That umma.
we'll create that umma,
bi'aunillahi wa quwwatih.
اللهم تقبل منا يا ربنا الوهاب.
The Stonewall Inn
Interview Vampire Daily
taylor price
Claire Keane

PR's Tumblrdome

Discoholic 🪩
Phantogram Three
todays bird
cherry valley forever
🪼

ellievsbear
Cosimo Galluzzi
Sade Olutola
sheepfilms

bliss lane
Lint Roller? I Barely Know Her
RMH
art blog(derogatory)
Cosmic Funnies

seen from Germany

seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Indonesia
seen from United States

seen from United States
seen from Israel

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Venezuela

seen from United States

seen from Belarus
seen from Philippines

seen from United States
seen from United States
seen from Indonesia
seen from Brazil
@kphpdraisme
That umma.
we'll create that umma,
bi'aunillahi wa quwwatih.
اللهم تقبل منا يا ربنا الوهاب.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Mvp hari ini
Tadi ayat ini lama banget nempel, indah banget juga susunannya. Tafsiran as Sa'diy bikin makin indah.
Banyak wajah muncul di kepalaku ketika membacanya, semoga Allah rahmati, yang sudah pulang duluan.
Banyak kekhawatiran berderet di ujung jiwa, semoga Allah hilangkan, iya jugaya tanggungjawabku selalu hanya di hari ini saja.
Kemarin, ayat-ayat tentang dunia rahim jadi penguat tak terkira. Ketika diserang ragu dan rendah diri, percaya bahwa Allah al Khabiir selalu mengamati, jadi gugur ragunya.
ayatnya indah sekali. Semoga Allah cabut nyawa kita dalam sebaik-baik laku.
Iyasih, konsistensi ya kuncinya. Toh kamu pun juga sudah paham Fatimah, gundahmu itu lenyap dengan disiplin tunaikan to-do-today. Leganya tak terkira.
Jadi sudahi coba-coba isi mata dan kepala dengan yang tak berguna yah, betulan tak ada efeknya pada bahagiamu^^
aku ga suka
matcha.
dilihat manusia.
Tapi kemarin, aku habisin eskrim matcha di kulkas karena gada yang makan.
Terus aku renang dari ujung sana ke ujung sana padahal banyak ibu ibu dan super banyak bgt manusia.
yah, ternyata doin yang kita benci, isnt that bad. Masih muda juga sih ya, besok kali aja Allah bikin cinta.
Selama bukan Allah yang benci itu, yowes, cobain aja ges!!
Kebijaksanaan
“dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,”
sempurna keperkasaan-Nya, paripurna kebijaksanaan-Nya. Dari keperkasaan dan hikmah-Nya Dia memberikan taufik-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan mengabaikan (orang yang Dia kehendaki) sesuai dengan tuntutan ilmu dan hikmahNya pada mereka. -----
sempurna keperkasaan-Nya, paripurna kebijaksanaan-Nya.
kelar gasi hidup lo kalo nyadar point ini^^
Di titik ini, bersama ini, menghadapi ini, tidak beginih, malah begitu....
Oh ternyata semuanya terjadi atas kebijaksanaan al Haakim. Dan siapa saya berani menggugat Yang Maha Bijaksana ♡
Kita saja menggelegak darahnya bila melihat yang tak berkapasitas dan sempit pandang beraninya cuap-cuap di depan pihak otoritatif,
Lah ini, derajat sajaa sudah Tuhan dan hamba. Aduh...
----------
Meski ini tidak menegasikan effort mentok yang harus menjadi basis jihadmu yah. They both different. Ayo ayo, padukan keduanya hingga indah mengalun.
Matematika murni
Saban hari aku berdiskusi panjang bersama my lil bro, again, tentang skripsi dia. Akibat perbedaan rumpun ilmu, kata-kata bergulir dari mulutnya, dan harus ia paparkan satu persatu definisinya.
Aku larut sekali, sebab penuturnya sangat menikmati proses otaknya dikulik-kulik, tentu juga sebab ia paham betul apa yang ia pelajari.
