Love for The Earth: Tugas Merawat Bumi
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang peduli, penyayang, dan inventif. Ini adalah kabar gembira untuk memulai gerakan merawat bumi. Sebuah gerakan yang tepat untuk menata ulang hubungan kita dengan alam.Â
Sebab jika semua kekuatan yang melanda planet ini adalah kekuatan yang diciptakan manusia dan jika manusia adalah sumber masalah, maka kita dapat menjadi dasar untuk solusinya.
The 11th Hour, sebuah film dokumenter besutan Leonardo Dicaprio yang disutradarai oleh Leila Conners Petersen dan Nadia Conners menampilkan dengan gamblang kondisi bumi kita saat ini, seperti pemanasan global, ledakan populasi, teknologi yang mengakibatkan kerusakan ekosistem, banjir, badai, kekeringan, penggundulan hutan, pemusnahan habitat, dan mencairnya es di kutub ditampilkan semuanya.Â
Mereka mewawancarai para ilmuwan, termasuk fisikawan Stephen Hawking, praktisi lingkungan, dan pemimpin-pemimpin terkemuka seperti Mikhail Gorbachev untuk duduk perkara membahas krisis saat ini serta menawarkan solusi untuk masa depan.Â
Kendati demikian, premis utama dalam dokumenter tersebut adalah masa depan umat manusia dalam bahaya.
Di negara kita, Indonesia, kerusakan lingkungan belum sepenuhnya menjadi perhatian serius, baik pemerintah maupun masyarakat. Tahun 2019 kemarin, jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, beberapa wilayah di Indonesia melewati musim kemarau yang lebih panjang. Kemudian disusul oleh musim hujan yang menyebabkan banjir di beberapa wilayah. Namun, masyarakat baru menyadari dampak nyata kerusakan alam setelah datang bencana.
Survei YouGov-Cambridge Globalism Project 2019 mengatakan Indonesia sebagai negara paling apatis terhadap isu perubahan iklim. Masyarakat Indonesia tak percaya bahwa manusia membawa dampak terhadap perubahan iklim. Kondisi seperti ini membuat alam di Indonesia sangat memprihatinkan.
Kenyataan bahwa kita perlu mendefinisikan ulang cara kita memandang dan berinteraksi dengan alam sangatlah penting. Bagaimana kita menyebut bumi sebagai rumah yang memberi kita kehidupan, namun kita menutup mata dan telinga terhadap kerusakan alam di sekitar kita. Paus Fransiskus bukan tanpa alasan menyerukan harmonisasi hubungan manusia dengan alam. Melalui ensiklik Laudato Si, dia menyatakan bahwa kerusakan alam terjadi akibat aktivitas manusia dan butuh aksi nyata untuk mengembalikan wajah bumi yang telah rusak berabad-abad lamanya.Â
Bagaimana kita menyebut bumi sebagai rumah yang memberi kita kehidupan, namun kita menutup mata dan telinga terhadap kerusakan alam di sekitar kita.
Oleh sebab itu, gerakan merawat bumi harus berfokus pada masalah lingkungan mendasar yang berasal dari interaksi manusia yang mempengaruhi lingkungan alam. Dalam konteks ini, kewajiban merawat bumi menjadi tugas kita masing-masing. Selama kita menyebut bumi ini sebagai rumah, selama itu pula kita memiliki tanggung jawab besar untuk merawatnya. Merawat rumah yang memberi kita kehangatan saat musim dingin, rumah tempat kita menjernihkan pikiran bila menghadapi persoalan, juga tempat kita saling membagi kasih dan energi positif.Â
Tugas merawat alam membutuhkan cinta yang luar biasa. Cinta untuk bumi dan semua makhluk ciptaan akan menggerakkan kita untuk sedikit lebih peka, menjadi lebih hemat, makan makanan organik dan lokal, dan membersihkan sampah dan kekacauan lainnya. Gerakan love for the earth dapat dimulai dari lingkungan keluarga sebagai agen penting membentuk karakter manusia yang ekologis. Ini akan mendorong kita untuk mendesain ulang cara pandang kita terhadap mother nature.Â
Tugas merawat alam membutuhkan cinta yang luar biasa. Cinta untuk bumi dan semua makhluk ciptaan akan menggerakkan kita untuk sedikit lebih peka, menjadi lebih hemat, makan makanan organik dan lokal, dan membersihkan sampah dan kekacauan lainnya.
Cinta untuk Bumi akan membantu kita memulihkan gagasan tentang kebersamaan dan memaksa kita untuk bekerja sama dengan orang-orang di mana pun di planet kita yang rapuh namun tangguh ini. Dan akan bijaksana untuk mengingat kata-kata dan perbuatan Martin Luther King, Jr., yang berkata: "Cinta adalah senjata paling ampuh bagi umat manusia untuk transformasi pribadi dan sosial." Sebab tanpa menuntut, bumi telah menaburkan cinta sejak kita ada.