In the end, every people have their judgment to decide something. It’s not fair to compare it with other people’s choice. Because the priority among them is different. Same like human itself.
LF
Today's Document
Not today Justin
almost home
One Nice Bug Per Day

Origami Around
tumblr dot com
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

blake kathryn

Kaledo Art
taylor price
TVSTRANGERTHINGS
DEAR READER
Cosmic Funnies
KIROKAZE
Sade Olutola
Game of Thrones Daily
Jules of Nature
Sweet Seals For You, Always

Product Placement
he wasn't even looking at me and he found me

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from South Africa

seen from South Africa
seen from Italy
seen from Iraq
seen from India
seen from Russia

seen from India

seen from Türkiye
seen from Italy

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
@izafauziah
In the end, every people have their judgment to decide something. It’s not fair to compare it with other people’s choice. Because the priority among them is different. Same like human itself.
LF

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Assalamualaikum bang
Kurang dari 2 bulan lagi saya mau menikah...
Namun sekarang saya merasa ragu dengan kesiapan saya untuk dinikahi oleh seseorang yang bahkan lebih dari sandwich generation..
Sebagai anak tunggal, saya takut tdk bisa mengimbangi keadaan calon suami saya,
Yang notabenenya dia saat ini adalah orang yang bertanggung jawab atas kehidupan ke2 orang tuanya, dan 4 keponakan nya karena tdk ada yang mengurusi selain dia...
4 keponakan dengan masalahnya masing masing
Gimana ya bang
Saya takut sy tdk siap berada dlm keadaan itu...
Sangat bertolak belakang dengan kehidupan saya yang Alhamdulillah adem, ayem, tentrem
Sedangkan kehidupannya dipenuhi dengan problem2 orang sekitar (keluarga nya) yang harus ia atasi juga
Mohon dibalas secepatnya ya bang ,, sedang sangat butuh pencerahan
Menikah Dengan Sandwich Generation?
Wa’alaikum salam wr wb
Saya paham sekali dengan situasi kamu ini. Pilihan antara kamu masuk ke dunia yang serba berlapis atau status quo di kehidupan damai yang selama ini kamu nikmati.
Pertanyaanku sebelum menjawab persoalan ini, hanya satu: selama ini apakah kamu tidak memperhitungkan situasi orang yang akan kamu nikahi itu?
Maksudku, sebelum mengambil keputusan untuk menikah, tentu kamu telah tahu perihal kehidupan orang yang akan kamu bersamai kelak dengan waktu yang cukup lama. Kamu tahu tidak hanya karakternya, tapi juga kehidupannya. Untuk posisi “kurang dari dua bulan lagi mau menikah”, tapi masih ada keraguan soal ini, saya mengira ada hal lain yang mendorongmu ragu.
Tapi begini, memilih seorang yang bertanggung jawab atas banyak kehidupan adalah keputusan terbaik. Mengapa? Sebab kamu telah melihatnya “bertanggung jawab”. Yang kamu lihat adalah apa yang sudah ia lakukan dan dia melakukannya dengan baik--jika benar demikian karena saya tidak bisa melihat, melainkan hanya dirimu yang bisa menilai. Berbeda dengan orang yang kamu anggap tidak punya beban tanggung jawab sehingga kamu akan mengira ia bisa menjaga kamu dengan fokus (baca: tanggung jawabnya cuma kamu, misalnya). Asumsi ini bisa jadi benar. Tapi ia tetap menjadi “asumsi” karena kamu belum melihatnya bertanggung jawab. Kamu pilih yang mana?
Mungkin juga saat ini dia berpikir hal yang sama terkait dirimu. Dia berpikir, kamu terbiasa dengan kehidupan yang serba damai, “Apakah dia (kamu) bisa hidup dalam beban tanggung jawab yang demikian banyak?” Bisa jadi, dia menghilangkan keraguan soal dirimu dan yakin jika dirimu juga bisa bertanggung jawab bersamanya. Dan, tentu, bisa menerima dirinya yang terbiasa dengan beban-beban.