Hingga pada satu titik aku bertanya, 'lantas apa faidahnya elektron-elektronmu ini bila sudah diketahui polanya?'
Ia menatap lurus, 'faidah bagaimana? ya, nilai skripsiku bagus...?'
Aku tergelak sedikit, 'bukan lah, faidah untuk dunia ini. Apa untungnya kami mengetahui itu?'
Dia membentuk oh tipis tanpa suara dan menjawab cepat, 'tidak ada'.
Aku diam. What...
'Waw, aku kira adek sudah memutuskan akan serius untuk skripsi ini. Lalu kenapa meneliti hal tak berguna?' Normal question, dengan jidat berkerut.
Dia menjawab, 'oh betul, tentu aku sangat serius. Namun memang begitulah kami anak matematika murni, tugas kami hanya berbicara teori dan definisi. Untuk fungsi teori itu kelak, ya tugas anak fisika mencarinya'
Aku tersenyum. Ah, indah sekali ragam keilmuan ini ya. Semoga Allah senantiasa memberi kita taufik, agar tahu kapan harus berhenti di suatu titik yang efektif.
Yang pada titik itu, kolaborasi tercipta dan energi setiap manusia bisa seimbang teralirkan pada ranah lain hidupnya.
Iya, semoga Allah hadiahi taufik untuk bisa merasa cukup dalam berkontribusi, berhenti dengan hikmah. Lalu biarkan sejawat lain merampungkan bagian mereka.
Indahnya. Memang selalu begitu ya rupanya karya-karya besar.
Selepas senyum aku berujar, 'yasudah, uni doakan adek istrinya fisikawan yah,'
Dia tergelak, setuju sepertinya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kopi dan ledakannya
Alhamdulillah, aku masih tidak paham betapa seringnya zat satu ini Allah jadikan pelecut untuk doing many beautiful things.
Jokes aku dan mas sih, 'i am in the sugar rush mode' hehe.
Meskipun lately kuantitas kafeinnya mulai dikurangi dan sedang belajar memadukannya dengan susu. Yey yey, thats fine. Mari buktikan bahwa sumber ledakan ini memang bukan di kopi.
Yah mungkin saja besok-besok Allah bikin aku meledak meski lewat air putih saja?
Bismillah, ayo ayo, hari ini kita bantai diri kita lagi.
Skill impossible impianmu: no sleep!
ciyeye. karena semakin sering, mari bikin section.
--------
Kenapa sekarang aku maruk tidur ya? haha. Padahal dahulu juga sengaja cari gawean supaya tidur dalam seharinya hanya sekian jam.
Reminding myself untuk tidak tantrum jika semalaman tidak tidur. Heh, bukannya Allah selalu bisa mengganti tidurmu esok harinya?
Toh, begadangnya kali ini pun lebih jelas jihadnya. Kenapa merepoti diri dengan bete-bete sendiri, adinda.
Enjoy the ride, enjoy bisa segar saat dini hari tanpa effort nyalain alarm. Kapan lagi yekan.
Alhamdulillah ♡
Kelak,
tangan halus ini mungkin akan tersayat
telapak mungil ini akan menjadi kasar sebab lamanya mencengkram
mata menyala ini akan gelap sekitarnya sebab tidur yang tipis
wajah lucu ini akan penuh asap, debu, kotor dan darah
kakinya akan keras karena lama berdiri
pundaknya akan tegak sebab banyak kehidupan manusia terbebankan disana
mungkin, kepalanya akan dihargai senilai sekian
dan sekujur tubuhnya tak selamat dari ujian
kelak, mungkin akan,
sebab sebuah juang bayarannya ialah waktu dan luka dan darah dan tangis dan malam tanpa lelap.
bahkan tak butuh mengenal Dia, sesiapa yang mensucikan yang Dia sucikan, kerap mendapat kemuliaan perjuangan. hari ini kita saksikan.
