don’t be a people pleaser
saya heran betapa banyaknya manusia saat ini yang sepertinya merasa memiliki ‘authority’ terhadap manusia lain. semacam, segala yang dilakukan seseorang, jika tidak sesuai dengan jalan pikirannya, pasti salah.
kita hidup untuk pleased everyone, kan? gini, dulu sekali saya pernah menulis seperti ini: “lakukanlah segala hal sesuai keputusanmu sendiri, jangan karena orang lain. karena semisal nanti keputusan itu salah, kamu tidak perlu menyalahkan orang lain, karena itu atas kemauanmu sendiri.”
nah sayangnya tidak semua orang merasa seperti itu. hanya karena ‘teman baik’, lalu merasa segala hal yang dilakukan temannya, harus berdasar persetujuannya. hanya karena lingkar kepalanya menganggap yang dilakukan teman baiknya itu salah, lalu dia menge-judge bahwa teman baiknya memang bersalah. padahal, mungkin saja itu hanya ada dalam pikirannya. itulah mengapa Pram bilang bahwa kita harus selalu adil dalam pikiran.
jikalau kamu, kamu, kamu dan kamu hanya tau surface-nya, nggak usah ribet-ribet menasehati, apalagi sampai mulut berbusa. “Arahin dong itu temennya biar ke jalan yang benar.” HALAH! ARAHIN MY ASS!!!
bahagia kan kabarnya harus datang dari diri sendiri, ya. kita gak akan bisa membahagiakan orang lain jikalau diri kita belum bahagia, katanya. dan ukuran bahagia orang lain tuh berbeda-beda. nah even bahagia, itu pasti punya risiko, karena risiko dimiliki tiap keputusan. dan memutuskan utnuk bahagia juga ada risikonya.
jikalau kamu selalu menganggap segala hal yang tidak sesuai dengan isi kepalamu salah, maka selamanya tiap orang yang melakukan sesuatu yang tidak sesuai jalan pikiranmu akan selalu salah.
hidup kalau cuma buat pleased everyone tuh capek, melelahkan, karena manusia dikasih kelebihan berupa ego sama Tuhan, yang ukuran kepuasannya berbeda-beda. jadi ketika kita hidup hanya untuk mencari acceptance mereka, saat kita melakukan hal yang benar menurut kita, itu belum tentu benar buat mereka. dan saat kita melakukan hal yang benar menurut mereka, belum tentu kita merasa senang melakukannya. jadinya blunder. makanya, paling bener itu pleased Tuhan, ukuran kepuasannya jelas. cukup jalankan perintahNya, jauhi laranganNya.
sudahlah, cukup orang tua dan tuhan yang menjadi tempat restu berada. selama dia tidak merugikan siapa pun, jangan menghalangi apa yang dilakukannya. sebab saat dia melakukan itu dengan tergesa-gesa, dia pasti akan menerima risikonya.
kalau kamu nggak mau bertanggungjawab atas kesalahannya nanti, jangan sok-sok menasehatinya di awal.