Mencintai itu artinya memberi. Tidak bisa disebut cinta jika yang ada hanya meminta. Meminta orang yang kita cintai untuk mengerti: ini salah. Harusnya kita yang mengerti terlebih dahulu, kita yang memberikan apapun bagian dari diri kita untuk orang-orang yang kita cinta. Cinta itu bukan “fish love”: mengaku suka dengan ikan, tapi kita memakannya.
Berbakti dengan orang tua itu wajib dan bagian dari akhlak. Tanggung jawab terhadap keponakan juga akan selesai ketika mereka dewasa dan mandiri. Ini bukti sandwich itu tidak abadi. Tapi karakter bertahan selamanya. Tanggung jawab itu tidak selamanya ada. Tapi karakter bertanggung jawab itu akan menemanimu hingga tua.
Tapi, jika kekhawatiranmu adalah soal kejiwaanmu--yang memang tiap orang itu beda-beda, kamu berhak untuk menolaknya. Jika kamu tidak mau hidup dengan problem-problem orang lain, itu juga hak kejiwaanmu. Sebab, jika kamu memaksa menerima beban-beban itu, tapi kamu sendiri tidak bisa mengukur kesiapannya, itu akan berdampak ke ketenangan batin. Menurutku, jika orang itu mencintaimu, maka dia tidak akan membebanimu dengan persoalan-persoalan. Ia akan memulai untuk mengerti duluan. Ada baiknya semua ini kalian bicarakan secara perlahan.
Semoga memberikan sedikit sudut pandang.
Waw, ini perspektif yang lengkap sekali. Keadaan bisa berubah, namun karakter akan tinggal dan menua bersama tuannya.
Noted it!
Perspektif yang luas sekali dari berbagai sisi. Walaupun semua kembali ke kontemplasi diri masing-masing tentang kekuatan ketahanan batin, namun baiknya juga melihat secara objektif bahwa karakter tanggungjawab merupakan hal penting sekaligus bukti nyata yang nantinya terus membersamai hingga menua.
ceklis tidak
adik-adik senang bertanya, mengapa akhirnya saya memilih pasangan saya sekarang. jawabannya selalu sama: saya bisa hidup bersamanya--yang lama-lama konsep ini menjadi saya merasa tidak bisa hidup tanpanya.
tapi maksudnya begini. orang-orang bilang, marry somebody you can't live without. don't only marry somebody you can live with. bagi saya, either way, don't marry somebody you can't live with. that's it. jangan menikah dengan seseorang yang kita jelas-jelas tidak bisa hidup dengannya.
oleh karena itulah, saat mencari jodoh, yang paling penting bukanlah membuat ceklis tentang hal baik apa saja yang harus ada pada dirinya, melainkan tentang hal-hal apa saja yang tidak boleh ada (atau tidak boleh tidak ada) pada dirinya. sebab, hal yang positif itu bisa tak terhingga nilai ukurnya. akan tetapi, hal yang nilainya negatif itu selalu jelas. maka, di mana titik nol kita harus jelas. di mana batas toleransi diri kita harus jelas.
jika ditarik mundur lagi, proses ini pun sejatinya tak hanya soal mencari dan menemukan jodoh yang tepat, tetapi juga soal mengenal diri sendiri dengan sebenar-benarnya. kalau kita tak bisa jujur kepada diri sendiri akan batasan-batasan itu--dan jika ternyata seseorang yang bersama kita kelak adalah yang di luar batasan, diri kita sendirilah yang akan kerepotan.
dalam banyak diskusi, saya menemukan sebuah pola. yang ada di daftar ceklis itu letaknya tak hanya pada orangnya, tetapi juga pada caranya menjalani hubungan. misalnya, apakah dia dapat mendukung karier atau cita-cita kita--dengan kata-kata dan dengan tindakan nyata. apakah dia dan kita memiliki kesamaan prinsip tentang pengelolaan keuangan. apakah dia menganggap perempuan sebagai objek alih-alih subjek. daftar ini bisa panjang sekali dan ya, kalau dipikirkan matang-matang akan lebih dalam daripada sekadar "harus mapan" atau "harus sholeh".
