Aku tidak terlalu mengingat apa yang membuatku menepi.
Satu yang aku ingat, di tengah musim semi yang tenang, aku melihatnya di sudut taman di pojokan kota. Taman itu cukup ramai. Namun tidak banyak yang lalu lalang di sudutnya. Sedikit tersembunyi, di sisi belakang menara suar. Di sana, bunga ini tumbuh dalam tenang. Seolah tidak membutuhkan perhatian. Tanah di sekitarnya pun sedikit kering, mungkin sang penjaga taman melewatkan titik ini saat patroli dengan wadah airnya.
Di tempat itu, ia berdamai dengan waktu. Ketika khalayak mengelu-elukan berbagai bunga yang tampil di bawah lampu sorot, bunga kecil itu teguh meyakini bahwa waktu bukan sesuatu untuk dimenangkan. Saat mentari terlihat tidak adil, ia hanya terus tumbuh. Tanpa tangan yang sengaja menyiram lebih banyak, tanpa humus dengan ajian untuk membuatnya lebih berwarna. Kondisi yang membuat akarnya berkelana lebih jauh, menuju tempat yang mungkin terlalu repot bagi bunga lain untuk menjangkaunya. Tidak terhitung waktu yang berlalu ketika aku memandanginya. Sampai terasa kalau, sesuatu dalam diam mulai menarikku.
Melihatnya, aku memutuskan untuk duduk lebih dekat.
Bukan karena kasihan, apalagi sok hipster. Murni karena debaran yang berbeda. Sebuah rasa yang beresonansi, membawa tenang lalu memperlambat langkah, seolah abai dan memilih untuk ikut arus. Meski di tempat yang tak terlihat, ada upaya yang teramat keras, seperti akar yang menjalar panjang mencari sumber air. Meski di sini bukan Rhodes, ia tetap melompat tanpa sorot perhatian. Menyiarkan keberanian tanpa riuh tepuk tangan.
Hal lain yang menarik adalah, ia tidak mengenal diri yang kekal. Hari ini ia satu hal, besok ronanya akan berubah, begitu pula besoknya lagi. Namun, semuanya nyata. Tidak ada seorangpun yang mampu menyatakan dengan lantang: ini lah bentuk sejati bunga. Karena setiap kali aku merasa sudah mengenalnya, ia akan berganti, tumbuh menjadi sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan. Bukan karena tidak konsisten. Hanya satu bentuk keyakinan bahwa keindahan tidak seharusnya dikurung dalam satu warna.
Menyaksikan warna yang datang silih berganti rasanya, sudah menjadi ritual tersendiri. Hingga hari ini, ketika aku kembali lagi ke taman itu. Nuansanya masih senada meski ada hening yang menyertai. Udara yang terasa lebih berat, berbeda dari biasa. Sudut taman itu justru terasa lebih diam dari sebelumnya. Anehnya, justru terasa lebih penuh. Seolah seluruh rasa yang tertanam, semua asa yang tumbuh dalam diam, sedang berkumpul jadi satu. Bersiap untuk sesuatu yang lebih tinggi. Aku terdiam, dengan napas yang tertahan.
Seketika, arah angin berubah.
Aku tidak tahu warna apa yang akan datang setelah ini.
Tapi yang pasti, aku tidak sabar untuk melihatnya.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
The spring when I began to know you, I didn’t quite know what to expect. You were just another one in the wild, but somehow you left an usual impression. Your sweet voice and infectious laugh is as strong as the gravity pulling me in. Everything that happened afterwards, ain’t something I imagined back then. The way we joke and tease each other, my wandering mind as you rapidly talk about things, are something I cherish deeply. In this gloomy and doomed city, your presence is one of the reasons I have something to look forward to every single day.
The one that struck me the most is how pure and kindhearted your persona is. As has been declared by hundreds, including your beloved gen-mates. You give your undivided attention, and efforts, to every single person you meet. No matter how trivial it may seem, your long and thoughtful responses make people feel heard and valued. Something that makes people deeply fall for you, as you make them feel truly seen.
I also admire your guts and positive outlook on everything. Nothing seems swaying you, as you keep walking at your own pace, at your own time. From now on, things could be rough. Though it could also be even better. I know you can handle it by yourself, but please remember that I won’t ever let you face anything alone again.
It might not be that long,
but you mean so much,
and I am grateful for that one moment back in spring.
Exposing how long I have been following this red rectangle group is actually something that i always avoided. Namun pengecualian dapat dimunculkan setiap membahas satu setlist yang sangat spesial ini, benar, Pajama Drive. Setlist ini rasanya punya magis tersendiri, seringkali menjadi penanda dimulainya perjalanan setiap generasi baru.
Sayangnya setlist spesial ini "dinodai" dengan keputusan yang menurut gue pribadi sangat aneh. 16 blocking tersedia, dan manajemen, yang selama 13 tahun ini seringkali membuat keputusan aneh, memutuskan untuk membuka hanya 12 posisi. Setelah kenaikan harga lebih dari 100%—dengan benefit yang sepenuhnya hilang—kok ada yang memunculkan "ide brilian" ini? Aneh.
Namun lagi dan lagi—seperti biasa—manajemen aneh ini diselamatkan oleh talent mereka yang selalu berjuang dengan mimpi di angan, serta api di mata.
Apresiasi tertinggi gue sampaikan untuk Michie, Trisha, Alya, Nayla, Chelsea, Anindya, Levi, Aralie, Danella, Cynthia, Nachia, dan Regie yang telah membuka chapter baru bagi Generasi 11 dan 12 dengan sangat gemilang.
