"Tetap bertahan, ya, Ann. Demi semangkuk mie ayam Pak Wah. Demi wangi kelopak bunga kenanga. Demi kemewahan daun randu alas yang berguguran
Bertahan, ya." :)

oozey mess
NASA

PR's Tumblrdome
Jules of Nature

JVL
RMH
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Sweet Seals For You, Always
Show & Tell

Kiana Khansmith

⣠Chile in a Photography âŁ
trying on a metaphor
occasionally subtle
sheepfilms
Today's Document

Love Begins
todays bird

ellievsbear
official daine visual archive

seen from United Kingdom

seen from Philippines

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Italy
seen from Norway

seen from United States
seen from TĂźrkiye
seen from United States

seen from Singapore
seen from Switzerland

seen from Italy
seen from United States

seen from United States

seen from Peru
seen from Indonesia
seen from Indonesia
seen from Indonesia

seen from Malaysia
seen from France
@katalaut
"Tetap bertahan, ya, Ann. Demi semangkuk mie ayam Pak Wah. Demi wangi kelopak bunga kenanga. Demi kemewahan daun randu alas yang berguguran
Bertahan, ya." :)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Bertahan sendiri.
Episode 12 telah tandas siang tadi. Seperti biasa, weekend menjadi waktu emas untuk bersantai dan menontom anime. Beberapa waktu lalu, aku kembali menemukan anime yang cukup menarik.
ORANGE, menceritakan tentang 5 orang sahabat yang mendapat surat misterius dari masing-masing diri mereka di masa depan. Surat itu kemudian membawa mereka pada upaya penyelamatan 1 orang sahabat yang (di masa depan) meninggal akibat bunuh diri.
Cukup menarik ternyata. Namun aku belum tahu endingnya karena ternyata series tersebut tidak berhenti di episode 12. Ada cerita lanjutan yang dibuat dengan durasi lebih panjang dalam bentuk movie.
Di antara alur cerita dan para karakter yang menarik, aku mengingat satu hal. Bahwa penyesalan bisa membuat kita hidup dengan cara paling buruk. Depresi dan terus menyalahkan diri sendiri.
Hal itu yang kemudian dirasakan oleh Kakeru, tokoh yang berusaha bunuh diri karena rasa bersalahnya yang tidak bisa menyelamatkan sang ibu. Janji yang mereka buat justru tak pernah terpenuhi. Dan pesan maaf dari Kakeru tak pernah mendapat balasan.
Berat. Entah mengapa aku jadi banyak termenung saat menonton anime ini. Ah tidak, sepertinya sudah hampir sebulan aku banyak diam dan merasakan duka yang dalam (lagi). Barangkali seperti duka yang terus Kakeru rasakan. Bertahan sendirian dengan perasaan yang tak nyaman ini. Terusik, kurang tidur, dan tidak fokus pada apapun. Aku seperti kembali menjadi diriku di 2 tahun lalu.
Bersedih dan terus menangis. Bersedih dan terus menangis. Bersedih dan terus menangis.
Di kamar, di tempat kerja, di kereta, bahkan di atas motor saat perjalanan pulang yang hanya memerlukan waktu 10 menit. Merasa sesak selama sesaat. Kemudian menangis lagi. Pada akhirnya, aku masih tak berdaya.
Bagaimana bisa perasaan duka bertahan begitu lama?
Rasanya aku benar-benar habis. Habis semua mimpi, harapan, perasaan, dan hidup. Semuanya habis terkubur bersama dalam makam ibu. Ah, ternyata, aku tidak bisa bertahan sendirian, bu. Tidak bisa berdiri tegak sendiri.
Bolehkah aku kembali ke rahimmu? Atau mungkin segera menyusulmu.
Januari '24
Senin yang cukup terik di antara cuaca jogja yang tak menentu. Beberapa hari ini, hujan disertai angin yang cukup kencang. Padahal musim penghujan harusnya baru masuk di bulan depan.
Namun september awal, sudah hujan dan banjir di mana mana. Yah, makin tahun cuaca memang semakin tak menentu. Yang harusnya musim kemarau, tapi malah hujan. Yang harusnya musim hujan, malah terik panas.
Sama halnya seperti hati manusia. Berubah-ubah tak menentu. Seringnya bingung. Hari ini ingin A, besok ingin B. Besoknya lagi D atau bahkan Z. Tak pernah jelas.
Makin hari, aku makin bingung apa yang harus aku tulis. Lebih tepatnya, bagaimana aku menulis apa yang aku inginkan. Semua diksi sudah disabotase oleh sistem. Yang secara tanpa sadar, aku hanya jadi robot yang dituntut untuk terus menjabarkan diksi dan kalimat yang serupa.
