Aku sudah memperkenalkanmu pada duniaku dengan hangat dan sumringah. Bukan lagi dengan ketakutan, bukan juga dengan rasa keinginan untuk memiliki. Sebab takdir pertemuan ini saja sudah terasa cukup dan membuatku bersyukur berkali-kali.
Aku tidak ingin lagi bersembunyi pada kata-kata yang menyedihkan. Pada harapan yang menyiksa. Pada penolakan akan kebahagiaan yang seolah tak layak untuk aku miliki.
Kali ini, aku lebih suka menikmatinya sebagai pertemanan yang harus saling mendukung. Pada kerja sama yang membuat kita berkembang. Pada kepercayaan yang membuat tirai ketidakmungkinan akan mimpi itu dengan sendirinya runtuh.
Entah mengapa aku bisa seberani ini menghadapi resikonya. Apa karena cerita lalu sudah membuatku sadar bahwa penyiksaan itu benar adanya. Ia tersimpan pada rasa keinginan untuk memiliki padahal kita hanyalah manusia yang hatinya ada dalam genggaman yang Maha Besar. Tidak bisa bergerak kecuali atas kehedak-Nya. Tidak pernah memiliki seutuhnya.
Doaku kini tak lagi berpaku pada lirih pinta dipersatukan, tapi berubah pada kemudahan jika memang kami diridhai oleh-Nya.
Tidak lagi meminta untuk dijauhkan, tapi meminta untuk diredakan segala deras perasaan, jika memang bukan takdir-Nya.
Dewasa ini, menutup diri dari pembelajaran yang hendak Ia beri adalah diskusi yang akan menjadi panjang. Aku menyadarinya saat ujian pada hal yang sama menjadi topik panjang yang entah sampai kapan aku dapat dikatakan benar-benar "selesai".
Mari melapangkan dada untuk menerima bahwa setiap kali Tuhan menitipkan rasa padamu terhadap seseorang, itu merupakan bentuk keinginan-Nya agar kamu belajar banyak hal darinya untuk mengenali dirimu sendiri.