Harus diakui—menurut gue pribadi—ini adalah Shonichi Pajama Drive terbaik selama 13 tahun. I mean, ketika setengah dari daftar performer sudah memiliki pengalaman sekitar 1 tahun, sudah seharusnya pertunjukannya bagus, kan?
Sebagai seseorang yang berprinsip bahwa, "bukan kita yang memilih oshi, tapi oshi yang memilih kita," show kali ini benar-benar membuat dilema. Bagaimana tidak, dari 12 gadis hebat yang tampil, 4 orang membuat kepala ini seperti menonton pertandingan tenis. Menoleh ke kanan dan kiri secara cepat, berusaha menangkap sebanyak mungkin pergerakan yang dilakukan.
Tanpa urutan dan preferensi khusus, gue akan mencoba menuliskan 4 gadis yang meninggalkan kesan kuat, bagi gue obviously.
The One with Painful Expression
Secara pribadi, gue merasa bahwa segmen M10 sampai M12—lagu setelah unit dan MC2—adalah segmen terkuat di setlist ini. Terdiri dari 2 lagu yang sangat menyedihkan, sebelum secara cepat berganti menjadi lagu emosional yang sedikit centil. Rasanya, ekspresi yang kuat dan tepat akan menjadi senjata bagi siapapun untuk menyampaikan pesan segmen ini secara tepat.
In my opinion, this girl got the mission. Belum sempurna, tapi ekspresinya benar-benar "menangkap" gue. Mulai dari ekspresi menyedihkan, mata yang hampa, sampai kemudian switch menjadi playful dan centil. Selain itu dia juga berani untuk menatap penonton secara dalam, berfokus pada mereka yang di hadapan, tidak sekadar mencari screentime di kamera.
The One with Perfect Arrogance
Kalau kalian pernah melihat seseorang yang sangat percaya dengan kemampuan diri—bahkan mungkin terkesan arogan—rasanya gadis ini adalah perwujudan yang tepat dari arogansi tersebut. Namun, yang ia tunjukan bukan karena merasa yang lain jauh di bawah. Tetapi karena dari dalam diri, ia menyakini kalau yang dia tampilkan adalah sesuatu yang bernilai tinggi. Raut wajahnya terkesan arogan, namun dalam arti yang baik. Karena dia tahu dan yakin atas dirinya sendiri.
She stepped on the stage, show who's boss, and own it. Tidak menciut dengan kemampuan yang, tapi secara yakin make herself bigger. Seolah berteriak, bahwa ia ada dan salah satu yang terbaik di atas panggung. Banyak ruang untuk membuat dirinya semakin hebat, tapi ia layak untuk tidur dengan nyenyak atas performa yang luar biasa.
The One with Explosive Energy
Gadis ini selalu memberikan 120% kemampuannya di setiap pertunjukan setlist Ingin Bertemu. Namun, hari ini (30/05) ia bagaikan ikan yang menemukan air. Seperti pemain bintang dengan tim yang dibangun untuk memaksimalkan kemampuannya. Pajama Drive sepertinya memang tempat yang tepat untuk benar-benar lepas dan menunjukan diri yang sesungguhnya.
Secara keseluruhan, setlist ini memungkinkan dirinya untuk step-up ke level yang jauh lebih tinggi. Tempo yang cepat, gerakan yang tegas, dan semangat dari setiap chant, membuatnya bergerak leluasa bagai sedang melakukan gegenpress ke hati setiap mata yang memandang.
The One with Full Self-belief
Last but not least, the hidden prodigy. Gue bukan orang dengan pengalaman di bidang seni tari, tapi sebagai orang yang sudah cukup lama mengikuti banyak grup rasanya dengan yakin gue bisa bilang kalau gadis ini sudah cukup matang bahkan sebelum bergabung. Kemampuan yang di atas rata-rata rekan segenerasi, disertai kepercayaan diri—bukan arogansi—dan sifatnya yang terlihat outgoing, membuat penampilannya sangat asyik untuk dinikmati.
Dia bisa menggabungkan sexiness dan innocence dalam setiap gerakan. Membuat lagu yang ia bawakan dapat tersampaikan secara baik. Mengingat hal tersebut serta parasnya yang tak kalah rupawan, mungkin hanya perlu menunggu waktu sampai ia "meledak" dan membuat semua pandangan tertuju padanya.
~
Tentu bukan hanya gadis-gadis ini yang tampil hebat. Semua yang tampil hari ini (30/5) pun menampilkan performa terbaik. Bahkan, bukan tidak mungkin yang akan tampil besok (31/05) malah menunjukan performa yang jauh lebih keren lagi.
Apa mungkin satu dari empat nama ini akan mengubah kotak merah di mypage yang sudah 3 tahun tidak berganti?
Cynthia Yaputera. Regina Wilian. Michelle Levia. Abigail Rachel.
Untuk kesekian kali, lautan manusia kembali menelan diri. Sebuah parade tanpa akhir, penuh warna dan suara yang mengalir bagai sungai tak tenang. Konfeti emas dan perak berjatuhan, berkilauan di bawah cahaya seperti bintang di langit tanpa warna. Udara terasa sesak, penuh aroma perayaan dan energi dari tubuh-tubuh yang bergerak selaras dengan alunan musik.
Di tengah keramaian, aku melihatnya menari. Mengundang rasa yang lama tidak menghampiri.
Sepertinya, pikiran ini sedang mempermainkan diri. Tak terhitung suara dan persona yang terasa sama, namun nyatanya berbeda. Tapi kaki ini tidak pernah berhenti melangkah, berharap ada pertemuan kembali di ujung jalan.
Semakin jauh aku melangkah, bayangannya semakin kabur. Di balik topeng dan nuansa warna-warni, sosoknya masih menghantui. Setiap memori yang terpahat di ingatan menjadi cetak biru perjalanan. Membawa diriku memasuki labirin tanpa akhir. Gelap, berliku, penuh tikungan yang menyesatkan.