perlu berapa banyak yang menjadi ceklis tidak-nya, diri kita sendiri yang mengetahui. memang sih, semakin banyak ceklis-nya, semakin sedikit orang yang bisa masuk ke dalam kriteria. tapi, kita hanya akan menikah dengan satu orang. kita tidak perlu banyak calon. kita hanya perlu satu calon yang paling tepat. maka, ceklis itu harus apa adanya.
jujurlah pada diri sendiri. berkenalanlah kembali dengan diri sendiri. buatlah ceklis tidak-mu. jika kamu bertemu seseorang yang punya begitu banyak kebaikan namun ada satu saja dari daftar tidak itu yang tertandai, kamu tahu bahwa mungkin itu isyarat tidak. dan jangan lupa, tetaplah minta petunjuk kepada Allah Swt. Allah-lah yang memiliki semua kemungkinan.
Noted
Perihal hati siapa yang sanggup menguasai. Bahkan si empunya raga tak bisa sepenuhnya membatasi. Tentang apa dan siapa yang bisa memasuki. Dulu mungkin masih sanggup berkeras hati. Namun, bilakah sekarang itu sudah mulai terisi?
-Bandung, 25 Mei 2020
Racauan
Bandung
Derai hujan
Suara riuh di seberang telepon
Dan kesunyian yang merayap di keheningan
Lengkap sudah perbedaan suasana Ramadhan di tahun ini. Heningnya di luar mengingatkan akan kesyahduan yang harusnya menjadi spiritual experimental setiap insan di bulan ini. Ramainya gejolak di dalam mengingatkan kembali tentang hakikat diri. Tentang keinginan sanubari. Yang jauh tersembunyi di dalam hati.
Pertentangan pun terus terjadi. Bertambah kuat seiring hari. Menggulirkan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya diingini.
Hidup memang penuh dengan misteri. Namun salahkah diri jika terkadang mempertanyakan tentang esok hari. Tentang kelanjutan saat ini. Tentang angan yang takut terlalu tinggi. Tentang keraguan menapaki langkah yang dipilih . Dan tentang semua ketakutan tersebut yang terus mendekati.
Setiap hari berkutat dengan rutinitas yang sama. Dengan batas isolasi di rumah saja. Dengan mengurangi intensitas komunikasi dengan orang di luar sana. Akankah semua pertanyaan sebelumnya terjawab setelah proses panjang ini? Akankah perspektif yang dimiliki sebelumnya bisa berubah drastis di waktu nanti? Setelah semua nya, bisakah itu juga merubah kadar pengenalan kita terhadap seseorang?
Waktu terus berganti walaupun tak dinanti.Layaknya kenyataan yang pasti menghampiri walaupun hasilnya tak bisa diprediksi.
Dan aku masih menunggu disini, entah sampai kapan waktunya nanti..
-LF
Bandung, 4 Mei 2020

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Letter from the past
Kenangan memang selayaknya untuk dikenang, kalau dibuang namanya jadi buangan. Kenangan tidak pernah salah, yang menjadi masalah adalah respon diri terhadap kenangan tersebut. Seseorang yang sudah terbiasa memperlakukan kenangan dengan respon sewajar-wajarnya sebenarnya telah berhasil menaklukkan rasa sesak saat mengenang memori terpekatnya. Telah berhasil membalikkan rasa sedih yg menyelimuti setiap mengingat pilu membiru yang dilalui dengan senyum yang terukir tulus di hati. Sekilas terlihat tangguh dan menawan. Namun seperti hidup yang tak lepas dari 2 sisi yang bertentangan, pun kenangan juga demikian. Terlahir kembali dengan diri yang lebih kuat menekan sisi terlemah untuk tak berkutik. Membenarkan segala langkah yang seringkali dipandang tak mungkin bagi banyak orang. Mungkin benar jika hanya berefek ke yang bersangkutan *walau pasti banyak yg terus berteriak mengingatkan*. Berat dampak nya jika menjalar ke orang sekitar. Tanpa berniat egois atau memaksakan kehendak, karena pribadi yang sudah 'terbiasa' dengan dunia yang keras secara tak sengaja juga menganggap orang lain sama ketahanannya dengan diri.
