Jika Bersamaku adalah Luka.
Teruntuk siapa pun yang merasa bahwa disisiku adalah luka, sungguh, pergilah aku tak apa. Jangan memaksakan diri jika memang tak mampu mengimbangi.
Kuucap terimakasih karena sempat berupaya, sungguh usahamu begitu memukau jiwa. Tetapi bagaimana, nyatanya kau gagal dalam mengusir duka, terlantar aku dengan hati terluka; membiarkanku menahan isak di sudut jendela.
Katamu, mengejarku adalah luka. Padahal kau datang padaku sebelumnya dengan cara memaksa. Katamu jua, bahwa bersamaku itu keliru. Tapi nyatanya kau masih berada disampingku.
Untuk itu, segeralah beranjak dariku. Terbanglah pada apa yang kau sebut bahagiamu. Jangan merasa ragu lagi, bukankah kau berkata bahwa bersamaku adalah luka? Itu berarti tak bersamaku adalah kebahagiaan.
Jangan memaksakan diri, aku tak ingin disebut sebagai kesalahan. Jika itu membuatmu perih, obatilah meski dengan kepergian.
Pergilah tinggalkan aku. Sebab, aku tak memiliki banyak waktu untuk dihabiskan dengan seseorang yang tak berhenti membuatku menerka-nerka atas gerak-geriknya. Aku ingin hidup dengan ia yang paham apa tujuanku, rela berlari bersamaku kemana pun, menuntunku tanpa lelah.
Bukan dengan seseorang yang menganggapku adalah luka dihidupnya. Aku ingin, bahagiaku adalah bahagia dalam dirinya. Pergilah, temuilah sosok yang membuatmu bisa merasa cukup. Karena rupanya, aku adalah luka. Dan aku tak ingin menjadi luka dalam hidup siapa saja yang tertakdir singgah pun menetap.
Berkemaslah. Aku mungkin menunggu, mungkin jua tak kembali. Hanya saja teruntuk saat ini, mencintai diri sendiri lebih aku sukai dibanding menangis untuk yang belum tentu menjadi penanggung jawab atas segalaku.