Musik karnaval yang terus bergaung mulai terdengar jauh. Dentumannya melemah seiring langkahku yang melambat. Pikiranku terus berputar, mencari makna dan arti yang tidak aku pahami.
Malam larut semakin berlanjut. Energiku terasa habis, seolah direnggut oleh luapan orang-orang di sekitar. Punggung ini kusandarkan pada sebuah bangku taman tidak jauh dari pusat keramaian. Nafas panjang kuhela sembari mencari rembulan di antara pekat langit malam.
“Hey,” sebuah suara manis membuka kedua kelopak yang sempat tertutup.
Bergeming, dari atas kedua bola matanya menatap dalam. Matanya, memanjang indah. Sudut-sudutnya terangkat, mengimbangi senyumnya yang tak kalah manis.
“Siapa?” tanyaku, tidak bisa mengeluarkan kata lain. Pemilik suara manis dan mata indah itu pun beranjak, mengisi area sebelahku yang entah sejak kapan kosong.
Kedua mataku kini mencari rembulan di kedua bola matanya. Pikiranku menerka, hatiku bertanya. Namun tepat sebelum bibir ini berkata, gadis itu menjulurkan tangannya. Seolah menyeruak masuk ke tempat yang selama ini kubiarkan tidak berpenghuni.
Sesuatu yang kau inginkan, sesuatu yang ingin sekali kau raih. Atau selama ini, kamu hanya hidup mengikuti arah angin dan arus lautan? Tidak memiliki tujuan, hanya ikut terbawa tanpa memikirkan apapun?
Atau, kamu malah takut untuk bermimpi?
Aku yakin tidak. Kamu yang aku tahu, memiliki banyak sekali impian. Ibarat lirik lagu pembuka Doraemon yang sudah dialih bahasakan, ingin ini ingin itu banyak sekali, kan? Setidaknya itu yang aku tangkap sejak saat mata kita saling bertemu. Di sana, aku melihat kobaran api abadi dengan mimpi dan semangatmu sebagai bahan bakarnya. Api semangat yang membuatmu percaya, bahwa ini jalanmu, ini mimpimu, dan dengan seluruh kekuatan yang kau miliki, kamu akan berjuang untuk meraihnya. Meraih puncak tertinggi yang akan membuat semua orang iri. Setidaknya, itu satu hal yang selalu aku yakini.
Tapi seiring waktu, sepertinya tidak ada yang mengharapkanmu.
Mungkin lebih tepatnya, tidak banyak. Kamu sendiri yang bilang kalau dirimu itu aneh. Kamu takut kalau itu akan membuat orang berpaling. Ketakutan yang kecil namun seiring waktu berkembang membesar hingga akhirnya menelan dirimu hidup-hidup. Ketakutan yang membuatmu terdiam dan hilang arah, tersembunyi di balik bayangan orang lain.
Aku tahu, mereka yang di depanmu memang terlihat bersinar dan menyilaukan. Begitu terang sampai, mungkin, membuatmu berpikir kembali tentang arti dan tujuanmu di sini. Tentang apa yang bisa kau lakukan. Tentang arti keberadaan yang terkurung tembok tinggi hasil karyamu sendiri.
Tapi, ingatlah. Ingatlah tentang alasanmu berdiri di sini. Tentang alasan semua pertemuan. Tentang alasan bagi mereka yang ada menopang punggungmu. Atau, alasan itu sudah hilang dari benakmu karena merasa jalan buntu adalah akhir? Satu yang harus selalu kau ingat, hidup ini hanyalah pertunjukan di atas panggung. Meski tirainya telah turun, entah besok atau lusa, tirai itu akan terbuka kembali. Lampu sorot itu akan kembali menyala dan menambah kilau dirimu.
Semua masih awal. Cobalah untuk melompat lebih tinggi dari yang lain. Berlarilah, lalu hentakkan kakimu sekuat tenaga. Lampaui keraguanmu, lewati tembok tinggi yang menghalangi. Tidak semua hal telah ditentukan dari awal. Sebagian baru akan bergerak ketika kita membuka jalannya. Jangan takut, jangan ragu. Di depan sana akan lebih banyak hal menakutkan, hal yang mungkin membebani beban pikiran.
Karena, jatuh ke depan lebih baik daripada terdiam di tempat yang ada sekarang.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Semua berawal dari keresahan tentang sebuah proses yang tidak kunjung berbuah. Tentang pintu masa depan yang tidak bisa terbuka. Tentang asa dan harapan yang dirasa akan pupus. Tentang pelangi yang tak kunjung tiba setelah hujan badai. Tentang rasa kecewa karena untuk kesekian kalinya, ia tidak dipanggil di tempat yang seharusnya. Tentang upaya untuk menciptakan sejarah baru yang mengguncang peradaban.
Ini adalah cerita tentang pemberontakan.
Kurang lebih satu tahun lalu, berangkat dari keresahan yang sama gerakan #UPRISING lahir. Saat itu fokus pikiran kami adalah bagaimana mengantarkan seorang gadis bernama Nadila ke tempat yang belum pernah ia kunjungi sepanjang perjalanannya di JKT48. Ya, Senbatsu. Karena bagi kami, kalau Manajemen masih memutuskan untuk mengabaikan keras upaya Nadila, maka biarkan kami yang memberikan satu tempat di Senbatsu untuknya.
