Hadirnya sudah seperti mimpi buruk. Kalau tahu endingnya seperti ini, rasanya aku ingin membuka mata cepat-cepat dari awal kita bertemu. Bangun! Bangun!!!!
"Ini foto siapa? Katanya lagi kerja lapangan, banyak proyek, kok sempat-sempatnya foto beginian?" Kataku mengirim sebuah foto pertunangan di WA.
Dan benar saja, di pertemuan itu dia mengakui bahwa dia bertunangan dengan perempuan lain. Edan! Dia kasih dua cincin sekaligus kepada dua orang dalam satu waktu?!
Aku tidak mau bertanya lebih lanjut, tentang kenapa ini terjadi, kenapa dia bisa kepincut perempuan lain, apa alasannya, jadi selama ini kebohongan apa saja yang dia perbuat, dan hal-hal semacam itu meski aku penasaran.
Aku tidak minta dia mengembalikan lamaran ke bapakku seperti saat memintaku dulu, meskipun adabnya seperti itu. Percuma bicara soal adab sama orang yang tidak punya unggah-ungguh. Apa hukumnya melamar di atas lamaran lain? Jelas zalim lah!
Aku menguatkan diriku sendiri yang sebenarnya keringat dingin. Lututku lemas. Kepalaku sakit. Tapi aku butuh mengakhiri ini semua dengan tegas dan (sok) kuat, harga mati. Tidak ada tawar menawar, apalagi menahan-nahannya.
Rasanya aku ingin mengumpat, menyumpah serapahi dia, mengguyurnya dengan minuman yang kupesan, barangkali mencekiknya kalau bisa. Di benakku ini, amarahku sudah meluap seperti orang kesetanan. Tapi bersama hati yang patah semua itu hanya tertahan sampai tenggorokan. Sakit....
Aku utuh dengan segala kebencian dan pengkhianatannya. Memaafkan? Entahlah, mengingat namanya saja aku tak rela. Kasihan tubuhku, kasihan jiwaku...
Dia mengemis maaf di pertemuan itu, nyatanya memang dia lebih memilih perempuan itu dibanding aku. Ah tapi maaf saja, siapa juga yang tetap mau sama anda? Pait, pait, pait...
"Minta maaflah sama calon istrimu, sudah mau mengajaknya membangun rumah tangga dengan merusak hati perempuan lain, menginjak-injak kepercayaan dan harga diri keluarganya pula. Apa enaknya mengawali hidup baru dengan cara seperti itu?" Entah dapat keberanian dari mana, kututup perjumpaan itu dengan sebuah kemenangan.
Allah telah menyelamatkanku dari laki-laki yang tidak berpendirian, tidak punya komitmen, dan licik.
Aku hancur tapi aku bersyukur.
Untuk diriku, terima kasih untuk menjadi berharga, berani, dan begitu tegar. Kamu hebat!
Tidak apa-apa... Tidak apa-apa kita rehat sejenak. Ambil jeda. Tarik nafas. Menangis...
Seminggu tidak keluar kamar barangkali? Tidak apa-apa bukan?
Pulang ke rumah, aku menangis dalam pelukan ibu...
"Nak, ini musibah. Ada dosa-dosa yang Allah ingin hapuskan untukmu. Kita hadapi sama-sama ya..."