Suatu Petang di Kemayoran
Lewat kewajaran, orang-orang selalu memulai hari pada pagi, namun di SDN 02 Petang Kemayoran, hari dimulai justru ketika sore akan diawali dalam terik matahari. Waktu itu, kamis, 24 april 2014, ada penanggalan yang tak biasa.
Kamis itu adalah hari untuk Kelas Inspirasi, sebuah dukungan dan gerakan pendidikan di republik ini yang mungkin tak pernah menyelesaikan masalahnya sendiri. Sepuluh pengajar "dadakan" dari berbagai profesi akan memandu perjalanan ke masa depan para siswa. Panduan sehari tentang banyaknya pilihan pekerjaan selain dokter dan pilot -pilihan lazim anak sekolah dasar-.
Rio tidak pernah membayangkan wajahnya akan dicoret dan digambar simbol Batman di sekitar matanya, bahkan ia baru mengenal profesi Make Up Artist yang dipaparkan oleh Nurul, relawan pengajar Kelas Inspirasi Jakarta. Dalam akhir kelas itu, anak-anak barangkali masih membayangkan dan menimbang "pekerjaan aneh" itu akan menjadi pilihan mereka.
Selain Nurul masih ada Akbar, atlet softball yang mempraktikkan bagaimana olah raga itu menjadi begitu mengasyikkan. Mereka yang akrab dengan permainan kasti harus memodivikasi teknis juga jalan pikirannya, bahwa olah raga itu tidak hanya melelahkan namun ada penghargaan berupa point.
Lain cerita untuk Rie, seorang backpacker yang menjelaskan ada dunia yang lebih beragam di luar sana. Anak-anak itu diajak bermimpi dan membayangkan budaya asing yang akan mereka temui bukanlah hal baru, melainkan cara lain berkenalan dengan ciptaan Tuhan yang lain.
Petang sebentar lagi berakhir. Tugas mengajar sehari para relawan itu juga hampir berakhir lewat foto keluarga. Namun harapan tak bisa berhenti begitu saja, ada cita-cita yang harus dikawal, cita-cita yang mereka tulis pada kertas berbentuk bintang.









