Kamu Perlu Berhenti Sejenak, Kawan
Lelahmu pasti akan berganti bahagia. Begitulah cara dunia ini bersikap adil. Tidak ada yang benar-benar senang selamanya, dan tidak ada yang benar-benar merutuk selamanya. Selama kau di dunia, semuanya akan bergilir.
Jika kamu merasa capek dan hatimu sesak dengan beban-beban yang seakan terus datang menumpuk, jatah gagalmu sedang berkurang. Jatah naasmu sedang meranggas seperti daun jatuh di musim kemarau. Kamu perlu berhenti sejenak dan menutup matamu, dalam keheningan. Dalam satu masa ketika hanya angin yang kau sapa dan hanya suara hatimu yang kamu dengar.
Berhenti sejenak, tapi bukan untuk berhenti sepenuhnya.
Istirahatkan bahumu yang banyak menanggung impian demikian besar, istirahatkan telingamu dari apa kata orang, rehatkan matamu dari segala pencapaian mereka yang kadang membuatmu getir.
Dan lihatlah dirimu sendiri dan orang yang kau cintai, sudahkah kau berterima kasih padanya? Kadang, kita banyak berterima kasih pada orang-orang yang baru saja kita kenal, tapi tak pernah sekalipun kita sadar untuk memeluk erat mereka yang ada selalu di kanan dan kiri kita.
Berhentilah sejenak untuk bercengkrama dengan mereka, mengukir kenangan dan tertawa sambil minum teh dan menikmati hujan. Kamu perlu membedakan mana meluangkan waktu dan membuang-buang waktu.
Bagiku, menyediakan waktu khusus untuk “dibuang”, itu menghargai waktu.
Baca lagi buku kenanganmu yang lama tak kau lihat, lihat lagi sudut-sudut ruangan yang telah lama luput dari perhatianmu. Atau pada teras rumah yang bisa memberimu cukup ruang untuk hanya sekedar menikmati senja. Kau tahu? Biasanya di situlah rahasia kesejatian kita berada.
Banyak orang meniru-niru yang lain agar bahagia, atau lebih tepatnya agar terlihat bahagia. Padahal menjadi dirimu sendiri itulah kedamaian tiada tara. Dan semuanya tersimpan dalam hal-hal sederhana yang membentuk dirimu.
Jadi, cobalah berhenti sejenak jika kau jenuh dan lusuh. Temukan ketenangan jiwa dalam renungan dan hela nafas teratur. Temukan dirimu lagi, temukan.