Tidak susah mengambil hati perempuan, mereka hanya minta diyakinkan dan diperjuangkan. Perkara masa lalumu, percayalah itu hanya akan menjadi lembaran lama yang tidak akan pernah dia buka (sekalipun dia tau seburuk apa cerita lalumu)
Cosmic Funnies

tannertan36
he wasn't even looking at me and he found me
Peter Solarz

Kiana Khansmith
todays bird

shark vs the universe
Sade Olutola
RMH

ellievsbear
NASA
Game of Thrones Daily
AnasAbdin
Xuebing Du
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
KIROKAZE

Andulka
tumblr dot com

Show & Tell
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Maldives
seen from Switzerland
seen from Germany
seen from Canada

seen from United States
seen from United States

seen from Australia

seen from Greece

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Austria

seen from Portugal
seen from Saudi Arabia

seen from Canada
seen from Canada

seen from Spain

seen from Mexico
@jenglely
Tidak susah mengambil hati perempuan, mereka hanya minta diyakinkan dan diperjuangkan. Perkara masa lalumu, percayalah itu hanya akan menjadi lembaran lama yang tidak akan pernah dia buka (sekalipun dia tau seburuk apa cerita lalumu)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Senja
Aku suka senja, segila pujangga menganggungkannya untuk memainkan kata Aku suka senja, sekeras pendaki gunung berjuang menanti kemunculannya Aku suka senja, setakjub pekerja melepas penat usai menatapnya Aku suka senja, sesetia langit selalu menerima kehadirannya Aku suka senja, sebesar aku menyukaimu dan kenangan tentang pertama kali kita bertemu Jadilah senja, yang sekalipun tidak menawan dengan warna keemasan warna pekat kelabumu akan selalu membuatku rinduâŚ
Menunggu (Ramadhan #14)
Taukah, mungkin menunggu tidak seburuk kiasannya Mungkin berat, mungkin menyebalkan melakukan sesuatu tanpa ada kepastian Mungkin melelahkan, mungkin menjemukan menghabiskan waktu untuk sesuatu yang masih ngambang antara angan dan kenyataan Tapi nyatanya menunggu tidak seburuk itu Dengan menunggu, kamu tau artinya menghargai hasil Dengan menunggu, kamu tau artinya sabar Dengan menunggu, kamu tau bahwa tidak ada yang tercipta sia-sia Dengan menunggu, kamu tau arti bahagia yang sesungguhnya Dengan menunggu, aku menemukanmu :)
Jadilah Diri Sendiri (Ramadhan #13)
Pernah dengar kiasan "Bagi dunia mungkin kamu bukan siapa-siapa, tapi bisa jadi bagi seseorang kamu adalah dunianya" Saat kamu sedang bergundah gulana memikirkan seseorang yang kamu sukai, berusaha sekuat tenaga supaya terlihat baik didepannya, padahal dia sama sekali tidak merespon sebaliknya. Mungkin dia justru sibuk melakukan hal yang sama denganmu, tapi untuk orang lain. Padahal kamu sampai lupa menjadi diri sendiri, kamu mencari tau bagaimana tipe perempuan idealnya sehingga bagaimanapun caranya kamu harus seperti itu. Kamu lupa, jika dibelahan dunia yang lain Ada seseorang yang melihatmu apa adanya, kamu membuatnya tertarik dengan dirimu yang biasa. Dia yang memperhatikanmu diam-diam mencari kesempatan yang tepat untuk menarik perhatianmu. Dia yang sudah berusaha keras untuk menjadi orang hebat untuk dirimu. Sampai kamu sadar apa yang kamu lakukan hanya membuang-buang waktu. Kamu lupa bahwa menjadi diri sendiri adalah sebaik-baik jalan untuk tetap tampil menarik. Kamu lupa bahwa hanya dengan menjadi diri sendiri kamu bisa menikmati hidup.
Wajah (Ramadhan #12)
Setiap orang mempunyai 3 wajah yang berbeda. Bukan, bukan karena dia orang munafik yang pintar menyembunyikan keburukan dibalik kebaikan. Tapi,manusia selalu punya kecenderungan untuk beradaptasi dan melindungi diri, itu sifat alamiah makhluk hidup bukan?. 3 wajah yang kumaksud tadi adalah seperti ini
Wajah pertama, adalah wajah yang dia tunjukan secara umum. Kepada orang-orang yang dia hadapi sehari-hari. Rekan kerja, teman sekolah/sekampus, orang-orang yang ditemuinya di perjalanan, orang-orang yang ditemuinya di tempat perbelanjaan, dan lainnya. Wajah ini adalah lapisan paling luar yang dimiliki manusia, wajah yang dia gunakan untuk bersosialisasi dan beradaptasi.
Wajah kedua, adalah wajah yang hanya dia tunjukkan kepada orang-orang terdekatnya. Orang-orang yang biasanya punya kesamaan dengan nya, Mungkin pemikiran, mungkin hobi, atau mungkin orang yang paling mengerti isi hati. Pada lapisan kedua ini biasanya digunakan untuk mencari tempat bertahan, dan menyalurkan gairah hidup mengenai passion yang dimiliki dan pemikiran terdalam yang tidak bisa dibuka begitu saja ditempat umum.
