Curhat
Halo.
It’s may be a lil bit corny, but yea i don’t really give a damn about what u think.
Aku punya teman – teman dekat yang sudah bersamaku semenjak kami masih lucu – lucunya di bangku SMA. Dulu waktu baru saja lulus SMA, ucapan yang senada dengan ini sangat ngetrend:
“Walaupun beda – beda kampus kita harus tetep kumpul ya jangan jadi sombong.”
Dan, ya, begitu lah kami, padahal dulu rasa – rasanya bukan kami yang suka mengucap kata berikut di atas, tapi malah kami yang masih selalu kumpul walau sudah berbeda – beda kampus. Kami selalu melakukan aktivitas yang biasa kita sebut ‘nongkrong’, yang menurut definisi di koran Times, ‘talking, sitting, and especially doing nothing’ ya memang begitu adanya, secara kasat mata kami hanya buang – buang waktu dan juga buang – buang uang. Tapi, kami melakukannya secara konsisten. Semenjak 3 atau 4 tahun lalu, 95% malam sabtu atau malam minggu kami lalui bersama.
Awal perkumpulan ini sebenarnya diinisiasi oleh kami – kami yang berkuliah di Bandung bagian situ, oleh aku, Ucup, Obos (POLBAN) dan Raka (Maranatha), karena letak Polban dan Maranatha berdekatan maka kami masih menyempatkan untuk berkumpul, nongkrong dan ngobrol – ngobrol tentang bagaimana tempat kuliah kami masing – masing. Walaupun hanya berempat, menyenangkan bagi kami. Seiring dengan berjalannya waktu, teman – teman di Polban (Galih, Eja) juga teman – teman di ITB (Fadli, Julio) mulai sering bergabung juga. Ditambah Hadi yang waktu itu masih bersama Elva yang menyempatkan hadir jauh – jauh dari unpad. Dan May, Primadie, Agung, Dickyn, Dikim dan lain – lain mulai bergabung satu persatu, meramaikan malam akhir pekan kami. Juga Aghnia yang kadang hadir jadi perwakilan para wanita.
Kalau tidak salah waktu itu 2014 ketika pertama kali aku membawa game ultimate werewolf ke perkumpulan kami. Permainan seru itu memperat kami, yang sampai pernah mengumpulkan 20 orang untuk nongkrong, main werewolf bersama. Sampai – sampai rumah Julio sempat menjadi base camp bagi kami, hanya untuk bermain werewolf, hampir setiap jumat dan sabtu, dari sore hingga malam. Sampai akhirnya kami bosan juga, dengan kesibukan masing – masing, kawan – kawan yang nongkrong mulai berkurang juga. Tapi, para tonggak – tonggak kegiatan nongkrong kami (julukan itu pertama diucapkan oleh Ucup padaku, waktu mengantar ke terminal beberapa pekan lalu) tetap konsisten dengan kegiatan akhir pekan kami.
Keep reading
:')














