I think, this is the limit
taylor price

❣ Chile in a Photography ❣
sheepfilms
dirt enthusiast
Sweet Seals For You, Always

JBB: An Artblog!
noise dept.
Claire Keane
NASA
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Monterey Bay Aquarium
ojovivo
KIROKAZE
almost home
Misplaced Lens Cap

titsay

izzy's playlists!
Cosmic Funnies

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from TĂĽrkiye
seen from United States
seen from Argentina
seen from TĂĽrkiye

seen from Philippines

seen from United States

seen from United States
seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Romania
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from Malaysia
@iamscorp22
I think, this is the limit

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku selalu suka hujan, butiran airnya yang jatuh ke wajah dan hening gemuruh pelan yang berkepanjangan, dan malam ini hujan
Orang berlarian mencari teduh disamping stasiun, hujan baru saja tumpah ruah, membesar tiba-tiba. Aku keluar begitu saja, di tengah hujan. Titik air yang terus berjatuhan membuatku menengadahkan kepala, ke langit yang masih sama kosong saja. Kali ini tak ada air mata untuk disamarkan, tak ada sedih untuk di luapkan, hanya kosong.
Satu tahun lebih sejak kamu pergi, rasanya masih pahit untuk di ingat. Rindunya sudah hilang penuh bahkan tanpa ingatan tentangmu sehari-hari, yang tersisa tinggal kebencian yang menumpuk serta sumpah serapah yang tak pernah sekalipun ku ucapkan. Semua tinggal di kepala sampai hari ini.
Kebencian untukmu, mungkin tidak banyak, tapi tidak juga mudah hilang. Tapi kebencian terhadap diri sendiri yang begitu mudah menaruh kepercayaan dan harapan panjang pada seseorang yang sejak awal memang penuh dengan kebohongan, dan kebdohanku yang memaksa percaya bahwa orang bisa berubah, mungkin tak akan selesai yang entah sampai kapan.
Hujan ini, malam ini, bahkan tidak lagi terasa seperti kamu yang menari-nari dalam riak basah seperti dulu. Rasanya hanya seperti kelelahan yang semakin menggerogoti dari dalam, tak menyisakan apapun, bahkan sekedar keinginan bertahan.
Aku tak pernah tahu apa yang mati, entah kamu yang ada di kepalaku, atau diriku sendiri.
Menghilangkanmu rasanya begitu sulit karena kamu sendiri berkelebatan ingin di lihat meski aku tak ingin lagi. Aku tak ingin sumpah serapah yang tak sempat terucap itu malah menyembur tanpa saring.
Tak ada lagi yang ku suka dari kita. Tentang apapun yang mengingatkan pada kita.
Padahal..
Aku selalu suka hujan, butiran airnya yang jatuh ke wajah dan hening gemuruh pelan yang berkepanjangan, dan malam ini hujan.
Semoga senyum kecil itu masih ada, satu hari lagi.
Hidup kadang datang seperti langit yang runtuh perlahan di atas kepala.
Sunyi, berat, dan terlalu luas untuk dipeluk sendirian.
Ada hari-hari ketika dunia terasa seperti musuh yang tak pernah lelah mendorong jatuh, sementara tubuh dan hati sudah terlalu lelah untuk terus melawan.