Wajah ketiga, adalah wajah yang hanya dia tunjukkan untuk dirinya sendiri. Inilah dia yang sebenarnya. Dia yang hanya tinggal sendiri pada ruang pribadi yang tidak terbatas. Dia dengan sekelumit pemikiran dan perasaan yang hanya dia sendiri yang boleh tau. Dia yang hanya mengerti dirinya sendiri. Lapisan yang dia gunakan untuk mempertahankan diri disaat dunia tidak lagi berpihak kepadanya.
Kita tidak pernah tau apa yang sebenarnya orang lain rasakan dan pikirkan, sekalipun kita merasa sudah sangat dekat dan tau segala hal tentangnya. Karena itu, jangan suka menilai dari apa yang nampak. Bahkan yang dia katakan kepadamu tidak semuanya menggambarkan dirinya yang sebenarnya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Renungan (2) (Ramadhan #11)
3 prinsip hidup yang harus dipegang, bagimanapun kondisi kita saat ini
1. Manusia di ciptakan untuk menjadi khalifah dibumi. Karena itu kita wajib menjaga kelestarian alam, ketentramaan dan kedamaian dalam masyarakat, dan menyayangi makhluk hidup. (Al Baqarah ayat 30)
2. Manusia di tugaskan untuk beribadah kepada Allah. Karena itu utamakan kegiatan beribadah diatas segala urusan yang lain. Sempurnakan ibadah wajib, tambah dengan yang sunnah, Insyaallah (Adz Dzariyat ayat 56)
3. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia yang lain. Karena itu mari tebar kebermanfaatan dimanapun berada. (Hadist Rasulullah)
Semoga istiqomah, mari berbenah
Angan (Ramadhan #10)
Adakalanya kita hidup dalam belenggu angan-angan Menyesalkan waktu yang telah terlewatkan Berandai-andai âjikalau saja dulu aku melakukan lebih baik mungkin hidupku tak akan seperti iniâ
Sudahlah, tak ada yang perlu disesali dari masa lalu Kesalahan seharusnya disyukuri, dengan begitu kita menyadari mana yang lebih baik Bukan berarti dahulu kita bodoh, kita hanya belum tahu dan belum belajar
Sekarang, mari kita terus menerus berbenah Memang tidak ada jaminan dimasa depan kita tidak melakukan kesalan-kesalahan lagi Tapi setidaknya kita sudah merencanakan hal-hal baik semenjak memulai
Renungan (Ramadhan #9)
Bagaimana kabar imanku hari ini ? Apa ibadahku meningkat ? Apa puasaku sempurna dari hal-hal tercela? Sudahkan aku tersenyum kepada saudaraku?
Percaya Diri (Ramadhan #8)
Bagaimana perasaanmu saat ditempa cobaan yang sulitnya bahkan tak pernah kamu bayangkan? Sedih, marah, frustasi, bahkan hingga rasanya hidup tak lagi berguna. Seringkali bertanya, kenapa harus saya yang mengalami? Padahal ada orang lain yang hidupnya selalu mudah
Aku pernah menyaksikan keduanya. Temanku ada yang menghadapi cobaan yang begitu berat. Padahal kami punya proses sama yang harus diselesaikan. Disaat jalanku begitu sederhana, dia menemui begitu banyak hambatan yang mendera. Aku sungguh salut, dia bilang tak mau menjadi lemah dan kalah. Mau marah juga keadaan tak akan berubah. Dia hanya punya satu nyawa, yang akan dia gunakan untuk berjuang semampunya.
Temanku satunya hidupnya sungguhlah indah, sepanjang yang aku tau jalannya selalu mulus. Hampir semua yang perempuan diumurku inginkan, selalu dia dapatkan. Tak sedikit teman kami yang mencaci iri.
Kalau kamu dikasih pilihan mau menjadi temanku yang nomor berapa? Pertama yang selalu dirundung coba? Atau kedua yang hidupnya terlihat sempurna?
Allah memilihmu untuk menanggung suatu ujian karena Dia tau hanya kamu yang mampu menghadapi sedangkan orang lain tidak. Allah memberimu ujian karena Dia tau kamulah yang pantas dinaikkan derajat hidupnya.
Jadi pilih yang mana?
Berjalan Bersisihan (Ramadhan #7)
Kapan terakhir kali kita bertemu? Tau-tau umur kita sudah semakin tua saja Dulu kita berjanji untuk sama-sama memperjuangkan mimpi Hingga semesta yang akan menentukan kapan kita akan kembali bertemu Kita terus berjalan tanpa tau dan menanyakan kabar masing-masing Katamu, biarkan kita fokus pada rute kita sendiri. Kalau kamu menoleh sebentar saja mungkin kamu tak akan bisa menahan diri untuk tak berbalik arah mendatangiku Kalau itu terjadi maka akan semakin lama waktu yang kita buang sia-sia
Tapi taukah, kita masih ada di bumi yang sama Biarpun tempat kita terpisah, tapi doa kita masih terbang di langit yang sama Kita berjalan beriringan, tak ada batas nyata selain apa yang sejak awal kamu buat sendiri Lantas kini kamu merasa jarak kita semakin jauh Kamu merasa kita semakin berbeda Sehingga ada saja alasan yang menghalangi untuk kembali menyatukan visi Kamu takut, bukan karena apa yang kamu capai masih kurang Tapi karena sejak awal parameter yang kamu gunakan bukanlah takaran iman.
Kalau kamu paham, kita selalu dekat bahkan saat kamu merasa tak mampu untuk sekedar menatap kearahku Kita berjalan bersisihan, tapi kamu tak pernah mencoba mengikis batasan yang kamu ciptakan
Jangan salahkan aku kalau ada yang lebih dulu maju

