Gerbera kepada Mawar
***
(PEREMPUAN DAN HATINYA)
Perempuan. Benar adanya disebut sebagai perhiasan. Naluri untuk berhias diri mewujud menjadi hasrat jelmaan kepanjangan tangan dari bahagia. Setangguh apapun mereka menghadapi kesenjangan antara kenyataan dengan harapan…mereka tetap ingin dijadikan “paling” dalam seluruh sudut pandang menarik atasnya, dari mata pria maupun sesamanya meski sebatas mengkonfirmasi bahwa dirinya : Berharga dan Diinginkan. Bahwa dirinya spesial. Dipilih – laik – dipilih - sebab ia berbeda dengan perempuan lainnya. Dipilih sebab ia “laik” atas keindahannya sendiri dari sekian banyak keharuman lain – yang bukan ia.
Aku pernah menulis mengenai Gerbera Kuning yang Terpikat pada Bola Mata Berbinar Paling Sinar. Begini kisahnya :
Aku, kami, tangkai-tangkai yang tumbuh sepertiku tak punya ingatan soal penciptaan.
Apakah sempat kuminta dijadikan Mawar yang menebarkan semerbak goda bersama paras aduhai yang menyalak – tak tertolak?
Apakah sempat kuminta dijadikan saja Melati dengan hati bijak berperi. Harum adalah satu-satunya ingatan tersumpah pada siapapun yang mengenalnya.
Sempatkah kujadikan Anggrek yang akan selalu tampak elok, menawan – berterima penuh penghormatan bahkan dalam keangkuhannya?
Sempatkah kuminta dijadikan Kenanga.. pewarna tenang yang setia pada nasibnya dilemparkan ke atas pusara oleh jari-jari duka dan doa – membuatnya jelas bermakna meski tak terbaca olehnya sendiri – setidaknya.
Aku…Gerbera Kuning yang dilabeli segala kewajaran tentang tingkatan keindahan yang istimewa – kembang seikat yang tak membawa rupa-rupi harum, semerbak kecantikan yang menggoda, apalagi pewarna duka…lihat saja warnaku : kuning! Bahkan untuk memilihku, kau perlu berulang dalam menimbang untuk memilihku.
Namun,
Coba tatap aku lekat-lekat, kenali kisahku lebih dekat, kau mungkin akan terpikat sekalipun tak kuikat – tak sekejap pun.
Kuning warnaku. Mungkin tak ramping dan gemading geliat tubuhku. Tapi aku bisa mencerahkan hening – mewarnai bening. Membawa tawa menuju hingar yang lengking! Ya. Aku Gerbera Kuning…yang tak ingin meminta untuk dijadikan apapun selain diriku sendiri.
Muasal sebelum masalah berasal adalah konfirmasi atas kelaikan diri sendiri berpapasan dengan “pembanding” yang datang di luar keinginan. Hadir tak tertolak, semengalir air – yang memang mesti mengalir. Semoga bermuara.
Dan hari itu…tiba.
Aku mendengar tumbuh bunga cantik tak tertampik pada suatu ketika. Sebagai aku yang terbiasa tumbuh begitu saja tanpa memusingkan "huru-hara" cermin rupa, kuabaikan saja, rupanya tak bertahan lama. Hatiku mulai tergelitik. Terusik.
Oh aku lupa…rupanya ia... tak pernah gagal menjadikan wanitanya merasa "utuh sebagai wanita" -yang lengkap diikuti rerasa dasar seorang wanita : ketakutan untuk tak lagi merasa diinginkan sebagai penghias hidup mata pemilik sanubari terindah baginya itu.
Sesaat bagiku rasanya aku sempurna sebagai wanita dengan keutuhan rasa terusik oleh bunga lain. Bukankah terkadang pria dan wanita perlu mengukur syukur dengan hadirnya kemungkinan yang menggelisahkan ?
Jika dilalui dengan elok, kegelisahan nantinya menjelma dedahan keyakinan yang kokohnya diramu "saling". Meski pedih singgah, singgahnya untuk menyembuhkan. Menghalau rasa sakit dari kemungkinan hari depan yang kian berupa uji kelak. Menjadi resisten dari kemungkinan yang tak diinginkan sekalipun.
Aku cemburu.
Sebab rupanya…bunga itu benar elok berupa, warna dan berkisah bak ditutur lembut oleh Penghuni Langit dalam langkah-langkahnya. Menggema dalam ketidaksadaranku sekalipun. Mengusik air wajah yang menyuburkan keringnya "hasrat untuk menjadi indah" selama ini. Membuatku bertanya begitu hebat :
Apakah aku cantik ?
Apakah aku laik ?
Akankah aku…ditinggalkan….dengan atau tanpa alasan melalui ritme berliku penuh alur drama lebih dulu atau secepat-sekelebat mengedipkan mata?
Satu kata yang sering kudengar begitu merusak keyakinan diriku sendiri atas segala kelaiakan diri yang sudah kubangun selama ini : Dia Cantik.
Ia – priaku, ialah cuacaku yang bertanggungjawab.
Semesta percaya yang selalu saja lebih logis dari prasangka. Ia menghadirkan sendu di mataku beserta binar sesudahnya. Namun, sesekali cemburuku lebih merdu dari keluasan hatinya mendengarku yang diramu segala kelogisannya.
Seperti saat ini.
At the end of “ke-me-nye-ba-lan-ku” kubuka-buka kembali “aku yang dulu”, siapa dan bagaimana aku. Orang seperti apa aku sebelum seterpuruk ini dalam kecemasan diri sendiri?
Kutemukan :
“Don’t compare your life to others. There’s no comparison between the sun and the moon. They shine when it’s their time” – (Sebuah repost dari akun instagram @noteforpeace)
Sawang-Sinawang.
Rupanya aku terbius sindrom “Sawang-Sinawang” lupa bahwa warna cerah milik bunga lain bukan berarti ia tak melalui duka untuk melaluinya. Kehidupan tak jauh berbeda dengan dua sisi mata uang bukan? Segala dicipta seimbang. Takaran tepat. Momen hingga sebab-akibat yang dihasilkan sudah diramu begitu sempurna oleh Sang Maha Rahmaan – Rahiim.
Kenapa aku mesti bermuram jika yang membuat skenario hidupku ialah Dia yang Maha Pengasih dan Penyayang? Tidak ada yang lebih sempurna dari-Nya bukan? Ia Pemilik Hati. Yang Maha Membolak-Balikkan Hati. Sebaik-baik Perencana.
….
Untuk itu…
Kepadamu, bunga jelita yang hadir dalam episode kegamanganku atas nilai dan rupa diri, sungguh… rasanya ingin kuhaturkan terimakasih yang paling…sebab jika tidak berpapasan denganmu…belum tentu aku bisa melalui ujian ini dan tumbuh menjadi bunga yang lebih hidup dan menghidupi orang-orang yang disayangi dan menyayangiku.
Rasa pahit adalah konsekuensi dari obat agar kita sembuh bukan? Tapi…aku memilih menelan obat yang manis, dengan mengenalmu dan belajar banyak dari keelokanmu.
Rasanya amat disayangkan waktu jika digunakan untuk bermuram diri untuk hal yang ternyata jelmaan dari kerumitan isi kepala sendiri.
Mari kita saling menyapa, berbagi warna dan rona yang memperindah diri masing-masing. Dengan “saling” yang menguatkan akar untuk bertumbuh…mekar dan indah menghias semesta.
“A flower does not think of competing with the flower next to it. It just blooms.”
“Ya Allah…give me eyes that see the best in people. A heart that forgives the worst, and a soul that never loses faith. Aamiin”












