Bahkan sekadar merangkai namamu di atas kertas, serasa menggores luka lama yang belum sempat sembuh yang setiap hurufnya bagai duri yang menari di permukaan jantungku.
Aku mengabadikanmu dalam tiap paragraf, seolah ingin membungkus pedih menjadi puisi.
Setiap kenangan tentangmu kutarik kembali dari dasar ingatan, kuanyam ulang menjadi kisah yang abadi—sebuah buku yang bisa kupeluk sewaktu-waktu, saat rindu tak tahu harus ke mana pulang.
Kediri, 10:10