Kadang ingin bercerita, tapi tak tahu harus pulang ke siapa.
Kadang air mata tertahan begitu lama sampai akhirnya lupa bagaimana caranya jatuh.
Dan mungkin memang begitulah hidup berjalan—diam-diam membawa luka tanpa memberi aba-aba.
Sebab sakit selalu menemukan jalannya, sekalipun kadang ada bahagia singgah sebentar.
Mungkin saja, hidup tak selalu meminta kita untuk kuat selamanya. Mungkin saja, ia hanya meminta kita bertahan sedikit lebih lama. Mungkin saja.
Satu hari lagi saja.
Satu malam lagi sampai pagi.
Karena di sela hidup yang berantakan, masih ada hal-hal kecil yang diam-diam menyelamatkan.
Senyum singkat dari seseorang.
Udara dingin setelah hujan.
Langit sore yang sebentar terasa tenang.
Atau rasa lega kecil ketika akhirnya berhasil melewati hari yang semula terasa mustahil dijalani.
Mungkin itu belum cukup menyembuhkan semua luka.
Belum mampu menghapus seluruh duka yang sudah tinggal terlalu lama.
Tapi bukankah kebahagiaan memang sering datang dalam bentuk yang sederhana?
Kecil, singkat, rapuh—namun tetap hangat untuk dirasakan. Terkadang mudah dihancurkan.
Jadi jika hari ini terasa terlalu berat, tak apa.
Tak apa..
Semoga senyum kecil itu masih ada, satu hari lagi.
Yaa Allaah, berikanlah aku kekayaan ilmu yang belum pernah aku miliki sebelumnya. Berikanlah aku kekayaan hati yang belum pernah aku miliki sebelumnya. Berikanlah aku kekayaan harta yang belum pernah aku miliki sebelumnya. Dan jadikanlah ketiganya mendekatkan diriku kepada-Mu dan membuat Engkau semakin ridho kepadaku.
~ repost tumblr bayuvedha | selamat berlibur ^^
Ashes sleeping in the tray, like all the words I never say
Smoke curls slow against the light, another lonely borrowed night
I wore my silence like a coat, held every pain inside my throat
People leave like summer rain, warm for a while, then gone again
I gave my heart with open hands, they left me bleeding where I stand
Now every room feels cold somehow and nothing really heals me now
Love hurts, any love will scar, leaves you broken where you are
Cuts so deep beneath the skin, turna your soul so paper thin
Love hurts, every burning kiss
Ends in emptiness like this
I keep searching through the dark
For a home inside a heart
Forty-four with tired eyes, still chasing peace that never stays
Mountains used to hold my grief, now even silence feels too weak
Sometimes I dream to disappear, far from every voice I hear
Be a shadow passing through, no past to haunt, no one to lose
Maybe I was built too soft, for a world that loves so hard
Maybe truth becomes a knife, when you hand someone your life
And if one day these songs survive, floating somewhere late at night
Maybe someone lost like me, will breathe a little easier
Love hurts, any love will fade
Still I wear the scars it made
Cigarettes and sleepless eyes
Keeping ghosts alive tonight
Love hurts…
But somewhere underneath the pain
“Don’t let this be where you fall apart.”

