warna.
Aku tidak terlalu mengingat apa yang membuatku menepi.
Satu yang aku ingat, di tengah musim semi yang tenang, aku melihatnya di sudut taman di pojokan kota. Taman itu cukup ramai. Namun tidak banyak yang lalu lalang di sudutnya. Sedikit tersembunyi, di sisi belakang menara suar. Di sana, bunga ini tumbuh dalam tenang. Seolah tidak membutuhkan perhatian. Tanah di sekitarnya pun sedikit kering, mungkin sang penjaga taman melewatkan titik ini saat patroli dengan wadah airnya.
Di tempat itu, ia berdamai dengan waktu. Ketika khalayak mengelu-elukan berbagai bunga yang tampil di bawah lampu sorot, bunga kecil itu teguh meyakini bahwa waktu bukan sesuatu untuk dimenangkan. Saat mentari terlihat tidak adil, ia hanya terus tumbuh. Tanpa tangan yang sengaja menyiram lebih banyak, tanpa humus dengan ajian untuk membuatnya lebih berwarna. Kondisi yang membuat akarnya berkelana lebih jauh, menuju tempat yang mungkin terlalu repot bagi bunga lain untuk menjangkaunya. Tidak terhitung waktu yang berlalu ketika aku memandanginya. Sampai terasa kalau, sesuatu dalam diam mulai menarikku.
Melihatnya, aku memutuskan untuk duduk lebih dekat.
Bukan karena kasihan, apalagi sok hipster. Murni karena debaran yang berbeda. Sebuah rasa yang beresonansi, membawa tenang lalu memperlambat langkah, seolah abai dan memilih untuk ikut arus. Meski di tempat yang tak terlihat, ada upaya yang teramat keras, seperti akar yang menjalar panjang mencari sumber air. Meski di sini bukan Rhodes, ia tetap melompat tanpa sorot perhatian. Menyiarkan keberanian tanpa riuh tepuk tangan.
Hal lain yang menarik adalah, ia tidak mengenal diri yang kekal. Hari ini ia satu hal, besok ronanya akan berubah, begitu pula besoknya lagi. Namun, semuanya nyata. Tidak ada seorangpun yang mampu menyatakan dengan lantang: ini lah bentuk sejati bunga. Karena setiap kali aku merasa sudah mengenalnya, ia akan berganti, tumbuh menjadi sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan. Bukan karena tidak konsisten. Hanya satu bentuk keyakinan bahwa keindahan tidak seharusnya dikurung dalam satu warna.
Menyaksikan warna yang datang silih berganti rasanya, sudah menjadi ritual tersendiri. Hingga hari ini, ketika aku kembali lagi ke taman itu. Nuansanya masih senada meski ada hening yang menyertai. Udara yang terasa lebih berat, berbeda dari biasa. Sudut taman itu justru terasa lebih diam dari sebelumnya. Anehnya, justru terasa lebih penuh. Seolah seluruh rasa yang tertanam, semua asa yang tumbuh dalam diam, sedang berkumpul jadi satu. Bersiap untuk sesuatu yang lebih tinggi. Aku terdiam, dengan napas yang tertahan.
Seketika, arah angin berubah.
Aku tidak tahu warna apa yang akan datang setelah ini.
Tapi yang pasti, aku tidak sabar untuk melihatnya.








