Surat Untuk Saudariku
Dearest my sisters and my little brother
Aku ingin bicara dengan hatimu. Karena disana aku bisa menemukan jawaban yang sesungguhnya.
Aku ingin bicara mengenai ke-munafikan. Tentang sosok guru yang seharusnya menjadi bahan contoh. Memang secara teori seperti itu. Memang sosoknya dulu dikenang seperti itu. Tapi keadaan, kondisi, dan sifat dasar sebagai manusia tak bisa terelakkan.
Disini aku hanya ingin menekankan bahwasannya sebelum ‘menghakimi’ siapapun juga, pikir dengan matang, jangan ceroboh. Hanya karena nafsu, akal menjadi lesu, menjadi tak bermakna.
Aku hanya berpesan kepadamu, ya sesuai gambar dibawah ini,”don’t judge people, because you never know what kind of battle they are fighting”.
Aku pernah merasakan hal yang sama denganmu. Tapi, kedamaian hati, kesabaran hati, dan kedewasaan berfikir, itulah yang selalu aku usahakan kutancapkan dalam diri ini. Aku selalu menekankan 3 hal itu ketika aku harus berhadapan dengan mereka. Ya, mereka yang bisa dibilang lebih tua dariku. Yah, aku anggap saja mereka semua ‘kurang piknik’ (baca, tadabbur alam).
Benar, aku memang marah. Aku marah sekali. Nafsuku memuncak saat itu. Tapi aku selalu ingat kata mutiara bahwasannya orang yang kuat itu orang yang bisa menahan amarahnya. Jadi aku selalu menganggap dunia ini hanya ‘permainan’. Ketika aku bertugas, bukan mereka yang selalu aku pandang, bukan mereka yang selalu aku lihat. Tapi, lebih mengarah atas tanggungjawabku terhadap pengazzaman diri serta mereka para pemengang tongkat estafet itu.
Terserah kau akan mengatakan apapun kepada diriku. Tapi aku ingin kau tahu, bahwasannya dengan adanya mereka (baca, masalah) membuat kita untuk dituntut lebih bijak dalam hal menyikapi. Dan perlu kau ketahui, jangan terlalu cepat menggunakan nafsu untuk menyelesaikan mereka itu semua.

















