Di kehidupan kedua, jangan temui aku.
Pergilah yang jauh, nona.
Ke Madagaskar, atau belilah peternakan kecil di New Zealand untuk menggembala sapi Anggora.
Pilih tempat yang jauh dari segala hal yang pernah membuatmu meragukan diri sendiri.
Tempat yang anginnya tenang, air sungainya jernih, dan pagi-paginya selalu diiringi embun di daun jeruk.
Aku ingin kau bahagia tanpa perlu menjelaskan mengapa.
Ingin kau punya pagi yang tidak tergesa,
senja yang tak harus kau maknai,
dan malam yang bisa kau lewati tanpa harus merasa kehilangan apapun.
Kau pernah bilang cita-citamu bukan rumah besar, bukan karier megah,
hanya seekor anjing tua, halaman luas, dan seseorang yang bisa diajak diam tanpa canggung.
Dan kupikir saat itu, akulah seseorang itu.
Tapi seiring waktu berjalan, diam kita mulai penuh suara yang ingin dimenangkan,
dan halaman luas itu perlahan berubah jadi jarak.
Masih ingat saat kita ke Solo?
Kau ceritakan itu semua waktu hujan turun dan kita berteduh di bawah pohon beringin dekat stasiun.
"Aku cuma pengen hidup kecil. Dekat sungai. Di antara pohon jeruk," katamu.
Aku hanya mengangguk, padahal dalam hati sudah sibuk menyusun cara bagaimana caranya kutukar mimpi-mimpiku dengan punyamu.
Tapi nyatanya, bukan itu yang kau butuhkan.
Kau butuh ruang yang tidak membuatmu merasa disempitkan.
Dan aku, aku terlalu sibuk menjadi langit, padahal yang kau butuhkan hanya teduhan.
Maka, di kehidupan kedua nanti,
aku ingin kau tidak mengenal aku.
Biar kita tak perlu lagi belajar saling memahami lewat luka.
Tak perlu lagi saling mencintai dengan cara yang saling melukai.
Biarlah kau jadi perempuan pemilik sapi anggora dan ratusan jeruk manis.
Dan aku? Mungkin aku akan membuka kedai kopi kecil di sudut kota yang tidak kau kenal.
Kita akan tetap menulis, tetap mendongeng tentang cinta.
Tapi tidak lagi saling masuk ke dalam cerita masing-masing.
di dunia ini, mencintaimu terasa seperti duduk di kursi rotan tua yang terus berderit setiap kali kau geser,
tapi tetap kau duduki karena terlalu nyaman untuk ditinggalkan.
Dan sekarang, saat akhirnya tak ada lagi ruang untuk kita duduk bersama,
saat jeruk-jeruk itu akhirnya berbuah, dan kau duduk di depan peternakanmu
ditemani angin yang pelan dan anjing tua yang tidur di kakimu,
meski hanya sebagai seseorang yang pernah hampir kau ajak pulang.
~Mata Indah Bola Pingpong