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“I’m broke, I’ve lost everything.”
Kepergianmu bukan sekadar pergi,
tapi membawa semua yang tersisa sampai tak berbekas.
Pengkhianatanmu bukan sekadar menyakiti,
tapi merusak dari dalam hingga untuk sembuh harus menghancurkan semuanya.
Hari itu aku baru mengerti,
rasa paling sakit cuma bisa datang dari orang yang paling dicintai,
karena merekalah satu-satunya yang tahu tepat di mana hati paling mudah dihancurkan.
Dan aku lengah.
Tak pernah berpikir sedikit pun
kalau ternyata itu kamu.
Kadang berpikir sudah sembuh, semua baik saja,
kadang tertawa bersama orang lain.
Lalu datang hari-hari tanpa sebab,
kemarahan itu terbuka seperti baru keluar dari neraka.
Tak ada sakit,
hanya kebencian mendarah lalu menguras semua energi sampai habis.
Kalau bisa ada satu hari
di mana tak perlu memahami siapa pun.
Biar saja semua adanya.
Berhenti pura-pura tertawa saat memang tak ingin.
Berhenti saja.
Lalu pergi ke tempat
di mana tak perlu lagi jadi siapa-siapa.
Cukup diam, kabut, dan sepi yang mendesak sampai puncak.
Sudahi riuhnya.
Kadang aku merasa aku mengerikan,
dengan segala kelelahan
masih saja bertahan.
Hari ini kamu singgah, yang entah dengan cara apa terlihat mataku. Dan masih sama, kemarahanku tak juga reda.
Dulu kemunculanmu menenangkan, segala beban seperti melayang saat kamu tersenyum. Tapi itu dulu, waktu aku masih di bodohi semua kebohongan yang belum kau tampakan.
Padahal aku baik-baik saja dengan segala kesulitan yang kau sebabkan. Asal kamu tak lewat begitu saja.
Wajahmu yang dulu teduh, sekarang seperti darah yang mendidih setiap kali berkelebatan.
Tadinya aku baik-baik saja
Tapi
Hari ini kamu singgah, yang entah dengan cara apa terlihat mataku. Dan masih sama, kemarahanku tak juga reda.
Akan selalu ada masa ketika rasa lelah merajam, tak terbendung, lalu kemarahan yang kembali meradang meski tenang, kata orang itu relapse, kataku, itu cuma muak yang semakin mendarah.
Kamu tak berhenti berusaha agar tak hilang dari ingatan. Tentu saja aku tahu, seberusahapun kamu menyembunyikan rahasia.
Kamu lupa, aku dikutuk untuk selalu tahu. Sampai tak ada rahasia yang bisa sembunyi bahkan ketika aku ingin. Orang bilang anugerah, aku merasa itu kutukan. Memegang rahasia terlalu banyak, membuat kita jadi rahasia itu sendiri.
Tak ada yang tahu.
Bulanku terikat namamu, tak bisa ku ubah, karena bukan keinginan. Tuhan menempelkannya sejak lahir dan aku tak diberi hak mengatakan tidak.
Kepalaku mengingat semua kenangan buruk, satu persatu, dalam detail yang aku sendiri bahkan merasa aku mengerikan saat mengingatnya.
Lucunya, aku tak ingat banyak hal baik, hanya sebagian kecil.
Marah dan kebencian membuatku bertahan, sementara kebaikan selalu membuatku ditinggalkan, rela berkali-kali tanpa ada satupun yang kembali.
Kadang aku bertanya sendiri, untuk apa menjauhi kalau kamu tetap tinggal di ruang yang sama bahkan saat tak ada siapa-siapa.
Aku masih hanya menangis saat hujan, bukan di kesepian.
Sekali waktu tenang, kadang tertawa pada banyak hal dan orang-orang yang bertahan bersisian meski mereka tahu aku bisa saja tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Kadang aku merasa sudah, tapi entah kapanpun itu…
Akan selalu ada masa ketika rasa lelah merajam, tak terbendung, lalu kemarahan yang kembali meradang meski tenang, kata orang itu relapse, kataku, itu cuma muak yang semakin mendarah.
Kadang aku bertanya, untuk apa pergi sejauh ini, padahal tak ada satupun yang bisa di lupakan
Mungkin aku hampir lupa, tapi tetap saja. Setiap kali wajahmu kembali, entah tak sengaja atau kadang tak bisa ditolak mimpi. Rasa sakitnya masih sama. Kemarahannya masih belum berkurang.
Tentu saja aku tahu sebabnya. Meski fak bisa diceritakan
Tak ada kata bijak mempan, tak bodoh. Hanya saja belum ada yang kembali pulih seperti sebelumnya.
Atau mungkin melekatmu belum juga hilang