But hey, that's who am I in the 2019. No more push myself too much yet no more too much excuse for the mistake i've made.
A better me is coming!!!
InsyaAllah :)
Ketulusan
Sepanjang usia seseorang, pasti telah banyak orang yang lalu lalang di kehidupan. Beberapa diantaranya menancap lekat di ingatan, dan sisanya hanya samar-samar kilasan memori tentangnya yang tersimpan. Bukan bermaksud tak sopan untuk melupakan, namun hanya segelintir orang yang benar-benar akan membekas di hati untuk waktu yang panjang. Salah satu alasan yang cukup logis untuk menjawabnya adalah karena karakter. Layaknya tontonan, sebuah film akan dikenang sepanjang masa kemungkinan karena memang ceritanya yang menarik atau bisa juga karena karakter tokoh yang diperankan sangat kuat. Iya, karakter kuat bisa jadi salah satu penyebabnya. Analoginya sama dengan di dunia nyata. Banyak orang hilir mudik di kehidupan,tapi hanya sedikit yang berkesan sehingga menimbulkan efek yang berkepanjangan. Waktu tak selalu menjamin kadar pemahamanmu akan karakter seseorang. Cukup lewat orang yang tulus kau akan tahu seberapa besar hati yang dipunya dalam waktu yang bisa dibilang cukup singkat. Ketulusan, kata yang bersahaja kedengarannya. Begitu pula dengan orang yang memilikinya. Ketulusan telah menjadi sebuah bukti, bahwa bukan cuma keburukan orang yang akan terkenang di benak setiap insan. Namun kebaikan bisa ikut mengambil peran, jika dimiliki oleh orang yang penuh dengan ketulusan.
Bandung, 6 Desember 2019
Diambil dari draft bertahun-tahun lalu yang tersimpan dan akhirnya diselesaikan lalu dipostingkan. And of course because it's still relatable till now
Random Thought
All of this stuff that I’ll writing below is practically the result of my random thought when I’m in the middle of my ‘random’ task if I’m not wrong to called it. So it wil jump from one topic to another, cause yes. It comes out from my unpredictable mind. Pardon for my bad english grammar,but hope that it will not last only in my mind and can become contemplation to others, so here it is.
Part 1, Contradiction
One of my friends’s motto said ‘If they can, why I can’t?”
Suddenly out of nowhere I remember those word. Maybe it's the result of several events that have happened lately. Sounds so ambitious and doesn't want to be defeated right? But it doesn’t matter cause I won’t focused to those motto. But imagine, what if the statement is reversed? It will said like this, “ If I can, why they can’t?”
What comes to your mind when you hear someone said those words? If It was me, maybe I’ll think those person is so egoistic and always demand others to fulfill what they want. But the truth is I’ve never heared it, cause deep inside my heart maybe it’s me who accidentaly became that person. Not defending myself but the reason it will explained in the next part. Back to the topic. I said accidentaly because I’ll never realized it until a few hours ago when I was stunned from that reality. Furthermore I never intended to apply it to my life. It comes out similar with those words because I don’t know when to stop or when to give up for something that it’s clear to others that it’s impossible. So when I’m faced with circumstances that require me to work with many people often I do not realize that when I am able to do it, it is not certain that other people are capable too. So when I feel it still possible to do, it automatically force my team to said possible to do eventhough they think it’s impossible. It became worse effect when I was in the middle position which required me to take orders from superiors and distribute them to my subordinates. Because I almost always think that it’s possible work to do but for the most of my subordinates think that it’s too preposterous it becomes a huge conflict. Some of them tell me not to afraid or hesitated to said no to other people if I’m really not into it. But how I can feel afraid to said no if I can’t recognized it’s something that I should said no or vice versa. Someone can decide to said yes or no if they can measure themself to said yes either no. But what if they still can’t distinguish what should be accepted and rejected if the benchmark is the response of most people? Really needed answer for this question.
to be continued....