Aku tak tahu bagaimana cara mengakhirinya. Pun tak tahu, apakah memang harus diakhiri atau tidak. Tapi yang jelas, semakin lama keinginanku semakin ambigu. Tidak jelas. Sedikit demi sedikit, aku mulai mengikuti arus yang entah mengarah ke mana.
Aku semakin jauh, tak mengenali sosok dari tubuh yang sedang ku kenakan.
Jogja, 12 september
Setiap hari. Setiap emosi itu muncul. Aku selalu bersusah payah untuk menghentikannya. Emosi (yang barangkali buruk) ini berusaha kutahan agar tidak lebih banyak merusak. Tapi nyatanya terlalu sulit. Aku lebih mudah membuatnya mengendalikan diri dan perasaan.
Melampiaskan ke seseorang tentu hanya akan memperburuk keadaan, dan juga diri sendiri. Namun layaknya benalu, dia benar-benar telah terikat kuat.
Harus kubawa kemana? Harus kuperlakukan seperti apa?
See you~
Agak janggal rasanya melihat pemandangan pohon cemara di tengah kota yang cukup padat ini. Hiruk pikuk kota dan polusi seakan tak membuatnya goyah sedikitpun. Walaupun begitu, pohon cemara setinggi gedung lantai itu tampak menyegarkan mata. Seketika, teringat sebuah lagu atau mungkin bisa dibilang musikalisasi puisi derai-derai cemara yang dinyanyikan Banda Neira. Lagu itu memang cukup menenangkan untuk didengar.
Tapi di sisi lain, ingatanku juga mengembara hingga ke jalan-jalan menanjak di daerah Tawangmangu sana. Deretan pohon cemara yang mengisi pinggiran jalan membawa kesan menyegarkan. Rasanya ingin menapaki jalan-jalan itu lagi. Tapi rutinitas yang cukup padat agaknya membuat keinginan itu harus tertunda lebih dulu.
***
Dua pohon cemara di depanku tampak menutupi gedung yang berada di baliknya. Gedung baru yang usianya mungkin baru satu tahun. Namun begitu melihatnya, rasanya membawa nostalgia yang cukup mendalam. Semasa aktif di komunitas dulu, memang sering berkunjung ke sana. Tentu setelah vakum, tak ada alasan lagi untuk sekedar berkunjung atau melihat gedung barunya dari dekat. Haha, memang kenangan selalu saja berhasil mampir tanpa diundang.
Menginjak tahun ke 7 di Jogja, melihat perubahan-perubahan semacam itu rasanya bukan lagi menjadi sesuatu yang ganjil. Setiap wilayah ingin bergerak maju, infrastruktur diperbaharui, dan orang-orangnya yang turut berkembang. Beberapa memilih tetap tinggal dan melihat perubahan kota. Beberapa yang lain pergi dan memilih lingkungan baru.
Malam ini, seorang kawan memutuskan hijrah ke kota lain. Sebenarnya banyak yang sudah pindah dan meninggalkan kota. Namun mengingat kawan satu ini merupakan seseorang yang begitu dekat sejak SMA, ada rasa sedikit melow.
Mungkin akan sedih rasanya, mengingat berkurangnya teman ngobrol dalam pertemuan secara fisik. Teman untuk sekedar menjajal makanan-makanan baru. Teman untuk saling berbica dan berbagi mimpi. Berkeluh kesah tentang kehidupan di fase ini. Dan tentu saja, teman berkeluh perihal umr yang semakin tak sebanding dengan biaya hidupnya, wkwk.
Jelas saja merasa kehilangan. Seorang teman yang tahu betul bagaimana karakter seorang 'aku' sejak masa sekolah hingga sekarang yang bisa dibilang 'sangat berubah' . Dan bagaimanapun, dia selalu bisa menerima tanpa judge sedikitpun.
Berbicara dengannya, seperti halnya menulis di sini. Tak ada bantahan, tak ada sanggahan, tak ada saran. Hanya benar-benar menuangkan isi pikiran. Lantas, begitupun sebaliknya. Barangkali, setiap pertemuan kita hanya berguna untuk mengumpat atau sekedar mengingat kejadian-kejadian pada fase-fase ini.
***
Cahaya matahari sore mulai terlihat di antara mendung yang sejak pagi menggantung di atas langit jogja. Jalanan mulai ramai oleh orang-orang yang pulang beraktifitas. Satu sisi pohon cemara itu menampakkan warna hijau terang. Sedang burung-burung kecil masih beterbangan di antata dahannya.
"aku juga ingin pergi" sebersit pikiran muncul begitu saja.
"tapi ke mana" jawab yang lain.
"entahlah."
Selalu begitu. Selalu begitu. Berulang-ulang. Tidak ada keberanian, tidak ada tekad kuat, tidak ada rencana matang. Semua hanya sekedar angan-angan yang mengambang. Mungkin aku memang seperti karakter Mari Tamaki dalam A Place Further Than The Universe yang punya mimpi besar namun takut untuk sekedar beranjak. Terlalu lama di persimpangan.
Jogja, Juli 2022