Sehingga, mengelusnya, mengelusnya, mengelusnya, seakan mengulang sendiri tanyaku padaku, bila tiba waktunya doamu Allah jadikan nyata, siapkah kita?
seumpama wanita teladan teguh hati itu, mendorong belahan jiwanya untuk menyerahkan kepalanya sendiri daripada menuju ar Rahman dengan kepala tertunduk.
Kelak, mungkin akan.
Maka, detik detik ini hirup dengan perlahan, rengkuh halus sebanyak yang kau bisa.
Kelak, mungkin akan.
kemarin selepas mendengar record kelas ust Asep tentang ucapan Asma binti Abu Bakar kepada Zubayr bin al Awwam -radiyallahu anhum- aku termenung membayangkan.
Ah, bila tiba waktunya serupa.... akan bagaimana ya, Rabbi..
Faidza faraghta fanshab?
Postpartum era, sebutannya. Zaman ketika lepas berjihad dan masuk ke arena juang lainnya. Satu bagian dari zaman ini elok sekali untuk dikulik.
Kini jika tanya sampai padaku, 'Bagaimana cara membunuh kebiasaan menunda?' salah satu opsi jawaban yang tak ragu aku berikan ialah, 'going to postpartum era, umma..!'
Bila dahulu alokasi waktu belajar telah tertulis "2 jam", tak jarang untuk memulai gerak pada satu jam pertama akan sulit sekali. Tak sedikit jadinya, setelah tersisa satu jam saja baru ada hati yang terpantik. Boncos juga kan, 1 jam terbuang sia-sia hanya untuk memaksa diri pada kebaikan yang sudah jelas adanya.
Andai pun telah terpampang list to do today, simak ucapan fatimah pada fatimah ini, "ah bisa di nanti-nanti saja lah, toh hari masih panjang dan kali ini jadwalnya bisa sesuka hati aku otak atik sebab tiada insan yang terikat padanya."
Maka berakhir apa kisah ini? boncos, lagi dan lagi. Alokasi waktu kerap dikorupsi hawa sendiri, hingga tersisa sesal di akhir hari karena buang-buang usia lagi. haha. sampai kapan, sampai kapan akan begini~
And these days, this human get beautiful tarbiyah from her God untuk mengamalkan ayat indah-Nya:
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ Apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan/kebaikan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)
Kata sambung antara dua kata kerjanya menggunakan ف, terhimpun makna 'bergegas' disana, seakan artinya: jika telah selesai pada satu amal, bergegas berpindah pada satu amal yang lain.
Lihat, bagaimana ar Rahman memaksa hamba-Nya goin' into the best ver of Her!
Selepas al Abd tidur, kepalaku kini terlatih berputar: oke, tadi 2 jam kita telah habis membersamai al Abd untuk terlelapnya dia, sekarang to do list apa yang bisa dituntaskan? dalam waktu 30 menit? atau mungkin 2 jam? atau mungkin juga, dia hanya akan terlelap 15 menit? atau lebih singkat lagi? ayo putuskan sebelum akhirnya kita kembali memandang mata bundarnya dan mencari tahu atas alasan apa kali ini ia memanggil Ibuna dengan penuh cinta?
Dan selepasnya terbitlah kegiatan lari-lari tuntaskan itu dan ini mumpung al Abd sedang tertidur. haha, meski tak jarang dari berbagai opsi amal aku memilih tidur saja, demi menambal tidur semalam yang rombeng-rombeng itu.
Betul kata bunda-bunda hebat di semua kanal, selepas dihadiahi ayat indah Allah yang satu ini, sulit sekali rasanya mencari waktu sendiri, aih apalagi bila waktu sendiri itu dahulunya biasa aku isi dengan amal tak bermakna dan sulit hisabnya.
Fa alhamdulillah, bein' a new ibuna, Allah kembali mendidik hamba-Nya untuk bertanggung jawab atas ayat yang mudah diingat itu.
Maka al Abd, ingatlah. ar Rahman ialah Zat Yang paling ingin menjadikanmu the best version of you. So enjoy His tarbiyah now and then, kiddos.
