ingin bunuh diri atau hal hal yang menyakiti fisiknya. Aku biarkan, aku dengarkan, sampai dia merasa mendingan.
Pelan-pelan aku beri masukan. Pelan-pelan aku ajak dia bertahan. Pelan-pelan aku ingatkan. Bahwa setiap masalah akan menjadi teman. Akan menjadi keseharian. Akan menjadi ancaman juga acuan. Tergantung bagaimana kita mengarahkan.
Aku yakin, kita akan selalu dihadapi oleh masalah. Entah atas diri kita sendiri atau bahkan orang lain yang menghinggapi. Kita akan selalu dihadapi masalah. Because life is about struggle right?
Belasan tahun hidup, aku rasa tiada satu hari aku tidak dihinggapi masalah. Entah besar atau kecil, entah nyata atau terlihat mustahil, kita seakan akan berkenalan dengannya. Bahwa masalah ini hadir sebagai penguat. Sebagai batu loncatan ke tingkatan atasnya. Sebagai sebuah keringat yang akan menjumpai anginnya. Kita sudah ikhtiar, ya jangan lupakan tawakalnya. Allah tahu batasan kita, dan kita harusnya mempercayainya bahkan lebih dari diri kita.
Allah hadirkan masalah bukan tanpa sengaja. Allah hadirkan itu kepada kamu alasannya, ya karena itu kamu. Itu kamu, bukan aku. Mungkin saja ketika aku yang dihadapi masalah itu, aku akan menyerah begitu saja. Tapi kamu tidak, walau di mulut berkata seperti itu, tapi aku tahu kamu tidak akan menyerah. Kamu kuat, kamu bisa, sebab itulah Allah memilihmu.
Sekali lagi, karena itu kamu.
Hingga jari jari di keyboard ini berhenti pada akhir tulisan. Tak akan pernah bosan aku sampaikan,
Yang Bertuhan Yang Bertahan