Lagi ngapain?
"Sarah lagi ngapain ya, di sana?"
"Hm... Mungkin lagi main sepeda sama Bapak."
"Iya, kayaknya gitu. I hope they are happy up there."
đŞź

Janaina Medeiros

PR's Tumblrdome
DEAR READER
hello vonnie
NASA


Product Placement
styofa doing anything

blake kathryn

Kiana Khansmith
Today's Document
trying on a metaphor

titsay

taylor price
RMH

pixel skylines

seen from United States
seen from United States

seen from TĂźrkiye
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Italy

seen from Brazil

seen from United Arab Emirates
seen from United States

seen from Romania

seen from United States
seen from Poland

seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
@themissfits
Lagi ngapain?
"Sarah lagi ngapain ya, di sana?"
"Hm... Mungkin lagi main sepeda sama Bapak."
"Iya, kayaknya gitu. I hope they are happy up there."

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Bahagia yang Penuh dan Sedih
Gue rasanya ingin cerita tentang pengalaman baru gue, teman baru gue, dan cerita-cerita baru yang gue dapatkan. Tapi, entah kenapa rasanya aneh. Bahagia dan penuh tapi juga sedih. Adia bilang, ini namanya post-holiday blues. Mungkin ia benar.
Weekend lalu, gue untuk pertama kalinya naik gunung di Indonesia. Gunung Papandayan. Cerita tentang bagaimana akhirnya gue bisa naik gunung ini lumayan panjang, walau sebenarnya keputusan ini dibuat secara singkat.
Semua bermula dengan perasaan lelah yang memuncak. Gue bahkan sempat bilang kepada mahasiswa gue untuk tidak menghubungi gue dulu karena gue sudah berada pada jurang episode depresi. Pada waktu itu, ada hari ketika gue hanya bergulung selimut di kasur dan menangis. Ada hari ketika gue berharap terjadi sesuatu yang buruk sehingga gue tidak perlu pergi ke kantor. Ada hari ketika gue enggan sekali untuk merawat chronic wound Uda. Ada hari-hari ketika jurnal harian gue berisi kata-kata yang menggambarkan emosi negatif. Gue sadar bahwa sudah saatnya gue mengambil jeda. Sudah saatnya gue untuk berhenti sejenak.
Entah bagaimana semesta bekerja, muncul iklan open trip ke Gunung Papandayan di Instagram gue. Trip ini diselenggarakan oleh penyedia tur bernama Alien Trip. Organisasi ini masih baru, trip ke Papandayan ini adalah debut mereka. Gue pun mengirim DM dan bertanya tentang trip ini sekaligus mempelajari background orang-orang yang membangun trip ini. Namanya Erz dan Erc.
Penelusuran gue (atau proses stalking gue) menyimpulkan bahwa dua orang ini adalah manusia beneran dan sepertinya punya latar belakang yang baik. Erz adalah alumni Geologi ITB dan Erc adalah orang Malaysia lulusan University of Malaya. Seems legit. Gue memutuskan untuk mendaftar trip ini.
Awalnya, gue ingin pergi sendiri. Karena gue ingin break sejenak dari semua identitas gue. Gue ingin kembali menjadi Fitri aja, bukan Ibu Fitri, bukan Dr Fitri, bukan Fitri istrinya Uda, dan bukan sebagai Fitri-fitri yang lain. Namun, Uda merasa keberatan jika dia harus melihat gue pergi sendirian ke gunung, bersama dengan orang-orang yang baru akan gue temui untuk pertama kalinya. Kekhawatirannya masuk akal. Gue sendiri juga sadar bahwa keputusan ini lumayan berisiko. Bagaimana kalau ternyata Erz dan Erc adalah serial killer? Ya udah, akhirnya Uda gue ajak turut serta ke Papandayan.