Kue sarang semut
Umi tersenyum menerimanya, ada sorot sendu yang terrtangkap mataku, untuk kemudian ia berkata sambil tersenyum lagi,
"Ini kue kesukaan kakek"
Aku menatap. Hujan di luar menambah panjang detik jeda ucapannya. Tante disampingku ikut tersenyum, menunggu.
Mata umi menatapku, ada derai yang berusaha diredam, "Umi suka memasakknya dulu. Sampai kala itu, kakek makan banyak sekali kuenya. Umi hentikan, khawatir jantungnya kambuh, toh masih ada esok hari. Rupanya, besok kakek betulan tak bisa menikmati lagi"
Umi tertawa, berusaha biasa saja. Padahal setiap kehilangan, seberapa pun lamanya, pasti berbekas.
"Haha, jadi sesal, mungkin harusnya tidak dilarang ya..?" candaan tiada makna. umi menutup kisah dengan menguyah kuenya, betulan enak sekali.
Tante menyahut juga dengan kisah serupa, tentang anak yang kala waktu tak menjawab ucapan "met tidur" ibunya. Rupanya, pesan terakhir, "Jadi sesal, andai saja..."
Tentang penyesalan, sulit rupanya menjauh dari tarbiyah ini. Dengan sesal bisa jadi pertanda bertambah kebijaksanaan kita terhadap suatu salah. Memelihara sesal, membuat langkah esok hari lebih berhati-hati. Menjadikan nafas lebih dinikmati, detik-detik lebih disadari.
Betulan, detik ini tidak terulang lagi rupanya. Betulan, perjuangan ini tidak akan ada gantinya lagi.
Maka menghadapi sisa juang yang tinggal hitungan hari saja, Apakah masih ada cara memaksimalkan persembahan kita?
hingga tiada sesal, jika memang juang terakhir rupanya. jika memang tiada Allah beri kesempatan keduanya.
Cukuplah cokelat hangat tadi siang menjadi pengingat lagi, bahwa selagi masih ada, upayakanlah apa-apanya. Yah kita sudah cukup menyesal menyadari sedikitnya rasa yang kita abadikan, namun yasudahlah, hari-hari lalu masih mampu bertahan saja sudah luar biasa. Alhamdulillah.
Mari tidak tambah sesal-sesal lainnya. Mari jadi hamba yang pandai mengambil pelajaran. Dari kisah-kisah terdahulu, ayat-ayat tertulis, ayat-ayat di hadapan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
How passionate they are, and i luv it
Combo combo aura pada manusia jadi menyala di hadapan ku setiap kali mereka serius menggarap sesuatu.
Bagian diriku seperti tersentrum. Entah akhirnya akan menangis berlinang, menatap dalam, atau cekikikan sendiri dalam mengamati.
Intinya: aku selalu takjub, selalu menikmati, ketika orang tengah hanyut pada pusaran fokusnya.
Serupa, topik skripsi pada mahasiswa. Aku senang sekali menguliknya, sebab acap kali mereka tak ingat matkul harian atau hikmah-hikmah pertemuan rutinan, namun langsung mengalun lancar bila menenun topik perihal skripsi.
Tentang penyakit langka, tingkat kebahagiaan pada pemeluk suatu agama, media dan baitul maqdisnya, etika jurnalisme juga marketing di penerbitan X, dan lain-lainnya.
Proses penyusunan skripsi yang selalu ada-aja-ceritanya jadi semakin menarik karena pancaran emosi itu berpadu dengan penjelasan sistematis temuannya. i lov i lov. Ayo bertemu, berbincang, dan gibahin skripsi kita~
Rupanya ini fitrah tak aneh, toh Tuhan Pemilik Alam semesta ini juga menyandingkan cintaNya pada sesiapa yang se-passionate itu in doing something;
إِنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلَا أَنْ يُتَقِنَه
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai apabila ketika kalian beramal, kalian melakukan pekerjaan tersebut dengan itqan (terarah, jelas dan bersungguh- sungguh).
Just as this hubby xixi, alhamdulillah hari ini aku banyak cekikikan sendiri melihat itqannya ia so sudden menggarap 'proyek swasembada' kami. Aku ga ngetawain kakak loh ya, i am admiring you, wakakak.