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Kita tak pernah tahu, kapan sesuatu itu jadi tak terkendali. Sadar akan risiko memang bisa jadi langkah awal untuk mencegah terjadinya kerusakan. Sayangnya, kesadaran tanpa tindakan sama seperti omong kosong belaka. Dan lambat laun, kau akan terbakar oleh api yang kau biarkan terus menjalar kemudian merusak. Jadi, mengambil jarak lebih panjang dari biasanya memang rasanya lebih baik.
Agar semuanya jauh lebih jerih. Agar apinya tak menjalar jauh seluruh sisi.
Karanganyar, 13 Juni
Tampaknya tahun ini sudah memasuki pertengahan. Sungguh jalan yang tak mudah barangkali, bisa bertahan sejauh ini. Melamun, lantas menangis di tiap malam-malam sunyi dan sendiri. Di antara remangnya lampu tidur dalam kamar. Masih tak tahu bagaimana caranya menghadapi perasaan sedih yang membuncah.
Sejak saat itu, aku merasa menjadi orang yang sangat berbeda. Lebih pendiam dan enggan berinteraksi dengan banyak orang terlalu sering. Energi ku seakan sudah terkuras habis, entah untuk apa sebenarnya.
Barangkali dalam waktu dekat akan aku tanggalkan mimpi-mimpi itu. Membiarkannya menguap seperti air yang terkena panas matahari. Lagi-lagi berusaha ikhlas dan menerima realita yang sudah pasti.
Hidup, sebagimana harusnya hidup. Tanpa mengejar dan dikejar apapun.
02 Juni
Beberapa orang memang begitu, Ann. Senang datang dan pergi sesuka hati. Memberi harapan, lalu hilang begitu saja. Apa kau tak belajar juga?
Pada akhirnya kata-katamu hanya tanggal sendirian. Menggantung di ujung paragraf tanpa ada yang meneruskan. Beberapa kali, selalu begitu, kan. Janji hanya serupa embun yang sangat mudah menguap. Sekalipun kembali lagi esok hari, dia akan segera pergi.
Jadi, sudahlah. Biarkan mereka berbuat sesukanya. Kau, tak perlu berharap lagi.
Papringan, 24 Mei
Berusaha menulis lagi di luar konteks pekerjaan agaknya menjadi hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Menulis hal yang berbeda dari yang biasa dilakukan. Mencoba merangkai kata dengan diksi dan plot yang berbeda pula. Menjadi cukup menantang sekaligus mengesalkan karena selalu mandek di tengah jalan atau bahkan mandek saat belum menulit sedikit pun.Â
Barangkali aku memang terlalu memaksakan diri, atau entah dorongan dari mana yang kemudian membuatku âmengharuskanâ diri untuk terus menulis hal-hal lain. Ah, jadi ingat perkataan seorang kakek 70 tahun yang dengan ringan mengajak ngobrol di sela-sela istirahat saat berenang. âSantai saja toh, mbak, yah dinikmati saja,â ungkapnya sambil sedikit terkekeh. Lantas, kembali membelah air dan berenang ke arah seberang.Â
Memang, tanpa disadari, aku selalu berusaha mengejar apapun yang ada di depan mata. Seolah tak punya waktu lagi, seolah tak ada kesempatan lagi. Alhasil, selalu terburu-buru dan hasilnya justru tidak maksimal. Padahal, apa sebenarnya yang sedang dicari? Apa yang sebenarnya sedang dituju? Atau barangkali sebenarnya terdistrak dengan kalimat âperempuan yang memiliki kedaluwarsaâ?Â