Nadila sudah melakukan semua yang ia bisa. Rasanya, semua kisah perjuangan Nadila sudah diketahui khalayak. Sampai detik tulisan ini dibuat, ia masih satu-satunya member yang sudah tampil di 15 dari 16 blocking dalam satu pertunjukan theater. Nadila juga berusaha memperkenalkan JKT48 lebih luas melalui JKT48 Acoustic dan Membedah Lagu JKT48 (Membela JKT48). Namun seperti lirik yang ia tulis pada lagu “Lantang”, semua itu belum cukup katanya. Senbatsu pun, masih belum menjadi tempatnya.
Dari sana, kami berangkat. Namun, jangan pernah berpikir bahwa #UPRISING merupakan pergerakan yang rapi dan skematis. Tidak. #UPRISING merupakan sebuah pergerakan sporadis yang mengupayakan segala cara dan upaya (yang masih halal dan sesuai aturan main tentunya) apapun risikonya. Pergerakan ini tidak berangkat dengan anggaran yang besar. Tidak juga mendapat sokongan dana dari investor asing. Prinsip dasarnya adalah mengumpulkan seluruh usaha kecil dan memupuknya menjadi besar. Ibaratnya, kami berupaya mengumpulkan 1 miliar dengan meminta 1000 rupiah dari 1 juta orang. Terasa kecil, namun hasil akhirnya besar.
Perjuangan tidak dilakukan hanya ketika 2,5 bulan masa pengumpulan suara, tapi sejak detik pertama #UPRISING diluncurkan. Secara sporadis, kami berusaha meningkatkan awareness khalayak akan eksistensi Nadila. Apapun yang ia lakukan, adalah bahan bakar bagi propaganda yang dikeluarkan gerakan ini. Meski terhalang kegiatan kuliah yang padat, di waktu luangnya Nadila pun turut berupaya menggaet calon pemilih jauh sebelum pemilihan dimulai. Nadila melakukan apa yang bisa ia lakukan, membawakan lagu-lagu single JKT48 sebelumnya[1].
Propaganda merupakan hal yang penting, karena di tengah gempuran member generasi baru yang bermunculan, eksistensi Nadila dalam pembicaraan khalayak tetap perlu dipertahankan. Walau setelahnya, kami berusaha sedikit meredakan intensitasnya, sebelum khalayak bosan ketika momen pemilihan yang sesungguhnya dimulai. Tapi kami percaya, bahwa semua usaha Nadila dan pergerakan ini akan benar-benar membuahkan hasil.
Menjelang pemilihan dimulai, semua usaha yang telah disusun rapi bagai domino mulai bergerak. Satu persatu domino yang disusun pun jatuh dan menggerakan domino lainnya. Seluruh usaha dan ketulusan hati Nadila mulai menggerakan khalayak untuk datang. Yang baru mendekat, yang lama kembali, dan yang bertahan memutuskan untuk merapatkan barisan. Tanpa disadari, pintu besar yang coba dibuka Nadila seorang diri tak lagi bergeming. Entah berapa pasang tangan turut mendorong pintu tersebut sampai rasanya hanya satu dorongan lagi yang dibutuhkan.
Ya, satu dorongan lagi. One. More. Push.
Kali ini, pintu itu benar-benar terbuka. Nadila mendapatkan total sebesar 24.798 suara. Jumlah suara tertinggi sepanjang keikutsertaan Nadila di Pemilihan Member JKT48. Jumlah suara yang cukup untuk menempatkannya pada posisi ke-5. Sebuah posisi yang kami rasa benar-benar layak untuk membayar semua usaha keras yang telah dilakukan selama ini. Selain itu, pidato yang ia berikan benar-benar menggetarkan hati khalayak yang menyaksikan.
Tentu Nadila menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas capaian ini. Namun, highlight utamanya adalah, Nadila memanggil fans untuk bersatu menciptakan lingkungan yang positif bagi perkembangan adik-adiknya. Nadila memanggil fans untuk mendukung JKT48 secara keseluruhan dengan rasa bangga. Nadila juga menantang adik-adiknya untuk menjadi lebih kuat dan melampaui dirinya. Karena bagi Nadila, pencapaian ini adalah hal yang patut disyukuri namun para junior harus mampu menjadi lebih kuat dari para senior agar bisa membawa nama JKT48 dengan baik di pundak mereka.
Nad, secara pribadi gue ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Terima kasih karena tidak pernah menyerah. Terima kasih karena masih terus berjuang. Terima kasih sudah menjadi bukti nyata bahwa usaha keras itu benar-benar tidak akan mengkhianati.
“...saat ku telah berhasil
di sekitarku cuma ada ku sendiri”
Penggalan lirik Saka Agari di atas benar-benar menjadi gambaran kisah Nadila tahun ini. Di tengah kepergian satu-persatu rekan Generasi 2, Nadila masih bertahan dan berjuang. Sekarang, saat Nadila berhasil praktis hanya Rona rekan Generasi 2 yang masih ada untuk melihat dan merayakannya. Tapi Nad, kisah kita tahun ini akan jadi sebuah kenangan dan pembelajaran yang luar biasa. Karena kisah ini bukan hanya tentang Nadila ataupun Nadilavatic, ini adalah tentang pembuktian kalau usaha keras memang tidak akan mengkhianati proses.
Sekali lagi terima kasih dan selamat, Nadila!
---
Foto oleh @FerryAdro
[1] terakhir masih sampai single ke-8, mungkin kalau ada waktu bisa dilanjutkan lagi mulai single ke-9 hingga ke-21 ya, Nad. hehe
Ragu menjagaku dari menekan tombol hijau itu, namun jemari ini bergerak sendiri menyambungkan kita yang terpisah jarak entah berapa jauhnya. Wajah manismu memenuhi layar dalam genggamanku. Senyummu mengembang dan secara tak sadar membuatku mengikutinya. Suara yang lembut itu berpindah dari kamarmu menuju tempat istirahatku.