Diupayakannya sudah, kemudian mari rayu Sang Penguasa bumi untuk menumbuhkan tumbuhan-tumbuhannya 🤍
Lil fade away from glimpse of life
Lately kisah-kisah yang Allah unjukkan di hadapanku kerap memiliki satu benang merah: tentang mereka yang merawat asanya.
Betapa pun Allah hadirkan rintang, betapa pun Allah uji coba rencana hidupnya, betapa pun strategi diacak, lawan tampak semakin op, kawan tampak semakin kasat mata,
Asa, tetap harus berpijar.
Kala waktu fase hidup berganti, kemudian kaki dan tangan dirimu yang lalu tampak tak serupa hari ini. Suara yang mendorong langkah juga berubah tangga nadanya. Waktu-waktu, nyawa di depan wajahmu, semuanya Allah hadirkan wujud baru.
Fase hidup berganti, namun asa harus tetap berpijar.
Entah dengan pahatan yang lama, atau ini waktunya pahatan baru kau pelajari. Tenanglah, fase berganti, tujuan akhirmu tidak pernah mati. Seberapa pun tenggelamnya mata kanan dan kirimu. Tiada baik dan buruk menjadi penting kecuali kau tahu Ia pintanya apa.
Dan hanya lewat ayat, hanya lewat Kalam akan kau temukan nyala kemarin, seberapa pun tidak relevan hari ini wajah dunia menghampirimu, ayat keabadian itu selalu sama: kegigihan sesiapa pun hamba menghadapi guratan indah yang dipetakan Dia.
Jadi ayo, nyalakan lagi asa mu. Tidak mungkin fase yang Allah hadirkan menyumbat potensi amal yang hanya untuk itu alasan mu hidup.
Fase Bodoh
Hai, hari ini ucapanku menyakitkan ya? Maaf ternyata kali ini aku salah lagi membaca keadaan, kukira kamu sedang ingin bercanda, ternyata lebih pelik ya masalahnya
Terima kasih ya untuk tetap disini Aku masih sayang kamu, kok. Aku masih memperjuangkan asa kita, tujuan akhir kakiku masih disana.
Alias, Mungkin tadi ucapanku mengoyak-ngoyak hatimu Aku salah, aku sadar, maaf ya
Tapi, Aku tetap sayang kamu. Apa dengan berbekal tujuan yang masih searah ini pintu maaf untukku masih terbuka? Atau berarti, menuju kesana kita akan berbeda kendaraan?
Baiklah, aku ikut maumu. Melihat dari kejauhan dan memeluk dari doa-doa juga bentuk sayang yang kubiasakan, kok. Targetnya memang kamu, salah satunya. hehe. Nanti kalo sudah ada ruang maaf untukku, berkabar ya Sepeda merah akan segera kulesatkan kesana!
---------------------
Aku ingin berterimakasih ribuan kasih pada mereka yang menggenggam tanganku ketika aku bersuara lantang.
Namun, aku ingin menyeduh teh hangat sembari menggegam mantap, pada mereka yang mengulurkan tangan ketika aku masih terbata. mereka yang tetap memasang senyum meski perbuatanku perlu disapu dan dipoles setelahnya.
Mendewasa artinya menerima fakta bahwa duniaku tidak sebesar sekolah saja. Dahulu membuat bahagia satu sekolah adalah hal yang bisa diperkirakan, hari ini dunia tanpa batas, jakarta juga berisiknya minta ampun.
Kebodohanku, salah perhitunganku, jelek-jeleknya aku, semakin tampak. Apalagi serba-serbi hari pertama, atau kami menyebutnya: fase bodoh.
Dalam fase hidup, menjadi bodoh sudah kumaklumi benar akan terjadinya, meski tak senantiasa bisa aku dealing with the condition. Seumpama, membaca kitab faraidh pertama kali; aku sudah briefing diri, 'thats fine loh untuk tidak tahu apa-apa dan mendengar duktur berbicara seperti bangku pertama'.
atau ketika pertama kali menawarkan diri membantu seorang guru ia pun berujar: 'tak apa Fatimah, senantiasa ada hari pertama pada setiap manusia'.
