Anak Kampung Datang Ke Kota
Oleh: Roy Leko
Hari itu, matahari belum terlalu tinggi ketika aku tiba di kota. Namaku Roy Leko. Aku lahir pada 27 Februari 2002, dan aku adalah anak kampung yang merantau jauh dari rumah—seorang lelaki muda yang membawa harapan dan keberanian di dalam ransel sederhana. Kota ini bukan tanah lahirku, tapi mungkin bisa menjadi tanah tumbuhku.
Sesampainya di terminal, keramaian kota menyambutku dengan denting klakson, hiruk pikuk manusia, dan bangunan tinggi menjulang yang berdiri gagah seperti tak kenal letih. Udara di sini berbeda—ada aroma asing yang tak kutemui di kampung: bau aspal panas, asap kendaraan, dan debu yang menari di antara kaki orang-orang yang berjalan tergesa.
Beberapa teman lama menjemputku. Kami menuju rumah salah satu dari mereka, dan untuk sementara aku tinggal di sana. Tapi aku tahu, aku tak bisa bergantung terlalu lama. Setelah seminggu, aku memilih tinggal sendiri.
Suatu sore, sekitar pukul tiga, teman-temanku mengajakku ke tempat wisata di luar kota. Perjalanan itu seperti napas segar setelah hari-hari penuh penyesuaian. Di atas motor, aku duduk di belakang, memeluk erat tas kecil berisi air minum dan cemilan sederhana.
Sepanjang jalan, mataku dimanjakan pemandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya: gedung-gedung tinggi berdiri di antara pohon-pohon yang tertata rapi, angin bertiup lembut membawa wangi dedaunan. Hatiku, yang lama tertutup rindu kampung, seolah terbuka dan disiram kebahagiaan yang baru.
Namun perjalanan tak selalu mulus. Salah satu motor mogok di tengah jalan. Kami berhenti. Ada yang membantu memperbaiki, ada yang duduk di pinggir jalan sambil tertawa. Waktu seperti melambat saat kami bercanda—menertawakan hal-hal kecil yang hanya bisa dipahami oleh anak-anak perantau.
Setelah motor kembali menyala, kami melanjutkan perjalanan. Jalan berkelok, mendaki bukit. Sesekali aku menoleh ke kanan dan kiri, melihat hijaunya pepohonan, daun-daun bergoyang ditiup angin, dan awan-awan putih yang seolah turun rendah, menyentuh dahan tertinggi.
Ketika kami sampai di pintu masuk taman wisata itu, aku sempat bertanya, “Masih jauh?” Temanku menjawab, “Sudah dekat.” Aku tertawa kecil—seolah setiap jarak di kota ini selalu lebih jauh dari yang dibayangkan.
Di bukit itu, aku melihat keindahan yang tak mampu digambarkan sempurna oleh kata-kata: rumah-rumah berjejer rapi di kejauhan, laut biru mengelilingi pulau-pulau kecil yang tersebar seperti mutiara di atas permadani. Angin berembus, menyapu keringat dan lelah kami.
Kami duduk, tertawa, bercerita. Berfoto di tempat yang berbeda-beda, mengabadikan tawa, bukan hanya wajah. Aku ingin mengingat momen ini bukan dari gambar, tapi dari rasa.
Waktu berlalu cepat. Senja turun perlahan, dan kami sadar malam akan segera datang. Kami pun pulang, motor kembali dinyalakan, dan sepanjang perjalanan, tawa kami mengalir seperti sungai yang tak pernah kehabisan mata air.Â
Sesampainya di rumah teman, kami berpisah. Tapi di dalam hati, aku tahu: pertemuan ini akan tinggal lama.
Itulah kisahku. Anak kampung yang untuk pertama kalinya datang ke kota—Dan menemukan bahwa meski tempatnya asing,Kebahagiaan bisa tumbuh di mana saja, Asal kita punya keberanian untuk melangkah.
 Tulisan ini merupakan tanggug jawab penulis
*Penulis merupakan anggota Komunitas Penulis (KOPI) Maluku Utara*