"Belum tidur?" tanyamu.
"Ah, belum kok. Kenapa?" tanyaku.
Kamu terdiam sejenak, lalu menghela nafas sejenak. Kau ingin bercerita, tentang problematika hidup yang dirasa. Aku pun mengangguk, mempersilahkan kau mulai bercerita. Satu persatu, detik demi detik hal-hal yang mengusik sanubarimu berpindah melalui gelombang suara yang hinggap di telingaku. Tidak berapa lama, kau mulai menahan tangis. Sok hebat aku menghiburmu, mengatakan bahwa tidak apa jika kau ingin menangis. Karena menurutku, itu adalah tanda bahwa kita masih manusia yang seutuhnya. Kita merasakan emosi yang mengoyak jiwa.
Dari sana, dirimu melanjutkan kata demi kata yang sempat terhenti. Sesekali tawa kecil mulai terdengar. Ah, sungguh senyumanmu itu sangatlah indah. Tuhan pasti bangga ketika dirimu lahir ke bumi. Kamu adalah perwujudan ciptaanNya yang benar-benar elok. Rasanya, tak ada kurang dari dirimu. Seperti virus, senyumanmu, tawamu, hingga bahagiamu dengan cepat menyerangku. Membuatku merasakan hangat dan tenang. Rasanya, kesulitanku tuk tidur barusan akan segera teratasi.
Kali ini aku coba bercerita. Tentang sesuatu yang terpendam, dan pernah ku ungkapkan sebelumnya. Dahulu, aku tidak mendapatkan jawaban yang tegas darimu. Saat itu kamu berpura-pura tidak mengerti apa maksud pesanku. Ya, aku tahu kamu berpura-pura, tapi aku pikir itu hanya sebuah bentuk ketidaksiapan. Sesekali kamu mencoba mengalihkan, namun aku tetap kukuh. Hingga akhirnya, aku melihatmu kembali berpura-pura.
Dengan begitu saja kau tertidur saat panggilan video ini masih terhubung. Sungguh aku tahu kau hanya berpura-pura, namun berusaha "membangunkan" dirimu pun sudah tak ada guna. Jujur, aku tidak tahu apa yang ada di benakmu. Bahkan satu detik pun aku tidak pernah bisa menembus belantara pemikiranmu. Namun satu yang aku tahu, aku sudah mengatakannya dengan jelas tanpa kiasan maupun diksi yang berbelit.
Sejelas itu juga kamu mengabaikannya. Menggantungkannya bagai pisang raja yang dijajakan di pasar. Padahal kata apapun yang kau ucap pasti aku terima. Tapi mungkin memang begitulah dirimu. Seorang sadistik yang gemar menyakiti seseorang untuk mendapatkan bahagiamu.
Mungkin memang aku seorang masokis, hanya belum mengaku saja. Karena bagaikan yoyo, seberapa keras kamu menghempaskannya ke bumi, diri ini tidak pernah lepas dari jeratmu. Terlempar jatuh lalu kembali ke tanganmu. Begitu terus berulang kali, mungkin, sampai terhibur hatimu.
Entah sudah berapa lama aku duduk di tempat ini. Di ruangan dengan jendela-jendela yang besar, memperlihatkan betapa indahnya langit hari ini. Cahaya matahari dengan terangnya turut menyinari ruangan, rasanya sangat sia-sia menyalakan lampu jika seperti ini. Meski terik matahari turut masuk ke ruangan, udaranya terasa sejuk berkat pendingin ruangan yang bekerja sangat keras di pojok-pojok ruangan. Jujur, ruangan ini sangat nyaman dan menyenangkan. Sekarang saja aku sedang duduk di sebuah sofa besar yang sangat empuk. Sebagian bahkan berkata bahwa sofa ini lebih nyaman untuk ditiduri daripada kasur yang mereka miliki di rumah. Fasilitas lain seperti konsol gim, hingga buffet yang tersedia jelas menambah kenyamananku serta orang-orang lain yang sedang berada di ruangan ini. Namun meski begitu, rasanya tidak ada seorang pun yang suka dibuat menunggu.
Apalagi jika mereka harus menunggu 7 tahun sepertiku.
Sejak pertama kali aku masuk ke tempat ini, entah sudah berapa kali aku melihat orang datang dan pergi. Wajah-wajah bahagia ketika nama mereka akhirnya dipanggil oleh petugas di ruangan sebelah, wajah-wajah ragu dari mereka yang pertama kali menginjakkan kaki di ruangan ini, hingga wajah-wajah kesal dan marah ketika sebagian dari mereka meninggalkan ruangan karena namanya tak kunjung dipanggil. Aku? Aku selalu percaya bahwa jika memang sudah tiba giliranku, pasti namaku akan tetap dipanggil. Sampai detik ini, aku terus mempercayainya. Walau terkadang, ketika ada orang yang dipanggil namanya aku terus berpikir, “apalagi yang masih kurang dariku?”
Rasa bosan dalam menunggu membuatku mencoba untuk melakukan sesuatu. Berinteraksi dan bermain bersama orang-orang yang juga menunggu. Tapi, hal itu malah membuatku semakin kesal karena ketika kami sedang asyik bermain, nama mereka dipanggil. Masih bukan aku. Beberapa yang datang setelahku bahkan sudah dipanggil lebih dulu, aku pun, mulai kesal dengan hal itu. Tidak sekali dua kali saja pikiran untuk meninggalkan ruangan ini menghampiri. Jujur, siapa yang tidak muak ketika orang yang baru datang sudah dipanggil lebih dulu sementara kau dibiarkan membusuk di ruang tunggu ini bertahun-tahun?