Mendapati banyaknya fase belajarku yang Allah pertemukan dengan orang-orang baik, aku jadi bertekad serupa. Mari berupaya sabar membersamai. Mari mempertebal husnuzhon dan perluas hati lagi.
Fase belajar, memang pedih dan kerap gompel-gompel tak elok. tapi, waktunya menanam memang selalu begini rupanya.
Sesiapa yang gagal menanam, akan gagal memanen esok hari, kan?
Sekali lagi, aku haturkan ribuan terimakasih untuk setiap hamba yang Allah hadirkan kala masih terbata.
Terimakasih untuk tetap ada disini, pada pusaran dunia penuh tukar rugi. Baiknya, engkau tetap menggenggam tanganku meski mengetahui betapa banyak darah yang terbit akibatnya.
Untuk punggung yang selalu ditempa tanpa tanya
Hingga sampai pintu gerbang, ia hantarkan aku dengan apiknya. Kusut mukaku juga tak dia persoalkan, benangnya ia urai satu-satu, tanggung jawabnya ia tunaikan satu-satu.
Mendekati hari, banyak tangan menggapai pundakku sembari berkata, "ayahmu berbinar sekali, seakan satu provinsi ingin diajaknya berbahagia"
Aku tahu, sangat tahu. Berbekas di kepalaku..
Pagi yang ia belah dengan to-do-list persiapanku. Malam yang ia gulung dengan memastikan evaluasi progress setiap harinya. Meski tertekuk aku menapakinya, ayah dan umi menggenggam, anak kecil mereka tak boleh takluk pada perasaan abstrak tak berbayang, "itu bukan anak ayah".
Kala itu sumber tangisku selalu dua; satu, suara di kepala. Dua, membaca wajah yang akan melepasku dari rumah, mata yang sedih dengan guratan wajah menyala sekali. unik.
Jika kugoda, "kenapa sih semangat betul merangkai momen pengusiranku dari rumah!" Ia hanya mendengus geli, menyahut, ingin menghantar tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.
Sejak mula, ia pemegang medali itu: lelaki tanpa kata, cukup lakunya yang berbicara.
Dengan tamu undangan yang bertambah tiba-tiba. Dengan kertas akad yang ia simpan baik-baik di sakunya. Dengan sofa yang bolak-balik diangkatnya. Dengan setiap sudut rumah yang ia benahi dengan tangannya. Dengan rerumputan yang ia jaga presisinya. Dengan kenyamanan tamu yang ia upayakan sebisanya. Dengan sakit kepalanya yang ia telan dan lamatnya mata ketika ia pandang aku di meja makan pada detik-detik terakhirnya.
Ah, ukiran tanggung jawab itu. Tak mungkin kulukis semua. Padahal baru satu momen itu saja, rupanya sudah banyak sekali bukti cintanya. Aku, kenapa lama sekali ya belajar membaca ayah.
Ia juga jarang menangis—dihadapanku minimal. Tapi dua dari tiga momen tangisnya aku saksikan sendiri; satu, melepasku merantau pertama kalinya. dua, pertemuan online pertama ayah dan si mas—dengan gumpalan tisu yang ia remuk sembari tersenyum di layar. tiga, pada hari berlututnya aku setelah lepas satu beban tanggung jawab di pundaknya—ia tak berkata apa-apa, betulan menangis saja, di telingaku, untuk pertama kalinya.
Semoga Allah balas ayah dengan sebaik-baik balasan—atas ikhtiar penjagaannya padaku, ikhtiar pendidikannya padaku, ikhtiarnya memeluk kami sesempurna mungkin, para wanita yang sering menjadi sumber sakit kepalanya.
Esok lusa aku baru tau, banyak tingkah lakunya yang kukira biasa, ternyata ia berupaya. Pada tanggung jawabnya, ternyata ia sama sekali tidak pernah bercanda.
Terimakasih sudah menjadi teladan, terimakasih sudah tidak pernah berhenti belajar 🤍
After these all, i am still cryin' too
Tadinya memasuki jenjang ini aku berasa sedap-sedap-tapi-pede-dikit ya. Dalam beberapa aspek cukup tenang jika tengah menghitung faktor-faktor terindera pada kendaliku: "aku udah belajar dikit ya Allah, aku udah berdoa sampe last minute ya Allah, aku suangat berupaya ya Allah ini-itu-ini-itu"
Meskipun semua ikhtiar itu tentu rombeng sekali bila disandingkan dengan berbagai rahmat dan kemudahan yang Allah banjirkan sepanjang perjalanannya.
But at least, i know that i did some efforts. Jadi mayan tenang aja awal-awal menapaki, meski...
ternyata nasihat-nasihat guru tentang badai pada bahtera ini, tetap shick-shack-shock ketika dihadapi. ternyata menyelami mata manusia yang jadi potensi syurgaku itu, tetap butuh equipment tambahan bahkan setelah teorinya sudah terbayang di kepala. ternyata yang kutahu-tahu itu, tetap memantik rasa ketika melaluinya.
Ternyata, i'm still cryin' too when facing all these miracles.
Meski sering kali, that oppa tak berbuat apa-apa. litereli bernafas saja, bahkan berupaya menggenapi kewajibannya, rupanya bising kepalaku tetap saja bermunculan. Seakan diri tak sekadar berkenalan dengan ia saja, aku pun berkenalan dengan aku yang baru.
Ah, ternyata aku bisa seemosional ini. Ah, ternyata aku bisa se-clingy ini. Ah, ternyata aku bisa sebingung ini menimbang-nimbang. Ah, ternyata...
Bahkan pada satu paham yang sedari lama kukira sudah aku unduh dengan baik pada diri: bahwa setiap upaya cukup Allah saja Pemberi hadiahnya. Tetap diuji--- ey kala waktu jiwa mungilku setelah mengambilkan gelas, ingin diusap-usap juga rupanya!
That's the point when i realize, ah bila tidak kenal Allah pantas sulit sekali bahtera ini berjalan.
Kotak cinta itu ingin selalu diisi, kotak apresiasi itu ingin dipenuhi, sedangkan tak pernah pada pasanganmu bahan isiannya berada. Tak ubahlah engkau hanya menuntut sesuatu yang ia pun tak pernah dimampukan memenuhinya.
And yap, begitulah keseruan dua insan yang suka lupa sudah berapa bulan menikah (saya sih tepatnya, jujurly rasanya seperti sudah lama, alhamdulillah)
Anw kata orang, pernikahan di bawah 3 tahun tak usah didengar cuap-cuapnya wkwk. Ini pun saya tengah mengumpulkan kepingan saja. Sebab jari telah lama tak berdansa di khalayak dan hikmah terdekat yang sering Allah hadirkan ajarnya lewat saya belakangan ini adalah bahtera indah ini.
Doakan upaya menaati Allah, dari saya dan that oppa, diterima. Doakan juga, pada milestone esok-esok hari, Allah bersamai kami menapakinya.
Jyujyur........... yang sudah disiapkan saja tetap seru sekali begini, agak panick ya membayangkan berjalan pada milestone yang akan datang tiba-tiba itu. hehey. mari belajar, mari terus belajar. sudah belajar saja tetap kalang kabut apalagi jika tidak belajar. ayo ulangi jutaan kali pada kepalamu.
ya, setidaknya sekarang saya panik-paniknya sudah berdua ya. meski dia masih harus semangat belajar mendengar yapping saya yang katanya, "50.000 kata per hari, kamu mah"
featuring nasi uduk telor dadar andalan mas. w lupa momennya. tapi keknya ya another weekend pagi saya yang malas makan tapi dipaksa makan. vibesnya naha kek dingin-dingin gitu padahal manada dingin, cih sungguh kekuatan teknologi.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Put ur momma kitchen into urs
Setelah berdapur sendiri, kebahagiaan yang sering membuat air mataku menetes, manakala menyendok menu yang menerbangkanku pada meja rumah ungu itu.