Entahlah, segala hal seperti memutar dan berhamburan secara acak. Tak tahu harus memijak yang mana terlebih dahulu. Buruknya, yang timbul kemudian adalah berbagai macam ketakutan. Takut melangkah, takut tidak tepat, takut salah memilih, takut risiko, dan takut terlambat. Segalanya jadi tidak semudah, âmulai aja duluâ. Tidak, tidak bisa begitu.Â
Lantas, bagaimana? Bagaimana caranya untuk sepenuhnya hadir untuk masa sekarang dan menikmati apa yang sedang dilakukan? Menikmati pekerjaan saat bekerja atau menikmati waktu luang saat hari libur?
Agaknya laptop di depan semakin lama semakin menertawakanku yang membiarkannya berdenging karena ku yang terlalu lama berpikir. Menunggu untuk disentuh dan dibuka dengan senang tanpa perasaan suntuk dan muak dari pemiliknya. Sekedar menulis random untuk menghilangkan uap panas tak kasat mata di atas kepala.Â
Di saat seperti ini, aku hanya ingin berenang dan menyelam di kedalamanlaut yang dingin dan berarus. Berlibur dengan menikmati akuarium bawah laut masih menjadi sisa-sisa impian yang masih tanggal hingga saat ini. Menunggu waktu untuk dikabulkan, suatu saat nanti.Â
Hai, Laut!
Apa kabar?
Kita baru bersua lagi, ya, setelah sekian lama. Padahal kita sedang berjarak sangat dekat dari biasanya. Tapi aku baru benar-benar berniat bertemu denganmu hari ini.Â
Pada kepulangan kali ini, yang sepertinya akan sangat lama, aku akhirnya melihatmu melepas bakau yang sendirian di sana. Sudah berapa lama dia berdiri sendiri di sana, Laut? Agaknya kau begitu sayang padanya, ya.Â
Kapan pertama kali si bakau tumbuh dan bagaimana dia bisa bertahan pun, tidak ada yang tahu selain kau, Laut. Padahal aku begitu penasaran. Satu pohon bakau yang jaraknya sekitar satu kilometer dari bibir pantai. Terlihat sangat kecil di kejauhan. Dan akupun beranggapan bahwa bakau itu hanya seukuran itu, tidak tumbuh dari pertama kali aku liat sedari aku pun masih kecil. Dan bagaimana bisa dia tidak tenggelam meskipun airmu sedang memasuki musim pasang?
Barangkali jika aku lebih tahu tentang hubungan kalian, aku bisa membuat cerita seperti seekor camar dan kucing pelabuhan ciptaan Sepulveda itu. Lalu begini judulnya; Kisah Sebatang Pohon bakau dan Laut yang menemani kesendiriannya.Â
Berkali-kali aku mencari kisah kalian di sudut-sudut layar. Barangkali memang pernah ada seseorang yang menuliskan riwayatnya. Tapi hasilnya nihil. Aku masih tidak bisa menemukan kejelasan tentang kalian hingga saat ini.Â
Karena aku hanya sering mendengar riwayat yang dituturkan oleh orang-orang yang lebih tua dariku. Kata mereka, pohon bakau itu melindungi desa kami dari pasang air laut agar tak sampai di perkampungan. Yang sekalipun kau, Laut, sedang bergejolak sangat hebat, pohon bakau itu menjadi pelindung kami. Dari tsunami maupun banjir pesisir (rob).
Tidak hanya sekali aku ingin coba mengunjungi pohon bakau itu ketika air sedang surut. Tapi aku terlalu takut. Di mata kami, kau juga memiki kekuatan magis yang menakutkan, Ut. Di mata kami, kau sering menelan orang-orang. Menenggelamkan mereka, kemudian baru kau lepaskan setelah berhari-hari.Â
Ah, kau memang mengertikan sekaligus menakjubkan. Tiap kali melihatmu, aku selalu merasa sedang pulang.Â