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Menikmati Memberi (Ramadhan #6)
Beberapa saat yang lalu saya sempat membaca tausiah yang isinya kira-kira sebagai berikut : Ramadhan adalah bulan penuh berkah, jadi sudah seharusnya diisi dengan segala hal yang menghasilkan pahala melimpah. Minimal lakukanlah beberapa sunnah ini selama menjalani hari 1. Tahajud 2. Sahur 3. Dhuha 4. Tidur siang 5. Tilawatil Qur'an 6. Tarawih 7. Sedekah Mungkin bagi sebagian orang ibadah diatas teramat mudah untuk dilakukan, terlebih bagi yang pandai mengatur waktu diantara kesibukan. Tetapi barangkali juga terasa sulit, aah saya sibuk bekerja, aah saya sibuk belajar, aah saya orang tak punya, buat makan aja susah apalagi sedekah? Sesungguhnya merasa mudah atau susah dalam beribadah itu hanya masalah keyakinan diri dan niat. Yakin kalau tugas kita sebagai manusia diciptakan untuk beribadah, yakin kalau Allah sudah menjanjikan bahwa dengan sedekah tak akan membuat mu melarat malah hartamu dilipat ganda, yakin bahwa urusan akhirat harus selalu jadi prioritas utama. Kemudian niat, niat untuk ikhlas beribadah, niat untuk mencari keridhoan-Nya. Percayalah, setelah itu beribadah akan terasa sangat ringan, membuat ketagihan malah. Mungkin bagimu tak ada yang peduli dengan hidupmu, orang-orang disekitarmu sibuk dengan urusannya sendiri sendiri. Tapi, ada orang yang akan selalu bersyukur bahwa kau dilahirkan didunia. Iya, orang yang telah kau beri sedikit uang saat kau keluar toko tadi. Lihat senyum terimakasihnya, hatinya seketika berdo'a untuk keselamatanmu. Oh betapa indahnya saling berbagi. Kita memang tidak selalu merasa banyak harta, tapi dengan berbagi rejeki kita akan selalu merasa âpunyaâ
Selamat menikmati memberi
Memaknai Jeda (Ramadhan #5)
Adakalanya kita harus berhenti dari perjalanan yang menjemukan Adakalanya kita harus menepi dari hiruk pikuk yang memusingkan Adakalanya kita harus terpejam dari binar-binar kesibukan Agar kita tau apa yang selama ini sedang diperjuangkan, apa jalan yang ditempuh masih selurus angan, apa kita tersesat ditengah jalan? Maka berhentilah sebentar, nikmati jeda agar hidupmu lebih bermakna.
Menikmati Kegagalan (Ramadhan #4)
Tulisan ini adalah sedikit curahan hati dari saya, perasaan galau yang sudah lama menghinggapi saya, mau kan kalau saya bagikan?.
Saya adalah lulusan baru atau yang biasa disebut oleh kalangan akademisi sebagai fresh graduate, lulusan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia dengan masa studi 3.5 tahun. Tak tanggung-tanggung saya meraih gelar sarjana teknik dengan predikat cumlaude. Tak lupa, selama tiga setengah tahun masa kuliah, saya adalah aktivis organisasi mulai dari tingkat jurusan hingga institut. Waaah, tak heran kan begitu saya keluar gerbang gedung acara wisuda dan kembali ke rumah orang-orang dilingkungan saya memandang saya tak hanya bangga, tetapi juga takjub.Â
âAnak pinter ini pasti langsung dapat kerjaâ, âBanyak dipanggil perusahaan gede pastiâ, âAh diakan cewek, pinter lagi, pasti lanjut S2 keluar negeriâ, Yahh itulah beberapa kalimat yang sering dilontarkan peada saya, setelah ucapan selamat tentu saja. Kalau ditanya perasaan saya, waah bukan main bangganya. Senyum puas selalu menghiasi wajah saya saat orang-orang meminta saya bercerita bagaimana proses pendidikan S1 saya sampai mendapat âsedikitâ prestasi itu. Kepercayaan diri saya pun meningkat untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Sejak memutuskan untuk lulus lebih cepat, memang saya sudah ada rencana untuk melanjutkan S2 kenegara impian saya melalui beasiswa pemerintah sana. Sembari mengerjakan skripsi, saya sudah mencicil sedikit demi sedikit persyaratan yang diajukan. Saat itu sama sekali tak ada niatan saya untuk bekerja diperusahaan, menjadi karyawan bukanlah passion saya. Orang tua saya setuju selama beasiswa yang saya akan dapat sudah menanggung keseluruhan kebutuhan hidup dan sekolah. Maklum saya bukan berasal dari keluarga kaya, buat pendidikan S1 saja saya full mengandalkan beasiswa pemerintah Indonesia yang sungguh baik hatinya. 