Bandung, 29 November 2019
Sometimes you just can't ask all people for liking you, even for the person that you trust most. There is always things that can't be compromised between each other and makes it more complicated. But that's life. It can never be more unpredictable than before. And never be more suffocating than what you've thought.
Tapak Tilas
Menyusuri jalanan yang dulu sering dilewati. Menapaki tempat yang dulu menjadi area rutin yang pasti dikunjungi. Lalu muncul sosok polos yang berkeliaran sendiri. Dekil lusuh berhiaskan debu beterbangan di tengah panasnya kota pahlawan. Itulah diri bertahun-tahun yang lalu
Merasa takjub dengan kuasa Ilahi yang dengan indahnya menggores suratan takdir setiap insan. Kenangan suka duka yang mengiringi perjalanan hidup lalu lalang di pikiran. Menyadarkan diri akan waktu-waktu yang telah berlalu dan terbuang. Entah terbuang sia-sia ataukah berhasil menjadi pelajaran. Yang jelas 1 hal yang sudah pasti menjadi lambang ketidaksetiaan yang hakiki. Yaitu waktu yang bergulir terus tanpa henti.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Melunak
"Ojok atos2 nduk atine"
Terngiang kembali kata-kata tersebut di benak pikiran. Sudah sekian tahun yang lalu nasehat tersebut lalu lalang masuk keluar telinga tanpa pernah diresap. Dan beberapa hari ini tiba-tiba tersadar bahwa diri sudah demikian berubah. Ke-keraskepala-an yang dulu bertengger lama kian menghilang. Keputusan-keputusan yang dulu dihasilkan dari watak keras kini malah menjadi pertanyaan akan nilai kebermanfaatannya. Apakah itu hanya karena ego semata untuk cita yang dipaksakan? Apakah itu bentuk pemberontakan diri terhadap ketenangan hidup di desa?
Yang jelas entah itu karena faktor usia yang kian bertambah a.k.a berkurang atau do'a ibu yg dulu setia mengiringi sujud di sepertiga malamnya dengan deraian air mata yang telah berhasil membuat hati semakin melunak. Kembali ke kampung halaman barang sebentar mampu menggetarkan hati dengan kenyataan bahwa itu hanya 'sejenak'. Bahwa ada komitmen yang menunggu dan harus dipegang oleh keputusan dulu yang telah diambil. Menyesal?
Tidak
I have no regrets in my life, at least only 1 things which is very personal matters.
Setidaknya ada pembelajaran berarti di setiap kejadian. Bahwa untuk menghargai posisi yang dicapai sekarang sesekali kembali lah ke titik/tempat dimana dirimu berasal. Maka rasa syukur yang membuncah akan muncul seiring dengan memori perjalanan hidup yang telah dilalui. Walaupun mungkin selalu ada resiko untuk setiap keputusan yang diambil, setidaknya itu adalah yang paling sedikit kemudharatannya. Dan semoga itu yang terjadi saat ini.
And the last..
Of course because that's a life, it will never ever stop to surprise you with its magic.
In the train, 25 Agustus 2019
What if..
a prefix of the sentence that always leads to the lack of gratitude for the blessings received
which makes someone always look back in the past
and forget what must be done in this time and the future
-LF
Sepatu Orang Lain
Saat kita bermimpi untuk berdiri di atas sepatu orang lain, ada orang-orang yang mendambakan dirinya berada di atas sepatu kita. Saat kita membenci mati-matian sepatu yang kita injak, ada orang-orang yang yakin betul bahwa mereka akan bahagia jika memilikinya.
