Dari awal kenal aku tak pernh tahu kalau ternyata kita berdua bisa sedekat ini. Aku seperti menemukan ibu baru dibelahan dunia yang lain. Rasanya nyaman mendengar ceritamu, rasanya ikut senang hanya dengan mendengar suaramu, rasanya pun ikut sedih saat mendengar keluhan muncul dari bibirmu.
Aku hanya anak perempuan biasa, terlahir dari orang tua yang biasa pula, sejak awal perkenalan kita, aku sama sekali tak tertarik mendekati anak laki-lakimu, berjalannya waktu semua seperti mengalir begitu saja.
Dekat denganmu, selalu membuatku menemukan ibu lain, setiap ada air mata dipelupuk karena anak laki-lakimu, mendengar suaramu saja sudah membuatku tetap baik-baik saja.
Jika nanti aku bukanlah anak perempuan yang menjadi menantumu, maka biarkan aku tetap menjadi anak permpuan yang hadir menyapamu entah itu dari kejauhan atau saat ada disampingmu.
Doa terbaik selalu ada untukmu, sama seperti aku mendoakan anak laki-lakimu. Jika aku boleh meminta anak mu biar bersama ku maka aku akan sedikit memaksanya, tapi tangan ku jauh untuk sampai digenggamannya, bahuku pun teramat kecil untuknya bersandar.
Hari ini anak laki-lakimu membuat ku menangis kembali. Tak bisakan jika dia tetap bersama ku tanpa mempedulikan anak perempuan lainnya?
Apa kesetiaanku, cintaku, perhatianku dan kasih sayangku tak cukup untuk melengkapi kasih sayangmu untuknya?
Andai aku bisa berlari, aku ingin berlari untuk menghentikannya dan berbalik melihat mataku yang sangat sembab menangisinya.
Izinkan aku bisa menjadi bagian dalam keluarga kecilmu, menjadi makmum untuk anak laki-lakimu, memberinya kasih sayang dan cinta yang baik untuknya tanpa mengganggu cintanya untukmu.
Aku menyayangi anak laki-lakimu setulus hati, tanpa pernah berfikir akan pergi meninggalkannya. Meski akhirnya aku yang ditinggalkan...