Gue mendaftar pada H-7 dari trip dilaksanakan. Setelah berpikir selama kurang lebih seminggu. Little did I know, Uda dan gue rupanya adalah pelanggan pertama Erz dan Erc, dan hanya kami yang mendaftar open trip ini. Terus juga, ternyata Eric sedang pulang kampung ke Kuala Lumpur. Jadi, hanya Erz yang akan bersama dengan kami dalam trip ini. Erz kemudian mengajak Faj untuk ikut dalam trip ini.
Gue tidak berharap banyak tadinya. Goals gue hanya dua: pergi naik gunung dan bertemu dengan orang baru. Rupanya, Semesta sangat murah hati dan memberikan gue banyak hal baru. Gue melakukan hal baru untuk pertama kalinya, yaitu naik Gunung Papandayan, gue punya teman-teman baru yang ternyata kami punya mutual friends, yang ternyata nyambung dan asik, yang ternyata memberikan gue banyak perspektif baru dalam hidup ini.
Mungkin ini sebabnya gue merasa bahagia tapi sedih. Semua hal yang gue lalui bersama tiga cowok ini over the weekend terasa sangat menyenangkan sehingga gue sedih bahwa momen ini sudah berlalu.
Semoga akan ada momen bahagia berikutnya bersama mereka. Mungkin ke Prau?
Sarah
Untukmu yang hadir dengan penuh cerita Lalu pergi dengan segenap kisah
Ada angan yang aku harap jadi nyata Namun takdir bilang berbeda
Hadirmu yang sesaat abadi dalam ingatan Kamu lah bahagia sekaligus trauma Kamu lah alfa yang telalu cepat sampai pada omega Kamu, Sebuah paradoks kehidupan yang abadi membentuk enigma
2025
Itâs 2025 already.
Wow.
Sudah 15 tahun lebih gue menulis blog.
Kalau dulu mungkin hampir setiap hari gue menulis, sekarang kayaknya cuma beberapa kali aja dalam setahun. Dulu, menulis itu menjadi pelarian gue. Perjalanan ke dalam diri sendiri. Dulu, rupanya gue punya banyak sekali trauma yang akhirnya membuat gue tidak pandai berteman. Kalau orang lain bisa punya geng yang bertahun-tahun awet, gue nggak. Akhirnya, kebutuhan bercerita dan didengarkan oleh manusia lain itu tercurahkan melalui menulis.
Seiring gue berteman dengan trauma gue yang sepertinya nambah terus, gue belajar untuk bisa terbuka dan cerita ke orang lain. Manusia lain. Pelan-pelan, gue mulai punya beberapa orang yang gue sebut sebagai teman. Orang yang mengerti gue dan bisa hadir ketika gue membutuhkan sosoknya. Pun gue juga sepertinya mulai mahir untuk menjadi teman yang baik.
Anyway, ngomongin trauma, 2025 ini dibuka dengan gue menjalani proses IVF. We suffer from male-factor infertility, jadi IVF adalah cara paling masuk akal untuk mencoba punya anak. Tapi, rupanya pengalaman itu harus berakhir dengan tragis. Gue miscarriage dengan cara yang luar biasa. Perdarahan. Pagi hari ketika gue perdarahan itu, adalah kali pertama dalam hidup gue melihat darah mengalir deras keluar dari tubuh gue. Traumatik abis. Bagi gue, kehilangan anak di umur lima minggu tidak lebih berat daripada melihat kamar mandi seperti di hari Idul Adha. Kehilangan, adalah bagian dari takdir yang harus diterima. Insyaallah gue sepenuhnya sudah ikhlas.
Dua minggu setelah gue miscarriage, Uda kena fistula dan harus operasi dan recovery-nya ternyata panjang. Butuh waktu 4 â 6 minggu untuk luka bekas operasinya betul-betul membaik. Rasanya capek banget. Gue masih suka bengong nggak jelas, atau kadang-kadang menangis di kamar mandi kalau ingat episode gue bleeding, lalu sekarang gue harus pull myself together karena gue harus mengurus Uda. Asli, rasanya kayak pengen bilang, ya Allah, boleh topan dulu ngga? Soalnya aku capek banget.
