sebelum butir-butir hujan menerpamu, terlebih dahulu turun larik-larik bersayap, sekehendaknya menghampiri pikiran-pikiran rungsing pada kepala yang terlebih, sedang memandang jendela: di tempat bekerja, di rumah yang berpandangan tanpa batas, atau angkutan kota dengan kesesakannya. lalu semuanya mendaras ketika hujan mulai menderas, satu-dua baris, atau bagaimana sekeluarnya:
setitikmu padanya semakin menjulang, seiring dengan besarnya daya meniadakan alasan.setitikmu semakin dalam, ketika ia setia berjalan tanpa rekam suara, layaknya angin yang membawa riak-riak Pantai Utara.
setitikmu semakin tegak berdiri, ketika airmata datang tanpa diminta. setitikmu semakin putih, ketika janji bukan lagi penjara, melainkan anugerah tanpa titik dan koma.
setitikmu semakin menyiksa, ketika menggunakan indra tidak pada tempatnya, melihat rangkai kata alur percakapan bukan dengan mata, misalnya. setitikmu menjadi reka, ketika percakapan waktu luang, adalah jelma dari potongan-potongan pilihan kata bulan madu.
setitik itu semakin membuatmu berbisa, ketika duduk dengan tangan tegas menengadah, namun lutut dan kaki bergerak-gerik di bawah meja. setitikmu semakin lengah tergoyah, ketika mendengar lebih banyak daripada menyimak, ketika berbicara lebih banyak daripada membicarakan.
setitikmu semakin pudar, ketika lisan mendiam, dan mulai berhenti bertanya: seorang saja depan cermin dengan sembunyi-sembunyi.
dan larik-larik tadi, kutulis dengan membelakangi lampu neon: yang kulihat tiada suatu melainkan bayangmu.
wahai engkau tempat punggungku menaruh sandar, liku laku kita tidak pernah memberi ampun. seperti binarmu, yang tidak pernah memberi sempat mataku untuk berpaling.