Dunia adalah telaga mahaluas yang tak pernah hilangkan haus, apalagi bikin puas. Barangkali kita hanya perlu selalu ingat: mencoba lakukan yang terbaik, sudah cukup baik. Memiliki apa-apa yang kita butuh, cukup membuat kita merasa utuh.
...
9 Juli 2019
Indeed!
Memiliki apa-apa yang kita butuh, cukup membuat kita merasa utuh.
“Ada yang melakukan sunnah karena itu sunnah, karena mengerjakannya mendatangkan pahala, karena mengharap berkah. Ada pula yang meninggalkan sunnah karena itu hanyalah sunnah, karena tidak mengerjakannya tidak masalah. Kamu, termasuk yang mana?”
— Kapan bisa sepenuhnya jadi golongan yang pertama, Ta?
Too straighforward and slapping heart
:')
Dialog Pagi
Di waktu sahur yang dingin…ku dapati Ibu sudah sibuk memasak di dapur.
“Ibu masak apa? Bisa ku bantu?”
“Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan Bapak” sahutnya.
“Alhamdulillah.. mantab pasti.. Eh Bu.. calon istriku kayaknya dia tidak bisa masak loh…”
“Iya terus kenapa..?” Sahut Ibu.
“Ya tidak kenapa2 sih Bu.. hanya cerita saja, biar Ibu tak kecewa, hehehe”..
“Apa kamu pikir bahwa memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban Wanita?”
Aku menatap Ibu dengan tak paham.
Lalu beliau melanjutkan: “Ketahuilah Nak, itu semua adalah kewajiban Lelaki. Kewajiban kamu nanti kalau sdh beristri.” katanya sambil menyentil hidungku
“Lho, bukankah Ibu setiap hari melakukannya?”
Aku masih tak paham juga.
“Kewajiban Istri adalah taat dan mencari ridho Suami.” kata Ibu.
“Karena Bapakmu mungkin tidak bisa mengurusi rumah, maka Ibu bantu mengurusi semuanya. Bukan atas nama kewajiban, tetapi sebagai wujud cinta dan juga wujud Istri yang mencari ridho Suaminya”
Saya makin bingung Bu.
“Baik, anandaku sayang. Ini ilmu buat kamu yang mau menikah.”
Beliau berbalik menatap mataku. “Menurutmu, pengertian nafkah itu seperti apa? Bukankah kewajiban Lelaki untuk menafkahi Istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan?” tanya Ibu.
“Iya tentu saja Bu..”
“Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci adalah kewajiban Suami. Makanan adalah nafkah. Maka kalau masih berupa beras, itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan. Sehingga memasak adalah kewajiban Suami. Lalu menyiapkan rumah tinggal adalah kewajiban Suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban Suami.”
Mataku membelalak mendengar uraian Bundaku cerdas kebanggaanku ini.
“Waaaaah.. sampai segitunya bu..? Lalu jika itu semua kewajiban Suami. Kenapa Ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut Bapak sekalipun?”
“Karena Ibu juga seorang Istri yang mencari ridho dari Suaminya. Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana. Karena Ibu mencintai Ayahmu, mana mungkin Ibu tega menyuruh Ayahmu melakukan semuanya. Jika Ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi. Tapi jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk Ibu.”
Aku hanya diam terpesona.
“Pernah dengar cerita Fatimah yang meminta pembantu kepada Ayahandanya, Nabi, karena tangannya lebam menumbuk tepung? Tapi Nabi tidak memberinya. Atau pernah dengar juga saat Umar bin Khatab diomeli Istrinya? Umar diam saja karena beliau tahu betul bahwa wanita kecintaannya sudah melakukan tugas macam2 yang sebenarnya itu bukanlah tugas si Istri.”