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Matanya sedikit mengantuk. Sepertinya karena kering setelah lembab beberapa saat tadi. Tidak lama seperti biasanya, tapi efeknya cukup membuat kelopak mata terasa lebih berat. Setelah membaca beberapa lembar halaman di buku bersampul biru, dia menghampiri lagi meja tempat buku menumpuk dan laptop yang masih hangat menyala.Â
Perempuan yang menangis di kereta
Judul pada ms. word yang tertera di layar monitor. Tulisan yang tak kunjung selesai sejak oktober tahun lalu. Dia tak tahu bagaimana menyelesaikan cerita itu. Padahal sekedar kisah perjalanan dua orang yang pergi meninggalkan sebuah kota. Mungkin karena memang sekedar tulisan yang terkesan seperti monolog, justru membuatnya semakin sulit menemui akhir.Â
Ah, dia tidak bisa lagi mengimajinasikan kondisi berbulan-bulan itu. Tidak bisa lagi merasakan perasaan yang sama seperti waktu itu. Maka tulisannya tidak sampai di akhir perjalanan.Â
Bingung. Dengan sesekali memainkan ujung-ujung rambut yang tidak lagi panjang. Mematahkan beberapa bagian yang kasar. Yah, kebiasaan sudah melekat dari dulu, sepertinya. Kebiasaan ketika dia sedang berpikir.
Bagaimana dia harus mengakhiri cerita itu atau sebenarnya tidak perlu diakhiri. Bukan perkara penting namun cukup mengganggu pikirannya. Dia melirik buku biru yang tergeletak di atas kasur. seketika teringat kata J. âKau harus memutuskanâ
Ah, dia bukan kamu. dan begitulah sebaliknya. Kalian dua orang yang berbeda.Â
Yang jelas, aku mulai merasa sangat sangat bosan dengan rutinitas ini. Dengan himpitan kondisi yang sangat sempit ini. Membuat banyak jerawat bermunculan dimana mana. Jadwal datang bulan yang tidak teratur. Jam tidur yang juga ikut asal-asalan.Â
Hei hei siapapun yang di sana. Bisa beritahu aku rahasia untuk mencintai rutinitas yang bahkan kita benci?
(Aku tinggal sebentar untuk mulai membaca buku)
/April 2021/
Seseorang mengatakan padaku bahwa tidak apa-apa untuk merasa terpuruk, kupikir benar. Karena manusia berhak dikendalikan rasa sedih hanya untuk sekadar menjadi teman perjalanan, mengingat sudah banyak sekali perjuangan yang dilampaui, dan tentu tidak semudah memaafkan situasi. Manusia berhak memadukan tangis agar mampu mengikis kemampuannya berduka. Jadi tidak menjadi masalah bila manusia memerlukan titik tundanya.
Ditulis oleh : Venushara.
Tuhan, bentuklah hatiku sekuat doa yang melebihi kapasitasnya baja dunia.
âVenushara.
"Then we live. And we learn. And we try, and try, and try, and try."
(Down to Earth)
Hei, Ut! Sepertinya situasi tidak kunjung membaik ya? Kau bahkan sudah benar benar mempersiapkan skenario terburuk. Tapi tetap aja, ada keengganan dalam dirimu untuk menerimanya.
Aku tahu. Momen ini berat sekali untukmu. Kau ingin lari, kemanapun. Asal tidak di sini. Kau bahkan mulai menyalahkan semua orang atas penderitaan yang kau alami. Atas hal-hal yang tidak dapat kau mengerti sendiri, kau justru menyalahkan ketiadaan orang lain. Atas hal yang (mungkin) memang bukan salah mereka, kau tunjuk sebagai alasan beban dosamu sendiri.
Hei, ayolaah, jangan begitu.
Laut yang ku kenal tidak seperti ini, kan. Laut yang ku kenal, selalu berusaha untuk bisa memiliki hati yang besar. Yang bisa menampung segala rasa tidak nyaman dalam diri. Laut yang ku kenal, selalu berusaha sebaik mungkin menjadi nyaman untuk dirinya sendiri. Laut yang ku kenal, tidak mudah tumbang walau berkali-kali dihantam.
Katamu, kau selalu berusaha melenturkan diri dan hati. Iya, kan? Toh hidup juga perihal kesiapan menerima benturan-benturan.
Tapi, Ut, aku tahu kau juga memiliki batas. Kau manusia dan merasa lelah itu sangat wajar. Seakan merasakan kesedihan yang tak berkesudahan. Kau tak bisa melihat di mana ujung semua situasi pelik ini.
Tapi, heii, jangan bawa-bawa orang lain untuk ikut sedih denganmu. Jangan paksa orang lain merasakan derita yang kau rasakan.
Jangan.
Mereka yang paham, tidak akan pergi begitu saja. Mereka yang paham, akan tetap menemanimu. Tanpa harus kamu paksa untuk merasakan kondisimu.
Setiap orang punya waktunya sendiri untuk mencerna semua hal yang terjadi dalam hidup. Semua terasa mengejutkan. Tapi kita akan terbiasa pada akhirnya.
Entah pada kejutan ke berapa.
/22 agustus/
"Akan kemana lagi kesedihan ini harus kau labuhkan, Ann? Tubuh dan hatimu benar-benar lelah."

