Momen Bahagia Dari Yang Sederhana
Tulang, saya rindu. Rindu Tulang, si Ibu, Jendral, dan Kaisar. Rindu kotamu juga Lang. Rindu genjrengan gitar Tulang. Rindu cerita Tulang saat menunggu momen kelahiran si Jendral. Rindu ketika Tulang cerita memberikan alasan mengapa diberi nama anak pertama anda Jendral (untuk melindungi Kaisar dan si Ibu, ah seakan anda sudah punya rencana). Rindu ketika Tulang cerita bagaimana memilih diantara 4 wanita yang akan menjadi istri Tulang, yang pada akhirnya Tulang memilih si Ibu yang sudah merubah kehidupan liar Tulang. Luar biasa.
Tulang pernah cerita, kalau masalah cinta cuma urusan Libido belaka, lebih kecil daripada apa yang seharusnya menjadi prioritas kita untuk diperjuangkan. Untuk itulah Tulang pernah mengeluarkan kata-kata bijak Tulang disaat bir yang diminum Tulang tinggal setengah:
“Isi otak wanita lebih besar dari apa yang kamu lihat secara kasat mata, dan kesederhanaan tidak menjadi soal. Karena isi otak dan kesederhana itu bisa ada-ada saja bentuknya. Kalau kamu melihat wanita secara kasat mata, hanya itu-itu saja bentuknya”
Kira-kira seperti itulah yang Tulang bicarakan kepada kami si penghuni kos 3 orang. Saat itu saya memang tidak mengerti karena memang juga tidak perlu dimengerti, karena mungkin faktor usia saya yang masih 23an. Sekarang umur saya sudah hampir seperempat abad, baru saya sadar betul apa kata Tulang. Mungkin karena itulah Tulang memilih si Ibu yang terlihat biasa saja tapi pintar mengurus Jendral dan Kaisar, juga pintar merubahmu menjadi tak liar lagi.
Tulang, yah saya iri dengan anda. Seorang preman yang liar dulunya bisa memiliki keluarga yang begitu penuh kejutan, keluarga yang harmonis, keluarga yang hebat, keluarga yang kebaikannya melebihi keluarga para elit-elit yang seminggu sekali jalan-jalan keluar negeri atau daerah-daerah pariwisata. Keluargamu tak perlu pergi jauh-jauh untuk menikmati hari libur, cukup bersenda gurau di ruang TV, serta malamnya anda ngegenjreng dan minum bir bersama kami.
Bisakah saya memiliki keluarga seperti Tulang? Tapi tanpa minum bir ya. Ah Tulang adalah panutan saya. Benar-benar panutan saya. Anda memiliki istri yang pintar, anda memiliki anak-anak yang tumbuh dengan benar. Anda mempunyai pandangan hidup kedepan yang luar biasa. Anda juga menanamkan filosofi pada anak-anak anda dan pada keluarga.
Tulang, saya rindu. Seandainya saya bisa kesana lebih cepat sebelum anda tiada, pastinya saya akan traktir anda bir lagi. Ya kali ini biar saya yang traktir anda, bukan anda lagi yang biasa meneraktir kami-kami ini. Saya rindu, benar-benar rindu. Sayangnya, saya mendengar anda sudah tiada. Saya ingin berkunjung ke tempat peristirahatan Tulang yang nyaman itu. Ingin sekali, bisakah Tulang? Bisakah Tuhan?
Tulang, saya rindu anda beserta kota anda sejak obrolan saya dengan seorang wanita tadi malam. Ia mirip dengan Tulang, tukang pencerita. Ia juga punya cerita yang hebat di kota Tulang. Ia punya kenangan disana seperti saya. Apakah ini kebetulan Tulang? Kalau benar, saya ingin tidak percaya. Mudah-mudahan ini benar rencana Tuhan untuk saya kembali mengingat Tulang.
Tulang pasti mendengar dan melihat dari sana kan? Semoga saja.
Tulang, saya rindu anda beserta kotanya. Saya rindu si Ibu, Jendral, dan Kaisar.
Semoga segala kebaikan untuk keluarga kecil anda masih menyertai langkah-langkah mereka tanpa anda. Semoga.