"Idealisme" Rasanya sebelum menulis tentang topik ini, masih banyak sekali aspek-aspek yang harus saya pahami sampai akhirnya bisa membuat kesimpulan. Tapi, siang ini adalah waktu yang tepat untuk menulis, berhubung baru saja dibuat menangis oleh suatu thread di X. Rasanya semua scene yang menggores hati dan semua yang ada di fikiran mengenai idealisme, tiba-tiba mencuat di ujung kepala. So here we go. Ada 2 hal yang membuat topik ini selalu ada di fikiran saya. Izinkan saya menceritakan semuanya satu persatu, tapi seperti biasa, dengan gaya fikir saya yang sangat emosional, sensitif dan unapologetic. 1. No hard feelings by Liz Fosslien & Mollie West Duffy - ini adalah judul buku yang subjudulnya adalah "The Secret Power of Embracing Emotions at Work". Dengan iming-iming cover yang eyecatchy, wall street journal bestseller dan subjudul yang relatable, buku ini pasti memang buat saya. Benar, buku ini memang lagi "hangat-hangatnya" saya butuhkan. Kenapa? Begini. - As a background, sekarang saya sekolah dokter spesialis di salah satu universitas negeri yang pendidikannya berbasis praktik kedokteran, alias belajar sambil bekerja. Saya rasa topik betapa bobroknya sistem pendidikan dokter spesialis Indonesia boleh saya tulis di lain waktu, tapi intinya saya sekarang bekerja di RS Rujukan se-Sumatera Utara, atau yang kalau sering saya sampaikan ke pasien "Bapak/Ibu jangan takut, Bapak/Ibu sudah berada di RS dengan dokter yang lengkap. Diatas RS ini, tidak ada lagi yang lain. Bapak/Ibu harus sembuh disini, tenang saja ya". Holistik. Doesn't matter if it's true or not, but we literally called it 'terapi muncung'. - Keseharian saya adalah melakukan pelayanan kedokteran dan pendidikan kedokteran. Saat melayani, saya bertemu dengan pasien, perawat, pegawai RS, kolega (senior/junior) dan supervisor. Saat menjalani pendidikan, saya bertemu dengan kolega dan supervisor. Jadi, rasio kontak saya dengan kolega dan supervisor adalah tinggi. Seperti pada umumnya, dunia kerja tidak dipenuhi oleh 100% orang yang melakukan hal-hal yang benar atau yang saya masih kenal dengan "Idealis". Setiap hari ada saja ketidaksetaraan atau ketidakadilan yang saya jumpai, baik dari kolega atau mostly supervisor. Setiap hari dan saya jujur masih sangat terganggu dan belum bisa tidak mengkerutkan dahi melihat ketidakadilan itu. Katanya memang hidup unfairly fair to everyone, sepertinya sih tidak. Mulai dari perlakuan yang tidak sama saat tampil ilmiah, beban kerja yang tidak sama, standar ganda terhadap peserta didik hingga hal-hal yang bahkan menyentuh ketidak-profesionalan dalam menghadapi pasien. It happens naturally, everyone knows and everyone just pretend that it's not. -Oleh karena itu, buku ini saya beli supaya saya mengerti caranya bersikap profesional saat menghadapi emosi-emosi negatif di tempat kerja, supaya saya mengerti cara untuk tetap sehat secara mental di tempat kerja dan supaya saya mengerti bahwa memiliki semua emosi tersebut adalah hal yang normal. Buku ini sangat membantu, terutama untuk orang-orang seperti saya yang saat kerja hatinya juga dibawa.
2. Pemilu dan Gibran Gibran kemungkinan besar tidak melanggar apapun dalam caranya untuk mencapai kursi Wakil Presiden. Bersih, tak bercela, semuanya sangat apik dan tidak ada pelanggaran hukum. Kalau begitu boleh dong kesimpulannya orang lain hanya "sirik" karena tidak mampu? Tidak mampu apa? Tidak mampu lahir dari anak seorang presiden?Hal ini saya debatkan dengan seseorang dengan begitu banyaknya bantahan yang mengatakan saya terallu idealis, saya malah semakin yakin bahwa idealis saya itu bare minimum yang dibutuhkan supaya jangka panjang, Indonesia ini tidak dipenuhi oleh orang-orang dengan pemikiran "ya sudahlah mau gimana lagi". Tidak berlebihan saya rasa jika dimasa depan kita dijajah, lalu lantas hanya modal "We've done our best, yamau gimana lagi?". Idealismu ya bare minimum, you haven't even touch it, apalagi "your best". Saya tetap tidak akan pahami orang-orang yang belum bisa call out Gibran dalam hal ini. Menurut saya, hingga sekarang, "idealis" seharusnya bahkan menjadi bare minimum. Idealis boleh hanya berupa harapan atau target yang belum tentu bisa direalisasikan. Idealis tidak harus realistis, tapi saya mau semua orang tau bahwa yang benar adalah si perempuan lemah yang teriak teriak idealis itu. Jadi, mengatakan seseorang terlalu idealis itu sama dengan terlalu tinggi berharap. Apa salah kalau yang miskin berharap suatu saat kaya? Tidak. Apa bisa dia seumur hidup tetap miskin? Bisa sekali. Saya juga bukan anak kemarin sore yang belum tau asam garam hidup, belum tau susah, belum tau perjuangan sampai idealisnya harus diganti dengan kalimat "belum paham aja kamu". Justru saya paham, kalian yang ga kurang banyak baca, belajar dan melihat dunia lebih besar. Orang-orang yang baik karena terpaksa atau tidak, hidupnya hanya untuk diri sendiri dan keluarga kecilnya, tidak paham artinya. 3. Punya keponakan Baru punya keponakan, rasanya sangking cinta matinya sama anak bayi ini, ingin sekali dunia ini jadi tempat yang lebih layak dan pantas untuk dihidupi. Ingin juga rasanya dia hidup dan tumbuh jadi anak yang paham indahnya hidup ini tanpa harus lupa bahwa hidup ini juga penuh ketidakadilan dan tidak selalu sesuai harapan. Tapi, semoga anak bayi tetap kuat dan bisa membedakan benar atau salah ya.