Bahkan aku masih belum bisa memanggil nama.
Seperti terlarang yang belum juga hilang
Atau mungkin belum menemukan kesepian yang menenangkan.
Di tengah perjalanan, di balik kabut yang tak bisa di genggam, yang entah perjalanan ke berapa
Kadang aku bertanya, untuk apa pergi sejauh ini, padahal tak ada satupun yang bisa di lupakan
Aku tidak ingin kamu kembali.
Aneh ya, setelah semua yang terjadi, yang tersisa bukan lagi keinginan untuk memperbaiki, tapi semacam ruang kosong yang tidak tahu harus diisi apa. Aku tidak mencarimu, tidak juga menunggumu. Namamu pelan-pelan berhenti menjadi tujuan.
Tapi juga tidak benar-benar terasa selesai.
Ada bagian kecil yang masih menyimpan sesuatu—bukan rindu, bukan juga harapan. Seperti sisa luka yang tidak benar-benar ingin sembuh, karena di dalamnya masih ada marah yang sengaja dipertahankan.
Kadang aku berharap hidup memperlakukanmu seperti apa yang kamu lakukan.
Meskipun bukan aku yang melakukannya, dan memang tidak mungkin aku.
Mungkin nanti, aku benar-benar akan melepaskan semuanya—termasuk keinginan kecil ini.
Tapi setahun berlalu, aku masih di sini.
Meskipun…
Aku tidak ingin kamu kembali.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku kira yang paling menyakitkan adalah kehilanganmu.
Lucunya, bukan perginya yang paling terasa, tapi cara kamu pergi—seolah semua yang pernah ada bisa dilipat rapi, dimasukkan ke dalam saku, lalu dibawa tanpa sisa.
Kamu tidak hanya pergi, kamu seperti mengambil semua yang sempat kutaruh padamu: percaya, waktu, bahkan versi diriku yang dulu masih utuh.
Aku sempat mencari-cari, bukan kamu—tapi bagian dari diriku yang ikut hilang. Di tempat-tempat yang pernah kita isi dengan tawa, di percakapan yang sekarang hanya tinggal jeda panjang, di ingatan yang terlalu hidup untuk disebut masa lalu.
Ada bagian yang masih ingin mengerti dan bertanya kenapa?
Tapi semakin kupikirkan, semakin jelas bahwa kadang orang pergi bukan karena kita kurang, tapi karena mereka memilih jalan yang bahkan tidak pernah kita bayangkan.
Dan yang paling sunyi dari semua ini bukan kehilanganmu.
Tapi menyadari bahwa yang aku pertahankan selama ini, mungkin hanya kebodohanku sendiri dalam mencari alasan, untuk mengatakan: kalau kamu tidak seburuk itu.
Kenyataannya, alasan itu tidak pernah cukup untuk mengubah kenyataan.
Dan kehilangan diri sendiri ternyata jauh lebih melelahkan, sekaligus menyakitkan.
Padahal…
Aku kira yang paling menyakitkan adalah kehilanganmu.
Perihal kamu bodoh, itu persoalan lain.
Dulu aku pikir semua hal punya alasan. Kalau seseorang pergi, pasti ada yang kurang dariku. Kalau seseorang memilih orang lain, pasti aku tidak cukup.
Jadi aku mencari—di setiap kata yang pernah kuucapkan, di setiap diam yang mungkin terlalu lama, di setiap versi diriku yang seharusnya berbeda.
Lucunya, tidak pernah benar-benar ada jawaban. Yang kutemukan hanya cara baru untuk menyalahkan diri sendiri, atau pembenaran untuk memaklumi kesalahan—agar aku masih bisa berharap, bahwa orang bisa berubah.
Lebih aneh lagi ketika yang pergi bukan hanya dia, tapi juga seseorang yang dulu kupanggil teman. Dua orang yang sama-sama tahu ceritaku, pada akhirnya jadi cerita itu sendiri.
Aku sempat bertanya—kenapa? Tapi tidak pernah benar-benar ada jawabannya.
Atau mungkin ada, hanya saja aku pura-pura tidak mendengar—demi harapan yang bahkan sudah kusiapkan ruang kecewanya.
Entah karena bodoh, atau mungkin hanya takut.
Aku takut sendirian.
Takut tidak ada yang bertanya.
Takut tidak ada yang tinggal.
Takut ternyata aku memang tidak pernah cukup untuk membuat seseorang bertahan.
Tapi waktu tidak pernah benar-benar peduli. Hari tetap berjalan. Menangis berkali-kali. Orang-orang tetap tertawa. Dan luka pun belajar diam.
Padahal tak apa kalau tidak sembuh sepenuhnya.
Kadang, hanya perlu jadi terbiasa.
Dan mungkin itu yang paling dekat dengan “baik-baik saja”—tanpa harus bilang aku baik-baik saja.
