Ia telah hadir disaat pertama kali aku melihat dunia
Ia hadir disaat diriku mulai belajar mengenal dunia
Ia hadir disaat aku sedih karena marah orang tua
Ia hadir disaat aku sakit dan membuat sedih orang tua
Ia hadir dengan sentuhan hangat dari tangannya
Ia hadir dengan pelukan harum dari lengannya
Ia hadir dengan apapun makanan yang sedang dibawanya
Ia hadir dengan berapapun rupiah yang dimilikinya
Ia hadir dengan ceritanya dari tetangga
Ia hadir membawa nasi yang telah dimasaknya
Ia hadir dengan kerupuk khas buatannya
Ia hadir dalam pengajian hari rabunya
Ia hadir disisiku untuk sholat berjamaah
Ia hadir disetiap hari raya
Ia hadir disetiap ulang tahun kita
Ia hadir meski tak berkata apa apa
Ia hadir meski tertidur dalam posisi duduknya
Ia hadir dengan raut wajah yang bahagia
Ia hadir dengan jalan pelannya
Ia hadir dengan senyumnya
Ia hadir dengan tawa serta airmatanya
Ia hadir dengan bertanya aku akan pergi kemana
Ia hadir dengan bertanya kapan aku pulangnya
Ia hadir untuk menungguku pulang
Ia tetap hadir meski nafasnya terasa berat untuk ia hadirkan
Ia hadir dengan kepala yang ia miringkan
Ia hadir dengan membuka mata yang ia paksakan
Ia hadir dengan menggerakan tangan yang telah lebam
Ia hadir dengan denyut nadi yang masih bisa aku rasakan
Ia hadir dengan waktu terakhirnya
Ia masih hadir saat Tuhan memanggilnya
Ia masih hadir saat semua histeris melihatnya
Ia masih hadir saat semua tak lagi mampu menahan airmata
Ia masih hadir saat semua doa kami panjatkan untuknnya
Meski kehadirannya kini telah berubah menjadi kenangan
In memoriam ~Eyang Ngatimah~