Kalender - Sebuah Alat Perencanaan
Dalam bukunya yang berjudul 'MADILOG', Tan Malaka menyebutkan tanggal penulisan bagian pembukaan dalam 3 sistem penanggalan, sistem penanggalan negara Jepang, negara Belanda, dan Hijriyah. Dalam tulisannya Malaka juga menyampaikan penggunaan sistem penanggalan dari negara yang pernah menduduki Indonesia juga menandakan bahwa Indonesia belum merdeka sepenuhnya, ratusan tahun penjajahan tersebut masih menyisakan bekas.
Pertanyaan selanjutnya, yang juga tidak dibahas dalam 'MADILOG', adalah apa hubungannya sistem penanggalan dengan kemerdekaan sebuah negara?
Saat memikirkan hal tersebut, saya teringat mengenai sebuah ayat, QS 2:185, didalamnya disebut mengenai bulan Ramadhan. Secara bahasa, ramadhan berarti panas yang menghanguskan atau kekeringan. Jika kita menilik kembali sejarah, kalender Hijriyah diterapkan pertama kali pada saat Khalifah Umar pada 638M. Pada kala itu, terdapat beberapa usulan mengenai kapan kalender Hijriyah dimulai, diantaranya usulan kalender Hijriyah dimulai pada hari lahirnya Muhammad dan pada hari wafatnya Muhammad. Akhirnya Umar memutuskan tahun pertama kalender Hijriyah adalah tahun Rasul hijrah dari Makkah ke Madinah, yaitu pada tahu 622M. Jika kita simpulkan, penggunaan kalender Hijriyah dimulai tidak dari tahun 1H, namun langsung melompat ke 17H yang bertepatan dengan tahun 638M saat kalender Hijriyah pertamakali diterapkan oleh Khalifah Umar. Selain itu, penentuan adanya 12 bulan dalam tahun Hijriyah berangkat dari QS 9:36, yang menyatakan bahwa Allah menetapkan bulan berjumlah 12, yang diantaranya terdiri dari 4 bulan pembentukan langit. Lalu apa yang dimaksud dengan bulan Ramadhan di dalam QS 2:185? Tentu bulan Ramadhan yang dimaksud bukan merujuk pada bulan Ramadhan dalam kalender Hijriyah, karena pada saat ayat tersebut turun, kalender Hijriyah belum diterapkan.
Mungkin bagi anda yang pernah terjun di dunia astronimi, anda pernah mempelajari sistem penanggalan. Sebagian besar penanggalan di dunia menggunakan peredaran bumi mengelilingi matahari sebagai penentuan waktu, ada pula yang menggabungkan peredaran matahari dan bulan seperti kalender Babilonia, dan ada yang mengunakan fasa bulan dilihat dari bumi sebagai dasar perhitungan. Penanggalan atau cara perhitungan waktu tidak semuanya terlihat rumit seperti penaggalan Masehi (yang dikunakan untuk perhitungan tahun dalam kalender Julian dan Gregorian) yang saat ini banyak digunakan atau penanggalan Hijriyah. Misalnya penentuan waktu dengan Stonehenge yang menggunakan bayangan batu untuk mengetahui kapan waktunya ritual peribadatan atau kapan waktu bertanam. Metode ini sangat sederhana dan belum menggunakan pencatatan fenomena alam dan perubahan posisi benda langit untuk menghitung waktu.
Penggunaan sistem kalender berdasarkan peredaran bumi terhadap matahari mulai maju di zaman Romawi. Dan terus digunakan serta dikembangkan hingga saat ini. Saya tidak akan membahas secara detail mengenai cara perhitungan dan penyusunan kalender. Namun, yang perlu anda pahami di sini, adanya perbaikan perbaikan dalam penentuan perhitungan waktu dalam perhitungan Julian yang kemudian diperbagiki dalam Gregorian, disebabkan adanya selisih hari antara perhitungan kalender dengan posisi sesungguhnya bumi dengan matahari. Perbedaan hari ini memang tidak signifikan dalam 1 atau 2 dekade, tapi menjadi signifikan dalam hitungan abad. Setiap 4 Abad, Akan ada selisih perhitungan kira kira 3 hari dalam perhitungan Julian. Perbedaan hari ini dapat berdampak pada pergeseran waktu musim tanam, pergeseran ritual keagamaan sehingga memasuki musim lain, dan lain sebagainya. Sehingga diusunglah perbaikan kalender Julisu dengan perhitungan yang lebih akurat dari Gregorian yang diajukan di tahun 1582.
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa sistem penanggalan menjadi sangat krusial dalam menyususn strategi pengembangan peradaban. Penggunaan sistem penanggalan yang tidak sesuai dengan kondisi alam dan tidak dapat mengakomodasi penyusunan strategi pengembangan peradaban akan sangat fatal dampaknya dalam jangka waktu panjang.
Hal ini yang saya rasa menjadi alasan terkuat kenapa Islam membuat sistem penanggalannya sendiri, dengan penamaan bulan yang disesuaikan dengan target yang perlu dicapai bersama dalam bulan tersebut. Di titik ini, dapat disimpulkan bahwa yang penting bukanlah mekanisme penghitungan waktunya, namun bagaimana waktu yang ada dapat dialokasikan sesuai dengan kebutuhan negara dalam melaksanakan strategi tertentu. Misalnya di Jepang, sistem perhitungan tahun akan dimulai dari 1 setiap pergantian kaisar. selain menandakan adanya era baru, menandakan pula seberapa jauh era tersebut melaju. Dalam nama bulan kalender islam, dan nama era tahun Jepang, terbesit sebuah semangat juang, yang entah disadari atau tidak dapat menghadirkan barisan juang yang lebih rapat.
Saya rasa, sedikit banyak hal ini yang ingin disampaikan oleh Tan Malaka dalam tulisannya, “Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu.”

















