To write is to remind. Simply writing this just so I'll get reminded everytime I come back here.
Sudah setengah tahun menikah. Time flies indeed. Waktu melaju begitu juga peristiwa. Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat (segala puji hanya milik Allah yang dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna). Alhamdulillah ala kulli hal (segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan). Atas izinNya, Allah karuniakan beragam keadaan dan kondisi yang di dalamnya masyaa Allah penuh hikmah, penuh rahmah.
Gemes kali sama kehidupan pasca menikah ini. Hih gemes banget. Udah jadi pegangan buatku sendiri dari sebelum menikah tapi, untuk ga overshare mengenai apa-apa yang dilalui dalam kehidupan (yhaa walaupun seringkali keceplosan wk). Ga overshare sesuatu yang bikin happy, sesuatu yang bikin syedih, gemes-gemesnya baik-baiknya pak zawjiy.
Sebenrnya udah dari lama juga menganut paham 'limit overshare' ini, terutama di media sosial yang sangat terbuka. Main internet udah dari belasan tahun lalu, mau ga mau jadi paham abcdnya. Dan tentunya dari agamapun ada aturannya. Beragam tafsir dari dalil. Mungkin disesuaikan pula dengan kondisi masing-masing. Buatku sendiri, yang aku selalu berusaha anut, adalah tidak memudahkan aturan sambil terus berhati-hati. Dengan memperhitungkan baik buruknya, sampailah pada simpulan sendiri yaitu, boleh share sesuatu asalkan, 1) no face pics, 2) sebagai reminder diri sendiri, 3) yang semoga bermanfaat (bukan peristiwa, tapi hikmahnya), 4) untuk mengabarkan sesuatu. Walaupun sepertinya post-wedding ini ga sekali dua kali posting yang tidak termasuk di keempatnya 🙈 heu untuk arsip digital aja kok itu ini ngeles.
Aku termasuk yang percaya dengan adanya penyakit ain. Penyakit akibat pandangan mata. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271). Dampak penyakit ini juga ga main-main. Dari penyakit fisik (tiba-tiba sakit), kerusakan (karena barang/benda mati pun bisa kena ain), bahkan kematian. Terkesan ga mungkin ya? Masa iya dari pandangan mata aja bisa sampai kaya gitu. Tapi nyatanya, Rasulullah sendiri yang bilang.
“Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa” (HR. Muslim no. 2188).
“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ain” (HR. Al Bazzar dalam Kasyful Astar [3/ 404], dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no.1206).
Penyebab ain ini karena dua hal: pandangan hasad dan pandangan kagum. Orang yang memiliki hasad terhadap orang lain, lalu memandang orang tersebut dengan pandangan penuh rasa hasad, ini bisa menyebabkan penyakit ain. Pada dasarnya, setiap orang yang menyebabkan penyakit ain mereka adalah orang yang hasad, namun tidak semua orang yang hasad itu menimbulkan ain (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271). Di lain hal, pandangan kagum hingga akhirnya terucap puji-pujian untuk seseorang juga bisa bikin penyakit ain. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahkan bersabda, “Mengapa seseorang menyakiti saudaranya? Mengapa engkau tidak mendoakan keberkahan? Sesungguhnya penyakit ‘ain itu benar adanya, maka berwudhulah untuknya!” (HR Malik) ketika mendengar Sahl bin Hunaif yang tiba-tiba sakit akibat dipuji kulitnya oleh Amir bin Rabiah (jadi sebenrnya harus hati-hati juga ya muji dengan penuh kekaguman tu).
Poinnya, bukan suudzon nuduh orang lain pasti bakal hasad. Mau gimanapun, kita ga bisa atur apa yang ada di pikiran orang lain. Bahkan kadang kita mungkin ga bisa atur isi hati dan kepala sendiri.. dan ga bisa dipungkiri juga kalau suatu postingan dibagikan ke banyak orang dan banyak yang lihat akan ada peluangnya. Semakin banyak yang lihat semakin besar juga peluangnya. Ketika ga hasad pun, pandangan kagum juga bisa bikin ain. Terlebih ketika terucap pujian tanpa menyertakan dzikrullah, kalimat-kalimat agung untuk penciptanya.