Namun jika aku menyerah sekarang, rasanya itu hanya membuat panitia di ruang sebelah tersenyum menang. Mereka pasti akan merasa keputusannya tidak memanggilku adalah benar. Karena, siapa juga yang suka dengan orang yang mudah menyerah? Terlebih, akan memalukan bagiku untuk pulang tanpa hasil. Tidak pernah ada dalam kamusku untuk menyerah dan mengecewakan ibu, keluarga, dan juga teman-temanku yang telah menyakinkan diriku yang tidak percaya ini, bahwa aku mampu. Bahwa aku pun, bisa menjadi lebih baik dari semua yang telah dipanggil lebih dulu.
Sebelumnya, motivasi itu saja sudah cukup membuatku tetap tenang duduk di ruangan ini. Ruangan yang, bahkan tidak ada lagi orang-orang yang masuk bersamaan denganku. Mereka sudah lebih dulu dipanggil, dan tampil memukau di bawah sorot lampu yang menyilaukan itu. Motivasi dan prinsipku untuk berjuang dan tidak mengecewakan orang yang percaya denganku, membuatku terus belajar hal baru. Aku mulai belajar dan memperlihatkan hasil belajarku. Namun tetap, perasaan ingin keluar dari ruangan ini terus menghampiri. Hingga suatu hari aku merasa sudah muak dengan ini semua. Aku pun berjalan menuju pintu keluar, diiringi tatap mata orang-orang di ruangan, juga panitia yang sepertinya mulai tersenyum penuh kemenangan. Aku memang tidak melihatnya, tapi aku bisa merasakannya.
Tepat di depan pintu aku terhenti. Telepon genggam yang kupegang berbunyi. Beberapa pesan masuk telah diterima. Aku yang penasaran pun membuka pesan-pesan yang masuk tersebut. Mataku melihat ke sekitar ruangan, menyisir semua objek yang ada, mengabaikan pandangan orang-orang lain di ruangan yang sama. Pandanganku berhenti pada sebuah benda di pojok ruangan, sebuah gitar yang rasanya hampir tidak pernah digunakan. Langkah kakiku menuntunku untuk mengambil gitar tersebut, dan alih-alih berjalan kembali ke pintu ke luar, aku berjalan menuju panitia yang menjaga pintu harapan. Pintu yang akan mengantarkan diriku ke tempat yang aku dambakan, bukan pintu yang menunjukkan bahwa diriku pecundang.
Kembali, seluruh mata tertuju kepadaku. Namun kali ini situasinya berbeda. Mereka tidak melihatku karena aku berdiri di depan pintu keluar, tapi karena aku berdiri di hadapan penjaga pintu harapan sambil memegang gitar akustik di tangan kiriku. Tanpa sedikit keraguan, dalam waktu yang singkat, gitar yang ku pegang telah berciuman dengan kepala sang penjaga. Ciuman berdarah yang membuat penjaga tersebut tak sadarkan diri. Kaki kananku melangkahi tubuhnya yang terbaring di lantai, membawaku semakin dekat dengan pintu. Tanganku meraih gagang pintu, berusaha membukanya, namun terkunci. Aku menggeledah tubuh penjaga yang tak sadarkan diri namun tidak menemukan kunci apapun. Sebuah pesan kembali aku terima. Rasanya, ini pesan yang aku nantikan.
“Dobrak pintunya sekarang, atau tidak sama sekali.”
Entah mengapa hari ini aku merasa seluruh dunia tampak begitu tenang. Segala sesuatunya mengalir begitu saja tanpa terganggu oleh hambatan apa pun. Angin yang berhembus lebih kencang dari biasanya menjadikan udara kota tidak membuat menggerutu seperti Jakarta pada hari lainnya. Namun, dalam kondisi yang sangat tenang seperti ini pun, aku masih tidak bisa tidur.
Aku sudah lupa persisnya berapa kali kucoba untuk mengistirahatkan badan hanya untuk kemudian terbangun tanpa alasan. Ragaku hanya bisa berbaring terdiam, menatap kosong langit-langit kamar yang gelap gulita. Setiap kali aku mencoba memejamkan mata, suaramu yang muncul entah darimana benar-benar menggangguku. Itu jelas hanya sebuah ilusi, tapi untuk sebuah ilusi, suaramu terdengar begitu dekat.
Segelas coklat hangat yang biasanya manjur membuatku terlelap kali ini hanya terasa bagai gaji anak magang yang hanya singgah, namun tidak berdampak apapun. Gusar dengan keadaan membuat tubuh ini bergerak meninggalkan ranjang, menuju ke arah jendela, dan membukanya. Tubuh ini terduduk di bingkai jendela, memandang jauh ke gugusan bintang yang entah berapa juta tahun cahaya jaraknya. Memandangi langit malam yang penuh bintang di Jakarta, kota dengan tingkat polusi udara tertinggi jelas terasa aneh.
Namun, rasanya anomali adalah normal sejak mata kita saling bertemu.
Karena takut mengganggu orang rumah, niat untuk berteriak pun diurungkan. Jendela yang terbuka pun kini tertutup. Dalam kegelapan, aku mencoba mencari smartphone yang rasanya tadi aku lempar ke sudut ruangan. Tanganku menemukannya, coba kunyalakan dan ternyata masih berfungsi. Jemariku menari di atas layar sentuh, mencari suatu aplikasi lalu memilih profilmu. Setelah fitur pesan terbuka, jemariku kembali menari.
I hate you.
I hate the fact that I actually miss you.
I hate the fact that your voice gave me feeling of relief.
The fact that your words heal my heart from its torturing pain.
Tell me what kind of drugs you are? You make my addiction incurable.
You make me weak, just like a paper that meets the ocean.
I can’t believe the fact that I still alive when every glance of you draws every breath away from my soul.