Jadi kalau suatu saat kamu juga sampai di titik ini—tidak perlu terburu-buru. Tidak semua hal harus dipahami untuk bisa dilanjutkan.
Tidak semua hal terjadi karena ada yang salah denganmu.
Tapi…
Perihal kamu bodoh, itu persoalan lain.
Kadang aku ingin bilang kalau semua akan baik-baik saja, tapi aku jadi akan selalu berbohong setiap kali kamu merasa tidak.
Lalu kenapa harus memaksa? Kalaupun tidak baik-baik saja, dunia tetap sama. Kita ngga sepenting itu buat kebanyakan orang. Suatu saat pun kamu akan tahu, tak apa kalau tak ada yang bertanya, apa kamu baik-baik saja.
Seseorang pernah bilang, hidup ngga akan selalu baik-baik saja. Meskipun kamu tidak suka. Tapi faktanya kamu bisa, setiap kali dunia seperti runtuh, toh pada akhirnya kamu selalu baik-baik saja dengan semua bekas luka.
Sudahlah, kopimu hampir habis.
Tak ada lagi yang ingin ku katakan, sekalipun..
Kadang aku ingin bilang kalau semua akan baik-baik saja, tapi aku jadi akan selalu berbohong setiap kali kamu merasa tidak.
Karena aku bisa berlama menatapnya, bahkan tanpa mendengarnya berbicara.
Aku rasa ini bukan sekadar kebodohan. Ini pola.
Aku tidak benar-benar tertarik pada orang lain. Bukan karena sulit, tapi karena aku tidak mau repot. Percakapan terasa seperti kewajiban yang cepat melelahkan.
Lalu datang satu orang, dan aku berubah jadi sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak kenal.
Aku jadi banyak tanya. Banyak menanggapi. Banyak bertahan. Seolah-olah percakapan itu harus hidup, dan kalau sampai mati, itu salahku.
Padahal memang salahku.
Karena aku bisa berlama menatapnya, bahkan tanpa mendengarnya berbicara.
Kalau masih rindu, kutunggu di Merbabu.
Bodohmu seperti pengingat, kalau aku pernah disitu. Bahkan kamu saksi, kalau akalku seperti mati.
Ah, tapi siapalah aku menasihati, kubanganku bahkan lebih dalam dari tempatmu tenggelam.
Tak apa untuk patah, bukan berarti menyerah, apalagi kalah. Padahal, mungkin itu tempat tunas basah yang tak akan berhenti merekah.
Dua puluh tujuh itu lama, jangan di sia-sia.
Sudahi membiarkan yang salah, meski kadang terasa seperti sampah.
Kecewa, marah, tumpahkan sampai lelah
Tapi..
Kalau masih rindu, kutunggu di Merbabu.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Saat kamu pergi, duniaku runtuh. itu kenyataan, semanis apapun kubuat alasan. Waktu itu, memang aku tenggelam.
Kalau kamu bertanya, apa aku marah? Tentu saja. Pernah terpikir untuk mengingat kebaikanmu saja. Tapi, bukankah itu masalahnya? Aku selalu berpikir baik tentangmu bahkan saat dunia mengatakan sebaliknya. Aku tetap berdiri bersisian mengatakan tidak.
Tentu bodoh kalau masih melakukannya, bahkan ketika kamu tak lagi ada.
Apa kebaikan yang harus di ingat, kalau kamu pergi saat duniaku hanya kamu. Begitu saja, bahkan dengan rapih, pergi setelah mendapatkan yang di mau secara tuntas. Tak meninggalkan apapun selain kecewa tak dianggap apa-apa. Naif, bodoh dan masih menyisakan percaya kalau kamu tak sejahat itu.
Lalu orang lain yang sibuk merapihkan luka, sementara kamu jumawa.
Jadi memang, tak ada yang tersisa selain marah. Meskipun kecewa jangan ditanya.
Aku hanya mengulang kebodohan kalau lupa.
Bahwa…
Saat kamu pergi, duniaku runtuh. itu kenyataan, semanis apapun kubuat alasan. Waktu itu, memang aku tenggelam.
SRH
ingatlah tentang kita sesekali saja.
nanti yang entah kapan, mungkin kita hanya saling mengenang. Semoga tidak menjadi kebencian—atau lebih baik jika sampai akhir.
Luka kita sama, waktu mempertemukan justru saat kita tak lagi menyembuhkan.
Kita tahu, itu bukan tempat kita.
Ada hal-hal yang tidak perlu dipindahkan. Luka, biar tetap di tempat asalnya.
kita hanya saling mengingatkan, kalau pernah sebodoh itu dan itu sudah cukup.
Jangan mengulang.
Tak apa kalau nanti ada persimpangan.
Kalau berpisah, agar tak marah…
ingatlah tentang kita sesekali saja.