2 minggu setelah yudisium dan mendapatkan Surat Keterangan Lulus, akhirnya saya mengirimkan berkas saya kesana. Setelah mendapat SKL teman-teman seperjuangan-lulus-3.5 pun mulai melamar pekerjaan, mengikuti jobfair, dan seminar-seminar persiapan kerja. Berhubung saat itu hasil seleksi S2 saya akan diumumkan satu bulan lagi, maka saya memutuskan untuk ikut-ikutan melamar kerja, yaa kalau beruntung bisa jadi iseng-iseng berhadiah, toh kalaupun tidak, saya mau S2, pikir saya begitu dulu.
Tibalah suatu hari saya mendapatkan email undangan untuk mengikuti psikotest salah satu perusahaan multinasional terbesar diIndonesia, catat terbesar. Tanpa pikir panjang, saya mengiyakan undangan tersebut dan bertolak kejakarta untuk mengikuti seleksi. Saat itu yang saya pikirkan adalah, pasti membanggakan kalau saya cerita dapat panggilan dari perusahaan terkenal ini. Cetek sekali. Setelah tes, pihak HRD mengatakan bahwa hasil seleksi akan diumumkan 2 minggu kemudian. Begitu tau saya ikut seleksi di perusahaan âituâ Orang tua saya  jadi berbalik arah mendorong saya untuk mengambil kesempatan bekerja terlebih dahulu. Khawatirnya nanti setelah lulus S2 masih buta akan dunia kerja, toh bisa bantu ekonomi keluarga. Ya, masuk akal juga. Dan jadilah 2 hal tersebut membingungkan saya. S2 adalah impian saya, tapi bekerja adalah pilihan yang jelas lebih masuk akal dengan kondisi saya.
Dan hari yang tidak pernah saya sangka-sangka akhirnya tiba. Hari dimana kegagalan saya datang secara bersama sama. Kemudian menjadi bertubi-tubi. Jangan tanya, setelah kegagalan pertama saya perasaan saya hancur lebur seketika. Saya kalang kabut dan akhirnya melamar kerja dimana-mana. Hari, minggu, kemudian jadi bulan berlalu begitu saja. Terhitung sudah hampir 3 bulan sejak kelulusan saya, saya masih berstatus pengangguran dengan banyak rencana dan gundah gulana. Seringkali rasa sakit nylekit begitu saja mengingat bagaimana harapan orang-orang terhadap saya, dan saya masih gini-gini aja.Saya frustasi, dan seringkali menangis sendiri menghapi kegagalan saya yang bertubi-tubi. Ibu saya, pahlawan saya, kemudian mengatakan satu hal yang benar-benar membangkitkan hidup saya kembali. âYang sabar, Allah memberimu waktu senggang bukan untuk diratapi, tetapi di syukuri. Perbaikilah imanmu selagi kamu punya waktuâ. Malam itu saya merenung, merenung yang benar-benar khusyuk dalam kegamangan. Malu rasanya, ketika saya merasa bersalah karena takut mengecewakan orang tua saya, tetapi ibu saya malah berkata sebaliknya.
Setelah itu saya merasa energi saya utuh kembali. Banyak hal yang akhirnya saya sadari. Seperti Firman Allah, âSesungguhnya dibalik kesusahan pasti ada kemudahanâ. Yang saat ini saya artikan, sesungguhnya dibalik kegagalan ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran. Kemudian saya mulai mengevalusi diri saya, kegagalan saya, dan segala macam rencana yang masih berkelumit diotak saya.Â
Puncak nya, saya akhirnya mendapat satu kesimpulan, bahwa benar Allah sedang menyadarkan diri saya (Lagi). Saya belum pantas menerima keberhasilan jika saya belum menang melawan keegoisan dan ambisi saya. Saya belum pantas duduk tenang jika iman saya masih ngambang.
Saya mulai beranda-andai, anda saya dulu diterima S2 mungkin saat ini saya sudah sibuk belajar bahasa negara orang dan lupa dengan meningkatkan jumlah hafalan Al-qurâan . Kalau saya diterima kerja diperusahaan besar, mungkin saat ini saya tidak akan terbiasa terbangun untuk sholat malam, menangis syahdu, hingga hati tenang. Mungkin jika saya tidak gagal saya tidak akan sekuat ini, tidak akan sesabar ini, dan tidak akan sedewasa ini menyikapi masalah-masalah yang saya hadapi. Saya mungkin tidak akan siap hanya untuk menerima satu kalimat cemoohan suatu hari nanti.