Jemariku berhenti. Sekumpulan bintang-bintang yang singgah membuat kamar ini tak lagi gelap gulita. Cahaya yang terpancar membuat segala kegundahan hati ini sirna tanpa jejak. Aku hanya bisa tertawa seperti orang bodoh ketika notifikasi darimu menghiasi layar smartphoneku.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Spica adalah bintang paling terang ke-15 yang pernah ditemukan oleh manusia sejak era sains modern. Spica adalah bagian dari rasi bintang Virgo yang dapat dilihat di antara Mars dan Jupiter pada langit malam yang cerah.
Seperti bintang lainnya, Spica memiliki cahaya yang sangat menyilaukan. Rasanya jika bisa melihatnya dari dekat, sudah bisa dipastikan bahwa kau tidak bisa melihat apapun lagi. Tapi layaknya hubungan manusia, jarak selalu membuat kita tidak bisa melihat bagaimana sesuatu sesungguhnya. Dua ratus enam puluh tahun cahaya adalah waktu yang diperlukan bagi umat manusia tuk menjangkaunya. Jarak yang jauh membuat cahayanya seolah tidak begitu terang. Namun, Spica bersinar sangat terang hingga temperatur permukaannya sangatlah panas. Terlalu panas hingga warna nyalanya tak lagi kuning atau merah, tapi biru. Sangat, sangat panas, dan bersinar.
Ah, rasanya deskripsi itu sama ya dengan keadaan umat manusia. Di antara kerumunan orang selalu ada manusia yang bersinar dengan terang, yang berjuang meraih impiannya, yang menolak untuk menyerah akan keadaan, yang selalu menatap ke arah depan tanpa rasa takut. Beberapa cukup beruntung karena ada yang menemukan mereka. Namun dalam narasi yang umum, bintang di antara manusia akan selalu terdiam dilumat kegelapan. Hingga akhirnya hilang tanpa jejak, tanpa seorangpun pernah menyaksikan indahnya cahaya yang mereka berikan.
Ngomong-ngomong soal bintang, beberapa malam lalu rasanya aku menemukan salah satunya. Dalam perjalanan pulang, di tengah langit malam yang cerah, secercah cahaya menarik perhatianku. Aku yang sedang berjalan ke arah lain pun berbalik arah, mengikuti cahaya yang perlahan menuntunku pada keberadaanmu. Di pojokan sana, dengan senyuman yang lebih hangat dibanding bintang biru nun jauh di sana. Dengan tatapan yang terangi gelap malam kota Jakarta.
Pada sepersekian detik kau memutuskan untuk menyerah, saat itulah semuanya akan berakhir.
Tepat di hadapanmu, kau melihat orang orang yang tadinya di belakang mulai berlari menyusulmu. Kini mereka ada di depanmu. Hatimu kesal, marah, dan tidak terima. Dengan sekuat tenaga kau terus berlari, mengejar orang orang yang ada di depanmu. Namun rasanya semua tak ada akhirnya. Entah sudah berapa kali kau berlari, berusaha mengejar sesuatu yang menurut orang lain mungkin tidak terlalu penting.
Tapi itu hal yang sangat kau inginkan, satu hal yang kau dambakan, satu hal yang mungkin jika kau dapatkan itu mati esok pun tak akan jadi masalah. Namun kau tidak bisa terus membohongi dirimu sendiri. Rasa panas yang muncul dari dalam dirimu, rasa nyeri pada kaki-kakimu, rasa bahwa jantungmu mungkin akan segera meledak jika terus kau paksakan.
Entah berapa jauh jarak hingga titik akhir, tempat kau akan mendapat hal yang kau inginkan. Kau tak lagi pedulikan orang yang melewatimu. Fokusmu hanya pada dirimu yang mencoba terus menjaga kecepatan walau akhirnya kehilangan keseimbangan dan jatuh. Penonton yang bersorak terdiam namun akhirnya menyemangatimu meski beberapa menyuruhmu tuk menyerah saja. Tapi kau tahu suara-suara itu sama sekali tidak akan membantu, kau tahu ada orang-orang yang lebih penting di garis akhir sana. Orang-orang yang membantu latihanmu, membantu persiapanmu untuk setiap perlombaan. Kau bangkit dan melanjutkan larimu.
“Usaha keras itu tak akan mengkhianati”
rasanya jargon tersebut hanya sampah yang tak ada maknanya. Karena jika hanya menilai usaha maka seharusnya kau sudah memenangkan balapan ini bahkan sebelum dimulai. Sikapmu sudah peduli setan dengan jargon tersebut. Rasa haus dan laparmu adalah satu-satunya motivasi yang tersisa. Dari sini, dari tepi lintasan yang bisa aku lakukan hanya memejamkan mata dan memekik dalam hati. Berharap bahwa Tuhan akan menguatkan kaki-kakimu hingga garis akhir nanti.
Jujur, aku bangga padamu. Bahkan ketika air matamu tersamarkan oleh keringat yang bercucuran. Ketika darah yang mengalir tertutup oleh lumpur jalanan. Kamu masih belum menyerah. Aneh, meski jarakmu dengan yang lain masih belum dekat. Kamu malah tersenyum seolah berkata
“Jika aku mati sekarang, dengan semua usaha ini, rasanya aku tidak akan pernah menyesal”
Dunia memang terkadang tak adil. Begitu banyak manusia berjuang sekuat tenaganya, sampai habis semangatnya, hingga titik akhir, tapi tetap saja tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Mungkin akhirnya dia mati, tak berbekas, tak dikenang. Memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, di usia yang dini mempelajari banyak hal baru yang belum pernah diketahui sebelumnya, mungkin, ada rasa takut bahwa semuanya akan sia-sia. Ketakutan bahwa tidak akan ada yang mengingatnya kembali setelah dirinya pergi, rasanya cukup banyak dimiliki orang. Mungkin, mungkin, termasuk kamu, Nadila.