Kalau sudah begini, gue jadi ingat masa lalu gue. Momen di mana gue harus terus-terusan mengalah, harus nunggu lebih lama daripada orang lain. Gue kembali bertanya, giliran aku, kapan? Padahal gue juga udah tau bahwa setiap orang itu punya timeline-nya masing-masing, punya timing-nya masing-masing. Banyak hal dalam hidup gue yang kejadiannya agak terlambat dibanding orang lain, yang akhirnya gue pahami kenapa itu semua harus terjadi at that exact time, terlambat dibanding orang lain. Sekarang, gue juga masih bertanya, kapan giliran aku happy lagi? Mungkin besok, mungkin lusa. Tapi yang pasti, gue sudah semakin paham bahwa nanti ini semua juga lewat; dan sambil menunggu ini semua lewat, gue bisa mencipta bahagia gue sendiri.
Kalau sebelumnya gue selalu punya target yang ingin gue capai di tiap tahun, sekarang gue lebih woles. Ada hal-hal yang perlu gue penuhi tahun ini, career wise. Selebihnya, gue mau slow down and see kemana takdir Allah membawa gue melangkah.
Anyway, di tahun 2025 ini, setelah miscarriage, gue mungkin akan mencoba IVF lagi. Semoga yang kali kedua ini berhasil. Bismillah. Di tahun 2025 ini gue dan Uda juga sedang mengusahakan tempat tinggal permanen. Untuk pertama kalinya kami akan berutang ke bank. Rasanya tentu saja deg-degan. Namun, ada perasaan bangga juga. Ternyata aku mampu terus berjalan, hingga akhirnya berada di titik ini. Hal lain yang juga ingin gue lakukan adalah, pergi umroh bersama Uda. Alhamdulillah di tahun sebelumnya kami udah buka tabungan haji dan mendaftar haji. Rasanya tahun ini pengen latihan haji melalui umroh. Mudah-mudahan Allah memberikan kesempatan.
The Job
I am in a situation which requires me to make quite a big decision. I used to consult my father with this kind of situation. We would discuss the pro-cons and make a rational decision after considering many things.
Well, he's no longer here and somehow I feel lost.
Funny, isn't it? I was the one signing his DNR consent. I made that huge and significant decision on behalf of himself. Still, I can't make a decision for myself.
I asked a few people and somehow their suggestion doesn't resonate with me. It was all logical and make sense but it just doesn't feel right.
So I call someone who have known me since I was 17. She said something nobody has ever said regarding this matter. She said, "Ask yourself, do you want the job? Is it the kind of job that will bring you closer to your career goal?"
She articulated the same question/advice I have been giving to my students. I cried a little. Well, sometimes you need to hear your own advice.
"I'm not sure," I replied while holding back my tears.
"Okay, let me be frank. That job is not for you. Don't take that job. You may seem tough, but you are a very empathetic person and fragile. Taking that job will break you. It will bring you more stress than joy. You know, I still remember the stairwell incident."
Damn.... the stairwell incident.
"Well, it's different."
"Darling, it's not. The stairwell episode is going to happen again if you take that job."
"But D said that it will look good on my CV."
"Well, it does look good on a CV. But taking that job is not the only way to have your career progressed. There are other things you can do, things that you love and care about. Things that will bring you more happiness rather than miserable days and burnouts."
I was sobbing a little, there was a long awkward pause between us.
She broke the silence first. "Remember, always put yourself first."
"Copy that. Thanks, Mam⌠I think I have the answer."

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Aku dan para Master.
Sudah Lulus
Di tahun akademik ini, ada tiga mahasiswa bimbingan gue yang udah lulus. Rasanya lega banget, haha. Kalau mahasiswa-mahasiswa itu tau, sebenernya gue deg-degan dan cemas luar biasa. Malam hari sebelum mereka sidang, gue susah tidur. Di kepala gue tiba-tiba muncul pikiran yang absurd dan suka gak masuk akal. Ada banyak what if yang mengemuka. Tapi balik lagi ya, ada hal-hal yang bisa gue kontrol, ada yang nggak. Gue suka bilang ke diri gue, gue udah cukup hadir sebagai advisor. Mahasiswa ini juga sudah berupaya keras. Dan pada akhirnya, gue percaya bahwa Semesta akan memberikan nasib terbaik. You know, what goes around comes back around. Kalau kita udah berusaha dengan baik, berprasangka baik, nanti ujungnya juga Inshaallah baik.
Tapi ternyata yaaah, suka ada aja kejutannya! Tapi gue bangga karena mahasiswa-mahasiswa ini bisa melewati drama-drama kejutan ini dengan baik. Drama yang menyenangkan, drama yang membangongkan, semoga keduanya jadi lesson learned yang baik.
Alhamdulillah ala kulli hal. All praise to Allah, for whatever happens.
Dua Lagi Ibu Fitri
Suatu hari, ada mahasiswa gue cerita.
"Semester empat ini sudah menguji saya. Dosen yang surprising, tugas dan kuliah yang padat di belakang, temen-temen yang keliatan lah bangsatnya, hahaha."
"Yah, begitu lah. Namanya juga kehidupan. Aya-aya wae," respon gue.
"Tapi, selama masih ada dosen macam Uni, semua akan baik-baik aja."
Diantara semua mahasiswa, hanya dia yang kemudian memanggil gue Uni. Sebab gue memanggil suami gue dengan Uda.
"Waduh, terharu saya jadinya." Siapa yang tiba-tiba ngupas bawang ini?!
"Temen-temen juga bilang gitu, 'Coba ada dua lagi dosen macam Bu Fitri.'"
BRB cirambay.
Komentar yang kayak gini yang somehow keep me going. Gue nggak butuh validasi, tetapi mendengar komentar positif seperti itu membuat gue merasa terenyuh, terharu, dan bersyukur. Gue jadi tahu bahwa, setidaknya, gue bisa memberikan kesan yang baik untuk mahasiswa gue.
These past days have been too much. I have some to-do-lists which I have not been able to cross out. The new semester is about to start, and I am not excited about that. Right now, I am a moss in a river. Attached to a boulder and move according to the current. I wonder what the future holds. I hope it is full of nice surprises. I can't wait to be detached.
Ada seorang mahasiswa kirim message kayak gini ke gue:
âKadang aku liat status Ibu misuh-misuh, tapi sejauh yang aku terima, aku ngerasa Bu Fitri itu tuluuus banget ngajar kita. âKok bisa yaa?â Dan aku berterima kasih banget atas itu.â
Mau nangis sih, bacanya. Gue selalu bilang bahwa gue enjoy teaching and I care (sometimes too much) about my students. Tetapi, setelah dijalani selama setahun ini, itâs hard for me to see myself within academia. There are just too many things that do not make sense for me. Sometimes, even going to the office feels like torture. I have to put extra effort to face my reality. Every. Single. Day.
And then came that random message from one of my students.
And it somehow lifted my spirit.
I know my efforts were not for nothing.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
A start of something new
Today I started writing a book. Let see how it is turn out. Finger-crossed! Bismillah.
Don't die just yet, they haven't graduated yet.
Since my dad passed away three years ago, I thought about dying more often as I learned that death is liberating. Whenever I feel overwhelmed, or whenever I feel like life is just too much, I think about dying. Like, hey, what if I just⌠died?
I know that this is my mind messing up with myself. I know that being dead will not solve anything and killing myself is a huge and painful task. So, to deal with this nonsense experience, I usually take a break from everything, and I will go on a long walk on a treadmill. I think about what are the things I want to do before I breathe my last air. I think about the people who need my help and whom I want to help. Often times, my memory will recall my advisees, the students I have been supervising.
They are all part-time graduate students except one student. They are constantly juggling between taking care of their family, working, and finishing their studies. Writing a thesis while working 9 to 5 is hard. Even one of my students spend their weekend at the office because he works in an audit division, and he still manage to write that damn thesis! Thinking about how they have come so far with countless obstacles hindering their way to graduation, makes me realize that I cannot die just yet, they havenât graduated and I want to see them graduating.
I have been questioning my life all over again.
I feel lost.
I donât know what to do.
It feels like nothing worked out and I am just a fraud.
However, I know that this is just my mind messing up with myself. I have been through this many times and eventually I will turn up okay.
I have been enjoying teaching so far at the cost of my research. I have been focusing my resources for my house project at the cost of my personal development. Deep down in my mind, I know that I can't have it all at once. It takes time and patience for things to work out. One step at a time.
âŚand I miss Carbondale. I want to go back and live there and enjoy all the privileges from SIU.
Relapse
Gue inget ketika pertama kalinya gue mengalami relapse. Waktu itu memang rasanya lagi berat banget kehidupan. Gue lagi mau proposal defense, terus galau soal job market, dan gue sendirian waktu itu. Cuaca juga mulai gloomy di Carbondale, musim gugur sedang perlahan berganti menjadi musim dingin. Di saat yang bersamaan, terjadi sesuatu yang mentrigger gue untuk inget lagi hal-hal yang ingin gue lupakan.
Gue menangis dua hari.
Kalau dipikir-pikir, rasanya terdengar bodoh. Tapi, ya itu yang terjadi.
Untungnya, waktu itu gue masih bisa berpikir rasional. Gue menghubungi seorang psikolog yang kebetulan berada di timezone yang sama dengan gue dan bikin appointment untuk konseling.
Gue inget, di sesi itu dia bilang, apa yang gue alami itu namanya trauma relapse. Dia bilang, bahwa trauma itu nggak bisa hilang dari kehidupan gue dan akan gue bawa terus sampai nanti. Seperti bekas luka fisik yang sampai kapan pun bekas lukanya akan selalu ada dan bisa kita lihat di permukaan kulit. Jadi, di masa depan, kalau trigger-nya muncul, ya ada kemungkinan gue bakal relapse lagi. Karena trauma itu telah menjadi bagian dari diri gue.
Di sesi itu, Konselor gue bilang, kalau sedih, ya menangis aja. Menangis sampai puas. Setelah itu, berjalan. Bergerak. Dia bertanya, "Kamu mau nangis sampai kapan?"
Gue bilang, "Sampai besok."
"Oke, sampe besok ya." Dan keesokan harinya, gue bangun tidur dengan muka sembab, lalu gue memutuskan untuk berjalan keliling hutan kampus. Gue masih ingat, waktu itu daun-daun sudah mulai berwarna coklat dan angin terasa dingin, tetapi cuaca cerah dan matahari masih terasa hangat. Gue berjalan keliling hutan sambil menahan tangis, tapi gagal. Akhirnya gue berjalan kaki sambil menangis.
Pada hari-hari berikutnya, gue mati-matian berusaha untuk bisa produktif. Gue berupaya keras untuk menggerakkan kemampuan kognitif gue untuk berpikir bahwa gue harus bisa menolong diri sendiri dari pinggir jurang depresi ini. Di periode gue menangis berhari-hari itu, gue juga tidak mandi, tidak makan dan tidak ibadah. Akhirnya, gue membuat to-do-list yang super detail. Memasukkan aktivitas yang bagi orang normal bisa dikerjakan secara otomatis, semisal bangun pagi, solat subuh, mandi dan gosok gigi. Pada waktu itu, yang ada dipikiran gue adalah episode-episode kehidupan yang ingin gue lupakan. Gue tidak punya energi bahkan untuk makan. Selanjutnya gue menjalani kehidupan sesuai to-do-list itu. Kalau tidak, sudah pasti gue akan masuk lebih dalam ke jurang depresi, dan makin susah lagi untuk keluar.
Sejak kejadian itu, kalau dihitung, gue sudah tiga kali mengalami relapse. Tapi, relapse yang berikutnya udah nggak selebay yang pertama. Periode menangis gue udah lebih singkat, lol. Gue juga sudah mulai bisa mengenali bahwa yang sedang terjadi adalah relapse, jadi nanti juga lewat dan gue akan normal lagi setelah gue selesai menangis. Kalau episode traumatik itu terputar kembali dalam bisokop memori, gue mengucapkan mantra, bahwa itu semua sudah lewat, and I am bigger than every single trauma I've been through.
Jatuh cinta yang utuh
Semalem gue nonton film Jatuh Cinta Seperti di Film-film. Kalau buat sebagian orang film romcom ini beneran romantis dan lucu, buat gue film ini lebih dari itu. Film ini lucu, romantisâdengan tipe romansa yang gue bisa relate banget gitu di umur 30an ini. Tetapi, gue tidak menduga ternyata film ini juga mengandung "trigger warning" buat gue.
Pertama, karena salah satu premis cerita dalam film ini menggambarkan tentang bagaimana orang yang berduka. Film âJASEFâ ini hitam-putih, buat ngasih tau kalau orang yang berduka itu ya kayak gitu, kehilangan warna kehidupan. Di film juga ada satu dialog yang bilang bahwa, yang paling berat dari berduka itu adalah fakta bahwa kehidupan harus terus berjalan. Padahal, kita lagi nggak pengen jalanâatau bahkan nggak bisa jalan. Di bagian ini, gue relate banget karena gue mengalami kedukaan yang mirip paska Bokap meninggal.
Kedua, ini yang takes a toll on me, sih. Gue jadi reliving salah satu trauma besar dalam hidup gue. Setelah nonton film JASEF itu, gue jadi berharap seandainya hidup bisa direwind, gue pengen punya kesempatan untuk merasakan jatuh cinta yang utuh. Jatuh cinta yang nggak membuat gue berhenti menulis puisi cinta. Jatuh cinta yang nggak bikin gue terbangun tiba-tiba di tengah malam dengan perasaan sedih dan hancur yang teramat sangat. Jatuh cinta yang nggak bikin gue tiba-tiba nangis sendiri. Jatuh cinta yang benar-benar utuh, yang isinya murni cinta dan kasih sayang, bukan luka dan trauma mendalam. Tapi, lagi-lagi, ini kehidupan nyata. Seperti kata Hana di film JASEF, romansa ini hanya ada di kepala gue doang.
Pada akhirnya, seperti key takeaway film JASEF buat gue, kehidupan itu ya terus berjalan, terlepas dari apapun kondisi kita. Life doesnât stop for anybody. Tombol rewind emang nggak ada di kehidupan nyata, tapi kita punya kesempatan buat bikin sekuel cerita hidup kita. Mungkin cerita jatuh cinta gue saat ini emang nggak romantis dan lucu kayak di film-film, tapi, semoga di sekuel berikutnya, gue bisa merasakan jatuh cinta yang utuh. Kayak di film-film. Â

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Closure
I have just finished watching Gadis Kretek (Cigarette Girl) series on Netflix.
Boy, it was really emotional bending.
The series is about a girl named Dasiyah who fell in love with a stranger named Soeraja. The narrative begins in the present, where Soeraja finds himself on his deathbed, suddenly longing for Jeng Yah, a name that refers to Dasiyah. This leads one of his sons, Lebas to embark on a quest to find her.
This romantic series intricately weaves its plot with the historical context of tobacco industries back in the 1960s as well as the 1965 political PKI incident. I enjoyed watching the series as itâs not cringe, or hopeless romantic. Instead, it presents a beautifully crafted story that is both touching and profound.
I will not talk much into detail, but the rest of this post contains a little bit of spoiler.
So, Soeraja was supposed to marry Dasiyah. However, just days before their wedding, Dasiyah and her father were taken hostage by the paramilitary. Tragically, her father died in captivity, while Dasiyah went missing for two years. One day, Dasiyah was released. I thought Dasiyah would finally reunite with Soeraja, but he had already become engaged with another girl. Dasiyah came to their wedding and asked Soeraja about his feelings one more time, but he did not respond. Dasiyah then found comfort from Seno, the one who has been helping her family since the 1965 incident.
Dasiyah and Soeraja never met again until one day, when Soeraja saw her walking on the station platform from the train window. They agreed to start all over again and planned to meet at the station one week later. Soeraja came to the station as planned, but Dasiyah never showed up, no matter how long he waited. On the day when they were supposed to meet, Dasiyah fell ill and died the following week.
In the present time, Soeraja finally met Arum, Dasiyahâs daughter from her marriage to Seno. Arum and Lebas recounted Dasiyahâs story to Soeraja, giving him some closure about his long-lost love.
I wish everyone could find such closure as well.
I wish we could have such closure.
Thank you for keep on living.
During my teenage years, I used to write in a diary. I think I had about seven or eight books before I switched to password protected Microsoft Word files. I burnt all those books probably in 2010 or so. I do not remember why I burnt the bookâI mean, I could just shred them and toss them out in the dumpster. But, at that time, I remember I felt that I had enough. I decided to put everything behind me, and to forget about the things that wrote. Now trying to make sense of what I did, burning the books to ashes leaves no trace and no chances for other people to read what I wrote.
Anyway, lately I have been thinking about death. There are moments when I felt tired with everything that I just wanted to die. My counselor once said that people who eventually kill themselves are those who do not have a way out. She said in one of our sessions, âAlways think of a way out, youâre a smart person. Think of a way out. Think of something to do tomorrow.â
I have that feeling again this morning. That I am just tired of everything I want to die. Then I remembered the first time I thought about dying. It was when I was in high school. I wrote that in one of the diaries that I burnt.
What if I die? What if I just disappeared from this world? What would my parents do? Will my family miss me? Will my friends miss me? Will they cry? Perhaps I will make it into the headline: A Teenage Girl Found Dead.
Certainly writing have been helping me to keep on living.
Iâm glad I didnât die.
Iâm glad that even though I had no access to mental health professionals, I still managed to find a way out.
I will keep on finding a way out.
I hope you are, too.