Ketika sudah terlanjur terjadi, ruqyah bisa jadi pengobatan penyakit ain ini. Kalau untuk pencegahan penyakit ain, salah satunya bisa dengan menyertakan doa keberkahan kepada Allah ketika melihat hebatnya seseorang. “Orang yang memandang dengan pandangan kagum khawatir bisa menyebabkan ain pada benda yang ia lihat, maka cegahlah keburukan tersebut dengan mengucapkan: Allahumma baarik ‘alaih” (Ath Thibbun Nabawi, 118). Makanya sekarang ini sering ketemu kalimat "masyaa Allah tabarakallah" di postingan anak, keluarga, harta, atau kesuksesan/kebahagiaan lain. Tapi di beberapa pandangan lain, berlindung dari ain dengan kalimat tsb juga tidak akan ada artinya kalau ga paham maknanya, atau diucapkan tanpa keikhlasan karena Allah. Jadiii, memang yang paling aman sebisa mungkin hindari menyebut-nyebut kekayaan, kesuksesan usaha, kebahagiaan keluarga, juga memamerkan foto diri, foto istri/suami, foto anak, dan hal-hal lain yang bisa menimbulkan iri-dengki dari orang yang melihatnya. Atau juga yang bisa menyebabkan kekaguman berlebihan (ini dari muslim.or.id). Anjurannya memang sehati-hati ituuu. Hehe pak zawjiy, ini suatu bentuk penjagaanku untukmu 😝 meski ku masih seringkali khilaf heuu.
Di pandangan lain, ada yang mengaitkan posting foto wajah wanita dengan perihal malu dan besarnya fitnah wanita. Sementara untuk para lelaki yang posting wajah istrinya, juga bisa kena hukum dayuts. Dayuts ini adalah lelaki yang menjadi pemimpin untuk keluarganya dan ia tidak punya rasa cemburu dan tidak punya rasa malu.
Selain perihal ain, mencoba menahan posting sesuatu happy-happy juga upaya untuk menjaga hati yang lain. Alkisah ada pasangan suami istri yang baik-baik saja. Tapi suatu ketika sang istri melihat postingan wanita lain yang suaminya belikan abcd, postingan wanita lain yang suaminya manis sekali sampai giung. Lalu sang istri ini mulai banding-bandingkan, lama-kelamaan menciptakan riuh ombak gelombang di laut yang awalnya tenang. Di kisah lain suami istri baru aja berpisah lalu melihat postingan kegiungan pasangan lain. Atau di cerita lain, seseorang yang sudah berupaya untuk menikah namun qadarullah belum Allah takdirkan bertemu dengan jodohnya lalu juga melihat postingan kegiungan itu.. tentu kita berharap hanya yang baik-baik yang timbul dari postingan kita, tapi sekali lagi, apakah kita bisa mengatur apa yang orang lain rasakan?
Perihal keamanan pun. Aku yakin kebanyakan teman dekatku udah pasti paham bahayanya overshare kehidupan pribadi di internet. Tapi terkadang manusia ga luput dari kesalahan yang mungkin tidak sengaja. Atau terlalu sedih, marah, happy, kecewa kadang bisa bikin kita melakukan sesuatu di luar kesadaran normal, as in, tidak dipikir terlebih dulu. Karna bagaimanapun, what stays in internet, spreads. And it stays forever.
Hal lain, tentu upaya penjagaan privasi. Buatku, terlepas dari ain ataupun dampak negatif lain, ingin punya privasi kehidupan sendiri. Ga terlalu suka juga menghadapi reaksi orang lain. Rasanya orang lain ga perlu tau what I've been up to. Apa yang dilakukan, apa yang dirasa, biar jadi konsumsi pribadi saja. Walaupun ada kalanya juga di mana ingin mengabari dunia kalau, "ini ada akuu, aku happy loh, liat aku dulu susah payah tapi sekarang udah dapet abcd loh, desebre desebree." Karena ga bisa dipungkiri juga, sebagai manusia, makhluk sosyiel ini akan selalu ada keinginan untuk eksis, dapat rekognisi juga atensi. Tapi kalau kata Ustadz Khalid, ya namanya juga dunia, tugasnya memang tahan nafsu 😢
Masing-masing individu pasti punya pertimbangan berbeda untuk dirinya sendiri. Aturan ini untuk pribadiku sendiri aja sebagai bentuk kehati-hatian. Tetap jaga jarak dan pakai masker!