Lupa sebenarnya kapan pertama kali terjebak dalam pandangan matamu itu, 2012? 2013? Entah lah, tapi yang paling aku ingat Nadila saat itu benar-benar bersinar. Setelahnya, alih-alih menjadi warna terindah, kamu hanya jadi gradasi[1]. Bagus sih, membuat semua terlihat menyatu, tidak kontras. Tapi seringkali terabaikan. Semuanya, bagaikan menaiki wahana papan luncur di waterpark, kau hanya akan turun tidak pernah naik. Berapa banyak junior yang sudah melewatimu berlari menuju formasi utama yang selalu kau impikan itu?
(Eh, bener gak sih, kan aku gak betul-betul tau itu mimpimu apa bukan hehe)
Dalam pandanganku, untuk bisa bersinar di kelompok yang anggotanya puluhan itu kamu harus punya satu hal yang membuatmu berbeda, Tuan Putri. Kemampuan tarik suaramu itu termasuk top-tier, kalau bukan yang terbaik, setidaknya menurut banyak orang di fandom yang aku kenal. Ingat cover-cover singkatmu dulu? Kalau Trois? Sebenarnya kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan, meski saat itu tampaknya tidak terlalu serius menjalankannya[2]. Tapi, sama seperti Friday Challenge, Trois pun hilang.
Meskipun sempat berada di peringkat 20 pemilihan, sisanya kamu tidak terlihat terlalu banyak. Tapi memang harus diakui usahamu setelahnya sangat patut diacungi jempol. 15/16 posisi dari satu setlist yang cukup sulit untuk dipelajari. Namun, kesempatan tak kunjung datang. Sampai akhirnya kamu memulai hal baru, lagi. Gitar, dan kemudian, JKT48 Acoustic. Skeptis, aku sangat skeptis. Ah, paling hanya beberapa kali lalu menghilang.
Kali ini, aku yang salah. Kalian tampil di berbagai tempat di dalam dan luar negeri, sendiri, tanpa yang lainnya meski tetap membawa nama JKT48. Dan puncaknya, Lantang kalian bersuara, tentang bisikan hati kecil yang entah berapa lama tertahan. Sepertinya, suara kalian, khususnya suaramu, terdengar dengan jelas kali ini.
Nampaknya, usia 17 benar-benar menjadi titik balikmu ya, Nad[3]. Berawal dari gitar pemberian penggemarmu[4], semuanya bermuara hingga titik ini, dimana lagu original pertama JKT48 datang dari JKT48 Acoustic, yang dimulai dari kamu, Nad. Senang, iya. Bangga? Ah aku tidak layak untuk itu. Aku hanya bisa memantaumu jauh dari Jakarta. Tidak seperti penggemarmu lainnya yang selalu ada, meneriakan namamu, melakukan hal-hal yang unik dan berbeda hanya dengan satu tujuan, menyebarkan nama Nadila Cindi Wantari.
Tapi harus aku akui, aku senang. Bahwa kamu tidak menyerah, meskipun berjalan perlahan. Bahwa kamu bisa membuat orang-orang yakin untuk tetap berjalan bersamamu. Bahwa kamu telah berani bersuara Lantang menyatakan bahwa sekarang ini Giliran Nadila untuk bersinar. Walaupun, aku tidak terlalu suka dengan tagline tersebut.
Chance no Junban tidak pernah datang begitu saja. #GiliranAku seolah hanya diucapkan oleh anak kecil yang merengek ingin menaiki wahana permainan yang baru ia lihat. Namun ketika aku lihat kembali dengan lebih jelas, anak itu penuh dengan luka. Tubuhnya kotor, mungkin habis terjatuh. Aku menyadari bahwa anak itu tidak sekedar meminta gilirannya untuk tiba, tapi ia berlari, sekuat tenaga, melewati berbagai rintangan yang menghadang, untuk bisa tiba di titik ini. Mencoba menukarkan segala hal yang telah dikumpulkannya dalam perjalanan, untuk sebuah kesempatan yang telah ia nanti bertahun lamanya.
Kalau aku yang menjaga pintu masuk wahana tersebut, sudah kuizinkan kamu masuk sejak dulu. Tapi penjaganya bukan hanya aku. Aku tidak tahu seberapa besar pengaruh luka-luka pada tubuhmu untuk meyakinkan mereka. Satu hal yang aku rasakan, cukup banyak yang mulai memikirkan untuk membiarkanmu naik, setidaknya untuk kali ini.
Aku tidak bisa menjanjikan apapun tapi akhir-akhir ini aku mendengar bahwa semakin banyak orang yang ingin kamu ada di sana. Entah nomor berapa tapi antara 1 hingga 16. Hal ini kadang membuatku tersenyum sendiri, sepertinya semua sudah berubah. Keadaannya tak lagi sama. Bukan lagi tingkah lucu yang membuat mereka berjalan bersamamu, tapi perjuangan dan kerja keras yang telah ditunjukkan. Namun terkadang meski semua terasa berubah, selalu ada hal kecil yang tetap di sana, menanti di pojokan menunggu waktunya tuk keluar kembali. Dan itu lah yang aku rasa menjadi dasar pergerakan semuanya, serta landasan tulisan ini.
Alasan semua ini, kamu, Nadila.
Apapun yang terjadi setelah ini, tetaplah ingat, bahwa kamu tetaplah center bagi mereka yang selalu meneriakan namamu.
Oh iya, maaf sebulan terlambat, tapi, selamat ulang tahun Nad!
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming