Tentang Obrolan Selasa Malam dan Kehidupan Setelah Wisuda
Dayen, Azham, dan beberapa mahasiswa yang baru lulus Maret kemarin tiba-tiba ngajak ngopi beberapa hari yang lalu. “Pengen ngobrol soal hidup setelah lulus, Mas. Pengen sharing bareng”, katanya. Datang di kafe tempat ketemuan dengan ekspektasi bahwa malam itu akan berjalan sebagaimana acara ngopi lainnya: guyon nggak jelas sambil mentertawakan konyolnya kehidupan. Ternyata saya salah besar. Hasilnya adalah obrolan deep talk yang sisa keraknya masih tertinggal di kepala sampai hari ini. Dan tulisan ini adalah hasil refleksi saya berdasarkan obrolan hari itu. Soal kehidupan setelah kelulusan yang nampak begitu luas dan dingin serta harus dihadapi dengan kesendirian. Dan mungkin posisi saya yang hingga saat ini masih belum bisa mengerti kenapa otak ini mau-maunya memikirkan rumitnya kehidupan mahasiswa.
Ngomong-omong, pada suatu ketika saya pernah membaca sebuah quote di Instagram yang berbunyi “ Hidup Itu dijalani ke depan tapi hanya bisa dimaknai dengan melihat ke belakang”. Tulisan itu rasanya nampol banget bagi saya yang tahun ini masuk usia 34 tahun. Sejak lebaran kemarin saya jadi banyak menghabiskan sore dengan siram-siram tanaman atau bengong di teras sarungan (udah fix jadi bapak-bapak) sambil nglamun mikir macem-macem. Dan banyak dari lamunan itu sebenarnya adalah upaya saya untuk memaknai hidup yang sudah berjalan sejauh ini. Ngelamun soal jalan hidup yang membawa saya pada detik ini, juga memikirkan kawan lain yang saya yakin juga sibuk berjibaku dengan hidup keseharian. Dan dalam lamunan itu saya jadi sadar akan beberapa hal soal kehidupan sebagai orang dewasa. Hal-hal yang kemudian saya bayangkan juga agaknya akan menjadi bagian kehidupan mahasiswa saya nanti setelah lulus.
Sendiri di Lautan Tuntutan dan Ekspektasi
Sesaat kita lulus, rasanya hampir semua orang di sekitar saya bicara bersemangat soal masa depan yang harus berhasil diraih. Soal janji kesuksesan yang ditiupkan dalam ubun-ubun kita selama panjangnya proses pendidikan tinggi. Rektor bicara panjang lebar di acara wisuda soal opportunity, kesempatan untuk meraih mimpi, potensi diri yang harus diwujudkan, dan kata-kata motivasi yang nyaring memekakakkan telinga. Tapi di balik hiruk pikuk suara itu, yang jarang dibahas adalah perasaan sendiri dan kesepian yang kita alami saat tubuh ini tiba di stasiun sunyi bernama kehidupan nyata. Yang saya sadari setelah kelulusan dan menjadi dewasa adalah ini: perasaan kesendirian dan sepi di tengah luasnya realita hidup beserta semua kemungkinan dan percabangan jalannya. Walaupun raga kita ada di dalam sebuah acara ngopi atau kumpul-kumpul bersama teman yang lain, meskipun kita tertawa pada lelucon yang sama, tapi sejatinya semuanya hidup dalam dunianya masing-masing. Selamat datang di realita hidup, guys.
Kalau dipikir-pikir, menjadi dewasa berarti harus siap menerima semua ekspektasi yang diberikan dunia di pundak kita. Menjadi dewasa berarti pribadi yang kuat, kompetititf, dan mampu bertahan dari apapun yang diberikan hidup. Dan kita semua berupaya berupaya berlari mengejar imaji itu. Salut dan puja-puji diberikan pada sosok-sosok yang berhasil mencapai puncak setelah kelulusan, yang pialanya ditampilkan dengan foto di kantor perusahaan multinasional dengan lanyard keanggotaan mengkilat, foto mobil baru atau keluarga kecil yang tertawa lepas di depan rumah, atau foto diri di depan kampus luar negeri. Sementara itu sosok lain yang masih kesulitan berjuang dan terseok dalam hidup kan menatap foto-foto itu dengan nyeri di ulu hati dan memutuskan untuk mundur dan menarik diri.
Dunia setelah kelulusan adalah kompetisi tanpa henti yang harus dihadapi sendiri.
Mungkin itu alasannya kenapa rasanya semakin sulit untuk bisa mencapai kebahagiaan sejati di dunia ini. Di dunia yang rasanya semakin menekankan pada persaingan dan ekspektasi untuk ‘tampil dan bersinar’, semua orang sejatinya merasa sendirian serta tidak memiliki tempat untuk bercerita dan didengarkan. Semua upaya untuk keluar dari lintasan kompetisi ini akan dianggap sebagai tanda kelemahan, termasuk meminta pertolongan pada orang lain atau memilih untuk hidup sederhana. Orang yang menolak untuk ikut dalam balapan imajiner akan dianggap sebagai orang yang menyerah kalah. Dan di dunia dimana cerita di media sosial telah menjadi penanda kesuksesan utama, tidak ada satu orang pun yang mau kelihatan lemah atau kalah. Padahal sejatinya semua orang dipenuhi dengan pertanyaan dan keraguan soal hidup, tanpa terkecuali. Sebagai akibatnya hidup sebagai orang dewasa terasa kering dan dingin, dimana satu-satunya sumber kebahagiaan yang paling populer adalah perasaan superior jika merasa kehidupan kita lebih dari orang lain.
Saya bayangkan hidup mahasiswa sekarang kok rasanya akan lebih rumit lagi setelah lulus. Atau seenggaknya jauh lebih rumit dari pas jaman saya lulus 2013 dulu. Dimana-mana sekarang banyak konten yang bicara soal ‘sukses di usia muda’ terus dilanjutkan ke cerita anak-anak muda yang udah mapan banget padahal usianya dua puluh tahunan. Belum lagi hidup di medsos rasanya kalau nggak update hidup yang sok sibuk atau ikut kegiatan tertentu pasti rasanya kayak ketinggalan sama temen-temen yang lain. Padahal realitanya sangat berbeda dan kompleks. Kebanyakan anak-anak muda yang sukses dan sok jadi motivator itu punya privilege yang nggak dimiliki orang banyak, tapi mereka sengaja tidak mengakuinya dengan tujuan agar kesuksesan yang mereka punya sekarang nampak lebih heroik dan dramatis. Ekonomi cenderung mengkerut sehingga membuat cari kerja nggak segampang dulu. Seorang alumni angkatan 2019 yang terkenal pinter banget dengan pandangan pahit bahwa ia menghabiskan sisa waktu enam bulan terakhir untuk datang ke berbagai wawancara kerja dan berakhir dengan penolakan. Apalagi inflasi nggak setara dengan peningkatan upah (pernahkan kamu nyoba lihat harga rumah sekarang?). Di dunia yang semakin menghimpit dan keras, orang-orang malah saling sikut-menyikut dan membandingkan diri lewat imaji-imaji palsu serta tidak bisa melepaskan diri dari adiksi validasi media sosial.
“Kenapa Kok Mau Repot Gitu Mas?”
Pertanyaan Rista soal kenapa kok diri ini mau repot-repot peduli sama kehidupan mahasiswa ternyata saya bawa terus sampai pulang ke rumah. Pertanyaan itu nggak pernah saya pikirkan sebelumnya. Lha, kenapa ya? Kok saya mau repot-repot mikir hidup anak orang? Kayak nulis di blog ini misalnya. Sepanjang perjalanan pulang otak ini rasanya diputer-puter, tapi sampai pas di rumah pun rasanya nggak ketemu jawaban yang memuaskan. Satu sisi otak mengatakan kalau semua yang saya lakukan itu hanyalah bagian dari idealisme sebagai dosen muda. Semacam sebuah upaya untuk mempertahankan keinginan masa lalu untuk bisa jadi seorang dosen yang ‘baik dan berpengaruh ke anak didiknya’. Mungkin juga sebenarnya yang saya lakukan ini hanyalah sebuah upaya ‘pemberontakan sunyi’ bagi dosen senior yang (di mata saya) hidup materialis dan melihat segala upaya untuk memahami hidup mahasiswa sebagai tindakan sia-sia dan konyol karena toh kan nggak ada honornya. Sisi otak yang lain berupaya menjelaskan kalau mungkin apa yang saya lakukan ini adalah upaya untuk membalas pengalaman saat kuliah S1, dimana dosen pembimbing saya nggak pernah membimbing sama sekali. Boro-boro mbimbing, pas tahun lalu ada acara di UNAIR beliau datang aja nggak inget kalau pernah ngajar saya di kelas S1 atau S2. Jadi mungkin yang saya lakukan ini semacam cara untuk berkompensasi dengan trauma masa lalu.