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Nyala Api
Burung-burung bertengger di dahan pohon. Memenuhi sepetak kanopi hutan. Terbang dari dahan satu ke dahan yang lain. Dari pohon satu ke pohon yang lain.
Menikmati kesibukan manusia di bawah mereka.
Lampu merah pada tiang itu menunjukkan angka 25. Menghitung mundur secara otomatis. Simpang yang selalu ramai, apalagi pada jam-jam pulang kerja seperti ini.
Pandanganku masih tertuju di arah jam 10. Sedikit menangadah, demi dapat melihat burung-burung besar itu bertengger. Pemandangan yang sangat kontras di antara pemandangan padat kota besar.
Ada perasaan berbeda tiap kali melewati jalanan ini. Tidak tahu apa pastinya. Namun jelas ada yang berbeda. Seperti merasakan percikan api yang meletup ketika ada benda yang jatuh ke dalamnya. Api yang tidak cukup besar untuk membakar, namun terlampau kecil untuk menghangatkan badan.Â
Nyala api itu, antara sadar atau tidak sadar, terjaga begitu saja. Dan anehnya, terasa stabil. Asap kecil yang timbul, maupun terang yang dihasilkan hanya berdampak pada beberapa sisi. Bahkan tidak cukup mengisi ruang 2x2.
Nyala api itu ternyata masih terjaga. Dan disadarkan oleh burung-burung yang bertengger di dahan pohon pada sepetak kanopi hutan itu.Â
âAh, dia masih di sana.â Batinnya.
Ternyata memang tidak bisa padam. Entah memang tidak bisa atau dibiarkan nyala begitu saja. Tapi sangat cukup untuk tidak merusak lebih banyak. Nyala api itu, walaupun orang-orang begitu membencinya. bahkan pernah membakar sekujur tubuh. Tapi dirinya sendiri tidak bisa cukup kuat untuk membenci nyala api itu.Â
Api tak selamanya hanya bekerja sebagai perusak. Dia punya manfaat yang juga sama besarnya, ketika dapat dikendalikan oleh tangan-tangan yang baik.Â
"Ann, jangan lagi-lagi buat orang lain bingung dengan perasaanmu. Kamu tahu, kalau kamu cuma ingin diafirmasi. Kamu hanya ingin jawaban; 'ya, aku mengerti perasaanmu'. Tak perlu sanggahan, ceramah, semangat segala macam. Karena kamu sendiri tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan. Tapi kalau orang itu memang tidak mengerti?
Jangan paksa dia, Ann. Jangan paksa!"