Saya bersyukur lagi dan lagi, Allah membiarkan saya beproses menghijrahkan diri. Saat saya sadari, tak pernah Allah melepaskan harapan dalam diri saja barang sesaatpun. Disaat saya gagal, saya merasa bodoh dan terpuruk Allah selalu mengangkat diri saya kembali. Berkat kegagalan ini, saya tau apa artinya sabar dan tawaqal. Saya bukan orang kaya yang bisa mengandalkan harta, saya juga bukan peragawan yang mengandalkan rupa, saya hanya manusia biasa yang hanya memiliki Kesabaran dan Kegigihan sebagai modal utama, haram hukumnya untuk menyerah begitu saja, selagi saya bernafas artinya Allah masih memberi saya kesempatan bukan?. Kini dalam doâa-doâa saya, saya akhirnya tau apa yang seharusnya saya panjatkan sedari awal.
Ya Allah, dimanapun Engkau nanti akan menempatkanku, apapun takdir yang Kau gariskan untukku, letakkan aku ditempat dimana disana imanku akan tumbuh semakin subur, ketaqwaanku semakin kokoh, dan menjadikanku manusia yang bermanfaat untuk agama dan umat-Mu.
Perjalananku masih panjang, tapi kenyataan bahwa rencana Allah tetap lah sebaik-baik hasil untukku menjadikanku tetap sabar dan tak lagi banyak beban pikiran.
Amiin
Aku Anak Perempuan Ibu (Ramadhan #3)
Ibu adalah rumah pertama bagi anak-anaknya. Tempat kembali pulang setelah lelah menempuh perjalanan. Ibu adalah jaminan rasa aman yang tidak pernah mengecewakan. Seringkali pula, ibu adalah buku harian hidup yang rela ditumpahi berbagai macam perasaan. Itulah gambaran singkat sosok ibukku. Wanita hebat yang selalu mendidikku dengan tauladan, bukan paksaan.Â
Ibukku mengajarkanku untuk menjadi wanita kuat, tidak manja, berani dan bisa menjaga diri sendiri. Bayangkan saja, ibukku menikah sejak usia belia. Kalau jaman sekarang mungkin diusia ibukku menikah para perempuan masih sibuk dengan romansa masa remaja dan berfoya-foya menghabiskan dana orang tua. Ibukku tidak lahir dengan sendok perak, ibukku dilahirkan ditengah keluarga biasa yang cenderung selalu kekurangan karena saking banyaknya saudara. Bisa kau mengerti kan, dari lahir ibukku sudah diajarkan untuk selalu berbagi. Setelah menikah, tak lantas membuatnya terentas dari yang namanya kesulitas ekonomi. Beruntunglah dia menikahi ayahku, yang mengajaknya berjuang bersama-sama dari titik terendah, ibukku yang hanya perempuan desa biasa diajaknya berkeliling lintas pulau bahkan sampai menyeberang kenegeri seberang untuk memperbaiki perekonomian. Biar ketika punya anak, hidupnya sudah mapan, begitu katanya.
Seumur hidup, kami adalah keluarga yang penuh kesederhanaan. Aku diajarkan untuk tetap rendah hati namun jangan sampai rendah diri. Materi bukan ukuran kualitas iman. Allah lebih sayang kepada hambanya yang merasa kesulitas biar tidak lupa diri dan selalu menghadap pasrah pada Illahi. Ibukku bukan wanita yang betah berdiam diri setelah tugas utamanya sebagai ibu dan istri selesai. Demi cita-citanya agar anaknya dapat sekolah tinggi, ibukku turut serta mengais rejeki siang dan malam. Aku bahkan tak habis pikir, terbuat dari apa tulang-tulangnya, kenapa seperti tidak pernah merasa lelah. Padahal beban pikirannya tidaklah sederhana. Bagaimana tidak, mengatur strategi untuk mencukup kebutuhan keluarga yang sebegitu banyak macamnya dengan jumlah uang yang biasa-biasa saja. Disaat para ibu-ibu lain yang waktunya utuh hanya mengurus rumah seringkali mengeluhkan tentang pengeluaran, ibukku bahkan tak sekalipun menunjukkan gurat kelelahan. Baginya dengan selalu merasa cukup maka segalanya akan berjalan lebih mudah. Itulah yang diajarkan kepadaku, jangan sekalipun mengeluh pada keadaan, selalu tundukkan kepala untuk melihat ada yang lebih menderita dari kita, tuturnya.