Setelah dipikir-pikir lagi, mungkin jawaban dari pertanyaan Rista itu lebih sederhana. Dalam dunia yang rasanya semakin rumit dan menekan seperti sekarang, saya hanya ingin membantu kalian sedikit. Nggak ngerti juga ya. Mungkin karena di wajahmu saya melihat diri saya sendiri 10 tahun lalu. Selain itu mungkin semua yang saya lakukan ini adalah janji pribadi yang saya ucapkan beberapa tahun yang lalu. Ada satu kejadian penting saat saya jadi dosen sekitar empat tahun yang lalu. Saat itu saya mengajar mata kuliah periklanan pada angkatan 2017, dan kebetulan saya memberikan tugas in-depth interview pada kating kalian. Tugas itu juga yang akhirnya menjadi inspirasi saya untuk membuat tugas akhir komunikasi filsafat (yang entah bagaimana reaksi dan efeknya jauh lebih besar dari yang saya bayangkan sebelumnya). Dalam tugas in-depth interview itu, saya meminta mahasiswa untuk bertanya pada mahasiswa lain soal ‘apa hal paling buruk yang pernah dikatakan orang padamu’ atau ‘hal paling penting dan membahagiakan yang pernah dikatakan seseorang padamu’. Dalam satu tugas yang dikumpulkan dan rasanya tak akan pernah saya lupakan, saya membaca hasil wawancara dari seorang mahasiswi yang luar biasa depresif, menolak menikah dan menjalin hubungan, dan berpandangan sangat minim soal masa depan hanya karena sebuah satu ucapan jahat yang tanpa sengaja dilontarkan ibunya pada waktu ia masih kecil. Dan cerita dengan nada yang mirip saya temukan di beberapa hasil tugas yang lain. Tugas itu mungkin nampak sederhana dan remeh-temeh untuk mahasiswa, tapi itu adalah pengalaman yang sangat berpengaruh buat saya. Saya menyadari bahwa kata-kata yang dilontarkan bisa menentukan seluruh hidup seseorang. Dan sepanjang tahun-tahun berikutnya, saya semakin sadar bahwa kadang yang diinginkan oleh mahasiswa kadang hanyalah sebuah kalimat afirmatif sederhana. Yang mereka butuhkan adalah seseorang yang berupaya untuk memahami mereka seutuhnya, dan dengan tulus mengatakan bahwa ada seseorang yang percaya dan menghargai apa yang mereka lakukan, betapapun kecil dan tidak signifikan prestasi yang mereka tunjukkan. Seseorang yang mau mengajukan pertanyaan yang tepat, seperti "Kamu nggak papa ta?" atau "Apa sih yang kamu dapatkan selama empat tahun terakhir? Apa kamu punya penyesalan? Adakah yang ingin kamu sampaikan dalam soal hidup?". Seperti yang sudah sering saya tuliskan sebelumnya, dunia ini nggak kekurangan suara dan teriakan. Yang sulit didapatkan adalah seseorang yang mau mendengarkan. Kalau memang kalian nggak punya orang yang mau mencoba memahami hal terdalam yang ingin kalian ceritakan atau sampaikan, maka biarkan dosenmu ini aja yang mencoba mendengarkan dan memahamimu. Sama seperti yang berupaya saya lakukan dengan membaca cerita-ceritamu di tugas akhir komfil. Rasanya cuma itu yang bisa saya lakukan untuk membantumu. Sebagai dosen walimu, dan lebih dari itu, sebagai seseorang yang pernah merasakan berada di posisimu sekarang.
Dalam tulisan kali ini, saya izin buat sekalian ngepost beberapa potongan tulisan yang pernah kalian tulis soal saya. Tulisan-tulisan yang rasanya terlalu besar dan agung untuk orang yang kayak saya. Sebenarnya sampe sekarangpun saya merasa nggak sehebat seperti yang kalian tulis. Aku yo mek ngene iki tok rek, ndak yoi atau hebat atau kerenseperti yang kalian tuliskan. Tapi lewat blog ini saya mau berterima kasih karena tulisan-tulisan kind yang sudah kalian tulis itu sudah ‘menyelamatkan’ saya dalam banyak hal, terutama saat saya berjibaku dengan pertanyaan apakah memang apa yang saya lakukan sebagai dosen selama ini memang sudah benar. I hope so.
Suwun, rek. Semoga kita bisa bertemu dan bicara soal hidup lagi di pada saat kamu sudah bisa menjawab hal-hal penting dalam hidup.
*6 Mei 2024 - Ditulis sambil mendengarkan Waiting For The End-nya Linkin Park".
------------------------------------------------------------------------------