Aih.
Dulu pertama kali, tauco ikan. Setelah mengepul menunya, sendokan pertama aku malah meneteskan air mata. Seperti tengah duduk di hadapan mata yang menunggu nasiku bertambah dengan lauk hasil tangannya.
Esok-esok, banyak menu umi yang berhasil kutemukan di dapurku. Alhamdulillah. Meski tak jarang jumpalitan bentuk dan rasanya, namun saya belajar meramu, si dia belajar mengunyah ya.
Hari ini, wedang jahe. Setelah sekian lama membuat wedang yang tak kunjung mirip untuk that oppa, kemarin aku terdorong untuk bertanya pada umi, setelah that oppa bilang,
"Jujur, wedangmu good. Tapi wedang bubun another level"
Oke, thats enough. Ayo kita kejar resepnya—nasihat seorang mamak dahulu kala: kejar lidah suamimu selama pemilik resep masih bernyawa.
Then tara...............
Tentu tidak 100% serupa namun cukup bisa menerbangkanku kembali pada menu wedang hangat kala berbuka + suguhan otak-otak atau pempek air fyer.
Hafizhahallah, ummi 🤍
Rindu sekali deh. tapi telfonan setiap hari piye bisa tetep rindu yah.
-------------
Draft kemarin-kemarin, namun ingin belajar mengolah dentuman hatiku lagi. Oiya, perihal resep ada yang sulit sekali: nasi goreng.
Masalahnya empu resep adalah dirinya sendiri. Syulit diduplikat bos.
Yasudahlah, untuk yang satu itu biarlah jadi menu spesial meja kami bila ia sedang ingin unjuk cinta lewat sepiring nasi.
Lapisan selempang yang kerap tak tampak matamu.
Entah sebab anginnya, entah sebab jutaan kesabaran sang mayit, entah sebab teguhnya hati ayahanda, atau entah sebab yang mana.
Kala membaca rentetan ini tadi, hatiku berdesir. Allahummaghfirlahaa warhamhaa. Allahumma taqabbal minhaa.
Semoga setiap yang ditinggalkan, Allah gantikan dengan kebaikan jauh berlebih. Semoga ayahanda - ibunda, mendapat tabungan yang besar di keabadian.
--------------
Malam dan kesesakannya, malam dan anginnya. Bila aku adalah ia, aku tentu tak seteguh itu menghadapi hari. Dan benar, hanya Dia yang tahu betul sesiapa yang pantas mencicipi nikmatnya uji.
Untuk semilir angin dengan langit hitam berkelabu tadi, mari kita tancapkan sebuah nyata bahwa dibalik setiap kepala, setiap wajah di depan mata, ada hidupnya.
Kala waktu dudukmu di suatu temu, teman duduk diseberangmu itu, berselempang amanah lainnya pada waktu serupa.
Ia pula seorang anak dengan kewajiban mendakwahi keluarganya. Ia pula pejuang mimpi yang perlu mengobarkan pendidikannya. Ia pula seorang gadis kecil yang mendapat nikmat harus bekerja. Ia pula pendekar teguh yang Allah cintai dengan sakitnya. Ia pula yang tertatih setiap hari menepis ombak luar untuk kufur nikmat atas rumahnya.
Sebab ia diam saja. sebab ia penuh tawa saja di kampusnya. sebab ia tak berkisah pada caption statusnya. sebab ia menghadiri acara serupa denganmu. sebab ia juga tetap keras kepala pada forum-forum kalian,
Siapa sangka, nyatanya teman dudukmu selempang amanahnya tebal sekali. Bahwa hidupnya, nyatanya bukan hanya untuk duduk satu meja denganmu saja.
Wahai..... semoga setiap kita mampu menghadapi setiap insan dengan sebaik-baik adab. Sebaik-baik prasangka. Sebaik-baik ucap.
Berikut, semoga dianugerahkan pula kita ini kemampuan husnuzon yang luar biasa, untuk setiap cara Allah mencintai hamba-Nya.