Ibukku memang bukan seorang yang mengenyam bangku pendidikan tinggi. Tapi ia selalu memastikan anaknya mendapatkan gelar setinggi-tingginya. Katanya, selama ibu masih bisa bernafas maka akan selalu ada kesempatan untukku terus menggali ilmu. Katanya, Jadilah orang bijak dengan sekolah, jadilah orang yang lebih luas hatinya dengan meneguk sebanyak-banyaknya wawasan. Dengan itu, kamu bisa mengangkat derajat orang tuamu.
Kau tau, sekalipun aku sudah menggenggam gelar sarjana dengan rasa bangga tak pernah bisa aku menandingi hebatnya sosok ibukku. Sampai sekarang, aku tak pernah sekuat ibukku, aku tak pernah sesabar ibukku, dan aku tak pernah pintar ibukku. Karena sampai saat ini selalu ada ibukku yang selalu aku butuhkan untuk menguatkan bahuku, menyandarkan kelelahanku, menenggelamkan tangisku. Dia hanya tersenyum, dan senyum ajaibnya selalu menyelesaikan setiap masalahku. Lihatlah, aku bahkan tak pernah percaya diri membandingkan diriku dengannya.
Aku selalu khawatir apa aku bisa menjadi wanita sehebatnya ketika aku punya anak nanti? Kemudian dia bilang, kamu adalah anak perempuan ibu. Tentu saja kamu akan menjadi seperti ibu.
Lembaran Cerita (Ramadhan #2)
Hidup kita tak ubahnya seperti lembaran cerita. Berlapis-lapis, ditumpuk, dengan halaman yang urut kemudian diakhir waktu disampul menjadi sebuah buku. Buku yang berisi perjalanan hidup yang kita lewati, cerita hidup yang kita rancang, kemudian ditengah halaman ada pula persimpangan antara harapan dan kenyataan. Tentang keputusan-keputusan yang kita buat, tentang hal-hal indah yang kita bayangkan, dan tentang rahasia-rahasia yang hanya kita yang tau.
Dimasa mendatang, perjalanan hidup kita akan menjelma menjadi deretan buku di rak-rak perpustakaan raksasa. Buku kita nantinya akan dipisahan berdasarkan jenisnya untuk memudahkan pembaca yang berniat mencari ilmu, atau sekedar membaca untuk mencari tau. Bukan berdasarkan jenis pekerjaan, bukan perbedaan gender, bukan tingkat kerupawanan, apalagi jumlah kekayaan. Bukan, bukan berdasar kriteria tersebut buku kita akan dipisahkan. Generasi mendatang, sekitar 30-40 tahun kemudian, Â mungkin sudah tidak mengenal perbedaan kasta berdasarkan sifat-sifat yang tampak dimata. Barangkali generasi mendatang adalah spesies manusia yang jauh lebih bijak dalam menghidupkan semesta. Bersiap-siaplah, apa yang akan mereka cari dari kita adalah bagaimana cara kita memperlakukan bumi saat ini, yang menentukan wujud bumi yang akan mereka tinggali nantinya.
âDan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : âSesungguhnya Aku hendak menjadikan manusia seorang khalifah dibumiâ (Q.S Al-Baqarah ayat 30)
Tidak menutup kemungkinan mereka, anak, cucu dan cicit kita akan melimpahkan kesalahan pada kita saat ini atas apa yang kita lakukan terhadap bumi kita. Tapi, bisa juga mereka akan berterimakasih, karena dengan pengalaman orang-orang dimasa lalunya, maka mereka mendapatkan cara hidup yang lebih baik.
Kita adalah penulis untuk buku kita sendiri. Bagaimana wujud sampulnya, diklasifikasi mana buku kita akan ditempatkan, semuanya bergantung dari apa yang kita tulis. Jika kau enggan menuliskan dirimu sendiri, maka bukumu hanya akan terdiri dari hasil analisa orang-orang disekelilingmu sebagai saksi hidup. Bukumu akan berupa opini bebas yang dituliskan saudara-saudaramu semaunya atau sekumpulan artikel berbentuk kliping hasil liputan mengenai dirimu yang entah sudah ditambah bumbu jenis apa oleh pewarta berita. Terlepas benar atau salah, pandangan mereka bergantung pada apa yang dapat mereka lihat dan rasakan terhadapmu.
Oleh karena itu aku menulis, dalam bentuk apapun dan fasa hidup dimanapun. Dengan begitu kau dapat membaca diriku apa adanya. Tidak perlu meraba-raba atau menerka mana yang bualan dan mana yang fakta. Bacalah tulisanku, maka kau akan sepenuhnya tahu seperti apa diriku. Semisal bukuku nanti lebih banyak diisi dengan sudut pandang orang-orang disekitarku, setidaknya kau bisa tau mana yang diriku dan mana yang hanya rekaan tentangku. Temukan aku, dilembar-lembar sajakku.
Wassalam,