“Iya Buu…”
Aku mulai paham, “Jadi Laki-Laki selama ini salah sangka ya Bu, seharusnya setiap Lelaki bertrimakasih pada Istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah Istri.”
Ibuku tersenyum.
“Eh. Pertanyaanku lagi Bu, kenapa Ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban Ibu?”
“Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita, Nak. Istri menuntut Suami, atau sebaliknya. Tapi banyak hal lain. Menurunkan ego. Menjaga keharmonisan. Mau sama mengalah. Kerja sama. Kasih sayang. Cinta. Dan Persahabatan. Menikah itu perlombaan untuk berusaha melakukan yang terbaik satu sama lain. Yang Wanita sebaik mungkin membantu Suaminya. Yang Lelaki sebaik mungkin membantu Istrinya. Toh impiannya rumah tangga sampai Surga”
“MasyaAllah…. eeh kalo calon istriku tahu hal ini lalu dia jadi malas ngapa2 in, gimana Bu?”
“Wanita beragama yg baik tentu tahu bahwa ia harus mencari keridhoan Suaminya. Sehingga tidak mungkin setega itu. Sedang Lelaki beragama yg baik tentu juga tahu bahwa Istrinya telah banyak membantu. Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya”
Hening…
By : ust. Naufal masunika
Subhanallah :’)
Masyaa Allah :')
#throwback #reblogagain

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ramadhan Yang Mana?
Ramadan pernah datang di tahun-tahun dimana kita sedang berjibaku dengan segala bimbel, ujian nasional, dan tes masuk perguruan tinggi.
Ramadan pernah datang di tahun-tahun dimana waktu kita banyak tersita oleh kegiatan kaderisasi dan pelantikan mahasiswa baru.
Ramadan pernah datang di tahun-tahun dimana kita dibuat sedikit istirahat oleh tugas, amanah organisasi, ujian semester, KKN, dan tugas akhir.
Ramadan pernah datang di tahun-tahun dimana kita interview kerja sana-sini, psikotes ini-itu, dan mondar-mandir dari satu jobfair ke jobfair lainnya.
Ramadan pernah datang di tahun-tahun dimana kita disibukkan beban kerja, berangkat pagi pulang malam, dihadang macet jalanan kota, anak dan istri menunggu di rumah.
Bukan. Bukan Ramadan yang selalu datang di waktu yang tak tepat, melainkan kita saja yang enggan memberi porsi waktu leha-leha kita untuk Ramadan.
Jika saja waktu scrolling IG/twitter, nonton youtube, streaming Kdrama, main game online, dan waktu melamunmu dikonversi jadi waktu untuk tilawah, hitung sendiri berapa juz yang bisa kamu habiskan setiap hari dan berapa kali khatam kamu selama Ramadan?
Jika kita menunggu waktu luang untuk maksimal dalam Ramadan, maka pertanyaannya itu Ramadan yang mana? Karena, setiap tahunnya kewajiban dan tanggung jawab kita tak pernah berkurang, melainkan malah selalu bertambah.
Kepada Ramadan kali ini, masih beranikah kamu katakan ‘nanti’?
Cileungsi | © Taufik Aulia
Indeed. Couldn't agree more.
things to do this ramadan:
focus less on feeding your physical self and more on nourishing your spiritual self.
be regular in salah, durud, istighfar, nawafil, tilawah, lowering the gaze, being kind to family and friends.
read 4 pages of the quran after every salah.
make a list of sunnahs you want to make a permanent part of your life.
join an onsite islamic course if your masjid offers them, or sign up online.
learn as much tafsir of the quran as possible, especially surah nur, yusuf, nisa, and the 30th juz.
make a schedule of worship that can be continued even after ramadan.
focus on maximizing the time between maghrib and fajr.
less sleep, more dhikr.
clear out distractions from your heart and your mind.
critically analyze your life (muhasabah), make a plan of how you’re going to make the deen your #1 priority and act accordingly.
pray tahajjud every single night of ramadan. every. single. night.
duaa, duaa, duaa.
Noted!!!