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Aku dan Agamaku (Ramadhan #1)
Agama menjadi topik yang saya pilih untuk tulisan pertama saya dalam project Ramadhan 30 Tulisan ini. Tidak ada alasan khusus selain karena sebagai muslim saya tengah bersuka cita menyambut ramadhan, dan memang pemikiran tentang topik ini sudah mendengkur terlalu lama dalam kepala saya. Di Indonesia, negara saya tercinta, segala kasus dan peristiwa yang menyangkut agama, keyakinan, ketuhanan, selalu menjadi sorotan utama. Kalau masuk berita bertahannya sangat lama, dan tidak jarang peristiwa biasa menjadi meledak besar-besaran karena dilebih-lebihkan oleh para wartawan dan pembawa berita.Tidak heran, sekalipun berita atau peristiwa tersebut belum tentu terbukti kebenarannya, tetap saja laris dibaca dan tidak pernah gagal memancing emosi masyarakat. Apalagi ditengah era modern yang segalanya bisa terhubung dengan teknologi yang bernama media sosial, terimakasih untuk para penemu facebook, twitter, instagram, dan segala jenis ruang obrolan lain yang membuat laman komentar lebih berwarna karena adu mulut yang tidak kentara. Manusia memang unik, bahkan tanpa tau wujud dan rupa, asalnya dari mana, latar belakangnya apa, hanya dengan percikan berita bisa saling mengumpat, mengolok dan menjatuhkan. Media sosial menjadi media paling efektif untuk menggiring opini publik dan melancarkan berbagai misi, sehingga Indonesia yang selalu berpedoman pada Bhineka Tunggal Ika menjadi negara yang sarat akan pertikaian karena perbedaan. Saya kadang bertanya-tanya, apa seserius itu mereka membela agamanya, apa mereka betul-betul cinta dengan agamanya atau hanya membela harga dirinya? ini identitas saya, jadi tidak ada yang bisa menjatuhkannya seperti itukah?Â
Beberapa saat yang lalu saya sempat membaca tulisan yang sedang trending topic, karya remaja beranjak dewasa berusia 18 tahun berasal dari banyuwangi yang konon menjadi sosok yang begitu disoroti karena ketajaman pikiran dan keberaniannya mengungkapkan pendapat. Dalam tulisannya yang berjudul Warisan itu menyatakan bahwa masing-masing agama yang dibela mati-matian oleh penganutnya sampai mengesampingkan toleransi dan perdamaian tidak lebih dari warisan pendahulunya. Orang tua saya islam, lingkungan saya islam, karena itu saya muslim, teman saya lahir dari keluarga kristen, karena itu agamnya kristen, teman saya yang satu lagi kelahiran bali, maka agamanya hindu. Masing-masing pemeluk agama yakin dengan kebenaran agamanya, semua agama benar. Sehingga tidak sepantasnya saling menjatuhkan. Ya saya setuju dengan pendapat ini. Kita hanya makhluk kerdil, sedangkan alam semesta luasnya tiada terkira.Tapi ada satu pernyataan yang disini tidak saya setujui. Kata agama sebagai warisan menunjukkan seolah-olah manusia lahir, bertumbuh, dan hidup tanpa punya pilihan. Padalah salah satu hal yang paling membedakan manusia dengan makhluk lain adalah karena manusia diberkahi akal. Kalau saya memeluk agama saya ketika saya berusia 9 tahun karena orang tua saya itu wajar, percayalah, itu bukan kepercayaan saya tapi kepercayaan orang tua saya yang saya tiru sebagai lingkungan pertama yang membentuk saya. Tapi kemudian setelah saya masuk sekolah, mengenal lingkungan luar, bertemu lebih banyak orang, bahkan merantau kekota seberang apa pemikiran saya tetap sama? Tidak. Pemikiran saya tidak sama lagi. Ada begitu banyak fase yang membuat hidup saya naik turun, dan diambang kebingungan. Saya, mungkin juga anda, pasti pernah berpikir, siapa itu Tuhan, bagaimana rupanya, bagaiman Dia bisa menciptakan bumi seisinya bahkan ruang angkasa?, kenapa saya harus beribadah menyembahnya? apa yang berubah dari hidup saya jika saya melalaikan tugas saya sebagai makhluk beragama,- hamba Tuhan-? percayalah, saya dulu memikirkannya juga, dan sempat merasakan hati saya kosong tidak berasa. Tapi saya sangat bersyukur dengan proses yang saya lalui. Karena itu menunjukkan bahwa indera saya masih bekerja sepenuhnya. Saya merasa lebih baik terjatuh pada suatu masa yang mengubah hidup saya, dari pada sepanjang usia, saya hanya mengikuti arus yang tidak tau akan membawa saya kemuara yang mana.
Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya, karena itu adalah kemerdekaan yang dia miliki sejak dia dilahirkan. Begitu juga kebebasan memilih untuk beragama atau tidak, percaya atau ingkar, dan pada agama mana dia menentukan pilihannya. Saya dan juga anda diberi kesempatan seluas-luasnya untuk belajar, mencari kemudian menentukan mana yang harus dipercayai. Jangan sampai diusia yang sudah semakin menua, diwaktu yang tidak lagi lama kita tetap terombang-ambing ketika dihadapkan antara fakta yang disuguhkan dunia dan kepercayaan yang kita anut. Jangan sampai membuat kita menjadi manusia yang tidak berkualitas karena tidak punya pendirian. Jadilah ketika âSaya berbicara A itu karena saya mengetahui dan mempercayai sepenuhnya apa yang saya utarakanâ.Â
Benar atau salah adalah fenomena relativitas  tentang apa yang kita percayai, dan pahamilah bahwa kepercayaan adalah hak yang dimiliki semua manusia. Kita semua sudah pasti tahu, bahwa menjajah hak orang lain adalah suatu perbuatan dzalim dan merusak rasa kemanusiaan. Sesungguhnya kedamaian akan tercipta bukan ketika kita berbicara dan mendebatkan benar atau salah, tetapi dengan berpegang teguh bahwa kita memiliki hak dan adalah kewajiban bagi kita untuk menghargai hak orang lain merupakan hal yang sepenuhnya bisa mengendalikan diri kita dari perbuatan yang bersifat merusak.Â
Hidup kita ini tak ubahnya seperti roda yang berputar bukan, kita dibawa maju dengan mengubah posisi dari atas kebawah dan demikian seterusnya. Manusia memang terkadang suka berlebihan, berlebihan senangnya ketika diberi berkah, atau berlebihan depresinya ketika diberi musibah. Saya juga terkadang begitu (ah, manusiawi), tetapi saya percaya sepenuhnya bahwa adanya suka atau duka yang diberikan kepada saya adalah cara Tuhan menguji kualitas diri saya. Bagaimana cara saya menghadapi konflik yang sedang menerka saya adalah cara Tuhan menunjukkan kepada saya manusia macam apa saya sebenarnya. Jangan menyalahkan keadaan, tanyakan kembali kepada diri anda. Setelah apa yang saya lalui, setelah apa yang saya yakini, masih sama kah saya?. Saya percaya, ketika saya bertahan pada keyakinan saya, Tuhan tidak pernah melepaskan tangan-Nya dari saya. Tuhan membiarkan saya tetap bertahan dengan tetap menghidupkan harapan pada diri saya.
Sekali lagi, hidup saya dan anda sama seperti bumi yang berputar, Terus menerus berotasi menuju bawah dan atas. Segala macam emosi pernah dan pasti kita rasakan, Lantas kenapa kita menyerah, jika semua yang kita alami hanya berhenti kepada kalimat âSemua ini hanyalah sesuatu yang pasti berlaluâ.
Alhamdulillah, semoga bermanfaat
Jangan malas, kamu masih mahasiswa!
Hasil bercakap-cakap dengan beberapa teman yang sedang mengalami kejenuhan
A: sebenarnya apasih esensinya berorganisasi? Dapat duit enggak, dapat capek iya. Udah fokus belajar terbelah, apa berorganisasi cuma sekedar trend aja dikalangan collager?
B: Lebih dari itu semua, menurutku esensi dari berorganisasi adalah kamu akan mengerti bagaimana seharusnya berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Sumpah deh, kalau kamu calon engineer, ngurusin mesin itu jauh lebih mudah dari pada ngurusin orang lain. Terlebih jika kamu seorang leader, kamu tidak hanya harus bisa jadi panutan tapi juga pelindung. Sekarang aku tanya, apa yang kamu lakukan sebagai pemimpin jika anggotamu malas ikut rapat, tugas tidak dikerjakan, mau marah-marah toh mereka disini nggak dibayar??
A: __'
B: dalam berinteraksi dengan orang lain kamu tidak hanya harus mengenal anggotamu yang lain, tapi juga dirimu sendiri.
A: Lalu kenapa banyak anggotamu yang akhirnya mutung ditengah jalan, atau mbambet istilahnya?
B: Kita berbicara mengenai kesadaran, organisasi adalah tempat belajar. Kalau kelasnya mahasiswa aja udah malas-malasan ngerjain tugasnya padahal dia nggak akan dimarahi sekalipun dia merugikan orang lain, bagaimana nanti didunia kerja yang ketika kamu ngantuk saat rapat setelah lembur semalaman kamu bakal dilempari SP 1??
Thinking it over, percuma kalau kamu capek tapi kamu tidak mendapat pelajaran apapun. Setidaknya buat perubahan dari dirimu sendiri.